Mengajarkan Perbedaan pada Anak

on
Wednesday, February 7, 2018

Setelah ricuh-ricuh segala rupa dibuat kericuhan, saya langsung sadar satu hal: anak-anak harus diajari soal perbedaan. HARUS DIAJARI dan jangan biarkan mereka belajar sendiri dari lingkungan. Iya kalau lingkungannya toleran, kalau nggak?

Mungkin SD saya di kampung banget ya tapi dulu waktu SD, temen-temen banyak yang udah suka ngomongin perbedaan ke temen sendiri macam “ih dia mah Kristen” padahal kenapa harus ih coba? Anak non muslim biasanya jadi cenderung pendiam karena entahlah, mungkin merasa dikucilkan?

Semoga cuma di sekolah saya aja ya yang memang masih di pinggiran Bandung. Makanya nggak heran, tetangga yang non muslim pasti masukin anaknya di sekolah swasta karena mungkin biar nggak kentara banget mayoritas dan minoritasnya.

Sekarang? Wihhhh, kemarin di Twitter rame soal ibu-ibu di TransJakarta yang nggak mau duduk sebelahan sama orang yang dia duga beda agama. Itu emang kalau duduk sebelahan najis apa gimana? Baca reply-replynya miris banget karena jadi banyak yang curhat. Banyak yang di-cancel ojol karena disangka non muslim, yang susah cari rumah kontrakan, dan banyak cerita lainnya.

Belum lagi ada temen saya ditanya sodaranya yang kebetulan muslim dan baru masuk SD Islam, umurnya 6 tahun. Si anak bertanya: “Tante Kristen ya? Nggak boleh loh ya harus Islam”. O_____O

Terus saya jadi sedih banget. T_____T Kenapa anak kecil sudah mengkotak-kotakan agama kaya gitu sih. T_____T

Tapi ya untungnya Pilkada membukakan mata dan kami jadi lebih niat sih ngajarin perbedaan ke Bebe. Konsepnya sederhana: orang itu beda-beda dan beda itu tidak apa-apa. Orang bebas memilih ingin jadi orang seperti apa.

(Baca: Hal-Hal yang Berubah Pasca Pilkada DKI

Jadi kalau Bebe tanya apapun yang menyangkut agama, warna kulit, warna rambut, gender, mental & physical health (seperti anak berkebutuhan khusus atau berkursi roda), level ekonomi, dsb maka kami akan jawab seperti konsep tadi itu.

Soalnya dia makin sering banget tanya pertanyaan model:

“Kok om itu gendut?”
“Kok dia rambutnya keriting?”
“Kok tidak semua perempuan pake jilbab?”

Jawabannya satu:

“Orang kan berbeda-beda, beda itu tidak apa-apa"

Dan kalau pertanyaannya berupa pilihan seperti pakaian atau agama, maka ditambahkan jawaban:

"Semua orang bebas memilih ingin jadi orang seperti apa”

Pun dengan mainan dan warna. Entah gimana sih dia tau, mungkin karena observasi sendiri karena dari kecil kami tidak memberi gender pada mainan dan warna. Tapi sekarang dia suka nyeletuk “pink kan cantik banget, pink buat ibu aja, aku nggak suka warna pink kan aku laki-laki”. Kalau udah begitu biasanya saya tarik napas dan jawab “kalau kamu tidak suka pink tidak apa-apa, tapi laki-laki juga boleh loh suka warna pink”.

Netral. Dan usahakan selalu netral.

Atau kalau liat pemulung di pinggir jalan. Kami jelaskan dengan konsep berbeda pekerjaan. “Om itu pekerjaannya memang seperti itu, dia mencari uang. Mungkin dulu dia tidak sekolah jadi tidak bisa kerja di kantor seperti ibu dan appa. Pekerjaan orang kan beda-beda”.

Pelan-pelan konsep perbedaan itu masuk banget ke kepalanya dan sekarang nanyanya jadi makin komprehensif.

“Kok om itu gendut? Karena orang beda-beda ya ibu? Kenapa orang beda-beda?”
“Kok dia rambutnya keriting? Karena orang beda-beda ya ibu? Kenapa orang beda-beda?”
“Kok tidak semua perempuan pake jilbab? Karena orang beda-beda ya ibu? Kenapa orang beda-beda?”

NAHLOH HAHAHAHA. Ya udah jelasin aja kenapa orang beda-beda, karena backgroundnya beda, karena ayah ibunya beda, dan banyak lagi alasan yang bisa dibuat netral untuk tetep nunjukkin sama dia kalau dunia ini plural. Kalau di dunia ini orang tidak perlu sama dan itu tidak apa-apa. Dunia terlalu luas untuk dibuat sepakat.

Tapi garis bawahi ya, jawaban perbedaan ini untuk hal-hal yang tidak melanggar hukum, peraturan, atau sopan santun. Kalau nanyanya "kok om itu tidak pakai helm sih?" ya jangan dijawab karena orang berbeda. Jawab aja "iya ih om kok tidak baik sih, naik motor tidak pakai helm kan tidak baik". Ini jadi mengacu pada baik dan tidak baik seperti yang saya tulis di sini ya: Mengajarkan Anak Baik dan Tidak Baik.

Jadi demikianlah. Saya nulis karena mungkin aja ada yang resah juga soal ini tapi nggak tau mau mulai ngajarin anak dari mana. Tolong ya ibu-ibu, ayah-ayah semuanya. Ajari anak perbedaan, bertengkar karena berbeda itu nggak ada gunanya sama sekali.

Happy Wednesday!

-ast-

LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

13 comments on "Mengajarkan Perbedaan pada Anak"
  1. suka sekali baca posting-an nya mbak. kebeneran aku jg punya anak usia balita yang pasti sebentar lg mulai banyak nanya seperti bebe. setelah kmrn abis baca postingan setiap ibu itu berbeda-beda, what a relief. keep sharing good things :)

    ReplyDelete
  2. Yup..pengkotak2an di negara ini emang jd kentara banget,padahal ada bhineka tunggal ika..saya sampai pilih sekolah inklusi untuk anak,sekolah bersama teman beda ras,beda agama dan ABK agar terbiasa dengan perbedaan punya rasa toleransi..

    ReplyDelete
  3. Terimakasih karena mengajakan kami juga ibu2 muda yang punya anak lebih kecil dari xylo. Teh nis udah punya pengalaman dulu, kami bisa aplikasikan smua paenting ala teh nisa. Saya mengapresiasi sekali pemikiran teh nisa soal perbedaan ini. Mengajarkan dari kecil itu sangat baik. Teh nisa junjunganque!

    ReplyDelete
  4. Jadi perantau dan nomaden, ngebantu banget alhamdulillah buat ngajarin segala perbedaan ke anak-anak. Mulai dari orangnya, bahasanya, lingkungan, makanan, agama dan kebiasaan2 yang ada. Dulu di Jakarta tetangga samping dan depan rumah kristen. Di Palopo bahkan aku masukin anak ke TK umum, yang agamanya beda-beda. Meski konsekuensinya harus menjelaskan banyak hal yang anak tanya. Kalau yang tau aku, wich is jilbaban lebar, mungkin agak yang haah, gitu. Seperti beberapa (banyak) temanku. Hehehehe.

    ReplyDelete
  5. Aku pun sedih karena suka dibilang bapakku kristen. Itu kan masa lalu, lagian juga kenapa sih. Terus sedih lagi kalau orang bilang cantik itu harus putih. Hahaha.

    ReplyDelete
  6. Noted nih... meski beda tetap satu juga yaa, Mbak... nggak boleh pilih-pilih juga kalau bermain

    kalau aku sendiri, dari kecil memang sudah terbiasa sama perbedaan. dari TK, TK ku malah TK Kristen karena dulu adanya TK ya cuma itu, terus keluarga besar, ada juga yang non, Islamnya ajah juga beda-beda... buat aku sich gpp... saling menghargai saja

    ReplyDelete
  7. nice thank you for share this information. online custom essay writing service is to provide the many essay papers and students thesis papers. and it

    abcya | brainpop

    ReplyDelete
  8. Anak memang harus dijelasin dan diberi pengertian, agar tidak mudah memberi penilaian begitu saja pada orang lain ya mbak.

    ReplyDelete
  9. Saddd aku juga sedih kak! Aku dulu sd juga dipinggiran bdg dikls ada yg nonis 1 gk begitu inget sih kyknya gk pernah kita bahas deh main dan nakal bareng-bareng haha. Gk tau sih dilingkungan aku dulu dipunggiran bdg cukup byk nonis baik kristen maupun hindu atau budha namanya anak kecil gk bnyk yg kita pikirin yg penting bisa main bareng bareng, gk mikirin perbedaan. Tpi kak masalah perbedaan ini gk cuman trjadi di indonesia aku sering mampir ke web luar atau sosmed luar mrkq juga sedih krn negara mereka yg jadi semakin mengkotak kotakan seseorang, berdasarkan obrolan aku sama org luar di dumay yg punya pemikiran terbuka, trus wktu aku liat review zootopia buat aku sadar ini bukan cuman indonesia tpi dunia.dunia udh makin sakit trnyata negara lain diluar sana jyga memiliki permasalahan yg sama trnyata dinegara manapun yg namanya kaum sumbu pendek banyak, yg gampang kemakan hoax banyak, intolerant banyak, close minded bnya. Makanya ayo sama sama kita heal the world kalau kata michael jackson mah.

    ReplyDelete
  10. Hmm..well, itu juga yg bikin aku ragu masukin anakku ke sekolah negeri 😅

    ReplyDelete
  11. Seperti itulah saya waktu kecil mbak. Beda agama menjadi sesuatu. Karena di rumah memang diajarin gitu, gak boleh main sama yang beda agama. Tapi kalau di sekolah kan diajarin, bahwa perbedaa agama itu seharusnya saling menghormati, gitu.

    Pas udah kerja, aku kerja di kantor yang pada saat itu aku muslim sendiri. Solat sendiri, puasa sendiri. Baru paham yang namanya toleransi ya pas kerja itu.

    ReplyDelete
  12. oya ka, saya juga menekankan kepada anak saya kalau berbeda itu gpp,
    Di sekolah musik tempat anak saya belajar, temannya beda2 agama dan suku.

    Waktu awal2 masuk, anak saya masih bertanya kenapa teman2nya ga pakai jilbab, saya bilang karena agamanya berbeda dengan kita, dan itu gpp, kamu masih berteman dan main bareng mereka.

    Jadi ingat waktu menjelang natal, di sekolah musik, teachernya tanya, siapa yang natalan di sini? miss nya mau kasih buku musik natal ceritanya, dan anak2nya langsung teriak, "aku kristen", "aku budha", dan anak saya pun teriak "aku islam", hehe.
    Tapi walau mereka beda2 agama, yg bikin saya seneng mereka tetep maen bareng, padahal cuma anak saya yg pake jilbab sendirian. Jadi tanpa mereka sadari mereka sudah terbiasa dengan perbedaan dan gpp :)

    ReplyDelete

Hallo! Terima kasih sudah membaca. :) Silakan tinggalkan komentar di bawah ini. Mohon maaf, link hidup dan spam akan otomatis terhapus ya. :)