Tentang Drama Kehidupan

on
Tuesday, May 16, 2017
Kenapa ya saya anaknya suka overthinking sama segala sesuatu. Apalagi untuk urusan hierarki antara status sosial, jabatan di kantor, sama peran di rumah. Saya suka kepikiran banget!


Misal gini, ada cleaning service di kantor yang pendieeemmm banget. Pendiem terus sopan banget gitu, kalau jalan selalu nunduk. Ya saya maklum mungkin dia merasa bukan siapa-siapa, level terendah di kantor lah kasarnya. Jadi dia nunduk entah karena memang minder atau memang merasa harus sopan.

Suatu hari saya ajak ngobrol, dengan malu-malu dan tetap nunduk (mungkin menjaga pandangan yhaaa) dia jawab anaknya dua. Satu udah kelas 5 apa 6 SD gitu, satu lagi masih umur 2 tahun. Dan saya langsung tettoottt! kepikiran banget.

Kepikiran banget karena berarti meski di kantor dia nunduk dan minder gitu, dia di rumah adalah kepala keluarga dengan anak yang mau remaja. Apa dia di rumah tegas sama istrinya? Apa dia di rumah galak sama anaknya? Apa dia di rumah juga pendiem?

AKU ... KEPO.

T________T

Inget juga kemarin makan di Shaburi terus mbak waitressnya nyapa Bebe dan tiba-tiba cerita kalau anaknya dia juga umur 2 tahun dan suka Cars kaya sepatu Bebe. Dia cerita dengan sangat excited dan saya mendadak mellow karena dengan demikian dia adalah ibu bekerja. Mungkin di sela-sela kerjaan dulu dia harus pumping juga sama kaya saya. Mungkin juga dia sama sedang mikirin ulang tahun anaknya mau dibikin kaya apa. Ah. :((((

(Baca: Orang-orang yang Bertahan Hidup)

Jadi inget juga cerita JG yang masa kecilnya dilalui dengan tinggal di gang sempit. Tetangga-tetangganya itu semua orang susah lah kasarnya. Mereka suka sewenang-wenang sama istri, teorinya JG karena mereka kerjanya rendahan banget, mereka jadi nggak punya suara di tempat kerja. Satu-satunya "kuasa" mereka ya sama istri, jadilah istrinya diperlakukan seenaknya.

Hiks.

Mau sedih juga nggak perlu sedih ya ini, namanya juga hidup. Tapi gimana ya, saya kepikiran betapa satu manusia itu punya peran yang beda-beda banget di berbagai lini kehidupan. Saya baru ngerti lagunya Nike Ardilla kalau dunia ini panggung sandiwara.

Di kantor dia adalah cleaning service yang minder, di rumah dia ayah yang tegas tapi sayang keluarga, di lingkungan rumah ternyata dia Pak RW dan terbiasa mimpin rapat RT, dan seterusnya.

Nggak usah susah-susah deh, waktu masih sekolah aja kerasa kan bedanya. Kita di sekolah sebagai ketua kelas tentu beda dengan kita di rumah yang anak bungsu. Kita di kampus yang serampangan dianggap anak bodoh, ternyata di rumah adalah kakak sulung tulang punggung keluarga.

Kepikiran kalau manusia sebenarnya memang hidup dengan beberapa topeng, mau pakai yang mana, mau lepas yang mana. Mau jadi saya yang mana.

Dan social media juga panggung lain lagi.

Di socmed dia ibu-ibu berisik garda depan pembela kebenaran, di rumah ternyata boro-boro berisik, ditanya pendapat sama suaminya aja nggak pernah. Di socmed dia ibu-ibu inspiratif banyak kegiatan positif bersama keluarga, di rumah dia ternyata depresi karena masalah dengan mertua.

Makanya jangan bingung sama orang-orang yang di socmed ributnya ya ampuuunnn. Pas ketemu hening krik krik. Atau sebaliknya, di socmed tampaknya hidup seru dan bahagia, pas ketemu kok ya orangnya banyak ngeluh. Ya maklum, itu topeng satunya lagi kan, topeng social media.

Lalu apa harus jadi orang yang sama di semua panggung biar dibilang apa adanya?

(Baca: Menjaga Perasaan Siapa Agar Tidak Dibilang Fake?)

Ya nggak juga sih. Nggak apa-apa kok punya banyak peran, punya banyak topeng. Saya nyaman berisik di socmed dan JUGA di dunia nyata. Saya nyaman bercerita pada kalian di blog ini seperti saya bercerita pada JG. Kalau kalian merasa tidak nyaman ya tidak apa-apa. Tidak berarti kalian palsu, kalian hanya sedang pakai topeng yang lain.

Yang jelas, harus diingat bahwa ini adalah topeng peran, bukan topeng kebohongan. Kalian yang berisik di socmed tapi pendiam di dunia nyata, nggak berarti kalian bohong kan?

Cuma inget-inget aja kalau lagi pengen ngomong kasar sama orang. Waitress itu mungkin teraniaya di rumah, satpam itu juga mungkin ayah-ayah yang lagi bingung bayar sekolah anak, abang angkot yang nyebelin itu mungkin sebatang kara. Yah, entah ini harus dipikirin apa nggak sih ya.

Ya gitulah. Auk nulis apa sih ini. Bye!

-ast-
LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

13 comments on "Tentang Drama Kehidupan"
  1. Hahaha, iya, pernah ngerasain, di sosmed ramaahhh bener, banyak omong, pas ketemu nggak negor dan kayak nggak kenal gitu.

    ReplyDelete
  2. Sama sih, aku juga gitu kok. Kalo di jalan liat orang jualan lah, orang petugas kebersihan lah, bahkan penjual siomay keliling yang biasanya nongol tiap malem sekarang nggak pernah lagi, aku jadi kepikiran. :'(

    Kadang mikir, duh mereka bisa dapet penghasilan sebulan berapa ya.. cukup gak ya buat bayar ini-itu. dll dsb.

    ReplyDelete
  3. Seketika teringat kalimat andalannya Awkarin, Younglex dkk.. mending nakal daripada munafik, :|

    ReplyDelete
  4. Aku juga gitu,sering mendadak melow dan mikir jauh kalo ketemu sama orang2 diatas.

    ReplyDelete
  5. Ya ampun ini aku banget dan baru kemaren ngerasain lagi!

    Kemarin perjalanan pulang ke rumah liat bencong lagi nyanyi-nyanyi plus joget di sebuah warteg.

    Kalo perasaan aku sih dia joget bukan sepenuh hati ya. Makanya aku spontan bilang ke suami, "kasian ya, mungkin dia ga mau kerja kayak gitu". Trus mikir dia punya keluarga ga ya...

    Lalu buyar semua pikiranku gara2 suami suruh jangan dipikirin nanti pusing. Hahaha.

    ReplyDelete

  6. Berisik di socmed dan hening di dunia nyata xD. Kalo gue malah sebaliknya. dunia nyata berisik dunia socmed mikir mikiir aje kl mau ngomong.

    ReplyDelete
  7. Langsung DEG pas baca bagian "abang angkot yang nyebelin itu mungkin sebatang kara" karena aku suka sebel sama abang angkot yang rata-rata nyebelin. Ah, bisa jadi yaa dia nyebelin ke orang karena hidupnya sebatang kara :(

    kemudian merenung

    ReplyDelete
  8. akupun juga suka baper terumata sama anak kecil yang seusia anakkku (2,5 tahun). Suka lihat di motor panas-panasan baper, liat anak jalanan seumur anakku dikasi botol isinya susu enceeeeeeeeer banget aku rasanya pengen nangis :(

    Cuma bisa doain semoga semuanya dikuatkan, dimudahkan jalan hidupnya dan jadi orang hebat semua anak-anak itu :)

    ReplyDelete
  9. Aku juga termasuk yang overthinking masalah beginian.
    Kadang2 suka jadi mellow jugak kalau lagi dipikirin banget :(.

    Tapi overthinking gini kadang bisa ngedorong aku buat lebih memahami dan selalu positif thinking ke orang lain.
    Setidaknya ya jangan ngejudge orang enak terus, cuma gegara timelinenya aja :"

    ReplyDelete
  10. Tahun lalu aku ada projek sama anak divisi sebelah, dia staf. Ya gitu, anaknya mau2 aja ga pernah ngelak bahkan ketika aku lg bete dia sll kena semprot.
    Kapan hari pas kami lg ngobrol santai, dia cerita2 soal di rumah, nunjukim foto anak2nya,,,istrinya. Dia bilang, meski saya di kantor begini tapi kalau di rumah tegas dan harus berani ambil keputusan

    ReplyDelete
  11. Berarti sebelum bikin postingan nyinyir, harus berpikir ulang gimana kira-kira hidupnya orang itu ya kak

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahah ah perasaan kamu aja kali aku sering nyinyir, cobalah discroll archive aku, yang nyinyir ada berapa biji? kalaupun aku nyindir orang aku pake identitas asli lhoo, silakan diconfront balik. kamu komen begini aja anonim 😂

      Delete

Hallo! Terima kasih sudah membaca. :) Silakan tinggalkan komentar di bawah ini. Mohon maaf, link hidup dan spam akan otomatis terhapus ya. :)