Beberapa hari lalu saya bertemu dengan seorang profesor. Beliau salah satu penasihat presiden terdahulu dan memiliki sebuah kampus berbasis enterpreneurship. Quote of the day nya adalah:
"Kapan Indonesia mau maju di bidang science kalau yang kuliah di bidang itu lebih memilih bekerja di korporat. Kita terus saja tertinggal dengan negara lain. Kenapa coba pilih kuliah science kalau ujung-ujungnya mau kerja di bank?"
Tahu nggak kenapa? Kalau dari pengalaman ngobrol dengan orang-orang sih karena: salah pilih jurusan.
Iya, saking "salah pilih" nya sampai-sampai menjalani kuliah hanya karena tanggung deh udah keterima. Tanggung deh nggak punya cadangan lain, terus ya masa ga kuliah? Salah. Salah banget sih menurut saya.
Salah satu faktornya adalah karena ketidaktahuan dan malas mencari (atau ya kurangnya akses) informasi ya. Contoh soal paling sederhana adalah JG dan teman-temannya. Mereka kuliah jurusan Teknik Telekomunikasi. Tapi pada awal masa-masa kuliah, banyak yang menyangka mereka akan kuliah jurusan Ilmu Komunikasi.
BAYANGKAN. Yang satu kuliahnya manjat tower masang sinyal handphone, yang satu kuliahnya liputan dan bikin event. BEDA JAUH. Salah pilih jurusan jelas.
KOK BISA SIH SALAH SANGKA GITU? ANEH BANGET. Jelas yang satu ada kata "teknik" nya. Dan masa nggak tahu arti kata "telekomunikasi"?
Tapi aneh itu menurut saya. Saya yang beruntung sudah tahu akan kuliah di mana sejak SMP. Sejak SMP saya sudah mantap akan kuliah jurnalistik karena saya senang menulis. SMA saya tidak disibukkan ekskul selain majalah dinding. Tidak disibukkan dengan bingung menentukan pilihan IPA atau IPS karena ngapain deh masuk IPA kalau mau kuliah sosial?
Kedua adik saya juga begitu. Sudah menentukan pilihan akan kuliah apa. Yang bungsu galau sempat masuk IPA terus pindah IPS HAHAHAHAHA Karena hobinya banyak. Ujung-ujungnya ingin jadi public relation dan sekarang sedang kuliah jurusan PR.
Kami beruntung punya orangtua yang terus bertanya minat sejak kecil. Terus ditanya akan kuliah apa sejak saya kecil. Ternyata tidak demikian dengan teman-teman lain.
Dan pada akhirnya mereka yang "salah jurusan" ini galau. Kuliah perternakan tapi nggak punya minat sama sekali dengan dunia ternak. Kuliah Fisika cuma terpaksa biar bisa lulus dan mengerjakan skripsi. Pas lulus galau mau kerja di mana, akhirnya kerja di bank. Karena bank yang menerima hampir semua jurusan kuliah.
(Baca: Bebe masih bayi tapi saya sudah punya SD incaran: Tips Memilih Sekolah)
(Baca: Bebe masih bayi tapi saya sudah punya SD incaran: Tips Memilih Sekolah)
Solusinya apa? Untuk kita yang lalu biarlah berlalu. Tapi ini untuk anak-anak kita. Bantu mereka temukan apa sih yang jadi minat bakat mereka?
Caranya gimana? Kalau pake cara ibu saya sih (yang ternyata efektif ya) dengan lebih peka pada hobi dan keinginan anak. Orangtua millenials biasanya paling jago nih. Udah nggak pernah memaksa anak untuk dapat nilai bagus untuk matematika misalnya karena toh anaknya senang melukis dan bisa berprestasi di dunia lukis.
Sejak kecil kami diikutkan les ini itu dengan harapan bisa "ketemu" apa sih yang disukai? Saya senang gambar tapi dalam perjalanannya saya ternyata lebih senang menulis. Ketahuan karena saya coba dua-duanya sejak kecil.
Sekarang pun saya sudah banyak sekali berdiskusi dengan JG. Gimana kalau Bebe maunya kuliah jurusan yang aneh gitu. Kaya adiknya mbak Memez (hai mbak!) yang kuliah jurusan pedalangan. Iya mau jadi dalang!
Kalau berubah gimana? Ya nggak apa-apa, fleksibel aja. Banyak kok orang sukses karena baru menemukan passionnya di usia 30 bahkan 40 an. Asal tetap dicari, dicoba, diusahakan. Untung kalau ditemukan sebelum kuliah jadi kuliahnya tidak salah jurusan.
Kalau passionnya susah menghasilkan uang gimana? Ya balik lagi kan ke pilihan. Mau uangnya kecil tapi happy atau mau uangnya banyak tapi kerja kaya robot?
Karena untuk apa hidup di dunia, bekerja mengerjakan sesuatu kalau tidak dengan cinta ...
... makan tuh cinta lol
-ast-
... makan tuh cinta lol
-ast-












