-->

Image Slider

Menjawab Salah Paham Seputar Vagina

on
Tuesday, September 10, 2019
[SPONSORED POST]


Ngomongin vagina lagi yukkk. Yang padahal namanya bukan vagina hahahahahahaha.

Iya, bagian luar yang kita sebut dengan vagina itu sesungguhnya adalah vaginal opening alias liang vagina. Vagina yang sesungguhnya ada di dalam, di antara labia minora dan serviks.

Keseluruhan bagian luar itu namanya vulva. Vulva terdiri labia minora, labia majora, klitoris, uretra (saluran kencing), dan perineum. Itu semua vulva.

Kenapa ini penting? Karena jadi agak bingung nih sex education ke anak jadinya mau sebut dengan “penis dan vagina” atau “penis dan vulva?” So far saya masih penis dan vagina karena semua orang di sekitar Bebe masih pakai penis dan vagina.

Salah satu tujuan sex education dengan istilah sebenarnya itu kan biar nggak membingungkan bagi banyak orang ya. Kalau tetap ada orang bingung ketika anak ngomong “vulva” instead of “vagina”, ya takut komunikasinya jadi nggak jalan aja sih.

Misal anak balita dilecehkan terus dia ngadu ke gurunya dan bilang “vulva” sementara si guru dan sekolah pakainya “vagina” kan tetep jadi miskom. YA GITULAH POKOKNYA.

Anyway sekarang mau bahas kesalahpahaman seputar vulva dan vagina yang massihhhhh sering banget saya denger. Sampai lelah karena hello udah mau 2020 masih percaya aja sama ginian?

Apa aja kesalahpahaman seputar vagina (well ok, vulva)? Hahahaha.

Keperawanan bisa dibuktikan

Ini paling bikin rolling eyes banget. Tes keperawanan itu duhhhh degrading dan terlalu ajaib buat saya. Virginity is a social construct, masalah budaya aja. Karena tau dari mana sih selaput dara (hymen) udah rusak apa belum? Nggak bisa dibuktikan secara medis lho!

Tidak semua perempuan berdarah saat berhubungan seks untuk pertama kalinya karena ya bentuk hymen itu beda-beda, rusak apa nggak juga nggak bisa dibuktikan, dan hymen itu sejak awal sudah BERLUBANG. Ya iyalah kalau nggak bolong gimana darah menstruasi bisa keluar coba.

Ckckckk. Pengen ngegas aja bawaannya kalau ngomongin soal ini sihhhh. >.<

Hanya melahirkan vaginal yang bikin vagina membesar

Ini kekhawatiran banyak sekali orang. Karena mikirin kepala bayi segede gitu, keluar dari vagina gimana caranyaaaa? Padahal kepala bayi pas lahir kan nggak keras kaya kepala manusia dewasa ya ahahahahaha. Kepalanya kecil dan “lembek” gitu.

Dan sebetulnya banyak ibu yang mengaku meski melahirkan caesar pun vagina mereka tetap terasa berubah bentuk. Wajar sih ya karena ya seluruh tubuh rasanya emang berubah bentuk, ka pnasca melahirkan? Jadi jangan percaya hanya melahirkan vaginal membuat vagina berubah. Banyak berlatih kegel agar otot-otot vagina tetap kencang.

Vagina yang sehat tidak akan mengeluarkan cairan

Ini saya termakan salah paham ini banget nih, seolah kalau vagina mengeluarkan cairan jadinya ada masalah. Padahal nggak juga. Apalagi saya memang pake IUD yang emang bikin keluar cairan lebih banyak dibanding yang nggak pake IUD.

Cairan yang normal keluar dari vagina adalah putih dan bening, nggak berbau menyengat. Kalau udah berbau, apalagi bikin gatal, jangan ragu untuk ke dokter ya!

Vagina yang sehat tidak berbau

NGGAKLAHHHH. Emang ada baunya kok. Normalnya memang ada bau khas vagina. Karena kan di dalam vagina itu emang banyak bakterinya dan bakteri memang biasanya berbau.

Kecuali memang baunya tidak biasa-biasanya baru deh konsultasikan dengan dokter.

Vagina hanya butuh air sebagai pembersih

Tergantung airnya sih kalau menurut saya. Karena nggak semua air oke dan bersih banget juga kan. Malah takut jadinya kalau cuma air aja.

Karena ya badan aja kan butuh sabun dong, masa vulva nggak disabunin sih. Vulva juga padahal punya kelenjar keringat makanya rawan lembap.

Makanya pake sabooonnnnn. Iya bukan sabun sih tapi pembersih kewanitaan. Saya sih ke kantor nggak bawa ya tapi selalu pake sih kalau mandi malem sebelum tidur karena ya jadinya kerasa bersih aja semuanya.

Carinya yang kaya gimana? Apa kriterianya?

- pH-nya harus di angka 3,5 sampai 4,9. pH ini untuk mempertahankan tingkat keasaman alami area vagina kita. Kalau pH-nya berubah, bisa jadi masalah bakteri atau jamur.
- Terbuat dari bahan alami supaya nggak bikin iritasi apalagi kalau kulitnya sensitif.
- Jauhi produk dengan pewangi karena kandungan parfum juga bikin iritasi lho. Lagian vagina emang seharusnya bersih dan segar aja nggak harus wangi.
- Kandungan prebiotik bisa melindungi vagina dari bakteri dan jamur.
- Kandungan gliserin yang bisa membantu menjaga kulit sekitar vulva agar tidak kering. Kalau kering biasanya jadi gatal dan perih kan!
- Tidak mengandung alkohol dan paraben. Kalau concern sama halal, pilih yang halal juga!
- Nah, semua kriteria itu ada di Andalan Feminine Care!



Andalan Feminine Care adalah rangkaian pembersih area intim dengan 3 varian yang terbuat dari bahan natural, mengandung prebiotik, halal pula!

Andalan Feminine Care diformulasi khusus sehingga efektif meningkatkan kualitas kebersihan area intim agar selalu segar, nyaman, dan yakin terlindung maksimal. Bahan aktif alamainya juga menjaga keseimbangan level pH area V dengan kandungan prebiotik.

Tiga varian Andalan Feminine Care ini terdiri dari Andalan Fresh Intimate Wash untuk sehari-hari, Andalan Revitalize Intimate Wash untuk menjaga dan mempertahankan elastisitas karena aging, dan yang terakhir Andalan Natural White Intimate Wash untuk mencerahkan kulit di sekitar vulva. Lengkap kaannn.

Saya udah coba ketiganya semuanya nyaman banget. Wanginya nggak nyengat dan nggak bikin kering! Ada kan ya pembersih vagina yang klaimnya bikin segar tapi kenyataannya bikin keset banget sampai kering dan agak-agak perih gitu. Ngeri iritasi deh. Karena kulit saya sebadan-badan emang kering gitu kan, jadi penting banget cari pembersih yang nggak bikin kering.



Siapa yang perlu pakai? Sejak remaja udah boleh kok dipakai, sampai menopause sampai setelah menopause juga nggak apa-apa. Apalagi kalau emang sehari-hari tinggal di tempat lembap, seneng pake celana jins, atau rajin olahraga dan aktivitasnya tinggi banget jadi gampang keringetan. Jadi ayo dicoba!

Jangan lupa follow @AndalanFeminineCare dan mampir ke websitenya Andalan Feminine Care ya!

-ast-




Biaya Akomodasi dan Itinerary Liburan ke India

Sebelum pergi ke India, dengan waktu kurang dari 2 minggu saya ngebut bikin itinerary dan searching akomodasi. Patut diingat kalau kami pergi dengan itinerary tidak ambisius. Kenapa ke India dll bisa dibaca di feed IG ya atau klik di sini.

Kami hanya punya 3 hari, Selasa, Rabu, Kamis. Senin full di pesawat, Kamis malam pulang karena nggak mungkin pulang Jumat. Semua flight Jumat akan nyampe sini Sabtu sore, yang artinya bye bye kelas CFP :(

OGAHHH. Kelas CFP lebih mahal dari perjalanan ini soalnya hahahahahaha.

Awalnya mau Jaipur - Agra - Jaipur, biar 2 hari di Pink City, sehari di Taj Mahal. Hari terakhir langsung ke Delhi untuk kejar flight tanpa jalan-jalan di Delhi. Tapi setelah konsultasi sama rental mobil via email, dia menyarankan untuk seharian aja jalan-jalan di Delhi biar nggak kelamaan di jalan. Iya juga sih ya ngapain bolak-balik segala. Maklum amatir HAHAHA.

Oke saya runut satu-satu ya apa yang harus dilakukan sebelum pergi ke India. Karena kalian pasti akan pindah kota banget nih, terutama kalau mau liat Pink City dan Taj Mahal. Soalnya di Agra, kotanya Taj Mahal itu nggak ada apa-apa. Cuma ada Taj Mahal doang sama Agra Fort (kota lamanya) jadi pikirin kalian mau ke mana aja.

Fotoku sendiri bukan dari Google lol
Sebelum pergi banyak-banyakin baca dan nonton soal scam di India. Akan bantu kalian banget untuk pura-pura bego nggak ngerti bahasa Inggris, pura-pura hilang ingatan, dan jalan lurus siaga satu tetap waspada.

Di sini saya nggak ngelengkapin foto ya, cuma sharing itinerary dan akomodasi. Fotonya cek di IG aja ok.

Cara membuat visa India.

1. Cari tiket pesawat. Setelah ketemu, jangan langsung dibeli. Ini penting karena saat bikin visa, ada pertanyaan akan landing di bandara mana. Kalian mau dari Jaipur apa dari Delhi? Bebas.

2. Cari hotel, karena murah boleh lah langsung dibeli karena saat ajukan visa juga ditanya akan nginep di mana.

3. Ajukan visa, online dan gratis. Cuma siapkan pas foto background putih format jpg dan scan paspor format pdf. Linknya https://indianvisaonline.gov.in/ Memang websitenya tampak tidak profesional tapi itu official kok.

Kalau tidak official kalian akan disuruh bayar sementara paspor Indonesia ke India itu harusnya free. Visa akan diapprove dalam satu hari aja meski tulisannya maksimal 72 jam.

Beli tiket pesawat

Penerbangan dan Jakarta ke Jaipur cuma ada AirAsia. Transit di Kuala Lumpur 2 jam, total perjalanan KL - Jaipur 5 jam lebih kayanya. Tiketnya Rp 2,2juta per orang. Kalau lagi promo sih segini bisa buat return tapi kami kan beli dadakan jadi ya udalah tutup mata aja.

Pulangnya kalau mau pake AirAsia lagi segituan, tapi flightnya nggak ada hari Kamis, adanya Jumat. Jadi Kamis malem kami pulang pakai AirIndia ke Singapura Rp 3,5juta per orang. Pesawatnya canggih banget sampai jendela aja nggak ditutup manual tapi pakai tombol untuk mengatur tingkat kegelapan jendela. Cuma berisik ya ampun, gimana sih sih flight jam 11 malem SEMUA NGOBROL KETAWA-TAWA. Ngantuk. T_______T Akhirnya pasang film, pake earphone, baru deh bisa tidur.

Dari Singapura ke Jakarta pake Garuda, Rp 1,9juta. Pesawatnya so old, jomplang sama AirIndia, mana selimut disuruh sharing sama mba Windi HUHU KESEL. Gimana bisa sih selimut pesawat sekecil itu disuruh sharing :(

Atur akomodasi

Nah ini aku pengen atur semua karena aku memang bossy HAHAHAHA. Antara aku yang bossy atau mbawin yang bos beneran jadi semua maunya diaturin LOL.

Yang harus dipesan: Hotel, rental mobil dari bandara ke hotel (karena taksi itu scam paling gila di India), rental mobil Jaipur - Agra - Delhi, rental tuktuk untuk city tour Jaipur.

1. Rental mobil dari bandara Jaipur ke hostel

Kami landing jam 11 malem yhaaa siang-siang aja takut naik taksi apalagi malem. Pesen mobil dari Klook, cuma USD 11, nyampe sana udah ada mas-mas pegangin nama kita. Di Klook sih fotonya dijemput Innova, kenyataannya dibawa taksi juga lol. Ya nggak apa-apa daripada harus pesen sendiri bayar sendiri, ini kan udah kita bayar dari Indonesia jadi dia nggak bisa malak. Pesen mobilnya di sini: Transportasi Jaipur International Airport (Penjemputan JAI) untuk Jaipur



2. Hotel di Jaipur

Kami nginep di Blue Beds Hostel, pesen via Agoda, semalam Rp 400ribuan udah sama sarapan. Hostelnya seberangan sama Holiday Inn yang harganya 5x lipat. Kekurangannya, Blue Beds ini nggak sediain amenities! Jadi plis bawa sabun sampo sendiri ok.

Ada sarapan yang menunya lumayan banyak, bukan buffet tapi request ke mas-masnya untuk dimasakin. Kami cuma makan plain omelette, pisang, sama apalah kaya pancake rasa India gitu. Lumayan kenyang sampai makan siang.

Semua pegawainya juga ramah dan ingat ini bentuknya hostel ya bukan hotel jadi ya ramah-ramahlah kalian sama semua orang karena sharing common room kan.

2. Sewa tuktuk

Sewa tuktuk liat di TripAdvisor namanya Namaste Jaipur Tours. Tapi jangan pesen langsung di TripAdvisornya, chat aja orangnya langsung di +919571915083 bilang butuh tuktuk seharian. Saya chat paginya sebelum pergi pas sarapan.

Max
Bayarnya langsung ke driver tuktuknya. Driver kami namanya Max, nomornya +919829151513, Rp 180ribu seharian meski kami cuma pake 5 jam aja karena capek nyahahahaha

Itinerary di Jaipur:

- City Palace: INR 700 (Rp 140ribu), orang di ticket box nggak nawarin tiket ini, tapi tiket ini ADA. Mereka nawarin yang INR 3500 (Rp 700ribu) entahlah bahkan tempat wisata resmi aja shady banget. Yang mahal ini bisa masuk museumnya, kami di luar aja cukup kan tujuannya foto bukan cari tau culture atau sejarah. Culture dan sejarah mah googling aja HAHAHAHAHA JUDGE SAJA BODO AMAT.

City Palace, Jaipur
- Jantar Mantar: INR 200 (Rp 40ribuan)

- Amber Fort (kota lama Jaipur): FREE

- Panna Meena Ka Kund (pemandian ratu zaman dulu, baguusss): FREE

Panna Meena Ka Kund
- Hawa Mahal, makan di Wind View Cafe biar fotonya oke: INR 500an (Rp 200ribuan)

- Albert Hall Musem (cuma foto di depannya aja karena tutup).

3. Sewa mobil Jaipur - Agra untuk ke Taj Mahal

Sewa mobilnya di Rajasthan Tour. Kalian ke websitenya terus jelasin deh mau ke mana mana mana. Nanti tektokan via email. Konsultasi itinerary juga ditanggepin dan balesnya cepet banget.

Jaipur - Agra - Delhi masing-masing 5 jam perjalanan, di tiap kota dianterin ke mana pun kalian mau. Biaya sewa mobil ini kurleb Rp 3juta belum sama tip supir. Udah include bensin, tol, parkir.

Drivernya mau pula disuruh puter balik demi foto doang. Mungkin lucky juga dapet driver yang ramah dan berasa dijagain gitu karena tiap turun dari mobil berkali ngingetin “please call me if you have a problem ok” atau “i’ll be right there at the parking lot, call me anytime” atau “don’t worry please” hanya karena nanya udah makan atau belum. :')

BAIK BANGET SIHHHH. Driver kami namanya Ranveer tapi kalian nggak bisa langsung ke dia sih, untung-untungan aja dapet drivernya. Dari review di TripAdvisor sih semua driver ramah dan sopan.

Itinerary Agra: Taj Mahal sama dibawa ke workshop ala-ala gitu tapi udalah nggak usah. Kami terjebak guide aja itu mah.

4. Hotel di Delhi


AKHIRNYA NGINEPNYA DI HOTEL HUHU TERHARU. Hotel kami namanya Bloomsroom Hotel, Delhi. Pilihnya capcipcup aja yang ratingnya minimal 8,5 dan hotelnya gemes HAHAHAHA. Dia serba kuning gitu. Semalemnya Rp 480ribuan, nambah Rp 60ribu/orang untuk sarapan di kafe sebelah hotel.

Nggak recommended kalau kalian pergi tanpa mobil karena TENGAH PASAR banget ternyata. Deket stasiun betul, tapi macet dan rame orang banget, agak serem. Tapi seneng sih karena di sini fotoin beberapa orang lewat dari balik kafe.

Fotonya liat di Agoda aja ya, klik link di atas. Segemes itu juga aslinya kok.

Itinerary Delhi:

- Akshardham Temple: FREE

- Humayun’s Tomb: Rp 220ribu

- Qutb Minar: Rp 200ribuan ke dua tempat ini karena di Delhi udah bisa bayar debit, pake Jenius deh bayarnya jadi nggak tau berapa rupee.

- Jalan-jalan keliling pusat pemerintahan dan India Gate: FREE KARENA MAGER TURUN MOBIL PANAS LOL.

Koneksi selama di sana kami pakai JavaMifi. Sewa multicountry Asia (karena mampir KL dan Singapura) itu Rp 120ribu sehari, bisa sampai 5 devices. Jadi 5 hari itu Rp 600ribu.

Udah sih segitu aja yang penting ketulis lah ini hahahaha. Semoga nggak ada yang kelewat yahhh! Siapa tau ada yang jadi pengen ke India setelah baca-baca cerita kami. Nabung yang kenceng!

-ast-




Liburan Sendirian, Bebe dan JG Gimana?

on
Monday, September 9, 2019

Di antara pertanyaan seputar liburan saya ke India, beberapa orang bertanya: Gimana izin ke Bebe biar mau ditinggal? Apa dia nggak cranky? Apa dia nggak larang pergi?

Btw buat yang nggak ngikutin Instagram saya (heran deh masih ada gitu yang nggak follow? LOL), saya kemarin liburan seminggu. Di India 3 hari, di Singapur 1 hari, sama perjalanan jadi total 5 hari. Berdua aja sama mba Windi, tanpa suami apalagi anak.

Buat yang follow udah lama mungkin nggak heran ya saya pergi-pergi sendiri, tapi buat yang baru ngikutin sekarang mungkin penasaran juga apa anaknya nggak cranky ditinggal selama itu?

Jawabannya … nggak hahahahahahahaha.

Ini pergi saya terlama tanpa Bebe, pertimbangannya karena dia udah besar juga. Udah 5 tahun lho, udah ngerti konsep seminggu itu 7 hari, udah makan dan mandi sendiri, udah nggak bergantung sama saya lagi.

Izinnya gimana?

Soal izin, saya nggak merasa perlu izin sama Bebe lol yaiyalaahhh kenapa harus izin sama Bebe sih. Otoritas kan ada di saya, jadi saya cuma bilang “ibu mau ke India seminggu, Xylo sama appa di rumah ya!”

Passs banget weekend-nya itu, kantornya JG mau pada glamping. Yang lain nggak bawa keluarga sih, cuma ya kalau mau bawa anak boleh aja. Jadi soundingnya pun berubah jadi “nanti aku ke India kamu kemping sama appa ya!” dan “aku ke India seminggu, kamu kemping sama appa 2 hari 1 malam”. Disertai detail hari apa saya akan pergi dan hari apa dia akan pergi.

Dia udah bergumam terus tuh “ibu pulang, aku sama appa malah kemping” lol. Jadi intinya TIDAK ADA izin. Tidak ada penolakan atau “ibu jangan pergi” gitu juga nggak ada. Mungkin karena dia emang nggak pernah larang saya atau JG pergi ke mana-mana sih.

Sejak Bebe lewat umur 3 tahun, dia belum pernah ngelarang saya pergi kerja, jadi saya pergi kerja tiap hari ya santai aja. Nggak pernah ada keinginan resign karena dilarang anak pergi kerja. Itu satu hal krusial untuk bisa pergi liburan sendirian.

Iyalah, kalau pergi kerja yang cuma sehari aja anak ngamuk apalagi pergi seminggu?

Jelang pergi

H-1 saya pergi dia gelendotan terus, manjaaaa banget. Agak mellow sepertinya. Tapi saya kan bukan tipe mellow jadi ya tanggepin aja tapi nggak drama. Nggak jadi bilang “ibu pasti kangen Xylo” nggak begitu juga. Kaya nggak ada apa-apa aja.

Besoknya pun sengaja pilih flight yang nggak terlalu pagi biar rutinitas nggak berubah. JG dan Bebe pergi, saya masih di rumah gitu kaya hari-hari aja.

Selama di India

Selama di sana saya memastikan nelepon JG kalau di kantor aja karena kasiaannn. Biasanya anak kalem dan santai nih, eh ibunya muncul malah jadi drama kan.

Seminggu itu saya cuma telepon Bebe sekali aja. Itu pun kebetulan karena saya nggak tau JG udah sama Bebe. Dia nggak cranky sama sekali sih, masih kalem karena baru hari kedua. Sekali lagi telepon pas udah di Singapur, itu Bebe suaranya agak ketahan gitu kaya mau nangis tapi dia udah excited banget mau kemping jadi nggak nangis.

Sayanya kangen nggak? NGGAK SIH HAHAHAHAHA. Kangennya malah pas nyampe rumah, rumahnya kosong karena Bebe dan JG kemping. Kangen karena ihhh udah satu negara kok nggak ketemu sih. Gitu lol. Tapi karena saya kelas CFP seharian jadi nggak menganggu aktivitas juga.

Please note karena sehari-hari aja saya bukan tipe yang kangen anak kalau di kantor. Cek cctv aja hampir nggak pernah. Saya punya rutinitas, dia punya rutinitas, JG punya rutinitas, masing-masing aja jadinya,

Pulang dari India

“IBUUUU, AKU KANGEN BANGET SAMA IBU!” begitu ketemu saya, bilang gitu berulang-ulang … sambil matanya nonton YouTube Kids di iPad. -__________-

Saya bilang “kalau kangen ngobrol dong kita, katanya kangen tapi malah nonton”. Jawabannya?

“Aku nonton aja deh, ini kan hari Sabtu” HIH. 
-__________-

Tapi malemnya sebelum tidur dia nanya “ibu kok cuma telepon sekali di India, aku bilang appa loh aku kangen ibu”. Hahahaha.

Saya jelasin aja, semua orang perlu lho pergi sendiri kalau memang mau. Appa boleh pergi sendiri (kebetulan appa abis nonton Gundala sendiri), ibu boleh pergi sendiri, Xylo juga boleh pergi sendiri (field trip sama sekolah maksudnya). Lalu udah sih dia nggak mempertanyakan apapun.

Sayanya juga nggak mau drama dengan tanya pertanyaan semacam “nanti ibu boleh pergi lagi kan?” or such. Pokoknya ya menganggap pergi sendiri itu normal aja dan boleh.

Value keluarga dan bonding anak dengan suami

Ini poin terpenting kalau mau pergi ninggalin anak lama-lama sih menurut aku. Liburan sendiri kaya gini nggak bisa ujug-ujug gitu lho. Iya betul liburannya dadakan, tapi sebelum bisa liburan dadakan, kalian harus pikirin dulu hal ini:

Pertama, gimana hubungan kalian sama suami? Ada kesepakatankah soal pergi-pergi sendiri?

Kedua, gimana hubungan suami dan anak? Apakah anak sama dekatnya dengan ayahnya seperti pada ibunya? Apakah ayahnya sanggup ditinggal untuk mengurus anak sendiri? Kalau tidak sanggup, apakah mbak/nanny/ortu/mertua sanggup?

Kalau di poin pertama suami udah nggak ngizinin misalnya, sementara kalian juga apa-apa memang harus izin suami, ya udah kalian nggak bisa pergi lah.

Anggap poin pertama oke, suami ngizinin pergi tapi gagal di poin kedua. Suami/nanny/ortu/mertua nggak sanggup jaga anak, ya gimana jugaaa. Tetep nggak bisa pergi kan.

Sementara dua poin itu harusnya udah bisa diketahui sejak awal. Soal pergi sendiri harus udah disepakati sebelum nikah sementara bonding suami dan anak harus udah bener dari jauh sebelum ada rencana liburan. Jadi ketika liburan dadakan, ya anak juga nggak merasa aneh harus sama ayahnya karena ya seru aja, sama aja mau sama ibu atau ayah.

Ingat kata mba Windi: Kalau orang lain bisa, kamu belum tentu bisa. :)))))

Iya, ibu-ibu bisa liburan tanpa anak dan suami itu nggak buat semua orang dan nggak perlu juga dilakukan semua orang. Kan ada model ibu-ibu yang memang mellow kalau ninggalin anak, atau merasa egois gitu. Kalau kalian model ibu-ibu begitu ya simply jangan pergi lah. Liburannya sekeluarga juga kan bisa.

Satu hal, jangan merasa aneh atau jadi judge ibu-ibu yang pergi sendiri karena ya kami B aja sih, anak juga baik-baik aja, suami juga oke-oke aja. JG malah bilang “kamu liburan lagi gih, 3 bulan sekali ke tempat aneh gitu biar ada konten” WEHHHH, MAU AJA SIH TAPI UANGNYA MANA LOL.

Ada pertanyaan lain juga yang mau dijawab sekalian: Kan India serem, kok suami-suami kalian ngizinin pergi sih?

Yhaaa. Gini deh dari image dulu deh, saya sama mba Windi kan bukan tipe cewek lenjeh manja gitu. Kami berdua kan tipe-tipe cewek galak berani beropini, ya suami-suami juga percayalah. Cranky memang dikasih panas, tapi sori banget nggak lenjeh. Strong women banget kami tuhhh, bukan tipe cewek yang pasrah-pasrah aja HAHAHAHA.

Udah sih segitu aja. Kalau ada yang mau ditanya silakaannn.

PS: Pas saya di Singapur Xylo masuk UGD gara-gara kepalanya kepentok TV di kantor JG sampai berdarah. Diperban doang sih nggak dijahit ahahaha. Kata dokternya bisa dijahit satu jahitan tapi nggak usahlah paling 3 hari sembuh. Dan memang iya, hari kedua udah nutup kok lukanya. :))))

-ast-




Semangkuk untuk Selamanya

on
Tuesday, August 20, 2019
[SPONSORED POST]

Wah judulnya puitis. :’))))

Setelah punya anak hampir 5 tahun, baru beberapa bulan terakhir saya baru sadar tentang pentingnya 1000 hari pertama kehidupan anak. Kenapa kok tiba-tiba kepikiran?

Soalnya dulu Bebe alhamdulillah nggak ada masalah. Berat badan selalu naik dan masih nggak pernah di bawah garis normal alias tetap chubby sampai sekarang. Tentu credit utama pasti pada daycare ya karena dulu kalau makan sama saya di rumah sih susahnya ampun-ampunan.


Sekarang jadi kepikiran karena baru ada anak temen yang berat badannya stuck dari umur 9-12 bulan di 6 kilogram! Dulu Bebe umur sebulan aja berat badannya 5 kg loh. Bayangin masa anak umur setahun cuma 6 kg sih. T_____T

Setelah diusut lebih lanjut dan ganti dokter anak, ternyata si anak infeksi saluran kencing (ISK) tanpa gejala apapun. Ibunya yang nggak ngeh lah itu anak ISK karena nggak pernah demam sama sekali. Jadi tubuhnya ngelawan bakteri terus makanya nggak tumbuh selama 3 bulan! Nafsu makan juga jadinya ilang, sekali makan cuma 5 suap, gizi dan nutrisinya pun nggak tercukupi.

Singkat cerita, ISK-nya disembuhin, kejar berat badan pakai susu khusus, dan dalam sebulan beratnya naik 1,2 kg. Sekarang masih dalam proses naikin lagi pakai susu 2 jam sekali. Masukin susunya lewat selang yang masuk dari hidung langsung ke lambung.

Sebagai tukang sharing, saya pun cerita ini di IG story dan disambut cerita ibu-ibu via DM. Ternyata selain ISK, menurut para ibu, kebanyakan berat badan anak stuck itu karena Anemia Defisiensi Besi (ADB). Sebanyak ituuuhhh yang anaknya ADB jadi kurus!



Kalau secara fisik keliatan kurus dan ditimbang pun udah nggak sesuai kurva KMS sih harusnya alert ya. Apalagi di 2 tahun pertama. Karena itu tadi, 1000 hari pertama kehidupan itu penting banget!

Pada saat itu semuanya berkembang. Dari kemampuan motorik, sensorik, sampai otaknya. Kalau 1000 hari pertama gagal, kemampuannya akan terganggu. Jadi makanan yang dimakan di 1000 hari pertama setelah ASI itu berpengaruh selamanya lho!

Langsung flashback ke masa-masa MPASI Bebe dulu yang rasanya berat banget ahahahaha. Weekdays sih aman karena Bebe makan di daycare tapi weekend itu saya jadi tertekan karena di masa itu mom shaming sedang jaya-jayanya. Sedikit sekali, malah mungkin nggak ada, yang berani bilang “anakku sufor” karena udah pasti diserang.

Saya yang nggak pedulian ini bukan sekali jadi korban “bully” ibu-ibu di socmed karena meski ngasih ASI 3 tahun, saya selalu ngebelain ibu-ibu yang kasih susu formula dan nggak ngotot MPASI HARUS homemade.

Orang kan punya kondisi masing-masing ya, hal-hal kaya gini nggak bisa dipaksakan untuk semua ibu karena semua juga pilihan.

Plus sih alasannya kewarasan. Yang penting ibu waras ya kan, sufor atau harus MPASI instan nggak masalah daripada ibunya stres, depresi, dan menghadapi anak sambil gila? Kan lebih nggak masuk akal.

Jadi saya sama sekali nggak anti MPASI instan. Malah emang selalu punya stok bubur instan karena ya ampunnn udah masak capek-capek seringnya juga nggak dimakan. HUHU.

Tapi semakin banyak ilmu yang didapat saya baru sadar kalau urusan MPASI itu kompleks banget ya. Apalagi setelah denger soal ADB yang justru banyak dialami oleh bayi ASI. Untung mom-shaming udah nggak musim lagi.

Gini deh, menurut IDAI, mulai 6 bulan bayi punya kebutuhan asupan zat besi 11 mg/hari. ASI hanya bisa ngasih zat besi sekitar 2 mg sisanya harus didapatkan dari MPASI. Nah ngitung kekurangannya gimana? Jadi kurang 9 mg kan yaaa.

Nah 9 gramnya itu bisa didapat dari (salah satunya) daging sapi 400 gram sehari. BANYAK BANGET KAN. Gimana coba caranya masukin daging sapi 400 gram ke tubuh anak *langsung kebayang steak*



Iya dong bisa dicampur sayuran juga sih bener. Sumber zat besi itu kan dari protein hewani seperti daging sapi, hati ayam, daging ayam, ikan, atau dari sumber nabati seperti sayuran berwarna hijau, kacang, telur, dan lain sebagainya.

Nah jadi MPASI homemade lebih baik dari MPASI instan/fortifikasi KALAU ibu mengerti benar tentang bagaimana takaran nutrisi yang dibutuhkan anak. MPASI rumah tentu lebih baik asalkan adekuat atau mencukupi kebutuhan gizi dan nutrisi bayi.

Kalau ternyata MPASI full homemade terus dalam sebulan berat badan anak nggak naik kan berarti ada yang salah. Bisa dari cara mengolah MPASI-nya, bisa juga karena ternyata anak ada masalah kesehatan lain.

Atau ya di-combine ajaaa. Kaya saya dulu. Kalau weekdays MPASI homemade tanpa gula garam sampai umur setahun. Kalau weekend MPASI instan to the rescue! Simpel dan nggak stres karena udah masak lama-lama terus anaknya nggak mau makan.

Lagian ya, MPASI instan juga bikinnya nggak asal-asalan atuh. Aman-aman aja asal anak beneran udah di atas usia 6 bulan. Karena semua produk makanan bayi yang dijual harus ikut standardisasi WHO dan FAO yang semuanya tertuang dalam Codex Alimentarius. (namanya rada Harry Potter vibes ya lol).

Aturan ini melarang makanan bayi untuk pakai berbagai zat yang berbahaya bagi anak. Bahkan detail banget sampai ada aturan maksimum untuk setiap nilai gizinya lho!

Saya udah cek satu-satu untuk bagian baby food. Kalian kalau mau cek sendiri juga boleh, FAO publish semua di website resminya. Kalau nggak nurut standar ini udah pasti nggak dapet izin jual dari BPOM.

Yang mau coba MPASI fortifikasi dan jelas kandungan gizinya bisa coba CERELAC (www.mamamyuk.co.id). Udah pasti kualitasnya terjamin dan yang diperkaya dengan zink, vitamin dan mineral untuk mendukung tumbuh kembang anak. Nutrisi harian anak pun pasti terpenuhi.



Jadi anak makan itu bukan asal kenyang! Bukan asal mau makan. MPASI yang baik itu adalah MPASI yang diberikan saat anak sudah berusia 6 bulan (atau sesuai petunjuk dokter), nutrisinya cukup, aman, diberikan dengan cara yang benar, dan disukai bayi.

Cara memberikannya pun dengan responsive feeding atau mengenali saat bayi lapar dan kenyang. Kalau bayi memasukkan tangan ke mulut dan berbinar melihat makanan, maka ia lapar. Kalau bayi sudah memalingkan muka dan menolak sendok makan, tandanya ia kenyang.



Jadi nggak perlu khawatir lagi mempersiapkan MPASI. Share artikel ini ke temen/saudara/adik kalian yang lagi siapin MPASI untuk anaknya ya!

-ast-

#Tenangajabunda
#CERELACmamamyuk

#mpasi
#mpasi6bulan


Info lebih lanjut bisa visit: www.mamamyuk.co.id

Source:
http://gizi.depkes.go.id/download/kebijakan%20gizi/tabel%20akg.pdf
http://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/pastikan-bayi-anda-cukup-zat-besi





Bebe ke Dokter Mata (1)

on
Tuesday, August 13, 2019
Saya cerita dari awal yaaa. Karena ini penting jadi harus ditulis di blog biar cari dan baca ulangnya gampang.



Berawal dari kacamata saya yang udah kerasa kurang enak. Memang terakhir ganti 2 tahun lalu sih, dan kenaikan minus saya juga udah lambat sekali. Tapi seperti biasa yaaa, kalau urusan dokter tapi nggak urgent jadinya kan dinanti-nanti aja.

Sampai untuk pertama kalinya kami makan di kaki lima. Iyaaa, lima tahun sama Bebe, baru pertama kali makan di kaki lima sama Bebe. Bukan sombong tapi lelah banget di kaki lima itu banyak orang ngerokok jadi kami sebisa mungkin menghindar. Kalau berdua JG sih masih bener makan di kaki lima. BU VESTI BARITO FTW! LOL

Nah, si Bebe jadinya excited banget tuh. Oiya btw kami makan di Roti Bakar Eddy yang memang banyak banget tukang jualannya.

Dia bacain satu-satu nama makanan yang dijual sampai semua udah dia baca. Saya dan JG lihat sekeliling dan lihat sebuah tulisan “toilet”. Kecil sih tulisannya, setengah A4 dengan spidol biasa. Jaraknya paling 10 meter tapi Bebe keliatan bingung, dia nggak bisa baca! Tapi kami yang jelas sudah dibantu kacamata kan bisa!

Dia sampai “Apaan sih? Mana sih?” dan mendekat ke arah tulisan itu lalu dengan santainya baca lalu melengos “OH TOILET”. Saya dan JG liat-liatan lalu ok detik itu juga bikin janji ke dokter mata zzz.

Dapet reservasi hari Sabtu, eh last minute dokternya cancel. Saya reschedule jadi hari Senin malam. Kami ketemu dengan dr. Mario Ricardo Papilaya, Sp.M karena cuma beliau dokter mata yang praktik di RS Siloam Asri.

Awalnya saya dulu yang diperiksa. Ternyata yang minusnya naik mata kanan doang, naik setengah. Ya udalah yaaa. Ngobrol-ngobrol soal lasik karena saya udah pengen banget lasik tapi lagi nabung dulu. DOAKAN, GENGS!

Setelah itu Bebe yang diperiksa. Awalnya pakai komputer dan agak susah karena dia gerak-gerak terus. Saya pangku, pegang kepalanya, baru berhasil. Di sini dokternya udah bilang “wahhh ini sih genetik ini, turunan ibunya”.



Saya nervous lol. Takut jreng-jreng minus 3 kan nangessss. :(

Lalu Bebe diperiksa manual pakai kacamata yang kaya robot itu. Pertama pake dia kaya takutttt banget, nggak mau jawab dong. MEMBISU PEMIRSAAHHHH. Saya pegang tangannya lalu bilang “salah juga nggak apa-apa kok, nggak perlu dibaca kok, sebut hurufnya aja”. Dia lalu pegang tangan saya kenceng banget dan sebut hurufnya satu-satu.

Setiap dia salah sebut huruf saya kaya: AAAAKKK SEMAKIN DEKAT MENUJU KACAMATAAAAA!

Tapi di depan Bebe stay cool dong yah. Dokternya juga puja-pujinya persis ibu dan appa banget. Kalau salah tapi minor kaya V atau Y gitu “aahhh nggak apa-apalah salah satu” atau “ya bolehlahhh” gitu. Plus ibu puja-puji “WEH BENER! IH JAGOAN!” GITU TEROSSS. Sampai akhirnya dia lebih santai dan bisa ditanya dengan lebih nyaman.

(Btw dokternya bener nebak nama si Bebe dari Coldplay’s Mylo Xyloto dan suka nonton Ryan serta menganggap mommy Ryan annoying sumpah ngakak karena saya sering banget mengeluhkan betapa annoyingnya mommy Ryan ke JG LOL)

Setelah ganti lensa beberapa kali, Bebe bilang paling nyaman pake lensa kiri 1,25 dan kanan 1. Yesss, kiri -1.25 dan kanan -1. Tapi diresepin kacamatanya kanan kiri -1. PASTI KEBANYAKAN MAIN GADGET YA? *julid lol*

Ini saya jawab pertanyaan yang saya tanyakan ke dokternya kemarin ya!

Apa penyebab mata minus pada anak-anak?
*wow pertanyaan wawancara, mbaknya wartawan ya lol*

Ya genetik. Kata dokternya, genetik itu faktor risiko paling besar anak akan punya mata minus/plus/silindris. Katanya kalau secara genetis baik, mau baca sambil gelap atau tiduran pun nggak akan bikin mata minus karena mata yang sehat bisa menyesuaikan cahaya atau posisi tubuh. Wah, menarik ya!

Pantesaaannn dulu pas SD ada temen-temen saya yang sengaja nonton TV deket, baca dalam gelap, saking pengen pake kacamata tapi matanya tak kunjung minus. It’s a matter of luck aja ternyata. HUH. Kalau ayah ibunya nggak minus ya nggak minus. Lebih sulit minus lah paling nggak.

Genetis itu gimana sih? Apanya yang diturunkan?

Yang dimaksud genetis di sini ternyata bentuk dan ukuran mata. Baru tau banget! Jadi bola mata saya dan Bebe ukurannya lebih besar dari orang yang matanya tidak minus sehingga ya cahaya jatuhnya nggak sempurna. Saya juga tadi denger pengalaman followers di Instagram yang anaknya minus 4 di umur 3 tahun karena bawaan lahir bola matanya nggak bulet sempurna tapi cenderung lonjong.

Ada juga yang lazy eyes sehingga matanya juling. Jadi orang-orang yang matanya juling itu bisa jadi karena lazy eyes sehingga mata yang baik akan dipakai terus sementara mata yang “malas” malah jadi tidak terlatih untuk melihat dengan tepat. Jadinya sipit sebelah atau juling dan harus diterapi.

*HOLA HELO kalau kalian dokter spesialis mata dan merasa penjelasan ini aneh tolong kasih tahu yang benernya ya. Kemarin saya nggak niat nulis soalnya jadi takut penjelasannya salah. Biasanya kalau niat nulis omongan dokternya sambil saya transkrip haha.*

Apa harus pakai kacamata?

Sebaiknya pakai biar pertumbuhan syaraf matanya tetap sesuai perkembangan. Kalau nggak pake, anak nggak akan tahu cara melihat objek dengan jelas dan akan menganggap objek blur sebagai sesuatu yang wajar.

Jadi sebaiknya pakai aja terutama saat melakukan sesuatu dengan dekat seperti nonton, baca, atau tulis. Naturally, anak biasanya malah mau pake kacamata terus kalau udah tahu pakai kacamata bisa bikin penglihatan jadi lebih nyaman.

Apa tesnya akurat? Umur berapa bisa tes mata?

Kalau untuk seumuran Bebe yang udah bisa baca, periksa di spesialis mata seharusnya akurat sih. Yang susah kalau anaknya belum bisa baca, itu periksanya harus di dokter mata pediatrik alias dokter spesialis mata subspesialis anak. Mereka akan punya alat khusus, nggak dites pake huruf gituuu. Mulai bisa dites di umur 3 tahun kok. Jadi lewat 3 tahun selama belum bisa baca, cari dokter spesialis mata anak, kalau udah bisa baca bisa ke spesialis mata umum.

Saya jadi terinspirasi pengen ke dokter mata anak untuk bisa lebih spesifik aja sih. Kepo banget pengen tau alat untuk tes mata anak gimana. Minggu ini deh semoga bisa ke dokter spesialis mata anak.


Seberapa sering sih harus periksa mata?

Enam bulan sekali sampai setahun sekali. Tergantung kondisi anaknya juga, kalau 6 bulan udah ngeluh nggak enak ya nggak apa-apa ke dokter mata lagi. Tapi setahun sekali mending diperiksain aja biar yakin.

Ok moving on to my feeling *HALAH*. Sedih nggak Bebe harus pakai kacamata?

Saya nggak kaget-kaget amat sih denger ini, sedih juga nggak terlalu ya. Karena merasa ya udah sih genetis mau apa juga. Saya sendiri pakai kacamata di umur 10 (apa 11 tahun, pokoknya masih SD) dan itu baru ketauan langsung minus 2,5. :))))

Bebe sekarang umur 5 tahun minus 1, dulu saya umur 10 tahun minus 2,5 kan jadinya ya merasa ini sebuah kewajaran aja. Mungkin saya juga kalau periksa matanya di umur 5 tahun, minusnya akan sudah 1 juga kaya Bebe. Saya tanya JG “kamu sedih nggak?” dia jawab “nggak lah”.

Oh baik. Saya juga jadi nggak merasa harus sedih atau kasian.

Tapi kalau JG sedih mungkin saya jadi ngerasa bersalah ahahahahaha. Untunglah tidak. Mungkin juga karena Bebe juga anaknya cenderung kalem dan nggak clumsy ya jadi sayanya nggak khawatir berlebihan. Dia pasti akan baik-baik aja meski harus pakai kacamata.

Si Bebe juga malah happy dong ya ampun bocyaahhhh. Dia senang sekali karena dia merasa tidak left out lagi dan bisa kompakan pakai kacamata bersama kami bertiga.

Dan terima kasih yang udah message banyak banget di Instagram. Yang cerita kalau anak/ponakan/sodara mereka juga masih kecil udah pakai kacamata dengan berbagai kondisi. Saya jadi ngerasa ada temennya. Jadi pengingat untuk diri sendiri biar nggak judgmental pada anak yang pakai kacamata karena monmaap nih si Bebe nonton weekend doang juga kalau minus mah minus aja.

Jadi demikian pengalaman periksa mata anak bersama Bebe.

Part 2 tentang ke dokter mata anak.
Part 3 tentang minus matanya naik banyak dalam 4 bulan. :(



-ast-