Halo! Lama nggak nulis #SassyThursday dan sekalinya nulis topiknya langsung yaaa gitulah. Jarang-jarang gue nulis politik di blog kan, tapi kali ini pengen aja nulis. Mungkin bisa kasih pandangan lain, mungkin juga nggak. :)
Baca punya Nahla:
Oke jadi pasca urusan pilkada dan demo-demo itu, yang berubah bukan cuma gubernur Jakarta tapi juga BANYAK hal lainnya. Betapa efeknya besar banget dan membukakan mata
Apalagi pasca gubernur baru tiba-tiba bahas pribumi, sengaja atau tidak sengaja cuma makin menguatkan bahwa di posisi ini loh kita. Sementara banyak yang memperjuangkan kesetaraaan manusia, ini malah ras aja diungkit-ungkit terus. :(
Sedih sih tapi ya, sedih aja dibilang kafir kali deh gue, terserahlah. Ini dia hal-hal yang gue rasakan sendiri berubah setelah demo dan pilkada:
Orang jadi berani menunjukkan diri bahwa dia paling "beragama"
Tidak apa-apa share soal agama di media sosial, yang jadi masalah adalah ketika orang MEMAKSAKAN agama dan kepercayaan pada orang lain. Paksaan itu apapun bentuknya, adalah kondisi yang tidak nyaman.
Sementara yang terjadi adalah bikin status terus, komen sana-sini, copas terus di group WhatsApp mengajak ini itu karena merasa benar. Tandanya kalian memaksa orang lain untuk ikut ambil bagian. Kalau tidak ambil bagian maka orang itu kafir dan tidak membela agama. Wow, speechless.
Bertanya apa agama orang lain aja dianggap nggak sopan loh, ini mempertanyakan kepercayaan orang yang seagama. Sangat-sangat tidak sopan. Saking sebelnya, JG sampai nggak mau ngaku cuma biar orang-orang ini kesel doang dan merasa "menang".
Jadi (oke ini sebenernya agak cringey diceritain tapi biarlah biar contoh) JG dari kecil rajin solat, dari SD rajin ke pengajian-pengajian (maklum anak Gerlong). Tapi ada orang-orang annoying yang menganggap JG "keliatannya" nggak beragama dan suka iseng aja gitu nanya "tadi jumatan nggak?"
YA NURUT NGANA? Ya udah sama JG dijawab "nggak ah, udah pernah" -_______- Karena itu pertanyaan annoying dan kejauhan gitu loh. Kemudian mereka negur lalala harusnya gini harusnya gitu. Orang-orang judgmental dan merasa paling ngerti agama gini loh yang nyebelin dan bikin nggak nyaman.
:(
Sebaliknya orang-orang jadi berani nunjukkin kalau dia nggak beragama
Banyak temen-temen gue yang sebelumnya Islam tapi kemudian jadi "nggak ah, I'm done with religion". BANYAK. Karena mereka nggak kenal-kenal amat sama agama terus tiba-tiba dihadapkan pada Islam yang "begitu". Yang memaksa, yang rasis, yang sama sekali tidak damai. Ilfeel, malu sendiri kemudian bye beneran deh jadinya.
Banyak temen-temen gue yang sebelumnya Islam tapi kemudian jadi "nggak ah, I'm done with religion". BANYAK. Karena mereka nggak kenal-kenal amat sama agama terus tiba-tiba dihadapkan pada Islam yang "begitu". Yang memaksa, yang rasis, yang sama sekali tidak damai. Ilfeel, malu sendiri kemudian bye beneran deh jadinya.
Jadi kalau kalian menganggap segala demo dan urusan Pilkada ini mengangkat nama Islam, ya mungkin di satu sisi benar. Tapi kalian juga harus tau kalau ada sisi lain yang menganggap sebaliknya. Ya sisi yang kalian bilang kafir sih.
Dan orang-orang ini jadi tidak mengajarkan agama pada anak-anaknya, atau justru mengajarkan semua agama. Supaya anaknya bisa milih sendiri dan jadi nggak kaya mereka, harus berpuluh tahun hidup dengan agama turunan orangtua kemudian ilfeel sendiri gara-gara apa? Gara-gara Pilkada. Hiks. Sedih.
(Baca: Balita Ditanya Agamanya Apa: Agama dan Manusia)
Teman-teman minoritas jadi nggak nyaman
Kata Jessicha temen kantor gue "setelah urusan pribumi ini gue makin ngerasa gue Cina sih".
T______T
Ini jahat sih. Orang-orang ini juga dari zaman kakek neneknya udah di sini kali, sama kaya kalian, kenapa dibeda-bedakan sih? Bikin nggak nyaman banget.
(Baca: Balita Ditanya Agamanya Apa: Agama dan Manusia)
Teman-teman minoritas jadi nggak nyaman
Kata Jessicha temen kantor gue "setelah urusan pribumi ini gue makin ngerasa gue Cina sih".
T______T
Ini jahat sih. Orang-orang ini juga dari zaman kakek neneknya udah di sini kali, sama kaya kalian, kenapa dibeda-bedakan sih? Bikin nggak nyaman banget.
Iri karena mereka kaya? Karena mereka berkuasa? Ya kalian ke mana aja sampai nggak bisa kaya dan berkuasa?
Lagian stereotyping banget sih bilang "Cina = kaya". Karena kalau dia kaya dan dia keturunan Chinese maka kita bilang “ah pantes kaya, Cina sih”. Tapi kalau orang Jawa kaya keluarga Sutowo kaya raya kita nggak bilang apa-apa, nggak bilang "ah pantes kaya, Jawa sih". Padahal mereka KAYA RAYA BANGET LOH. Berkuasa dan berpengaruh juga.
Dan orang itu bisa jadi kaya karena kerja bukan karena rasnya apa! Pun demikian dengan Ahok bisa jadi pemimpin yang disukai banyak orang karena dia KERJA.
*fyuh gila nulisnya capek banget gue*
Banyak yang jadi pengen pindah negara
Pindah ke Eropa gitu yang lebih damai atau pindah ke mana pun yang orang rasisnya nggak sebanyak di sini dan di Amerika. T_______T Banyak yang jadi nyeletuk "duh rasanya pengen pindah negara aja" saking hopeless-nya sama negara ini.
Gue sama JG pengen banget sih dan hidup dari nol sebagai minoritas dan bukan pribumi. Terutama pengen Bebe sekolah di luar dari kecil aja biar nggak sekolah di sini. Ingin membesarkan Bebe di lingkungan yang lebih kondusif.
Pengen pindah tapi keinginan yang terbatas keinginan KARENA NGGAK USAHA APA-APA. Nggak usaha dan sebenernya takut nggak bisa survive karena pasti berat banget. Dasar pribumi! Kurang usaha!
Dan ya, yang paling kerasa dari hidup gue sendiri justru ini:
Batal sekolahkan Bebe di sekolah Islam
Sejak Bebe lahir, kami sudah punya incaran sekolah. Kebetulan sekolahnya sekolah Islam, SDIT lah. Sekolahnya bagus, inklusi, kami cocok sekali dengan metode belajarnya. Maka dana pendidikan pun dihitung berdasarkan sekolah ini.
(Baca: Tahap Menyiapkan Dana Pendidikan Anak)
Sampai tahun lalu pas urusan Pilkada ini lagi panas-panasnya, kami langsung diskusi dan memutuskan nggak jadi menyekolahkan Bebe ke sekolah Islam. Mulailah lagi pencarian SD Bebe. Kali ini goalsnya jelas, nggak homogen.
Karena sekolah Islam sudah pasti semua muridnya Islam. Pilkada ini menyadarkan kami bahwa selain agama, penting sekali mengajarkan Bebe kalau dia adalah bagian dari dunia yang heterogen. Karena tidak semua orang sama dengan kita, dan tidak sama bukan berarti salah.
Malah pas lagi pusing-pusingnya cari sekolah, sempet kepikiran apa sekolahin di sekolah Katolik aja gitu ya biar dia ngerasain jadi minoritas? Itu sebelum tau bahwa banyak juga ya SD yang nggak tanya agama anak apa. Ada dan itu cukup bikin lega sih.
Karena gue pernah tuh interview orang, dia SD di sekolah Islam terkenal di Jakarta tapi cuma sampai kelas 3, kelas 4 dia pindah dan sampai kuliah selalu di sekolah Katolik. Dia dipindahkan karena ibunya melihat kecenderungan dia jadi judge agama lain sebagai agama yang salah. Ibunya nggak mau dan akhirnya sekolahlah dia sebagai murid minoritas sampai dia kuliah. Sampai sekarang dia muslim, begitu pun dengan ibunya.
(Update 2022 karena ada komen kok akhirnya sekolah Islam? Mmm, sebetulnya sekolahnya bukan sekolah Islam terpadu, sekolahnya cuma pakai "with Islamic value" jadi masih sangat menghargai diversity, masih ada guru tidak berjilbab. Alasannya karena sangat ingin Montessori dan nggak ada SD lain dengan kurikulum Montessori selain ini dengan harga yang masuk budget.)
Mengingatkan diri untuk selalu mengajari anak tentang perbedaan
Ya, ngajarin Bebe menerima perbedaan dan menghargai pilihan hidup orang lain itu jadi peer paling berat sih.
Gue paling jelasin tentang ukuran manusia, warna kulit, disabilitas, dan tidak ngasih gender pada warna atau mainan. Jadi ya gue selalu bilang sama dia hal-hal yang dia tau aja misal "iya ada anak yang badannya kecil, ada yang badannya besar, tidak apa-apa. Kecil tidak apa-apa, besar juga tidak apa-apa".
Atau ketika dia mau beli buku mewarnai Princess ya gue beliin aja. Toh sampai sekarang juga warna favorit JG pink. Menyetarakan hal-hal dari yang paling sederhana dengan harapan dia bisa menerima bahwa semua orang tidak sama.
Dan ya, intinya gue nggak mau dia jadi rasis dan judgmental. Bahwa sesuatu yang kita yakini benar, tidak boleh sampai menyakiti orang lain.
*
Oke gitu aja sih. Kalian gimana? Ada efek apa Pilkada sama kehidupan? Nggak ada banget nih yakin? :)
-ast-
Dan orang itu bisa jadi kaya karena kerja bukan karena rasnya apa! Pun demikian dengan Ahok bisa jadi pemimpin yang disukai banyak orang karena dia KERJA.
*fyuh gila nulisnya capek banget gue*
Banyak yang jadi pengen pindah negara
Pindah ke Eropa gitu yang lebih damai atau pindah ke mana pun yang orang rasisnya nggak sebanyak di sini dan di Amerika. T_______T Banyak yang jadi nyeletuk "duh rasanya pengen pindah negara aja" saking hopeless-nya sama negara ini.
Gue sama JG pengen banget sih dan hidup dari nol sebagai minoritas dan bukan pribumi. Terutama pengen Bebe sekolah di luar dari kecil aja biar nggak sekolah di sini. Ingin membesarkan Bebe di lingkungan yang lebih kondusif.
Pengen pindah tapi keinginan yang terbatas keinginan KARENA NGGAK USAHA APA-APA. Nggak usaha dan sebenernya takut nggak bisa survive karena pasti berat banget. Dasar pribumi! Kurang usaha!
Dan ya, yang paling kerasa dari hidup gue sendiri justru ini:
Batal sekolahkan Bebe di sekolah Islam
Sejak Bebe lahir, kami sudah punya incaran sekolah. Kebetulan sekolahnya sekolah Islam, SDIT lah. Sekolahnya bagus, inklusi, kami cocok sekali dengan metode belajarnya. Maka dana pendidikan pun dihitung berdasarkan sekolah ini.
(Baca: Tahap Menyiapkan Dana Pendidikan Anak)
Sampai tahun lalu pas urusan Pilkada ini lagi panas-panasnya, kami langsung diskusi dan memutuskan nggak jadi menyekolahkan Bebe ke sekolah Islam. Mulailah lagi pencarian SD Bebe. Kali ini goalsnya jelas, nggak homogen.
Karena sekolah Islam sudah pasti semua muridnya Islam. Pilkada ini menyadarkan kami bahwa selain agama, penting sekali mengajarkan Bebe kalau dia adalah bagian dari dunia yang heterogen. Karena tidak semua orang sama dengan kita, dan tidak sama bukan berarti salah.
Malah pas lagi pusing-pusingnya cari sekolah, sempet kepikiran apa sekolahin di sekolah Katolik aja gitu ya biar dia ngerasain jadi minoritas? Itu sebelum tau bahwa banyak juga ya SD yang nggak tanya agama anak apa. Ada dan itu cukup bikin lega sih.
Karena gue pernah tuh interview orang, dia SD di sekolah Islam terkenal di Jakarta tapi cuma sampai kelas 3, kelas 4 dia pindah dan sampai kuliah selalu di sekolah Katolik. Dia dipindahkan karena ibunya melihat kecenderungan dia jadi judge agama lain sebagai agama yang salah. Ibunya nggak mau dan akhirnya sekolahlah dia sebagai murid minoritas sampai dia kuliah. Sampai sekarang dia muslim, begitu pun dengan ibunya.
(Update 2022 karena ada komen kok akhirnya sekolah Islam? Mmm, sebetulnya sekolahnya bukan sekolah Islam terpadu, sekolahnya cuma pakai "with Islamic value" jadi masih sangat menghargai diversity, masih ada guru tidak berjilbab. Alasannya karena sangat ingin Montessori dan nggak ada SD lain dengan kurikulum Montessori selain ini dengan harga yang masuk budget.)
Mengingatkan diri untuk selalu mengajari anak tentang perbedaan
Ya, ngajarin Bebe menerima perbedaan dan menghargai pilihan hidup orang lain itu jadi peer paling berat sih.
Gue paling jelasin tentang ukuran manusia, warna kulit, disabilitas, dan tidak ngasih gender pada warna atau mainan. Jadi ya gue selalu bilang sama dia hal-hal yang dia tau aja misal "iya ada anak yang badannya kecil, ada yang badannya besar, tidak apa-apa. Kecil tidak apa-apa, besar juga tidak apa-apa".
Atau ketika dia mau beli buku mewarnai Princess ya gue beliin aja. Toh sampai sekarang juga warna favorit JG pink. Menyetarakan hal-hal dari yang paling sederhana dengan harapan dia bisa menerima bahwa semua orang tidak sama.
Dan ya, intinya gue nggak mau dia jadi rasis dan judgmental. Bahwa sesuatu yang kita yakini benar, tidak boleh sampai menyakiti orang lain.
*
Oke gitu aja sih. Kalian gimana? Ada efek apa Pilkada sama kehidupan? Nggak ada banget nih yakin? :)
-ast-

















