Mengenalkan Konsep Sharing pada Balita

on
Wednesday, May 18, 2016

Beberapa kali mbak di daycare mengeluhkan Bebe yang tidak mau "sharing" mainan dengan temannya. Saya terus terang bingung karena Bebe bukan tipe yang pelit berbagi kalau soal makanan. Kalau dia punya makanan, dia tak masalah membagikannya pada teman-teman, pada saya, atau pada siapapun yang dia kenal.

Karena ada kakak sepupu Bebe yang sangat pelit pada makanan padahal sudah diberitahu berulang kali. Misal saat ibunya membukakan susu kotak dengan sedotan, ia berpesan "jangan diminum!". Karena ibu-ibu (saya sih lol) hampir selalu otomatis "mencoba" susu yang baru dibuka kan? Ia bahkan tidak membolehkan ibunya untuk minta susu. Kalau punya makanan, ia selalu menyimpannya sendirian. Tidak mau berbagi dengan siapapun.

Bebe tidak seperti itu, ia selalu dengan senang hati berbagi makanan. Tapi kenapa dengan mainan? Kenapa ia sulit berbagi? Kenapa ia suka merebut mainan yang sedang dimainkan anak lain? Kenapa ketika diberitahu ia malah throwing tantrum? -______-

(Baca: Tips Menangani Anak Tantrum di Tempat Umum)

Lagipula saya sendiri bingung dengan konsep sharing mainan. Ada mainan yang memang bisa dimainkan bersamaan seperti Lego atau bola. Bebe tidak pernah masalah main Lego bersama-sama atau menendang bola bersama-sama. Yang jadi masalah adalah, ada mainan yang memang tidak bisa di-share dan harus dimainkan secara bergantian.

Seperti ayunan atau sepeda. Atau mobil-mobilan yang bisa ditarik sambil berjalan. Bagaimana cara sharingnya? Mainnya harus bergantian kan? Seberapa lama waktu yang bisa ditolerir untuk bergantian memainkan mainan? Bagaimana cara dia tahu bahwa ada anak lain yang menunggu untuk memainkan itu juga? Bagaimana cara membuat dia sabar menunggu anak lain main dan tidak merebutnya langsung?

Karena ini saya jadi menunggu-nunggu jadwal konsultasi dengan psikolog sampai kemarin akhirnya ia hadir hahahhaha.



Ini tips mengenalkan konsep sharing pada balita:


1. Buat aturan yang jelas

Balita hidupnya HARUS teratur. Segalanya harus jelas, Oke Bebe akan main sepeda 10 menit ya, maka lakukan 10 menit. Kalau mau ekstrem kaya Isti sih pasang alarm 10 menit, setelah 10 menit dia harus gantian main sepeda dengan temannya. Kalau ia belum puas main, anak hampir pasti akan marah maka ...

2. Bahasakan secara spesifik

Jelaskan bahwa "sepedanya bagus ya, seru sekali bermain sepeda. Tapi Bebe harus bergantian mainnya, karena bukan hanya Bebe yang ingin seru bermain sepeda". Ngambek sih udah pasti banget, tapi fungsi penjelasan ini adalah agar dia tahu bahwa setiap anak punya hak yang sama dengan diri dia.

Karena sebenarnya anak merebut mainan itu bukan karena dia kasar, tapi dia belum mengerti norma. Belum mengerti bagaimana memperlakukan orang dengan baik dan tidak menyakiti perasaan orang lain. Maka memang harus dibantu dijelaskan. Anak selalu butuh penjelasan, jangan kira mereka nggak ngerti loh ya!

Note: Psikolog menyarankan bahasa baku untuk berkomunikasi dengan anak karena lebih tegas, lebih sopan, dan mengajarkan anak kosakata yang benar. Saya dan JG sih memang selalu ngomong baku sama Bebe, entah kenapa. lol

3. Temani anak dan alihkan pada hal lain

Si anak kecewa berat karena mainan yang sedang seru dimainkan akhirnya malah dimainkan anak lain. Di sini kita harus berperan dengan memeluknya dan membantu anak untuk menemukan perasaannya. Apakah ia kecewa? Apakah ia sedih? Saya biasanya tanya: "Bebe sedih ya karena tidak boleh main itu lagi? Bebe kecewa? Kita main ini aja yuk?"

Awalnya ia menolak pasti, muka masih nekuk, mulut masih manyun. Tapi nggak sampai 5 menit biasanya sudah cair lagi. Ajak main mainan yang lain lagi. Dan seterusnya.

(Baca: Ini Cara Saya Membesarkan Anak Saya)

4. Bentuk lingkungan yang baik bagi anak

Ini karena saya bertanya: bagaimana jika harus bergantian main dengan orang yang tidak dikenal? Bebe pernah ingin main ayunan di playground sebuah restoran. Ada anak umur 5 tahunan yang tidak mau bergantian. Ia terus naik itu ayunan dan tidak mau turun.

Akhirnya ibu saya turun tangan dan menegur anak itu karena sudah terlalu lama bermain ayunan. Anak itu diberitahu dengan tegas bahwa harus main bergantian. Saya masih sungkan seperti itu karena duh, anak oraaanggg. Males amat kalau nanti harus berantem sama orangtuanya ya kan.

Kata psikolog, urusan dengan orangtua sudah urusan yang beda lagi. Hubungannya antar orangtua. Tapi kita HARUS memberitahu anak orang lain kalau sudah keterlaluan. Fungsinya agar lingkungan anak terbentuk dengan baik, bahwa bukan cuma anak kita yang harus bisa berbagi, tapi anak orang lain juga.

Kalau orangtuanya marah pada kita dan anak kita? Jangan dilanjutkan bermain bersama anak itu. Anggap mereka sebagai lingkungan yang buruk yang sebaiknya dihindari. Beritahu anak bahwa tidak seharusnya mereka seperti itu.

JUST WOW. WILL DO, SISTA!

5. Orang dewasa adalah pengambil keputusan

BENER JUGA LOL. Ketika saya sungkan menegur anak orang lain yang terlalu lama main, wibawa saya sebagai orang dewasa dipertanyakan oleh anak saya dan anak itu. Harusnya saya sebagai orang dewasa menunjukkan kalau saya adalah pengambil keputusan yang bisa diandalkan.

Ya kan lagi ada dilema kan, harusnya saya bisa tegas pada anak itu, seperti yang dilakukan ibu saya. Tunjukkan pada anak kalau saya bisa diandalkan dalam penegakkan peraturan. :D

(Baca: 10 Kebohongan Saya pada Bebe)

*

Bok, ini gue udah kaya artikel teori parenting amat yah hahahaha. Tapi ternyata hampir semua yang dijelaskan oleh psikolog itu sudah saya lakukan. Penjelasan beliau hanya membantu saya untuk lebih mengerti Bebe. Bahwa dia tidak pelit, bahwa dia tidak kasar, bahwa tugas orangtua untuk selalu ada dan memberinya penjelasan.

Karena kuncinya hanya sabar. Bebe sudah tidak pernah lagi tantrum nangis guling-guling karena dia tahu saya tidak akan memberi apa yang dia mau dengan cara seperti itu. Ia paling menunduk sambil menekuk muka. Mentok paling tengkurep di lantai omg.

Dan ya, yang harus diingat. Apa yang kita lakukan di 5 tahun pertama anak, akan membentuk karakter anak selamanya. Jadi saya dan JG sangat berhati-hati. Ia akan masuk ke society yang sama sekali tidak mudah dan tanggung jawab orangtua untuk membentuk karakter yang membuatnya jadi lebih kuat dan bisa menghargai orang lain. Huah, berat sekali jadi orang tua.

Baca artikel Rabu Ibu lainnya di sini ya!

-ast-
LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


LATEST VIDEO

PLEASE SUBSCRIBE!
7 comments on "Mengenalkan Konsep Sharing pada Balita"
  1. wahaha.. aku dibilang ekstrim, wkwkwk.

    nomer 3 bener banget, yang penting orangtuanya juga meluangkan waktu buat main bareng atau nentuin aktivitas apalagi yang harus dilakukan. soalnya kan anak bakal bingung mau ngapain lagi, kan lagi seneng2 disuruh berenti :D

    dan ternyata akupun melakukan 5 poin ituh, hee

    ReplyDelete
  2. Waaaa....kudu dicobain nih ke Rey sama Shoji. Di rumah kalau udah rebutan berasa pasar malam suaranya hehe

    ReplyDelete
  3. anakku suka bgt sharing, isi kulkas,makanan, ke temennya, malah cenderung dihabisin buat temennya, aku malah kdg dilema sendiri, di satu sisi anak jd murah hati, tapi makanan jd abis semua.. Kalo dilarang ntr malah takut jd pelit... -______-

    ReplyDelete
  4. Beratnya jadi orang tua. Padahal kadang aku yang masih bertingkah kekanakan huvt

    ReplyDelete
  5. Suka sekali sama tulisan ini mbaaa.. Nanti kalo punya anak akan segera aku praktekkan xD

    ReplyDelete
  6. Wah memang kadang jadi dilema kalau ada anak orang lain yang tidak mau berbagi, kadang kita jadi sungkan menegurnya

    ReplyDelete
  7. Artikelnya bagus, makasih buat infonya.. semoga bermanfaat bagi para pembaca termasuk saya

    ReplyDelete

Hallo! Terima kasih sudah membaca. :) Silakan tinggalkan komentar di bawah ini. Mohon maaf, link hidup dan spam akan otomatis terhapus ya. :)