-->

Image Slider

Bioderma Hydrabio H2O, Tonique and Brume Review: #SelasaCantik

on
Tuesday, July 12, 2016

Hola!

Hari ini saya mau review  Bioderma Hydrabio H2O, Hydrabio Tonique, dan Hydrabio Brume. Beberapa minggu yang lalu saya dikirimi satu range Hydrabio itu dari Bioderma Indonesia. Awalnya biasa aja sih nggak terlalu excited, tapi ternyata bagus. Hahahaha. Cocok banget sama kulit saya yang akhir-akhir ini kombinasi, hidung berminyak, tapi pipi sekelilingnya retak seperti hati kalian. :|

Soalnya saya sendiri memang selalu punya stok Bioderma Sensibio Micellar Water untuk traveling alias lagi pulang ke Bandung. Jadi memang nggak pakai tiap hari, selain boros, saya juga kurang suka sama baunya yang nggak enak banget. Kalau kena bibir juga paitnya ngalah-ngalahin jamu. Jadi biasanya dipake kalau lagi nggak di rumah. Ribet kan harus double cleansing pakai oil. Mending usap Sensibio, terus cuci muka deh.

Ternyata kalau range Hydrabio ini beda banget. Kita bahas satu-satu ya.

Bioderma Hydrabio

Range Hydrabio ini dibuat untuk kulit yang sensitif dan dehidrasi. Pernah denger nggak sih kalau sebenernya nggak ada yang namanya kulit kering, yang ada itu kulit dehidrasi. Nah, Hydrabio ini membantu merangsang kapasitas selular kulit dan mengaktifkan kembali proses hidrasi alami.

Range ini punya 4 produk. I CLEANSE (Hydrabio H2O), I TONE (Hydrabio Tonique), I TREAT (Hydrabio Serum), dan I MAINTAIN (Hydrabio Brume).

Saya dikirimi dan coba semua kecuali yang serum, jadi untuk pengganti serum saya tetap pakai Facial Treatment Essence SK-II.

Hasilnya?

I CLEANSE (Hydrabio H2O)



Ini Micellar Water, fungsinya tentu membersihkan dan menghapus make up. Kekuatan membersihkannya sama sih seperti Sensibio tapi wanginya lebih enak.

Wanginya nggak ada pait-paitnya sama sekali. Lembut banget. Seperti Sensibio, setelah pakai nggak ada efek lengket, kulit kerasa lembab aja. Setelah pakai ini baru biasanya saya cuci muka pakai facial foam.

Harga: Rp 219.000,-

I TONE (Hydrabio Tonique)





Yang ini toner. Saya biasanya pake Clear Lotionnya SK-II tapi pas mudik ketinggalan. Jadi selama di Bandung saya full pakai toner ini dan laff banget! Setelah pakai, seluruh bagian kulit wajah rasanya jadi sama, pipi nggak kerasa kering, idung nggak kerasa berminyak. Nggak bikin gatel atau perih karena ada toner-toner yang muka saya rasanya perih.

Jadi buat saya, tonique ini lumayan menyeimbangkan kelembaban kulit wajah. Biasanya setelah pakai, kapas yang masih sisa basah saya tempelin beberapa saat di ujung idung, di area yang paling berminyak.
Harga: Rp 264.000,

I MAINTAIN (Hydrabio Brume)



Yang ini nggak langsung saya pake KARENA SAYANG. BOTOLNYA KECIL HAHAHAHAHAHAHA. Sementara pas baca klaim di botolnya seperti sesuatu yang dashyat gitu.

Brume ini refreshing water spray. Bisa menyegarkan dan menenangkan kulit yang kencang, bisa jadi setting spray yang membuat make up lebih tahan lama, dan aman digunakan untuk anak atau bayi sekalipun karena hypoallergenic, non comedogenic, dan alcohol free! Gimana makenya nggak sayang! Hahahaha.

Tadinya mau saya simpen buat di kantor karena di kantor itu kulit saya sering kenceng karena kan seharian kena AC yang super dingin. Tapi ternyata di Bandung juga kulit saya kenceng karena cuaca dan airnya yang dingin banget!

Semprot semprot terus deh. Dan ternyata semua klaimnya benar, bahkan sebelum tidur aja meski udah pakai skin care malem, kalau ngerasa kering lagi semprot-semprot lagi. Nggak jadi disayang-sayangnya. Kulit juga jadi halussss banget.

Harga: Rp 99.000,-

Bioderma Indonesia

-ast-






Parents, Holiday Ruins Us

on
Monday, July 11, 2016

Or me and Bebe. -________-

Kemarin liat status temen kantornya JG yang stres karena lagi nyuapin makan dan anaknya digodain terus sama keluarga yang lain sampai anaknya mau muntah. Ya, saya ngerasain banget keselnya sih.

Karena Bebe juga lagi dalam kondisi rewel banget. Saya jadi super capek. Biasanya nenen cuma seperlunya ini nenen melulu. Terus gampang nangis banget dan jadi suka bentak. Apa coba.

Padahal Bebe jarang sekali bentak orang lain apalagi nangis. Dia akan nangis hanya kalau capek banget atau abis jatuh dan sakit banget. Jatuh biasa doang atau kepentok apa mah dia nggak pernah nangis. Bebe anak manis banget tapi seminggu kemarin parah sih. Ngomong selalu teriak, nggak mau minta tolong, nggak mau bilang terima kasih. Nggak dikasih apa dikit, nangis kejer ngamuk sambil pukul-pukul dan tendang.

Puncaknya Sabtu malam. Sudah jam 11 malam dan dia keukeuh nggak mau tidur. Dia keluar kamar sendiri dan sadar semua udah gelap. Terus dia ngeliat marah sama saya dan teriak "TURUN!" (kamar kami di lantai 2).

Oh wow. You were going too far, kid. Saya pasang wajah marah dan tidak bilang apa-apa, saya paksa angkat dia kembali masuk kamar, taro di kasur, tutup pintunya dan saya pergi cuci muka serta bersih-bersih untuk tidur.

Waktu saya kembali ke kamar, Bebe nggak nangis, lagi meluk guling aja di kasur sambil ngelamun. Tapi setelahnya ia jadi tiba-tiba manis sekali. Ngomongnya sudah tidak pakai otot lagi.

Baru saya sadar. Liburan ini Bebe berubah karena dimanja oleh semua orang. Di rumah saya, dia cucu satu-satunya. Di rumah JG, dia cucu paling kecil. Semua memanjakan Bebe. Dia jadi tidak pernah menangis untuk mengeluarkan emosinya karena baru ngerengek dan nangis dikit udah banyak yang bujukin.

And that's not a good thing. It's not healthy, really.

Ya gimana, nangis dikit langsung diajak jalan-jalan keluar. Jam 9 nggak mau bobo, malah main di kamar adik saya sampai jam 1 malem. Di rumah JG, rebut mainan kakak sepupunya, malah dibelain. Dalam level dorong kakak sepupunya sampai hampir jatuh pun, Bebe yang dibelain karena "dia masih kecil".

(Baca: Tips Mengenalkan Konsep Sharing pada Balita)

Sayanya tetep tegur dong "Bebe kenapa dorong? Bebe tidak dorong orang lain ya!" Kemudian biasanya Bebe pasang muka bersalah dan dia HARUS minta maaf pada anak yang dia dorong.

Tapi teguran saya itu tenggelam dengan sahut-sahutan kakek, nenek, uwa, dan ateunya membela "nggak apa-apa ya, boleh nih, boleh nih". Nggak ada yang mengingatkan kalau Bebe salah apalagi harus minta maaf.

*jambak rambut sendiri*

Di hari terakhir, Bebe ngamuk parah gara-gara nggak mau pakai baju. Sudah diajari tentang malu dari bayi sekali, Bebe selalu pakai handuk kalau keluar kamar mandi dan pakai baju di kamar. Di daycare juga diajari seperti itu. Eh di Bandung, dia ngamuk karena tidak mau masuk kamar setelah mandi dan malah main-main sambil telanjang. Dan semua membela. "Nggak apa-apalah pake baju di luar kamar aja".

*cry*

Karena ketika orang dewasa tidak satu suara, anak ya memilih pernyataan yang membela dia dong tentu saja.

Seminggu lebih seperti itu, Bebe yang selalu bilang "tolong" dan "terima kasih" berubah jadi suka membentak. Selalu mendorong anak lain dan merebut mainannya. Yang tidak pernah makan kerupuk jadi tantrum minta kerupuk. -_______-

Gara-gara hari sebelumnya tante saya menawari satu kerupuk udang utuh untuk dipegang sendiri. O______O Besok-besoknya dia ngamuk sambil geret-geret Tupperware isi kerupuk udang. Padahal udah lama banget Bebe nggak tantrum ngamuk sambil nangis. Tuhan tolong aku.

(Baca: Cara Menangani Anak Tantrum di Tempat Umum)

Lagian Bebe baru makan kerupuk pas kemarin umur 2 tahun. Itu pun harus sambil makan nasi dan lauknya, bukan untuk cemilan DAN TIDAK DIPEGANG SENDIRI. Karena kerupuk itu kosong, makanan sia-sia dan dia selalu mau ngemil buah jadi kenapa banget harus dikasih kerupuk?

*bergabung dengan squad ibu-ibu idealis sejagat Facebook*

Tapi yah. Saya berusaha kaya Anna dan Elsa untuk Let It Go yah, namanya juga liburan sama keluarga. Jadi saya nggak mendebat para Front Pembela Bebe ini, biarin ajalah. Mereka manjain Bebe, sayanya bobo-bobo cantik sambil YouTube-an. Bebe juga jarang-jarang bisa selama ini sama keluarga besar kan, ketemu orangtua saya aja biasanya cuma weekend sebulan sekali.

Cuma ini horor banget takut harus ngulang disiplin tantrum dari awal lagi. Hahahahha.

Saya juga jadi happy pas hari Minggu karena Seninnya bisa kembali ke rutinitas. Dan tetiba sadar bahwa daycare baru buka di hari Kamis sementara kami masuk kerja Senin means masih harus bawa Bebe ke kantor 3 hari. HAHAHAHAHAHAHA.

Life is hard.

Soalnya urusan disiplin ini kerasa banget loh kalau konsisten diterapkan. Seperti urusan mainan. Di rumah dan di daycare, Bebe SELALU beresin mainan sebelum main mainan lain. Tidak boleh main mainan lain kalau yang satu belum dibereskan sendiri. Kemarin di Bandung kami nengok temen SMA saya yang baru melahirkan, ketika saya ajak pulang, Bebe keukeuh beresin dulu Lego yang dia mainkan selama di sana. Padahal nggak ada yang nyuruh. Dia juga keukeuh beresin kasur busa yang dia pake main loncat-loncat sama adeknya temen saya itu.

Anakku sebenernya sweet banget dan membanggakan hahahaha, but holiday ruins us. LOL. Peer banget nih takut sampai Jakarta juga masih kebawa manja. Pantes dulu waktu saya kecil, ibu saya paling sebel kalau saya habis nginep di rumah nenek. Karena saya jadi nyebelin. Sekarang saya yang sebel.

Tapi bertemu banyak orang juga ternyata membuat Bebe belajar hal baru. Ini pasti dia curi dengar dari orang-orang yang melakukan hal ini sama dia. Karena tiba-tiba DIA jadi suka cubit pipi kiri dan kanan SAYA sekaligus sambil bilang di depan muka saya:

"Cubit ya! Gemes deh!"

Astaga anak bayiiii. Gemes!

-ast-





#SolehaThursday: Lebaran Tahun Ini

on
Thursday, July 7, 2016



Bulan puasa tahun ini bisa dirangkum dalam satu kata: lelah.

Atau tiga kata: capek pake banget.

Gara-garanya macet Jakarta yang entah kenapa jadi 3-4 kali lipat di bulan puasa kemarin. Karena semua orang jadi pulang di jam yang sama, sekitar jam 4 sore demi mengejar buka puasa bersama keluarga di rumah. Atau bersama teman-teman di ... ya di mana-mana lah yang jelas keluar kantornya bareng-bareng satu Jakarta.

Baca punya Nahla di sini:

Sementara daycare yang biasanya tutup jam 6, jadi tutup jam 5. Lah piye emangnya pegawai negeri yang jam kerjanya dikurangi sampai cuma jam 3 sore, kami-kami ini tetap harus pulang jam 5. Jadilah setiap hari terlambat menjemput. Uang overtime menumpuk karena setiap hari baru bisa menjemput Bebe jam setengah 6.

Itu saya, JG bisa baru datang jam setengah 7 karena alasan klasik: macet. Dari kantor sama-sama jam 5, jarak jauhan saya, nyampe duluan saya karena saya ngojek, JG pakai mobil.

Setengah 6 artinya cuma 20 menit menjelang buka puasa. Daycare-nya mau tutup dong ya kan karena mbak-mbak juga harus pulang. Jadi hari-hari pertama buka puasa kami makan di mobil, beli nasi padang.

Hari-hari berikutnya kami minta izin untuk bisa duduk di teras daycare dan berbuka puasa. Alhamdulillah diizinkan, jadilah kami makan di teras daycare. Minimal ada keran untuk cuci tangan dan Bebe anteng karena ada perosotan, ayunan, dan sepeda.

#sadlyfe

Itu masih happy. Belum capek. Nggak masalah lah makan apa di mana yang penting ketawa-tawa. Langsung pulang pun entah mau nyampe rumah jam berapa kan.

Minggu kedua, macetnya semakin parah. Buka pagar daycare, sudah langsung antrian mobil yang stuck. GIMANA MAU PULANG COBA?

Minggu kedua dan ketiga hampir semua anak daycare diantar jemput pakai motor. Di sini badan mulai rontok karena naik motor bawa Bebe itu capek banget.

T______T

Gendong Bebe pake ergo, dan sepanjang jalan harus entertain dia biar nggak bosan. Dan tetep kena macet jadi keringetan, Bebe cranky, ibu cranky. Macet, keringetan, pelukan, debu jalanan. Super combo.

Buka puasa tetap di teras daycare. Sampai lebaran, buka puasa di rumah hanya bisa dihitung dengan jari sebelah tangan. Dan alasannya bukan eksis reuni sana-sini. Tak punya tenaga untuk itu.

Di hari biasa, setengah 7 sudah sampai rumah. Di bulan puasa kemarin, jam setengah 9 baru sampai rumah. Tidak bisa langsung tidur karena Bebe biasanya belum ngantuk. Belum urusan cuci baju dan cuci piring, beres-beres rumah. Tidur jam 11, jam 4 sudah bangun lagi.

Pergi kantor biasanya jam 7, bulan kemarin jadi jam 6. Artinya setiap hari hanya tidur 3-4 jam sebulan penuh kecuali weekend!

Minggu terakhir kami kembali pakai mobil. Badan saya sudah rontok, tak sanggup bangun pagi. Walhasil Bebe pergi berdua JG ke daycare pagi-pagi dan saya ngojek jam 9 ke kantor sendirian. Dan itu sambil cicil packing buat mudik. Ke Bandung doang sih, tapi tetep aja seminggu lebih mah hampir semua barang kecuali AC dan kulkas DIBAWA SEMUA LOL.

Maka silakan pandang saya sebelah mata karena semua orang mellow ingin Ramadan diperpanjang, tapi saya mah ingin buru-buru Lebaran. Semua orang bilang Ramadan berlalu tak terasa, saya mah kerasa banget.

T_______T

Because you WOULD NEVER enjoy a full month of sleep deprivation and spend a quarter of your day on the road with a toddler. Never. Kurang tidur itu bikin cranky. Kalau alasannya menyusui masih mending. Ini alasannya macet. Kan nyebelin karena orang Jakarta adalah orang-orang paling tahan pada macet. Tapi kali ini macetnya keterlaluan.

Hari kedua saya pernah coba pulang duluan sama Bebe karena kali aja bisa nyampe rumah cepet. Tapi ternyata macetnya level GrabCar biasanya 20ribu jadi 80ribu. Buka bareng deh sama supir GrabCar. Sungguh romantis. IYA SEMACET ITU. Pake taksi 50ribu udah jadi 150ribu kali. Nggak tau ah, nggak mau coba.

T_______T

Sampai akhirnya lebaran. *sujud syukur*

Dan lebaran tahun ini ... bingung karena nenek udah nggak ada. Padahal karena nenek anak paling tua, anak cucunya hanya tinggal ke rumah nenek. Adik-adik nenek dan keluarga besarlah yang akan ke rumah nenek.

Kali ini kami berkumpul di rumah ibu saya, dan beranjak menuju rumah adik nenek. Capek ya ternyata silaturahmi lebaran door to door itu. Hehehe. Maklum biasanya jadi tuan rumah doang, kerjanya cuma makan terus tidur siang.

Udah sih itu aja. Nggak tahu mau cerita apa lagi karena nothing's special. Yang jelas senang sih karena semoga macet Jakarta kembali normal. Boleh macet tapi nggak 3 jam untuk 5 km juga keles broohhh.

*sigh*

Sekarang jam 22.02 dan saya capek banget. Mau bobo. Untung Bebe bobo jadi saya bisa nulis ini.

Selamat lebaran teman-teman! Mohon maaf segala kesalahan-kesalahan saya yaaa.

-ast-






Orang-orang yang Bertahan Hidup

on
Monday, July 4, 2016



Di ujung jalan itu, jalan kecil dan pendek yang menyambungkan Jalan Palmerah Barat dan jalan satunya. Entah jalan apa namanya, jalan di samping rel kereta menuju Pejompongan. Jalan itu hanya sepanjang sekitar 100 meter, memberi nafas pada dua kemacetan. Kemacetan menuju Slipi dan kemacetan menuju Semanggi.

Kadang kedua jalan itu macet, kadang hanya salah satunya. Jalan kecil itu memberi pilihan, akankah nekat menembus macet menuju Slipi? Atau belok ke jalan kecil itu berharap jalan menuju Pejompongan lancar jaya dan tidak terhambat kereta?

Jalan itu saya lewati setiap hari. Di kedua ujungnya ada penjaga, di ujung Palmerah dikuasai satu geng (yang penampilannya seperti) "preman". Berempat atau berlima mereka "mengatur" lalu lintas orang yang keluar masuk jalan. Berharap koin-koin dari mobil yang merasa terbantu, yang merasa berutang budi karena belok di tengah macet itu memang sulit sekali.

Satu geng itu team work-nya patut diberi bonus tahunan, kalau saja mereka bekerja kantoran. Mereka memang membantu. Memberi rupiah pun rasanya tidak sia-sia. Sesekali mereka bergantian menjaga dan beristirahat dengan nongkrong di kios kecil di pinggir jalan. Mereka berkoordinasi agar semua mobil dan motor yang akan masuk gang bisa melaju tanpa membuat kemacetan baru. Saku celana mereka selalu terlihat penuh dan berat, berisi koin-koin ucapan terima kasih.

Sebaliknya dengan penjaga ujung jalan satunya.

Ia tak punya geng, ia bahkan sepertinya tidak punya teman. Seorang laki-laki yang wajahnya tampak lebih tua dari usianya. Kurus kering, kulitnya hitam legam, bahunya agak bungkuk. Terlihat helai-helai rambut putih di sela-sela rambut hitamnya yang ikal berminyak. Tak seperti rekan satu profesi di sudut satunya, ia membawa peluit. Saku celana katunnya tidak pernah tampak penuh. Ada alasannya.

Peluit modalnya itu selalu ia tiup asal-asalan. Tidak jelas meniup pada siapa dan fungsinya untuk apa. Ia terus meniup dengan tangan membentuk dua kode: melaju atau berhenti. Ia sia-sia, ia sama sekali tidak membantu, malah kadang menghalangi. Seringnya ia lah yang membuat kemacetan baru karena ia terlalu bingung untuk memutuskan, siapa yang harus lebih dulu melaju. Atau ia berdiri terlalu di tengah jalan yang sudah sempit itu. Duh.

Suatu hari ia "bekerja" dengan kain jarik melingkari badannya. Membawa anak berusia 4 tahunan. Anak ini tidak tertidur seperti anak-anak pengemis yang katanya diberi obat tidur. Anak ini bangun, melirik ke kanan kiri melihat keramaian jalan.

Hari lainnya ada seorang perempuan yang menggendong anak laki-laki itu, dengan kain jarik yang sama. Duduk di teras sebuah bangunan ujung jalan itu yang ternyata posyandu. Ratusan kali melewati jalan itu saya akhirnya menduga satu hal: mereka satu keluarga dan mereka tidak punya tempat tinggal. Mereka sepertinya tinggal di bangunan posyandu itu.

Dan jelaslah sang kepala keluarga tidak punya pekerjaan yang jelas. Ya, menjadi Pak Ogah tentu bukanlah pekerjaan. Bahkan karakter Pak Ogah yang sebenarnya pun diceritakan sebagai pemalas dan tak punya pekerjaan kan?

Kemudian saya berusaha berpikir positif. Mungkin ia tidak bekerja karena ini, karena itu. Tapi gagal. Selalu yang muncul adalah pemikiran sebaliknya.

"Masih muda kok pemalas."

"Pasti malas cari kerja."

atau

"Pasti kalau pun diberi pekerjaan, ia tak mau."

Dan pasti-pasti lainnya yang seluruhnya murni dugaan negatif belaka. Padahal satu hal yang pasti, ia adalah sebagian sangat kecil dari orang-orang yang bertahan hidup di Jakarta.

Seperti tukang tambal ban di sudut Palmerah yang lain. Kiosnya sangat kecil. Satu kali saat pergi agak siang, saya melihat ia mencuci muka dengan baskom besar di pinggir jalan. Di sisi selokan. Saya bertanya-tanya, tak punya rumah kah?

Kali lainnya pertanyaan itu terjawab karena setiap kami pergi agak pagi atau pulang larut malam, ia sudah tidur. Tidur di halte bis persis di sebelah kios tambal bannya.

Ada pula kios lainnya. Di dekat tempat makan Lapo paling terkenal se-Jakarta. Sebuah kios sempit ditempati satu keluarga dengan anak balita. Anaknya makan apa? Makan nasi atau makan bubur? Tahukah dia kalau ibu-ibu lain di kota yang sama bisa bertengkar hanya karena gula dan garam?

Kemudian ada satu ibu. Pakaiannya dinasnya adalah kebaya batik kutubaru lusuh dengan kain bawahan yang tak kalah lusuhnya. Ia hanya muncul di malam hari, bersama anaknya yang berusia sekitar 10 tahunan. Keduanya tidur di trotoar gelap, di jalan sempit kemandoran.

Saya menduga ia memang bersembunyi dan tak mau terlalu terlihat orang banyak. Mengapa tak tidur di emperan toko seperti para tunawisma lainnya? Tak bisakah ia menemukan posyandu untuk ditempati? Tak bisakah ia membuka kios agar minimal ada tempat bernaung saat hujan?

Yang jelas hanya satu hal, mereka punya kesamaan, sebagai orang-orang yang bertahan hidup di Jakarta.

Seperti juga para kuli bangunan yang bekerja sangat cepat membangun gedung-gedung bertingkat. Berkutat dengan pasir dan semen dan diingatkan artinya hidup dengan spanduk keamanan kerja terbentang di rangka gedung yang sudah setengah jadi. Spanduk putih yang berbunyi "Ingat keluarga menunggu di rumah". Kepala tertutup helm proyek, rompi orange menyala, dan sepatu bot yang penuh kotoran. Tidur di halaman proyek, di bangunan seng yang mereka dirikan sendiri.

Juga seperti kaum pekerja yang berdesakkan di commuter line dan TransJakarta. Seperti para motoris yang berbalut jaket tebal, menembus panas dan jalan luas yang tetap saja pengap. Seperti kaum yang lebih mampu yang mengeluhkan macet pada supir mobil pribadinya, pada supir mobil pribadi anaknya yang bahkan baru masuk TK. Seperti kaum yang lebih lebih mampu yang rela merogoh kocek untuk bepergian dengan helikopter di Jakarta. Mendarat dari satu helipad mall ke helipad lainnya.

Mereka yang berlimpahan harta dan mereka yang hanya bermodal peluk keluarga. Semua berlari berdampingan di kota ini, demi mengisi perut yang lapar dan cita-cita yang bahkan tak semuanya nyata. Cita-cita yang jadi seperti semu, dibaurkan lelah penat keringat. Uang-uang yang menguap entah jadi apa.

Jadi asap dan abu rokok tukang bajaj. Jadi makan di restoran setiap minggu. Jadi berkoper-koper belanja saat pesta diskon di mall, meski itu bisa menghabiskan hampir seluruh penghasilan. Dihabiskan sia-sia dan menguapkan cita-cita karena itu yang membuat lelah penat sedikit terusap. Jadi modal tenaga baru untuk berlari kembali memacu diri.

Demi bertahan hidup di Jakarta.

"After of all of the darkness and sadness. Soon comes happiness," -- Destiny's Child

We are survivor. We keep on surviving.

-ast-




#FAMILYTALK: Baju Lebaran

on
Saturday, July 2, 2016

EHM. Udah mau lebaran lagi yaaa. Saya nulis ini lagi deg-degan siap-siap jalan ke Bandung. Selalu nervous tiap mau mudik soalnya pernah 11 jam Jakarta-Bandung jadi yah. Jangan kira nggak capek juga ke Bandung. Mana bawa bayi kan.

Tapi topiknya nggak mudik kok hari ini. Topiknya baju lebaran. Seperti layaknya trend masa kini, ya saya nggak beli baju lebaran lah. Karena … nggak lebaran pun kan beli baju yah, malesss pas lebaran bajunya tema-tema lebaran gitu. Belum tentu dipake lagi.

Baca punya Isti di sini:

Eh lupa.

...

Beli sih kaftan seragam sekeluarga sama ibu dan adek-adek saya. HAHAHAHAHA.

Untuk pertama kalinya seumur hidup, kami punya kaftan seragam untuk lebaran. Seumur-umur nggak pernah punya seragam keluarga. Apalagi yang model batik samaan gitu karena nggak suka aja. Punyanya kebaya seragaman itu pun modelnya beda-beda, kainnya aja sama. Kalau kebaya banyak karena tiap ada yang wisuda bikin kebaya baru. -_____-

Kaftannya beli di Centro dan ternyata kaftan itu mahal yah hih. Kalau nggak bela-belain seragam aku tak rela beli baju harga segitu. Kaftan itu memang mahal atau karena mau lebaran aja mahal?

Soalnya ke Plaza Semanggi bawah, sama aja juga harganya 500ribuan. APA KABAR SIHHH? Di Plaza Semanggi bawah kan adalah tempat andalan untuk beli baju dan celana 50ribuan. Kenapa kalau kaftan mahal. -______-

Dulu sih aku beli baju lebaran banget. Apalagi kalau anak-anak ya, baju lebaran kan pressure banget. Temen-temen beli baju lebaran, YA MAU JUGALAAHHH. Ini perbincangan masa kecil banget ya kan: “udah beli baju lebaran berapa?”

Yaelah ngapain diitung juga ya kan. Hahahaha. Tapi iya sih, dari kecil saya selalu punya baju lebaran beberapa stel. Plus sepatu juga. Di luar itu jarang-jarang sih beli baju karena kan sekolah doang. Kalau kebetulan nemu aja.

(Baca: Pengalaman Midnight Sale)


Kalau sekarang udah kerja mah, beli baju terus karena bosan bajunya ke kantor itu-itu aja. Pas udah kerja tapi belum nikah, beuh uang THR semua seketika dipake belanja. Mumpung ya kan. Cuma disisihkan dikit buat ngasih ke ibu dan adek-adek serta sepupu.

Setelah nikah dan punya anak, masih sih belanja. Tapi tidak melabelinya dengan baju lebaran juga. Karena nggak dipake-pake amat saat lebaran, malah dipake kerja.

Tapi yes, alasan nggak pengen-pengen amat beli baju lebaran setelah nikah itu ada dua sih. Yang pertama uang THR dialokasikan untuk hal lain dan habis dalam kurun waktu 3 hari HAHAHAHAHAHA. Iya, uang THR itu untuk dihabiskan. Ini tips alokasi THR. Yang kedua, mending beli baju buat kerja karena baju rapi kaya baju lebaran itu dipakenya jarang-jarang.

Dan lebaran kan nggak kaya imlek ya. Kalau imlek sih emang harus pakai baju baru, lebaran kan nggak.

Bebe beli baju lebaran nggak? NGGAK. Hahahahaha. Bebe udah ngerti pilih baju sih tapi nggak ngerti lebaran juga jadi ngapain lah. Lagian kemarin abis beli baju sekaligus banyak gitu.

(Baca: Di sini biasanya saya beli baju untuk Bebe)

Tapi kekurangannya nggak punya baju lebaran adalah … pusing mikir mau pake baju apa. HAHAHAHAHA. Udah mikirin banget, pake baju apa ya, jilbabnya yang mana ya. Sepatunya yang mana ya. Mana saya 90% baju di Jakarta jadi takut ketinggalan ya kan.

Ini ngomong apa sih ya perasaan kok cerita-cerita doang. Ya gitulah intinya.

Selamat lebaran!

-ast-