-->

Image Slider

Karma Anak Laki-laki

on
Wednesday, December 7, 2016

Jadi waktu kecil saya benci anak laki-laki. Dari mulai TK pokoknya saya sebel sama anak laki-laki soalnya mereka nakal.

Ya soalnya saya anak baik-baik, taat aturan, nurut ibu guru, dan segala rupa. Sementara anak cowok suka nggak mau diatur.

Belum lagi ibu saya melindungi saya dari gangguan anak laki-laki dengan galak. Beliau berpesan saat saya SD, kalau ada anak laki-laki yang berani menyingkap rok saya PUKUL! Pukul punggungnya! Lapor sama guru! Dan itu saya lakukan hahaha.

Bagus sih ya jadi saya diajari terbiasa menolak pelecehan sejak kecil. Tapi di otak saya jadinya anak laki-laki itu nakal dan tidak perlu ditemani.

Ibu saya yang anaknya tiga perempuan semua juga selalu bilang "duh kayanya ibu nggak sanggup deh punya anak laki-laki, pasti nanti susah diem blablabla". Jadi di otak saya, anak laki-laki itu menyebalkan hahaha.

Soalnya ibu saya 5 bersaudara cewek semua, saya 3 bersaudara cewek semua. JG 4 bersaudara 2 cewek 2 cowok sih tapi logikanya banyakan anak cewek dong? Nenek saya juga cucunya 9 yang 3 cowok. Kan kaya seluruh gen lebih banyak perempuan gitu.

KEMUDIAN HAMIL DAN USG. ANAK SAYA LAKI-LAKI.


Saya sampai bengong berhari-hari lol. Nggak pernah kebayang punya anak cowok. Siapin nama selalu nama perempuan, bahkan udah browsing baju aja baju-baju cewek. Sampai waktu berlalu dan pas lahir oh lucu juga anak cowok. Hahaha.

TAPI si Bebe melakukan semua hal yang persis dilakukan anak laki-laki teman sekolah saya dulu. Hal-hal yang kalau dulu saya liat, selalu saya judge sebagai "dih dasar anak nakal" atau "lebay banget sih, ga jelas".

Ternyata anak cowok emang agak kurang jelas ya mainannya HAHAHAHAHA. Iseng terus ... kurang jelas aja gitu, kurang makna lol.

Apa aja?

Lari-larian dan panjat-panjat

KENAPA INI KENAPA? Kenapa harus lari-lari keliling ruangan tanpa tujuan? Kenapa harus memanjat semua yang bisa dipanjat? Kenapa harus lari-larian kemudian saling menabrakkan diri DAN KEMUDIAN KETAWA-KETAWA?

Perasaan saya waktu kecil nggak pernah lari-lari kalau nggak ada tujuan. Lari kalau udah kesiangan dateng ke sekolah. Nggak pernah panjat meja tanpa alasan. 😪

Jatuh-jatuhan

Ini juga. Anak cowok itu nggak perlu jatuh tapi kemudian pura-pura jatuh ditambah dua kali berguling lagi. Yaelah lebay amat. Kenapa harus pura-pura jatuh? Kenapa harus jatuh kalau sebetulnya tidak jatuh? Kalau guling-guling di garasi kan bajunya jadi kotor.

Udah gitu pas ditanya "sakit nggak?" jawabnya "Aduh sakit! Berdarah!"

Padahal nggak berdarah sama sekali terus lempeng aja main lagi padahal sayanya suka takut beneran berdarah kaya kemarin itu huhu. 😩

Dorong-dorong

Si Bebe suka iseng dorong-dorong temennya. Jadi dia jalan mundur pura-pura nggak liat temennya ada di belakang terus temennya kedorong, kedorong, kedorong sampai mentok dinding. Kalau dorong anak cowok lagi biasanya mereka sambil ketawa-tawa.

Tapi kalau yang didorong anak cewek maka dalam hitungan ke 10 si anak cewek akan nangis, Bebe akan di-time out, dan kemudian Bebe yang nangis.

LAH YANG DULUAN DORONG SIAPA?

Tidak kalem

Iya sih anak perempuan juga ada yang nggak kalem. Saya liat sendiri di daycare anak perempuan itu terbagi dua. Ada yang sweet, main boneka, kalem, larang-larang anak lain berbuat keributan alias saya di zaman dulu. Ada juga yang sama aja kaya anak laki-laki.

Bebe? Bebe main mobil-mobilan aja #goals nya adalah si mobil saling menabrak. Jadi kalau saya main mobil-mobilan sama dia, kami duduk berhadapan dengan jarak 1,5 meter. Saya pegang satu mobil, Bebe pegang satu mobil. Nanti dia kasih aba-aba dan kami harus memajukan itu mobil tapi dia dengan sengaja akan nabrakin mobil dia ke mobil saya.

NGGAK ADA YANG NGAJARIN! Dia cuma tahu arti tabrak dan langsung menganggap itu seru.

Jadi dia nggak pernah bilang "main mobil-mobilan yuk ibu?" dia bilangnya "main tabrak-tabrakan yuk ibu?"

T_______T

Tembok rumah bagian bawah udalah bocel semua karena Bebe mainnya mobil-mobilan besi gitu. Mobil plastik mah seminggu dimainin juga patah semua.

Suatu hari di daycare.

Bebe: "Ibu salo buang mobil ke tempat sampah"

Ibu; "KENAPA DIBUANG?"

Bebe: "Soalnya rusak, bannya patah!"

T______T

Itu karena mobilnya plastik jadi no more mobil plastik!

Pernah juga lagi macet, Bebe duduk di carseat terus tiba-tiba di bilang "appa tabrak aja mobil itu" *tunjuk mobil depan*

ASTAGA. SUPER WHAT.



Banyak gaya

Iya kebanyakan gaya banget deh. Anak-anak cewek nih main perosotan itu caranya naik tangga kemudian merosot. Bebe main perosotan itu naik tangga kemudian merosot kepala duluan kaya superman. Atau naiknya dari arah perosotannya. Kan licin yah. 😴

Duuhhh dulu kan waktu kecil kalau saya liat anak kecil model gitu saya langsung nggak mau temenin dia karena itu kelakuan anak nakal. HAHAHAHAHA.

Roll depan

Ini hobi Bebe bulan ini banget nih. Roll depan lah kapan pun roll depan bisa dilakukan. Auk saya sampai pusing sendiri kenapa sih ini anak?

*

Padahal ya, saya juga nggak pernah bilang "anak laki-laki harus kuat!" karena ya anak perempuan juga harus kuat kan. Tapi si Bebe naturally ingin terlihat kuat gitu, semacam ingin menunjukkan diri kalau dia kuat. It's in their blood deh ya kayanya. lol

Saya juga nggak mengajarkan gender pada mainan jadi nggak pernah larang dia main boneka atau masak-masakan. Tapi tetep maunya main fisik atau main bola. Bagus juga sih soalnya kalau nggak main fisik nanti kurang capek, nanti bobonya kurang nyenyak. Hahaha.

Dan meskipun suka pusing sendiri kenapa suka nggak jelas banget, ini saya simpan dalam hati belaka. Nggak pernah juga saya larang Bebe karena ngapain deh dilarang? Ini jadi bahan ketawa-ketawa aja sama JG bahwa anak itu meski nggak dilarang atau diarahkan, mereka sebenernya tau mau mereka apa. Betapa juga Bebe itu selalu bisa bikin keadaan apapun jadi seru, padahal menurut kita mah krik krik banget lol. Anak kecil belum harus mikirin bayar listrik sih! 💆

Serunya punya anak cowok adalah, manjain ibunya banget hahahaha. Cium ibu selalu mau, cium appa belum tentu. Cium dan peluk ibu nggak diminta pun suka tiba-tiba cium dan peluk. Kalau digendong dia suka nggak tega gitu sama saya jadi maunya gendong appa aja "kasian ibu berat" huhuhu luv. 💖

Dan saya juga baru sadar kenapa saya nggak dikasih anak perempuan. Mungkin karena saya akan jadi sangat boros. Sampai sekarang aja gatelan banget liat perintilan anak-anak cewek. Belum lagi urusan Little Pony dan Barbie HAHAHAHA.

Sampai sekarang saya bisa menahan diri nggak beli Little Pony banyak-banyak karena duh buat apa? Di kubikel kantor udah ada beberapa. Coba kalau anaknya cewek, pasti alesan aja jadinya lol. Mana dari kemarin saya kepikiran pengen banget ini. Untung nggak punya anak cewek!


Anak cowok kan enak, dikasih bola bahagia, bola kan 2 aja cukup, lah boneka little pony? Harus punya semua karakter dong ya kan? 😂

Tambahan setelah baca komen: IYA BEBE JUGA SUKA FROZEN LIKE SUKA BANGET. LOL

PS: Tidak terima saran dan komentar anak kedua aja biar dapet anak cewek. Satu aja aku kurus kering begini hahahaha.

-ast-




Bebe's Story 34 - 38

on
Tuesday, December 6, 2016

6 Desember 2016.

Hari ini Bebe tepat 2 tahun 6 bulan. Mungkin ini terrible two sedang klimaksnya karena kalau ini belum klimaks, saya bisa sakit kepala mikirin klimaksnya gimana. Bebe sedang sangat, sangat, sangat keras kepala. Apa yang ia mau harus dituruti.

Semalam mendadak nggak mau gosok gigi sebelum tidur. Padahal sebelumnya mau-mau aja bahkan ngajak ke kamar mandi sendiri untuk gosok gigi. Semalam nggak mau. Nangis kejer kaya disiksa. 😪

Kalau lagi nangis gitu dia benci JG with no reason HAHAHAHAH. Pokoknya kalau lagi tantrum dia benci banget dideketin JG apalagi digendong. Pasti teriaknya "ibu aja ke ibu aja". Padahal saya yang maksa dia gosok gigi lol. Soalnya gigi dia rapi banget dan itu pasti karena dia rajin gosok gigi sejak bayi. Masa sekarang tiba-tiba nggak gosok gigi padahal yang dimakan makin beragam?

Saya nggak terima.

Walhasil semalam sekitar 40 menit lah dia dijaga JG di dapur teriak-teriak "mau ibu aja!" like a gazillion times. Kalau mau ke saya, syaratnya harus mau gosok gigi. Sekitar 5 menit sekali saya tengokin, dan tanya "sudah mau gosok gigi?" dia jawab "NGGAK MAU GOSOK GIGI! MAU IBU AJA!". 😪

"Tidak boleh, kalau mau ke ibu harus mau gosok gigi," I SAID THAT ALSO GAZILLION TIMES.

Sampai akhirnya ya maulahhhh. Lagi kenapa sih harus nggak mau segala coba. Akhirnya nangisnya udah selesai karena mungkin dia bosan dan dia bilang "mau ibu, gosok gigi di kamar sama ibu". OKE! Gosok gigi deh di kasur lol lagi odolnya odol bayi yang nggak berbusa gitu. Yang penting gosok giginya kan bukan di mananya? LELAH ZIZ LELAH.

(Baca: Terrible Two Tips: Menghadapi Anak 2 Tahun)


Oke lanjut ke celetukan-celetukan Bebe bulan ini! Banyak sekali yang terjadi dari beli sepeda, nonton bioskop pertama kali, sampai kepentok kusen jendela berdarah-darah sampai ke UGD. -________-

#34

Nasihat bulan ini dari Bebe: "Ih ibu ini kukunya panjang, potong dulu yuk!"

Ibu *dalam hati* : "THAT'S MY LINE!"


#35

JG finally beli sepeda, biar bisa naik sepeda bonceng Bebe. Bebe super excited dan selalu mengaku-ngaku kalau itu sepeda dia bukan sepeda JG. Mereka main sepeda di CFD tiap minggu pagi jadi ibu di rumah bisa main dandan-dandanan plus foto-foto yay!

Minggu lalu sebelum pergi.

Bebe: "Ibu, Salo main sepeda sama appa! Ibu ditinggal aja ibu nggak diajak!"

Berjam-jam kemudian mereka pulang.

Bebe: "Ibu tadi di jalan Salo mau pulang aja. Salo cari-cari ibu."

HAHAHAHAH TADI KATANYA IBU DITINGGAL AJA HIH!

#36

Bebe sudah hafal warna, cuma kadang kalau di-tes suka ngotot aja sengaja nggak pengen bener. Apalagi kalau sama JG. Suatu hari JG menunjukkan warna merah.

JG: "Ini warna apa, Be? Me?"

Bebe: "HIJAU"

JG: "Merah ah, kan sudah tahu merah"

Bebe: "HIJAU APPA!"

JG: "Yeee merah ini"

Bebe: "IH APPA! INI MERAH!"

JG: "LAH IYA DARI TADI APPA BILANG INI MERAH!"


#37

Tiap sore, yang saya tanyakan pertama kali adalah "Xylo hari ini nangis nggak?" karena itu menentukan mood dia seharian.

Ibu: "Xylo hari ini menangis nggak?"

Bebe: "Nangis"

Ibu: "Nangis kenapa?"

Bebe: "Lupa!"

Hmmm, saya curiga, Belum pernah sekali pun Bebe jawab lupa kenapa menangis. Lupa menyimpan mainan sih sering.

Nyampe rumah dia cerita lagi tanpa ditanya.

Bebe: "Ibu, tadi Epin nangis, Salo juga nangis" (Epin adalah nama temannya)

Ibu: "Wah kenapa ya nangis?"

Bebe: "Epin jatuh dari sepeda, Salo lupa"

*keukeuh lupa kenapa nangis*

Saya masih curiga tapi nggak maksa. Dia masih lanjut cerita.

Bebe: "Ibu tadi ada doktel"

HMMMMMM.

Ibu: "Jangan-jangan Salo nangis karena ada dokter gigi? Tidak mau buka mulut ya?"

Bebe: "Iya betul"

😂😂😂 akhirnya ngaku juga anak bayik!


#38

Jadi sore itu saya udah di daycare nunggu JG, Bebe mainan gorden. Kesel banget karena nggak bisa dibilangin jangan karena takut jatuh. Dia loncat-loncat di balik gorden, depan jendela.

TAU-TAU NANGIS.

Saya buka gordennya dan dia nangis bilang "ibu ini sakit kejeduk huhuhu"

Saya kesel dong dan selewat cek jidat dia nggak merah atau benjol "ibu bilang juga jangan main di sini, nggak kelihatan kan jadi kejeduk!"

Tiba-tiba dia gosok alis kanan sambil masih nangis bilang "ini sakit ibu" DAN BLAR TAU-TAU DAHINYA BERDARAH.

T__________T

Jadi tadi nggak kelihatannya itu karena sobek kecil banget dan di antara bulu-bulu alis. Eh malah digosok jadi lukanya makin lebar. Tangannya udah darah semua, pelipisnya juga.

Oke saya nggak panik, saya angkat dan bawa ke ruang tengah daycare. Minta tolong mbaknya bawa air panas dan dibersihkan pakai tisu basah air panas. Saya langsung foto dan kirim JG, JG dateng langsung cus ke UGD.

Di UGD lukanya dibersihkan lagi, butuh JG dan 4 suster (3 cowok 1 cewek) untuk pegangin karena dia berontak dan kuat banget! Saya yang gendong, dan dokter bersihin lukanya.

Nggak dalem, nggak perlu dijahit. Cuma panjang aja sekitar 1,5 cm. 😪 Diperban rapi, harus diganti sehari dua kali selama 3 hari, kemudian dia kembali ceria, Sampai rumah udah loncat-loncat lagi di kasur WHY.

Dan luka itu kemudian jadi alasan untuk segala hal.

JG: "Be, itu ada upil sini appa ambil"
Bebe: "Nggak mau appa, Salo lagi sakit!"

Ibu mau pergi kerja: "Cium dulu dong!"
Bebe: "Jangan cium ibu, Salo sakit!"

YAELAH.

Perban itu nggak boleh ada yang ganti kecuali ibu. Besoknya di daycare kebetulan jadwal dokter, kepo dong dia mau liat lukanya. Dia buka sedikit perbannya, SEHARIAN NGGAK BOLEH ADA SENTUH LAGI LOL. Jadi seharian dia main dengan perban ngaplek setengah terbuka. -________-



*

ITU AJA!

Bulan ini berat karena dia maunya begadang mulu. Bobo dulu sih jam 10-11an gitu tapi kemudian jam 2 bangun. Pernah pas kapan dia bangun biasanya main doang, ini minta susu lah. Saya bangun ambilin susu coklat, terus dia bilang stroberi dong ibu. Sambil merem saya ke dapur lagi ambil susu stroberi. Selesai minum susu, dia mau minum air putih, dan minta diisi ulang botolnya. Saya jalan lagi ke dapur astagaaa.

Aturan mobil-mobilan bisa jatoh ke balik kasur terus dia sibuk cari hp untuk nyalain senter dan senter-senterin mobil-mobilan yang jatuh. Terus buka YouTube sendiri DAN JG *yang padahal dari tadi bobo doang* NGGAK TAHAN LAGI. JG rampas hpnya dan Bebe langsung marah sampai ketiduran. #win

Bebe juga lagi hobi roll depan. Literally jungkir balik. Mau ngapain pun roll depan dulu. Pake celana, sambil posisi siap roll depan. Mau bobo, roll depan dulu 5-10 kali lah. Nonton film aja sambil guling-guling roll depan PERMISI MAKSUDNYA APA YA? Akhirnya Bebe melakukan hal tanpa tujuan. -_____-

Dan yah, pertama kali nonton bioskop. Bebe dan JG nonton 'Moana' biar saya bisa nonton 'Fantastic Beasts and Where to Find Them'. Kalem banget katanya sepanjang film yay! Seru deh kalau gitu nanti lagi udah bisa diajak nonton kalau ada film anak-anak.

*

PANJANG YAAAA. See you next month!

-ast-




Hal-hal yang Saya Pelajari dari Aksi 212

on
Monday, December 5, 2016
foto: Republika

Ya, dari aksi 212 kemarin itu saya belajar banyak. Banyak sekali. Hal positif dan hal negatif yang jadi pengingat diri sendiri.

Sebelum aksi pertama 411, saya nyinyir pada orang yang tetap pada pendirian kalau aksi ini murni bela agama. Saya keukeuh itu bullshit, aksi itu politis.

Baru di 212 kemarin saya melihat mereka memang membela agama. Minimal tidak ada yang terlihat di kamera TV teriak "bunuh Ahok". Orang-orang yang berkumpul ini membela kepercayaannya.

Baca punya Nahla: 212
dan punya mba Windi: Catatan Aksi Bela Islam 212

Ini hal-hal yang saya pelajari dari aksi 212 kemarin:

1. Aksi bisa berjalan damai karena tujuannya baik


Ya, sebagian besar datang dengan tujuan zikir, doa, dan salat Jumat bersama. Masa mau bilang tidak baik. Banyak teman yang ikut dengan alasan "kapan lagi salat dengan jamaah sebanyak itu" atau "serasa sedang umroh karena berkumpul dan berjalan dengan sesama muslim dalam jumlah banyak".

Whoa saya baru terpikir sampai ke sana. Seperti umroh, mungkin iya juga. Padahal di Jakarta, Jakarta rasa Mekkah.

2. Rumput aman, Monas bebas sampah

Katanya saling mengingatkan ya untuk tidak membuang sampah dan tidak menginjak rumput. Terharu sekali. Kalau diaplikasikan pada hidup sehari-hari pasti Jakarta rapi. Soalnya saya sering berantem sama orang gara-gara orang buang sampah sembarangan huuuu. 👎🏻

3. Orang baik itu masih banyak

Ada seorang bapak tua yang hilang kemudian ditemukan. Pedagang memberi dagangannya gratis. Sungguh berbuat baik bisa dengan cara apa saja. 😊

4. Tidak semua orang bisa berlaku adil

Begini, ketika aksi siang 411 damai ada yang tetap merusuh dengan berteriak "bunuh Ahok" ya akui sajalah bahwa saat itu memang tidak sedamai itu. Bahwa itu membuat takut banyak orang. Mungkin karena tujuannya kurang jelas? Datang kemudian apa? Kalau kemarin kan jelas, datang untuk salat berjamaah dan doa bersama.

Sebaliknya juga ketika aksi 212 damai, ya akui juga dong damai. Ada beberapa teman yang keukeuh mencari-cari kesalahan. Dan hanya share jelek-jeleknya saja.

Saya jadi gemes sendiri sama orang-orang model begini. Saya masih tidak setuju aksi, tapi kenyataannya damai kok. Masa mau maksa-maksa tidak damai.

Catcalling? Yah, regardless agamanya apa, cowok-cowok di Indonesia emang hobi amat catcalling. 😭

Cuma emang miris sih kalau tujuan mau zikir dan doa tapi di jalan catcalling cewek. 😪

5. Jangan mengabaikan fakta dan logika

Ya, mungkin terbawa euforia. Tapi tidak lantas menjelekkan media yang menyebut peserta aksi hanya 1juta misalnya. Itu tidak asal hitung loh, ada metodenya. Keukeuh 7juta tapi ditanya cara menghitungnya gimana malah langsung emosi "situ ga ikut kan ga usah iri dengki begini lah!"

Lha. Logikanya nggak sampai. Bukan saya yang bikin status jadi saya speechless sama yang komen. Mau ikut komen tapi ah sudahlah.

Kalau memang ikut dan merasa di sana banyak orang, tidak usahlah pedulikan angka. Kalau mau peduli angka, ya harus peduli juga cara menghitungnya. Angka kan ilmu pasti.

6. Sombong itu macam-macam modelnya

Sebagai orang yang sering dibilang congkak oleh Nahla, saya merasa kesombongan saya nggak ada apa-apanya dibanding orang-orang ini. Hahaha. Ya apaan sombong saya cuma level 2 tahun 2 juta views buat blog. Hampir nggak pernah nulis status soal blog, sekalinya bikin langsung dicap congkak. 😂

Ada yang menulis kurang lebih begini "ah aksi kemarin biasa saja, tidak istimewa, mengumpulkan massa atas nama agama itu tidak perlu dibanggakan karena sering terjadi di berbagai negara dan berbagai agama." Kemudian dia dibully.

Ya mau nggak bangga juga silakan sih, terserah deh. 😂 Tapi kalau ada orang bangga, ya biar juga. Orang kan punya pendapat masing-masing.

Ada juga yang menulis kalau ratusan ribu orang datang untuk istigosah itu sudah biasa. Dia menyebut satu kota di mana orang memang rutin datang berbondong-bondong untuk berdoa bersama. Mereka tidak perlu liputan media juga tidak perlu pamer apalagi sampai foto-foto kemudian di-share di sosmed.

Masnyaaaa, masa ke Monas terus nggak foto-foto. Ke Monas dan foto itu mandatory. Ini nggak sarkas ini beneran. Ya kan? 95% orang yang pertama kali ke Monas pasti foto lah. Monas kan ikonik.

7. Polisi bisa juga menarik simpati

Bukan, bukan urusan polisi ganteng. Tapi cara mereka menarik simpati dengan memakai juga peci putih. Semua polwan berjilbab rapi. 👍🏻

8. Saya lupa kalau paspampres itu tentara

Hahahaha yang ini bodoh. Abis paspampres Jokowi kan SELALU pake batik ya, sama kaya ajudan biasa. Maksudnya ajudan yang lulusan IPDN gitu bukan tentara.

Kemarin pake seragam tentara uhwoowww. Jadi terasa kalau Jokowi presiden. Biasanya nggak kerasa hahaha. Ya memang beliau nggak mau kaya presiden sih, malah Syahrini yang di jalan pake dikawal motor bersirine, Jokowi dan keluarga nggak pernah. 😪

9. Jokowi masih disayang banyak orang

Banyak ibu-ibu yang saya pikir anti Jokowi (karena dia antek Cina 😪) ternyata ikut mengunggah foto Jokowi dengan caption "presidenku". 😍

Dan itu banyaaakkkk. Nggak cuma di Facebook tapi juga di Instagram. Luvvvvv. ❤️

10. Media harus melindungi pekerjanya

Sebagai pekerja media saya sedih banget liat video wartawan dilecehkan. 😭

Bukan salah dia loh beneran kalau medianya nggak berimbang. Yang di lapangan kan berangkat liputan dan meliput apa berdasarkan arahan di kantor. 😭

Iya media banyak yang tidak berimbang, tapi tidak lantas membenarkan pelecehan wartawan dengan "salah sendiri beritanya ga imbang!" Melecehkan wartawan sama tidak benarnya dengan membuat berita tidak berimbang.

Btw soal media tidak imbang, kalau TV memang susah krosceknya ya, tapi kalau media online kan gampang. Orang sekarang gampang tuduh, apaan nih media ga berimbang padahal baru baca satu berita.

Woy, search dulu kali berita yang lain. 😩

Karena berita kan ditulis berdasar konteks. Misal sedang menulis berita Ridwan Kamil dapat penghargaan apa gitu, kan tidak nyambung kalau ditambah background Bandung banjir.

Tapi bukan berarti tidak imbang kan? Kecuali saat Bandung banjir tidak diberitakan. Jadi jangan terlalu gampang judge media tidak imbang.

Yang tidak imbang itu yang konsisten share berita hoax dan menjelek-jelekkan orang terus. Mereka bahkan bukan pers, mau dilaporkan ke dewan pers juga tidak jelas lembaga yang menaungi apa, apalagi ngomong kode etik jurnalistik, JAUH. 😪

Itu aja sih.

*

Saya bersyukur aksinya damai jadi bisa pulang cepat karena jalanan kosong sekali. 😊

Saya tentu masih percaya ada aktor politik ikut menunggangi tapi mereka memang tidak peduli. Orang-orang ini datang dan berkumpul, membela apa yang mereka imani apa yang mereka percaya. Urusan politik bukan urusan mereka, kalau pun ditunggangi biar Tuhan yang balas. Setidaknya mereka berpikir demikian dan itu cukup. 😊

-ast-




Online Shop Nowadays

on
Friday, December 2, 2016

Jadi gue baru mendapat ancaman, gengs. Gue diancam akan di-blacklist kalau dalam 24 jam nggak transfer ke online shop di mana gue beli pin Sailormoon seharga Rp 12ribu. Barang yang kurang penting memang ya. Gue bayar sih in the end karena pengen hahaha.

Bukan masalah harga atau kepentingan barangnya (karena kapan gue beli barang yang penting selain belanja bulanan lol), tapi ancaman yang kini sering dilontarkan oleh para sis-sis online shop saat chatting kalau kita tanya-tanya barang. Hit & run = Blacklist! Waduh! Gimana nasib kehidupan konsumtif gue kalau gue di-blacklist oleh ol shop!

Padahal wajar nggak sih customer nanya-nanya dulu sebelum beli? Wajar banget lah. Apalagi kalau fotonya udah diedit dan dikasih filter. Atau pake foto official brand. Minta foto asli dulu boleh dong?

NGGAK BOLEH TAUUU. Kalau udah nanya-nanya terus nggak jadi beli maka black list! Di-block! Nggak boleh beli lagi selamanya.

HHHHHH.

Gini deh bayangkan, sekarang kita datang ke mall terus nanya-nanya sama mbaknya. Ini kulit apa mbak? Awet nggak ya? Garansi nggak? Wah nggak ya? Oke deh makasih ya mbak. Kemudian kita pergi karena memang belum pengen-pengen amat beli dan mau survey dulu ke yang lain.

Minggu depannya kita mau dateng lagi ke toko itu tiba-tiba di stop sama mbaknya "MAAF ANDA DI-BLACKLIST KARENA KEMARIN TIDAK JADI BELI."

Dih, sehat mbak?

"Wah nggak bisa disamain gitu dong, tenant di mall kan memang punya karyawan nggak ribet kaya ngurus online shop sendirian. Apalagi gue ibu-ibu, ribet harus bales WhatsApp dulu atau nyuapin anak dulu."

Iya santai sis, santaaaiiii.

Karena ancaman-ancaman demikian, gue jadi suka mikir ratusan kali dulu sebelum menghubungi si seller. Beneran bagus nggak ya barangnya? Mau beli nggak ya? Untuk mengurangi interaksi sama si seller. Karena sekalinya interaksi, takut muncul ancaman huhu. Ini terutama ol shop Instagram yang jual handmade item gitu.

Kalau makeup sih gue lebih suka belanja di Shopee atau website beneran gitu karena gue nggak perlu berinteraksi langsung sama seller via Line atau WhatsApp. Tapi itu karena barangnya ada di mana-mana kan, pilihan storenya banyak. Kalau handmade item gitu kan sulit ya.

Ah situ banyak kritik, emang pernah jualan online?

EHM. Inti dari nulis ini sebenernya ingin cerita juga HAHAHAHAHA. Karena gue adalah sis-sis ol shop juga pada zamannya.

Nggak banyak yang tau kalau dulu, duluuuu sebelum online shop menjamur kaya sekarang, gue punya online shop. Tahun 2008-an gitu. Jualannya di fanpage Facebook Happybee! (yes makanya likesnya 5ribuan, jumlah yang banyak banget mengingat dicarinya tahun 2008 mah). Jualnya aksesoris kaya statement necklace warna-warni gitu. Handmade!

Gue sampai pernah menang kontes desain statement necklace di majalah Gogirl! loh! Desain yang menang itu kalung Elvis Presley, ceritanya bikin kalung dari kaos bekas. Kaosnya kebetulan ada print Elvis Presley. Hadiahnya voucher Forever21 500ribu, bela-belain dari Bandung ke Jakarta cuma buat belanjain vocer hahahaha.

(Baca: Keputusan yang Mengubah Hidup)

I always love crafty things! Makanya idealis amat soal gunting doang, yang mana yang buat kertas yang mana yang buat kain 😂 Gue desain sendiri, bikin sendiri, bahkan beberapa model yang butuh sablon gue SABLON SENDIRI *proud*, photoshoot sendiri.

Gue jualan dan jualan sampai kebeli pake uang sendiri Blackberry Javelin yang waktu itu harganya 3,8juta. Mahal banget mana anak kuliahan kan. Blackberry aja baru keluar 3 seri, Curve, Bold, dan Javelin. Semuanya masih pake track ball, boro-boro touch screen. 😂

Dan iya, online shop one man show itu memang capek banget!

Nggak sekali dua kali gue begadang semaleman ngerjain pesenan. Nggak sekali dua kali gue nonton bioskop sambil balesin sms orang yang tanya-tanya. IYA SMS! Lah satu angkatan di kampus 120 orang yang punya Blackberry aja baru 4 orang, mana bisa gue BBM-an sama pembeli. Hahaha.

SMS nya udah pake format sih, tapi kalau ada orang mau sms nanya-nanya dulu juga gue bales kok. Pulsa habis? Masuk biaya produksi dong. Beberapa ada yang chat via Yahoo! Messenger tapi dulu orang Y!M juga di rumah kan. Lah hpnya nggak bisa dipake online.

Dan dulu orang-orang yang jual dan beli online itu sedikit sekali. Orangnya itu lagi itu lagi. Sampai temenan, mereka bahkan banyak yang add gue di Facebook. Ngobrol di Y!M. HUHUHU Masa-masa itu. 😍

Tapi memang pada zaman itu, orang-orang yang belanja di online shop memang orang yang sangat melek teknologi sih. Ya bayangin, hp aja masih Esia orang udah berani belanja online? Sekarang aja masih banyak yang takut kan?

Di sisi lain, sekarang teknologinya juga udah canggih duh. Punya online shop meluangkan waktu untuk ramah melayani pembeli yang mau tanya-tanya nggak ada salahnya loohhh. Ngetiknya udah pake qwerty loohhh. Apalagi modalnya udah bukan lagi pulsa tapi kuota, 179ribu di XL dapet 40 GB sebulan, buat chatting doang mah puas. (BUKAN IKLAN INI PROMO KANTOR SUAMI LOL).

Intinya tinggal mau apa nggak melayaninya?

Kalau mau tapi sibuk (apalagi ibu-ibu) kan biasanya suka pada langsung ditulis di bio Instagram "slow respon, punya balita". Itu gue respek banget asli. Artinya dia mau merespon tapi harap sabar ya, yang beli jangan rusuh. Kalau mau ngerusuhin, jangan beli di situ.

Ya gitulah. Sekian curhat dan cerita masa lalu hari ini. Semoga sis-sis online shop nowadays bisa tetap eksis tanpa ancaman ya!

Selamat hari Jumat semoga nggak kena macet!

-ast-

PS: Online shop itu akhirnya berhenti karena saya kerja. Kalau diterusin saya udah jadi pengusaha kali ya lol :)




#SassyThursday: CATCALLING

on
Thursday, December 1, 2016


Iya, ini terinspirasi oleh post mas Arman Dhani di bawah soal pengalaman paling merendahkan yang dialami perempuan di jalan. Membacanya saya sedih, sedih sekali.



Hampir 5 tahun di Jakarta, saya tidak naik kereta, naik angkot pernah beberapa kali, naik Kopaja baru 2 kali. Iya sih naik TransJakarta dulu tapi bukan rutinitas (sesekali saja karena kost deket kantor). Jarang sekali jalan sendirian, pasti bersama teman karena saya penakut.

Baca punya Nahla:

Mungkin terakhir saya di-suit-suiti orang itu saat SMA karena SMA saya dekat pasar, catcalling jadi seperti sudah biasa. Malah terparah saat ada exhibisionis pamer kemaluan di depan siswi-siswi yang lewat. Saya tidak di sana tapi teman-teman saya ketakutan sekali, mereka melapor pada guru.

Saya juga pernah mau pergi les berdua dengan teman saya, perempuan juga. Turun dari angkot, saya dan teman saya masih harus berjalan sekitar 500 meter menuju tempat les. Padahal jalan ramai, tiba-tiba kami "dikepung" oleh mungkin sekitar 10 - 15 anak SMA lain. Kami tidak kenal mereka, mereka bukan siswa tempat les kami.

Semua laki-laki. Mereka tidak menyentuh namun mereka berjalan bersama kami dan tertawa-tawa mengintimidasi. Mengobrol seolah kami tidak ada di tengah-tengah mereka.

Mereka benar-benar ada di sekeliling, jalan cepat pun tidak bisa karena beberapa orang sengaja berjalan lambat sangat dekat di depan kami. Pasrah, mau berlari pun sudah lemas duluan. Saya dan teman saya saling menggandeng tangan kuat-kuat karena sungguh takut sekali. Takut salah satu di antara kami ditarik pergi. 😣

Tapi menjelang tempat les yang sangat sangat ramai dan banyak orang yang kami kenal, mereka perlahan menjauh. Sampai akhirnya tau-tau kami berjalan berdua lagi. Teman saya sudah hampir menangis, saya pun shock berat karena tidak bisa mencerna tadi itu maksudnya apa. Kenapa kami diperlakukan seperti itu?

Bertahun-tahun kemudian saya baru sadar bahwa oh mungkin mereka hanya iseng. Melihat dua perempuan berjalan kemudian ingin menunjukkan power, ingin mengintimidasi. Entah apa yang didapat dengan melakukan hal tersebut. Bangga mungkin? Senang? 😕

Jadi yah, pengalaman saya direndahkan di jalan sudah lama terjadinya. Karena kebetulan daerah rumah saya sekarang Islami sekali. Ada yang nongkrong di warung tapi berbaju koko dan sarung, sekadar mampir pulang salat di mesjid. Panitia 17 Agustusan pun dress code-nya tetap baju koko. Jadi kalau jalan sendirian, tidak ada yang catcalling juga.

Saya juga bertanya pada JG dan berdiskusi soal point of view dia soal catcalling ini. Pertanyaan saya yang paling utama "kenapa harus suit-suitin cewek sih?". Kata JG "nggak tau ya, aku nggak pernah suit-suitin cewek di jalan tapi mungkin karena mereka menganggap cewek yang lewat itu cantik."

Kemudian saya sebel banget karena masa karena cantik doang sih! Dan JG tetep berpendapat "serius deh, kalau nggak dianggap cantik nggak akan dipanggil-panggil kok."

Duh tapi alasan "cantik" itu sungguh sangat sialan sekali karena cantik kan masalah selera. Kalau itu alasannya pantas saja apapun bajunya, terbuka atau tidak, disuit-suitin mah tetep ya kan? Pantes jilbab sudah lebar, baju sudah longgar pun tetap disuit-suitin "assalamualaikum bu haji". 😠

Ada juga yang beralasan "ceweknya yang minta disuit-suitin" what! Itu serendah-rendahnya laki-laki banget, beranggapan mereka sedemikian mudah tergodanya hanya karena itu cewek dianggap cantik? Dan mereka berharap itu cewek bangga gitu disuit-suitin? Rendah sekali harga perempuan!

Jadi harus bagaimana? Apa perempuan harus menutup diri sampai wajah? NO! Laki-laki yang harus diajari menghargai perempuan.

Mungkin ini jadi terdengar klise karena banyak sekali yang bilang demikian kan, tapi memang benar! Kita terlalu sibuk meminta anak perempuan kita menjaga diri sampai lupa bahwa anak laki-laki kita harus diajari untuk menjaga perempuan. Untuk menghargainya, untuk tidak pernah merendahkannya.

Saya sendiri merasa demikian, mungkin karena stigma yang terlalu kuat melekat saya sering sekali berpikir "kayanya kalau anak gue cewek, gue bisa jantungan, untung anak gue laki." Karena saya berpikir jalanan sungguh tidak aman untuk perempuan.

Padahal punya anak laki-laki, peer besarnya adalah bagaimana dia bisa mengerti perannya sebagai laki-laki dan ini harus ditanamkan sejak kecil. Bahwa tidak main kasar dengan ibu, tapi boleh dengan appa. (main kasar = gulat atau tindih-tindihan).

(Baca: Mengajarkan Gender pada Balita)

Yang paling penting juga adalah, bagaimana nanti Bebe harus melihat perempuan equally. Dia tidak boleh melihat perempuan sebagai kaum kelas dua yang kerjanya hanya masak di rumah. Dia harus bisa masak, harus bisa melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah yang dulu selalu disebut sebagai "pekerjaan perempuan".

Cara terbaiknya adalah dengan memberi contoh. Sampai sekarang Bebe mengasosiasikan masak dan ke pasar itu adalah tugas appa, bukan ibu. Dia tau ibu bisa masak karena sering main masak-masakan sama saya tapi kalau ada orang masak dia selalu bilang "masak seperti appa". Itu contoh yang paling kecil sekali.

Berikut-berikutnya ya saya selalu menekankan hal-hal apa yang tidak boleh dilakukan pada perempuan. Selalu saya tes dengan nama teman-temannya di daycare, apakah si A perempuan? Apakah si B laki-laki? Dia mulai bisa membedakan bahwa teman-temannya yang laki-laki lebih suka lari-lari sementara temannya yang perempuan lebih suka memeluk boneka. Hal-hal seperti itu.

Mengapa dari usia sekecil ini? Karena saya takut terlambat. Berita anak SD sudah mengerti memperkosa seperti itu sama sekali tidak masuk pada logika saya, tapi itu jelas jadi alarm bahwa tidak perlu menunggu usia tertentu untuk mengajari anak laki-laki menghargai anak perempuan.

(Baca: How are we gonna raise our kids?)

Kembali ke catcalling, sungguh saya tidak melihat solusi instan dan urusan ini. Pendidikan harus merata, pengangguran harus diberantas jadi tidak banyak yang nongkrong tidak jelas di pinggir jalan. Pendekatan agama juga seharusnya bisa menjaga.

Katanya bisa dilaporkan ke polisi, oh tentu lapor saja sih bisa. Ditindaklanjuti tidak? Belum tentu, lha wong kecopetan atau kemalingan di tempat kos aja entah tidak lanjutnya bagaimana. Apalagi catcalling, dianggap serendah-rendahnya harassment. But still, it's a harassment.

Kita harus bagaimana? Ada yang punya ide? Atau ada yang mau bercerita pengalaman catcalling juga? Komen di bawah yaaa.

-ast-

BTW Nahla lagi ikut competition. Dia bikin video soal bagaimana hidupnya harus bisa di-switch jadi 6 peran. NONTON YA! Makasih banget kalau sekalian mau like, komen, dan share!