-->

Image Slider

Hal-hal yang Berubah Setelah Pilkada DKI

on
Thursday, October 19, 2017

Halo! Lama nggak nulis #SassyThursday dan sekalinya nulis topiknya langsung yaaa gitulah. Jarang-jarang gue nulis politik di blog kan, tapi kali ini pengen aja nulis. Mungkin bisa kasih pandangan lain, mungkin juga nggak. :)

Baca punya Nahla:

Oke jadi pasca urusan pilkada dan demo-demo itu, yang berubah bukan cuma gubernur Jakarta tapi juga BANYAK hal lainnya. Betapa efeknya besar banget dan membukakan mata

Apalagi pasca gubernur baru tiba-tiba bahas pribumi, sengaja atau tidak sengaja cuma makin menguatkan bahwa di posisi ini loh kita. Sementara banyak yang memperjuangkan kesetaraaan manusia, ini malah ras aja diungkit-ungkit terus. :(

Sedih sih tapi ya, sedih aja dibilang kafir kali deh gue, terserahlah. Ini dia hal-hal yang gue rasakan sendiri berubah setelah demo dan pilkada:

Orang jadi berani menunjukkan diri bahwa dia paling "beragama"

Tidak apa-apa share soal agama di media sosial, yang jadi masalah adalah ketika orang MEMAKSAKAN agama dan kepercayaan pada orang lain. Paksaan itu apapun bentuknya, adalah kondisi yang tidak nyaman.

Sementara yang terjadi adalah bikin status terus, komen sana-sini, copas terus di group WhatsApp mengajak ini itu karena merasa benar. Tandanya kalian memaksa orang lain untuk ikut ambil bagian. Kalau tidak ambil bagian maka orang itu kafir dan tidak membela agama. Wow, speechless.

Bertanya apa agama orang lain aja dianggap nggak sopan loh, ini mempertanyakan kepercayaan orang yang seagama. Sangat-sangat tidak sopan. Saking sebelnya, JG sampai nggak mau ngaku cuma biar orang-orang ini kesel doang dan merasa "menang".

Jadi (oke ini sebenernya agak cringey diceritain tapi biarlah biar contoh) JG dari kecil rajin solat, dari SD rajin ke pengajian-pengajian (maklum anak Gerlong). Tapi ada orang-orang annoying yang menganggap JG "keliatannya" nggak beragama dan suka iseng aja gitu nanya "tadi jumatan nggak?"

YA NURUT NGANA? Ya udah sama JG dijawab "nggak ah, udah pernah" -_______- Karena itu pertanyaan annoying dan kejauhan gitu loh. Kemudian mereka negur lalala harusnya gini harusnya gitu. Orang-orang judgmental dan merasa paling ngerti agama gini loh yang nyebelin dan bikin nggak nyaman.

:(

Sebaliknya orang-orang jadi berani nunjukkin kalau dia nggak beragama

Banyak temen-temen gue yang sebelumnya Islam tapi kemudian jadi "nggak ah, I'm done with religion". BANYAK. Karena mereka nggak kenal-kenal amat sama agama terus tiba-tiba dihadapkan pada Islam yang "begitu". Yang memaksa, yang rasis, yang sama sekali tidak damai. Ilfeel, malu sendiri kemudian bye beneran deh jadinya.

Jadi kalau kalian menganggap segala demo dan urusan Pilkada ini mengangkat nama Islam, ya mungkin di satu sisi benar. Tapi kalian juga harus tau kalau ada sisi lain yang menganggap sebaliknya. Ya sisi yang kalian bilang kafir sih. 

Dan orang-orang ini jadi tidak mengajarkan agama pada anak-anaknya, atau justru mengajarkan semua agama. Supaya anaknya bisa milih sendiri dan jadi nggak kaya mereka, harus berpuluh tahun hidup dengan agama turunan orangtua kemudian ilfeel sendiri gara-gara apa? Gara-gara Pilkada. Hiks. Sedih.

(Baca: Balita Ditanya Agamanya Apa: Agama dan Manusia)

Teman-teman minoritas jadi nggak nyaman


Kata Jessicha temen kantor gue "setelah urusan pribumi ini gue makin ngerasa gue Cina sih".

T______T

Ini jahat sih. Orang-orang ini juga dari zaman kakek neneknya udah di sini kali, sama kaya kalian, kenapa dibeda-bedakan sih? Bikin nggak nyaman banget.

Iri karena mereka kaya? Karena mereka berkuasa? Ya kalian ke mana aja sampai nggak bisa kaya dan berkuasa?

Lagian stereotyping banget sih bilang "Cina = kaya". Karena kalau dia kaya dan dia keturunan Chinese maka kita bilang “ah pantes kaya, Cina sih”. Tapi kalau orang Jawa kaya keluarga Sutowo kaya raya kita nggak bilang apa-apa, nggak bilang "ah pantes kaya, Jawa sih". Padahal mereka KAYA RAYA BANGET LOH. Berkuasa dan berpengaruh juga.

Dan orang itu bisa jadi kaya karena kerja bukan karena rasnya apa! Pun demikian dengan Ahok bisa jadi pemimpin yang disukai banyak orang karena dia KERJA.

*fyuh gila nulisnya capek banget gue*


Banyak yang jadi pengen pindah negara

Pindah ke Eropa gitu yang lebih damai atau pindah ke mana pun yang orang rasisnya nggak sebanyak di sini dan di Amerika. T_______T Banyak yang jadi nyeletuk "duh rasanya pengen pindah negara aja" saking hopeless-nya sama negara ini.

Gue sama JG pengen banget sih dan hidup dari nol sebagai minoritas dan bukan pribumi. Terutama pengen Bebe sekolah di luar dari kecil aja biar nggak sekolah di sini. Ingin membesarkan Bebe di lingkungan yang lebih kondusif.

Pengen pindah tapi keinginan yang terbatas keinginan KARENA NGGAK USAHA APA-APA. Nggak usaha dan sebenernya takut nggak bisa survive karena pasti berat banget. Dasar pribumi! Kurang usaha!

Dan ya, yang paling kerasa dari hidup gue sendiri justru ini:

Batal sekolahkan Bebe di sekolah Islam

Sejak Bebe lahir, kami sudah punya incaran sekolah. Kebetulan sekolahnya sekolah Islam, SDIT lah. Sekolahnya bagus, inklusi, kami cocok sekali dengan metode belajarnya. Maka dana pendidikan pun dihitung berdasarkan sekolah ini.

(Baca: Tahap Menyiapkan Dana Pendidikan Anak)

Sampai tahun lalu pas urusan Pilkada ini lagi panas-panasnya, kami langsung diskusi dan memutuskan nggak jadi menyekolahkan Bebe ke sekolah Islam. Mulailah lagi pencarian SD Bebe. Kali ini goalsnya jelas, nggak homogen.

Karena sekolah Islam sudah pasti semua muridnya Islam. Pilkada ini menyadarkan kami bahwa selain agama, penting sekali mengajarkan Bebe kalau dia adalah bagian dari dunia yang heterogen. Karena tidak semua orang sama dengan kita, dan tidak sama bukan berarti salah.

Malah pas lagi pusing-pusingnya cari sekolah, sempet kepikiran apa sekolahin di sekolah Katolik aja gitu ya biar dia ngerasain jadi minoritas? Itu sebelum tau bahwa banyak juga ya SD yang nggak tanya agama anak apa. Ada dan itu cukup bikin lega sih.

Karena gue pernah tuh interview orang, dia SD di sekolah Islam terkenal di Jakarta tapi cuma sampai kelas 3, kelas 4 dia pindah dan sampai kuliah selalu di sekolah Katolik. Dia dipindahkan karena ibunya melihat kecenderungan dia jadi judge agama lain sebagai agama yang salah. Ibunya nggak mau dan akhirnya sekolahlah dia sebagai murid minoritas sampai dia kuliah. Sampai sekarang dia muslim, begitu pun dengan ibunya.

(Update 2022 karena ada komen kok akhirnya sekolah Islam? Mmm, sebetulnya sekolahnya bukan sekolah Islam terpadu, sekolahnya cuma pakai "with Islamic value" jadi masih sangat menghargai diversity, masih ada guru tidak berjilbab. Alasannya karena sangat ingin Montessori dan nggak ada SD lain dengan kurikulum Montessori selain ini dengan harga yang masuk budget.)

Mengingatkan diri untuk selalu mengajari anak tentang perbedaan

Ya, ngajarin Bebe menerima perbedaan dan menghargai pilihan hidup orang lain itu jadi peer paling berat sih.

Gue paling jelasin tentang ukuran manusia, warna kulit, disabilitas, dan tidak ngasih gender pada warna atau mainan. Jadi ya gue selalu bilang sama dia hal-hal yang dia tau aja misal "iya ada anak yang badannya kecil, ada yang badannya besar, tidak apa-apa. Kecil tidak apa-apa, besar juga tidak apa-apa".

Atau ketika dia mau beli buku mewarnai Princess ya gue beliin aja. Toh sampai sekarang juga warna favorit JG pink. Menyetarakan hal-hal dari yang paling sederhana dengan harapan dia bisa menerima bahwa semua orang tidak sama.

Dan ya, intinya gue nggak mau dia jadi rasis dan judgmental. Bahwa sesuatu yang kita yakini benar, tidak boleh sampai menyakiti orang lain.

*

Oke gitu aja sih. Kalian gimana? Ada efek apa Pilkada sama kehidupan? Nggak ada banget nih yakin? :)

-ast-




Ketika Bebe Tanya Kenapa

on
Monday, October 16, 2017
Finally, Bebe is in WHY phase!


Kenapa finally, karena saya udah sering banget liat anak yang nanya terus-terusan why why why terus ibu bapaknya pusing jawab. Jadi penasaran banget kapan ya Bebe akan nanya kenapa? Ternyata sebulan dua bulan belakangan sebenernya udah mulai tapi akhir-akhir ini makin intens karena suka nguping pembicaraan saya dan JG! LUCU BANGET!

Well, lucu bagi saya yang nganggap anak nanya itu lucu sih. Sering banget saya liat orang tua yang terang-terangan terganggu terus nyuruh diem. KASIAN. JANGAN GITU PLIS. JAWAB SEPENUH HATI PLIS. T_______T

Oke jadi awalnya dia hanya nanya “kenapa”:

👩 Ibu: “Be, nanti di kantor appa kamu main sepeda ya!”

👶 Bebe: “Kenapa ibu?”

👩 Ibu: “Ya biar nggak bosan”

👶 Bebe: “Kenapa ibu?”

👩 Ibu: “Soalnya nunggunya nanti lama”

👶 Bebe: “Kenapa ibu?”

👩 Ibu: “Kenapa coba?”

👶 Bebe: “Hehehe”

Kemudian dia kayanya ngerasa saya kurang maksimal jawabnya kalau cuma tanya kenapa jadi dia tanya satu kalimat utuh yang saya ucapkan terakhir! Dan nanyanya itu sepenuh hati dengan ekspresi ingin tahu!

👩 Ibu: “Bebe sama appa main ya, ini hari Sabtu tapi ibu kerja nih ada acara kantor

👶 Bebe: “Kenapa hari Sabtu tapi ibu kerja ada acara kantor?”

Spesifik banget kan itu pertanyaannya. Bebe kamu balita atau penyidik KPK? *apeu*

👩 Ibu: “Iya di sekolah kamu juga pernah kan hari Sabtu ada acara. Sekarang kantor ibu juga

👶 Bebe: “Kenapa sekarang kantor ibu juga?”

JAWAB APA YAAA ENAKNYAAAAA. Kalau udah gini saya sama JG biasanya udah ngikik aja.

👩 Ibu: “Ya ini nggak sering-sering kok, sekali-sekali aja

👶 Bebe: “Kenapa sekali-kali aja?”

*MELARIKAN DIRI KE NEW YORK MENYUSUL RANGGA UNTUK MEMBUAT KOPI AGAR TETAP TERJAGA*


❓ Kenapa sih anak 3 tahun nanya kenapa terus?

Karena anak 3 tahun itu sudah mulai mengerti lingkungan di sekitarnya itu sebagai sesuatu yang berbeda dari dirinya sendiri. Kalau dulu kan dunia itu ya dia aja, semua tentang dia. Kalau sekarang dia mulai ngerti bahwa ada hal-hal yang kok susah dimengerti ya? Maka dia bertanya:

... kenapa ibu?

Pertanyaan bagus sih karena jawabannya bisa berbagai macam. Dari alasan sampai penjelasan panjang lebar tentang kenapa matahari terbenam dan bukannya tenggelam. Padahal sama-sama menghilang. Kenapa matahari terbenam? Tenggelam kali?

👩 Ibu: “Kalau tenggelam itu ke dalam air

👶 Bebe: “Kenapa ke dalam air?”

Capek ya jawabnya? Kebayang deh duh apalagi buibu yang anaknya lebih dari satu, anak yang satu bayi, anak yang gede nanya kenapa-kenapa mulu. Pengen jambak sih nggak, cuma pengen nyisirin rambut ibu kan jadinya! #PengabdiSetanReference #padahalnontonajanggak

Tapi ya percayalah kalau ini kesempatan untuk meraih mimpimu setinggi langit kepercayaan diri anak. Bahwa jika anak bingung, maka tanya pada ibu. Berulang kali saya bilang pada Bebe "Be, pokoknya kalau kamu ingin tau sesuatu, tanya ibu aja ya!"

Yang dijawab dengan: "KENAPA TANYA IBU AJA?"

HAHAHAHA

Daripada di masa depan dia kalau punya pertanyaan terus tanya orang lain atau googling sendiri? Tanya ibu dululah, biarkan ibu yang googling. LOL

Karena ya anggap aja ini sebagai starting point dari curiosity-nya. Dan saya sama JG selalu jawab seserius mungkin! Makin serius jawabannya, makin pusing dia, biasanya dia mikir dulu terus berhenti nanya why selanjutnya.

Contoh percakapan dengan jawaban ekstrem yang akan membuat Bebe berhenti nanya kenapa:

👩 Ibu ke appa: “Wah, itu gedung apa sih kok diancurin gitu?”

👶 Bebe: “Kenapa gedung diancurin, ibu?”

👩 Ibu: “Mungkin karena sudah tua jadi mau dibuat gedung baru

👶 Bebe: “Kenapa mau dibuat gedung baru?”

👨 JG: “Karena kalau gedung tua dibiarkan, nanti konstruksinya makin lemah, Be. Kalau konstruksi lemah nanti gedungnya nggak tahan, nanti kalau ada gempa kan bisa-bisa malah runtuh. Jadi sebaiknya kalau gedung udah tua ya diruntuhin dulu terus bikin yang baru blablabla *panjang banget pokoknya* …”

👶 Bebe: *diam dengan muka mikir*

Hahahaha kasian tapi biarlah untuk melatih otaknya berpikir kritis dan BENAR. Karena kadang kita mikir kaya Bebe ngerti nggak ya kalau dijawab beneran? Tapi masa mau dijawab asal? Jadi ya udah sih mau dia ngerti atau nggak ngerti ya jawab beneran aja. Paling mentok dia nanya lagi kan.

Saya dan JG mending jawab panjang lebar daripada jawab "ya karena ibu bilang gitu!" alias "because I said so" karena takut suatu hari dia balikin dengan "ya karena aku mau!" Ribet deh nanti ah. Tahan-tahan deh, jangan sampai itu keluar.

Meskipun kadang percakapannya jadi nggak masuk akal banget. Contoh:

👶 Bebe: “Ibu aku mau ini”

👩 Ibu: “Boleh

👶 Bebe: “Kenapa boleh?”

👩 Ibu: “Yaaa, boleh aja kalau kamu mau

👶 Bebe: “Kenapa aku mau?”

👩 Ibu: “Nggak tau tadi katanya tadi kamu mau?”

👶 Bebe: “Kenapa katanya tadi aku mau?”

LHAAAA. Mengapa aku harus terjebak di pembicaraan yang tak berujung dan entah di mana akan usai zzz.

Kalau udah capek banget jawab, tergampang adalah dengan tanya balik dengan pola pertanyaan dia dan pertanyaan kuntji "kenapa coba?", ini mancing anak mikir banget dan dia berhenti nanya karena mikir keras lol.

👶 Bebe: “Ibu, punggung aku gatel. Kenapa punggung aku gatel ibu?”

👩 Ibu: “Kenapa coba?”

👶 Bebe: “Karena digigit nyamuk

👩 Ibu: “Kenapa digigit nyamuk?”

👶 Bebe: “Kenapa aku digigit nyamuk?”

👩 Ibu: “Kenapa coba?”

👶 Bebe: “Karena belum mandi

👩 Ibu: “Kenapa belum mandi?”

Bebe bingung. Ibu win!

Ah ya! Baru inget kalau pertanyaan “kenapa” ini berbarengan dengan pertanyaan "kok?" Sama juga bertanya karena dia penasaran aja. Dan curiousity ini sudah masuk ke pertanyaan seputar seksualitas:

"Kok ibu nggak ada t*titnya?"

"Kok ibu perempuan tapi nggak hamil?"

JAWAB DENGAN BENAR YAAA. JANGAN JAWAB ASAL YAAA. Jawab sambil baca buku lebih enak karena ada gambarnya. Nanti soal menjawab pertanyaan semacam ini ditulis terpisah ya!

Atau pujian-pujian gombal yang tidak akan pernah bisa dilewati oleh JG karena kalau JG yang ngomong saya paling rolling eyes hahaha.

"Kok ibu cantik?" *ASIK*

“Kok gambar ibu bagus banget sih!” *alah padahal mah ya gitu aja lol*

“Kok ibu kuat, ibu hebat banget!” *IYA DONG BE!* *BANGGA*


Semoga Bebe cepet pintar ya! Jangan lelah bertanya kenapa! Dan buat ibu-ibu yang anaknya lagi di why phase juga tips dari saya cuma satu aja sih: DIJAWAB YAAA PERTANYAAN ANAKNYAAAA!

Kasian soalnya huhu.

Buat yang masih main Twitter, saya bikin thread celetukan Bebe. Belum banyak sih cuma ya iseng aja daripada lupa. Dibikin blogpost mah kapan-kapan kan. Cek di sini ya!


See you!


Dan ini bonus gif Cinta dengan Dian Sastro masih kurus karena ya pengen aja terserah gue sih elaahhh. Hahaha.

-ast-




Bebe dan Rasa Takut

on
Wednesday, October 11, 2017

Dulu waktu Bebe belum umur setahun, saya rasanya bangga banget punya anak nggak penakut. Naik kuda-kudaan yang goyang-goyang itu sambil BERDIRI, naik perosotan tinggi berani padahal belum bisa jalan, ngapain juga Bebe oke-oke aja deh, nggak ada takutnya sama sekali.

Baru beberapa lama kemudian kusadari, Bebe ternyata bukan anak pemberani tapi waktu umur setahun mah emang belum nyampe aja otaknya alias belum bisa mendefinisikan apa itu rasa takut. HAHAHA

Dan sebagai ibu-ibu, ketidaktahuan kadang ditutup kebanggaaan. Bangga sama halu beda tipis padahal huhu.

Karena kerasa banget makin gede makin jadi penakut kan anak-anak itu? Dan ini peer banget deh buat saya yang kompetitif.

Abisan saya maunya Bebe jadi anak yang benar-benar pemberani (bukan menurut kebanggaan saya aja). Tapi ternyata pemberani ini spektrumnya luas banget! BANGET! Dan sebagai ibu ambisius ya saya maunya Bebe pemberani di segala lini kehidupan lah! *REPOT*

Untuk kehidupan sosial, Bebe termasuk anak yang pemberani. Meski kadang malu ngomong, tapi dia nggak sungkan untuk ngajak anak lain yang baru ketemu main bareng. Apalagi kalau anaknya keliatan pendiam gitu, dia suka nyodorin mobil-mobilan terus mereka main bareng.

Makanya di daycare baru pun Bebe nggak punya kesulitan adaptasi. Kata missnya dari hari pertama dia udah cerewet aja dan mandiri banget kaya bank. Intinya saya bangga beneran sama kemampuan sosialnya karena terbukti! *apeu*

(Baca: Melarang Anak dengan Kata 'Jangan')

Nah tapi tentu saja Bebe takut sama hal lain.

Pas kemarin beli balance bike, dia nangis-nangis di mobil karena nggak sabar pengen nyampe rumah dan coba sepedanya. Di mobil, sepeda yang belum dirakit itu dia peluk. Nyampe rumah dia coba 5 detik terus bilang “nggak ah aku takut jatuh” terus ditinggalin aja gitu main yang lain. WHY!

Besoknya saya langsung beli peralatan safety lengkap dan saya liatin video-video anak lain yang udah jago balance bike. Saya jelasin juga kalau jatuh, tidak akan sakit karena kan sudah aman. Seminggu deh prosesnya sampai dia bener-bener mau nyoba balance bike-nya agak lama. Sebelumnya sih ya gitu aja, main 2 menit terus nggak mau dan main yang lain.

Sebelnya kalau dibilangin tuh ngejawab! Misal gini:

Ibu: “Kamu kan hebat Be, pasti bisalah naik sepeda”
Bebe: “Nggak ah aku nggak hebat. Aku takut jatuh terus sakit”

T________T


Karena jadi orangtua itu harus siap jadi motivator, maka ya saya sama JG terus-terusan kasih motivasi dan kalimat positif sama Bebe kalau Bebe pasti bisa naik sepeda. Sampai akhirnya ya bisa. Sebelnya lagi kalau udah bisa maka ia menuntut pujian.

“Aku udah bisa kebut loh ibu, aku hebat kan?”

IYA HEBAT IYAAA.

Tapi saya nulis ini karena momen kemarin. Gong dari segala urusan penakut ini yaitu Bebe ternyata takut banget naik monkey bar di sekolah! Bentuknya gini, nggak tinggi-tinggi amat lah setinggi saya doang. Dan ada pegangannya.

source

Awalnya saya liat temen-temennya Bebe pada bisa semua naik monkey bar ini. Manjat ke atas loh ya, manjat dari satu ujung ke ujung lainnya. Bahkan sampai anak umur 2 tahun aja udah pada bisa! Bebe penasaran pengen nyoba juga tapi terus baru dua tangga dia berhenti dan turun lagi. “Aku takut”

T________T

Saya rada nggak terima gitu karena kenapa takut deh? Anak lain buktinya bisa! Saya nggak mau dia jadi takut ketinggian kaya JG karena waktu kecil JG selalu dilarang main panjat-panjatan model gini.

Berhari-hari saya bawa monkey bar ini sebagai topik pembicaraan dan puji sebagai anak pemberani. Model “kamu kan anak pemberani, pasti bisa lah naik monkey bar” yang selalu dijawab dengan “aku nggak pemberani aku takut”.

T_______T

Sampai suatu hari saya nggak jemput, Bebe dijemput sama JG dan JG kirim foto Bebe lagi di atas monkey bar! KOK BISA!


JG bilang kalau Bebe mau selamatin robot harus naik monkey bar itu dulu. And it works! Jadi selama ini dia nggak mau naik itu kemungkinannya itu ada dua:

1. Bebe emang takut banget
2. Bebe nggak takut-takut amat tapi manja aja karena ada ibu

(Baca: Bebe yang Romantis)

Karena kalau ada ibu itu Bebe manja! Semua maunya sama ibu, semua maunya sambil dipeluk ibu, semua mendadak nggak bisa gitu hhhh.

Tapi ya saya jadi belajar juga. Bahwa rasa takut anak itu muncul sendiri tanpa ditakut-takuti, dan bisa dihilangkan dengan motivasi! #rhymes

Karena Bebe bener-bener nggak pernah ditakut-takuti siapapun tapi toh dia takut juga. Dan Bebe hanya butuh seminggu motivasi sampai akhirnya mampu melawan ketakutannya sendiri.

Ya tapi itu kan Bebe ya, nggak tau kalau anak lain hahaha. Kalau anak kalian takut apaaa?

-ast-




Bebe yang Jijikan dan Sensory Play

on
Monday, October 9, 2017
[LONG POST]


Kalau kalian udah lama baca blog saya pasti tau kalau saya nggak pernah main sensory sama Bebe. Pertama, males. Kedua, males beres-beresnya. LHA HAHAHA.

Yaaa, saya mikirnya ya mainan itu bentuk mainan edukatif biasa aja. Terserah dong mau main sensory apa nggak? Toh banyak juga orang yang kecilnya nggak sensory play tapi pinter-pinter aja. Jadi saya selalu menganggap main sensory itu opsional.

Sampai saya kena batunya karena daycare dan preschool Bebe yang sekarang montessori!

Padahal beneran deh, saya pilih daycare dan preschool sekarang bukan karena montessorinya. Karena Bebe masih 3 tahun, saya pokoknya pilih daycare yang sesuai kriteria daycare idaman aja. Rumah luas dan nyaman, ada halaman, mainan banyak, dan yang paling penting: kamar dan kelas DIPISAH.

Survey ke 7 daycare dengan preschool/program belajar, cuma ini yang masuk ke semua kriteria yang saya mau. KEBETULAN ternyata mereka montessori, oh ya udah anggap nilai plus aja dong ya.

Ternyata nggak! Karena montessori tandanya banyak main sensory! Dan Bebe nggak kenal apa itu sensory play! *NGGAK BISA SANTAI*

🍎 Foto yang hilang 🌼

Mistis yah sub-judulnya lol.

Tiap hari, miss dan teacher di daycare Bebe selalu kirim foto kegiatan seharian. Dan saya menyadari bahwa ada beberapa kegiatan di mana Bebe nggak ada fotonya. Awalnya saya mikir oh mungkin dia males kali. Soalnya karena kelasnya lumayan padat, dari awal masuk saya kasian sendiri sama Bebe.

Jadi saya udah bilang sama Bebe “Be, kalau kamu ngantuk atau nggak mau belajar, bilang sama miss aja ya. Tidur aja biar, bilang miss kamu nggak mau belajar”

Orangtua macam apa ya yang nyuruh anaknya skip school begini HAHAHA. Abisan kasian ih anak kecil kok ya penuh rencana gitu. Kali aja dia mau main ya boleh, gitu loh maksudnya. Karena anak lain semuanya udah mau 4 tahun gitu umurnya. Bebe paling kecil.

Padahal kegiatannya seru sih. Misal bulan ini temanya tumbuhan di sekitar kita, tema hari ini pepaya. Maka mereka jalan (NYEKER) ke taman liat pohon pepaya, pegang pohon pepaya, motong sendiri buah pepaya, makan sendiri. Kemudian menggambar dan menempel pepaya dan diakhiri dengan main dengan material montessori.

Nah foto Bebe suka ngilang di bagian montessori! Ke mana dia!

Saya tanya ke gurunya, katanya "Xylo maunya main lari-larian aja bu, nggak mau disuruh pilih material". OOOHHH. Saya bilang "oh gitu ya udah nggak usah dipaksa ya miss"

YAKALI MASA MAU DIPAKSA.

🍎 Bebe ngamuk 🌼

Bebe di daycare baru nggak nangis sama sekali. Saya udah pernah cerita di sini: Bebe Sekolah!

Anaknya emang ekstrovert sih, dari hari pertama dia langsung bisa mingle sama anak lain gitu. Jadi nggak ada tuh drama “ibu nggak boleh kerja” sama sekali. Sampai suatu hari setelah sebulan Bebe akhirnya nangis. Karena …



tangannya kena lem.

YES PEOPLE. TANGAN KENA LEM.

Jadi kegiatan di kelas hari itu adalah menempel. Bebe ogah-ogahan colek lem pake jari. Terus missnya iseng nyolekin lem ke punggung tangan Bebe. Kemudian dia sakit hati banget dan marah.

Dia lari keluar kelas dan keluar rumah. Nangis ngamuk di teras manggil-manggil ibu sampai ketiduran di kursi teras zzz. Kenapa dia begitu? Karena ...

🍎 Bebe yang jijikan dan taat aturan 🌼

Sejak kecil, Bebe tuh udah geli sama tekstur. Dia nggak suka jalan di karpet kasar atau rumput sintetis. Dia nggak suka saya pake jaket jins atau baju-baju yang ada teksturnya. Risihan lah padahal saya di rumah bukan yang hygiene freak gitu kenapa si Bebe demikian. Entahlah kupun kurang paham.

Jijikan ini combo sama taat aturan. Nggak tau deh antara anaknya memang manis atau karena kami tidak menegakkan aturan sambil marah-marah jadi dia malah nurut banget. Saya sama JG jarang (bukan nggak pernah lol) banget marah sama Bebe karena ya untuk apa? Kaya percuma gitu. Kalau ngomong baik bisa ya kenapa harus marah gitu loh.

Paling gampang mah sampai sekarang Bebe nggak pernah coret-coret dinding karena saya pernah kasih tahu kalau gambar ya di kertas. Kalau aturannya begitu ya dia nurut. Makanya sampai sekarang dia bisa main sepeda dengan gear lengkap itu karena ya menurut dia aturan naik sepeda emang gitu.

Terus kenapa saya bilang combo? Karena ada peraturan-peraturan yang jadi nyambung sama sumber kejijikan.

Contoh: “main ke luar HARUS pake sendal/sepatu ya Be!”

Maka si Bebe keluar rumah selalu pake sendal dan sepatu dan dia jadi jijik kalau nggak pake. Dari kecil banget kalau ada anak daycare lain yang lari keluar nggak pake sepatu, BEBE AMBILIN SEPATUNYA DAN DIPAKEIN KE ANAK ITU.

Contoh lain, sejak kecil saya nggak pernah marah kalau dia numpahin makanan atau minuman, dia langsung tau diri aja langsung ambil lap dan lap sendiri. Hasilnya? Dia selalu hati-hati dan berusaha nggak numpahin apapun.

Yang mana hal-hal kaya gini ternyata susah kalau sekolahnya montessori.

Saya liatin ke Bebe foto temen-temennya yang main sensory dan nanya kok Bebe nggak mau main ini?

Misal mindahin air pake sponge dia jawab "nggak ah tar tangan aku basah terus airnya tumpah-tumpah kena meja" (males dia nanti harus pel sendiri)

Main air di halaman sambil nyeker "nggak ah nanti kaki aku basah" (karena main di halaman seharusnya ya pake sendal dong ibu!)

Finger painting “nggak ah nanti tangan aku kotor” (tangan kalau kotor aja langsung dicuci, ini kok malah sengaja dikotor-kotorin? kan bisa pake kuas!)

Mindahin biji-bijian pake sendok, jawabnya "aku jijik sama biji itu"

GOD.

🍎 Terus aku sedih 😟

Saya ngerasa gagal banget karena kenapa sih Bebe kaya gitu? Saya beneran nggak apa-apa kalau Bebe skip kelas karena dia ngantuk atau capek, tapi masa skip karena jijik? Curhatlah sama geng kesayangan dan disuruh tes ini sama Gesi untuk nentuin ada yang ketinggalan nggak milestone-nya?

Saya coba dan nggak ada. Sampai 52 bulan juga Bebe masih oke. JG konsultasi sama temennya yang psikolog anak dan akhirnya ditarik kesimpulan bahwa:

Bebe cuma kurang main sensory di rumah hhhh.

Malem itu juga saya bertekad dan mulai coba colek-colek lem di rumah. Random aja saya sama Bebe colek-colek lem ke kardus bekas susu. Nggak bikin apapun. Bebe awalnya bingung gitu ngapain sih? Tapi saya cuekin aja dan saya colek-colek terus. Lama-lama dia ikut colek sampai beberapa menit kemudian dia mulai risih dan lari sendiri ke kamar mandi untuk cuci tangan. Saya diemin aja nggak paksa.

BESOKNYA DI SEKOLAH BEBE MAU COLEK LEM! Meskipun mukanya masih jijik dan beneran nyolek pake ujung telunjuk gitu. Hahaha. Nggak apa-apalah kemajuan.

Ternyata bener kata Gesi dan temennya JG, dia begitu karena nggak terbiasa aja. (ya masa aku biasain jijik-jijikan sih? HAHAHA IBUNYA EMANG RESE)

Terus kemarin nyoba main kacang ijo dan tadi pagi sih ditanya Bebe bilang mau main biji-bijian di sekolah. Nggak tau deh hari ini, belum dikirim foto dan belum ketemu Bebe. SEMOGA BENERAN MAU YA.

Jadi sesuai saran Gesi saya mau merencanakan mulai main sensory di rumah. Seminggu sekali mungkin (KALAU NGGAK MALES). Goalsnya belum akan sesuai teori kaya nyendokin dari kiri ke kanan blablabla, yang penting Bebe mau MEGANG dan NGINJEK dulu aja berbagai tekstur.

Soalnya sayang banget deh udah bayar sekolah terus Bebenya nggak mau ikut semua kegiatan cuma karena nggak terbiasa melakukannya sama saya di rumah. Jadi ibu peernya banyak banget ya. Banyak peer dan ogah rugi, ribet deh elah.

Tapi urusan aturan plus megang tekstur ini emang jadi bingungin sih. Misal dia makan jelly. Seharusnya makan jelly ya pake sendok dong ya supaya nggak lengket ke tangan. Tapi dalam rangka megang berbagai tekstur jadinya saya keluarin jelly dari cupnya dan taro aja di tangan dia terus Bebe bingung "kok boleh aku pegang jelly? Nggak pake sendok aja ibu?"

GIMANA DONG BEEE. Akhirnya ya saya jawab "boleh deh, tapi abis itu harus langsung cuci tangan ya!" Huhu. Padahal saya sendiri aja bisa risih banget tangan lengket apalagi mikirin harus nyeker di taman atau harus main pasir di pantai gitu oh no. No no no. T________T

*

Dan ya, untung aja Bebe preschool! Minimal saya jadi punya pembanding oh anak seumur ini harusnya sudah bisa apa. Kalau nggak mungkin saya akan tetep halu kalau Bebe anak paling hebat, padahal ternyata ya sama aja kaya anak lain hahaha.

“KOK MALAH BANDING-BANDINGIN ANAK SIH!”

Ya kalau milestone mah perlu dibandingin atuh. Kan udah jelas umur sekian harus bisa apa minimalnya. Yang nggak perlu dibandingin itu urusan value di keluarga kan. Urusan mau minum susu apa nggak, toilet training umur berapa, disiplin duduk di high chair apa di lantai aja, dsb. Value keluarga mah beda-beda, tapi milestone sih udah ada standarnya kan.

Jadi ya, itu aja! Next saya mau cerita juga soal Bebe yang mendadak penakut. Nanti yaaa!

See you!

-ast-




Bebe Bebas Gadget, Finally!

on
Wednesday, October 4, 2017
LONG POST. NGGAK MAU DIEDIT BIAR PENDEK. BIAR SAYA SENDIRI INGET DETAILNYA. BACA LAH PLIS. HAHAHA.


antri dokter gigi, bebe menggambar ibu main hp hahaa

Kalau kalian baca blog ini dari dulu, mungkin tau ya kalau saya tidak anti gadget tapi anti korupsi. Saya kasih Bebe nonton YouTube (tidak game sama sekali, hanya YouTube) dan awalnya tidak merasa bersalah. Pertama karena saya merasa masih bisa mengontrol Bebe, kedua saya merasa bahwa Bebe tidak berlebihan juga nontonnya ...

... padahal mungkin denial aja itu mah hahaha

🙅 Awal mula 📱

Bebe mulai nonton dari umurnya 2 tahun. Sebelumnya dari 20 bulanan gitu udah saya kasih lagu-lagu di YouTube tapi paling satu lagu bosen. Sebelumnya lagi dari pas bayi sih emang nggak saya kasih gadget sama sekali. Nggak tau ya kaya nggak kepikiran aja gitu dulu kalau anak sekecil gitu udah bisa nonton.

Plus nggak punya TV juga di rumah jadi dia nggak terbiasa liat layar. Dia anak yang norak kalau liat TV di mall, bisa dipelototin banget lama nggak mau jalan hahaha.

Setelah 2 tahun Bebe mulai bisa nonton satu film full dari awal sampai akhir. Itu pun nonton di laptop dan diulang-ulang film yang sama: Zootopia. Sampai saya hafal seluruh dialognya. Kemudian dia nonton Frozen juga terus-terusan sampai saya hafal semua scenenya. Akhirnya ya ke YouTube, ngefans sama Upin Ipin seperti anak-anak lainnya.

🙅 Mulai ketergantungan 📱

Kondisinya Bebe punya hp sendiri tapi nggak saya kasih simcard. Untuk nonton maka dia tethering ke HP saya. Saya punya full control karena kalau saya mau, ya saya matikan wifinya. Jadi tidak ada yang berlebihan, MENURUT SAYA, DAN ITU DULU.

Intinya, kemarin-kemarin itu Bebe seneng banget nonton Upin Ipin dan saya JUGA jadi bergantung pada YouTube untuk bikin Bebe tenang dan kalem. Lagi macet dan Bebe cranky ya tanya mau nonton apa, lagi nongkrong sama temen-temen ya Bebe kasih YouTube biar diem, lagi capek di rumah pengen leyeh-leyeh ya kasih Bebe nonton biar saya bisa chat di group, lagi makan di luar ya kasih Bebe nonton lah, kalau nggak gimana saya makan? *pake sendok sis*

(Baca: Memilih Tayangan Edukatif untuk Anak)

Makin lama ternyata saya mulai khawatir. Awalnya khawatir takut mata rusak aja sih. Karena ada temen yang anaknya sering nonton, pas TK udah pake kacamata. Ada juga sepupu yang baru kelas 5 SD matanya udah plus, BUKAN MINUS! Kata dokter karena kebanyakan fokus pada satu titik di gadget. Mana turunan appa ibunya pake kacamata gini kan.

Oh waw olrait aku khawatir, TAPI NGGAK USAHA DETOKS JUGA.

Iya, mulai khawatir tapi belum yang “ok aku siap untuk membuang hp Bebe dan kehilangan waktu leyeh-leyeh” gitu. T_____T

🙅 Tentang detoks gadget 📱

Saya mulai tertarik dengan detoks gadget setelah sempet ngobrol di komen IG dengan Sazki dan baca blogpostnya: Detoks Gadget. Dia udah detoks gadget ke Menik, anak perempuannya sejak 15 bulan wow! Umur 15 bulan Bebe bahkan belum mau nonton hahahaha.

Cuma karena tau ceritanya Sazki, saya jadi sadar bahwa detoks gadget itu PASTI bisa, cuma ya kapannya itu tergantung kesiapan orangtua. Dan sejak saat itu saya selalu sounding ke Bebe tiap kali dia mau nonton bahwa nonton itu bikin mata rusak loh, nonton itu nanti matanya perih, nanti Bebe liatnya jadi susah, dll

Sampai beberapa bulan, tiap mau nonton saya kasih wanti-wanti itu dulu, tapi saya belum larang apapun. Masih dikasih, dengan wejangan panjang lebar. Sampai akhirnya Bebe beneran terdoktrin dan bilang gini sendiri “ibu, kalau aku nonton terus nanti mata aku pecah”

WOW. SEREM. HAHAHA. Saya bilang “nggak pecah sih, cuma rusak”. Dia nggak nangkep gitu, dia soalnya bandinginnya sama mainan, kalau rusak ya pecah atau copot gitu kan.

Terus pelan-pelan saya kasih tau kalau di mobil udah nonton maka ketika mobil masuk garasi, hp harus langsung dimatikan. Karena waktu itu pulang daycare pasti di mobil minta nonton. Ngamuk lah awal-awal. Tapi cuma 3 harian gitu terus dia ngerti, masuk garasi, matikan HP. 

Nyampe rumah main-main dulu terus sebelum tidur biasanya nonton lagi, tapi paling setengah jam karena saya matikan wifinya (tanpa dia tau) terus saya pura-pura tidur. Nanti dia ketiduran sendiri.



🙅 Kenapa akhirnya detoks? 📱

Kalau Sazki kan khawatir sama perkembangan anak, saya justru nggak sih. Mungkin karena Bebe lebih besar dari Menik ya. Saya juga cek di checklist tumbuh kembang dan rutin konsul psikolog (jadi bukan halu lol), Bebe nggak ada masalah sama sekali dengan perkembangannya. Motorik bagus, bicara bagus, konsentrasi bagus, lempar tangkap bola aman, menggunting bisa. Sesiang di daycare nggak kena TV.

Masalahnya satu, YouTube jadi pelarian! Benci!

Bebe bengong sedikit minta YouTube, bosen sedikit pengen nonton, kapan pun dia ngerasa bingung mau ngapain pasti minta nonton. Sebel banget padahal saya kalau di mobil kadang pengen ngobrol banyak gitu sama Bebe, seharian ngapain di daycare. Eh dia jawab seadanya terus maksa minta nonton. Kalau udah nonton mana bisa diajak ngobrol!

JG main hp terus aja saya sebel apalagi Bebe. Diri sendiri ketergantungan Instagram aja saya delete Instagramnya 7 hari, apalagi Bebe nyuekin saya karena nonton hhhh. Nyebelin.

(Baca: 7 Hari Tanpa Instagram)

Padahal ya salah saya juga. Sebelumnya saya yang selalu kontrol kapan Bebe boleh nonton (pas saya pengen istirahat atau pas makan di luar), lama-lama karena aturannya nggak jelas ya Bebe atur sendiri lah kapan dia pengen nonton. Jawabnya gini “aku senang kalau nonton, aku mau nonton biar senang”. Sebel banget nggak sih.

Akhirnya saya bilang JG, ini nggak beres. Dia apa-apa maunya nonton, kita jangan pegang hp depan dia ya! JG oke. Project pelepasan gadget dari Bebe, dimulai!

🙅 Bebe bebas gadget 📱

Pas banget dengan hari pertama Bebe sekolah. Nggak tau kenapa sih nggak direncanain juga. Cuma karena daycare sekarang jarak tempuhnya 1,5 jam ke rumah, tandanya kalau naik mobil dia langsung nonton dia akan nonton terus selama 1,5 jam. Daycare yang dulu sih paling lama 1 jam, rata-rata 30-40 menit lah kalau lancar.

Karena Bebe excited banget sekolah akhirnya saya ajak ngobrol terus sampai dia ngamuk karena dia maunya nonton. Saya bilang Bebe tidak boleh nonton lagi karena sekarang sudah sekolah, nanti matanya rusak blablabla. Saya biarkan dia marah ngamuk nangis di car seat.

Hari kedua dia minta lagi, saya tolak tapi udah nggak marah. Ngelamun doang bentar tapi terus ngobrol lagi. Hari ketiga udah nggak minta sama sekali!

Seminggu lah sampai akhirnya dia nggak peduli kalau pun saya atau JG buka HP depan dia. Udah nggak minta aja, sibuk sendiri main atau liat ke jalan. Cobaan datang saat weekend hahahahaha.

Karena weekend kami cuma bertiga di rumah dan capek laahh kalau harus full 2x24 jam nemenin Bebe. Akhirnya pas weekend dicoba nonton tapi pakai alarm 1 jam, alarm berhenti dia harus matikan HP nya dan ternyata berhasil. Nggak nangis sama sekali. Alarm bunyi, dia matikan, terus ambil mainan lain.

FINALLY. SETELAH SETAHUN!

Hari ini tepat sebulan setelah Bebe lepas gadget. Kadang masih minta, kadang saya kasih kadang nggak. Yang penting bukan lagi memperlakukan YouTube sebagai pelarian dan kalau nggak dikasih nggak marah apalagi ngamuk. Nggak lagi yang bener-bener HARUS tiap naik mobil langsung nonton. Weekend juga kadang 2 kali nonton YouTube pake alarm satu jam. Nggak apa-apa, nggak apa-apa banget. Yang penting udah nggak ketergantungan.

(Baca: Anak Kecanduan Gadget, Salah Siapa?)

🙅 Paling kerasa repot pas apa? 📱

Di mobil nggak repot sama sekali karena saya tinggal nemenin dia ngobrol aja selama 1,5 jam. Bener-bener quality time deh. Ngobrol sambil pegangan tangan gitu huhu romantis. Yang repot itu kalau lagi makan hhhh.

Sebulan kemarin saya cuma makan keluar 3 kali. Sekali sama temen saya yang bawa anak jadi dia main sama anak itu. Kedua makan Shaburi dan Bebe minta dibacain buku! Repotnya ampun saya bingung sendiri gimana sih makan sambil bawa toddler saking setahun terakhir kalau saya makan ya Bebe nonton. Nggak konsen banget makannya. Akhirnya saya kasih dia buah dan dia makan buah sendiri deh.

Ketiga kemarin pas perpanjang SIM itu, saya beliin Lego kecil deh akhirnya. Dia main Lego, saya makan sambil suapin dia. 

Saya bener-bener belum nemu cara biar dia anteng di tempat umum tanpa nonton. Soalnya Bebe nggak terlalu suka menggambar, baca buku repot juga, mentok ya so far bawa mainan aja sih yang dia suka. 

Apalagi ya! Udah sih itu aja. Nggak tips untuk lepasin gadget karena sebenernya gampang banget ASAL TEGA BILANG NGGAK. Udah itu aja.

Semoga menginspirasi yaaaa! 

-ast-