Urusan Timbangan

on
Thursday, November 16, 2017
harusnya noun, tapi seperti biasa anggap saja majalah ya alias males edit lol

Makhluk dunia yang bernama manusia ini emang concern banget ya sama urusan timbangan. Ya kali, binatang mana punya timbangan jadi mau peduli juga susah ya kan. Masalahnya yang diurusin timbangan orang lain juga! Orang lain yang nggak kenal-kenal amat! Yang cuma ditemui di socmed!

“Gemukan ya?”

“Tambah chubby ya?”

“Nggak bagus deh pake baju itu keliatan gemuk”


Tahukah kalian kalau itu semua nggak sopan dikatakan KECUALI ngomong sama orang yang udah akrab banget, sering ketemu, atau kita tau persis perasaan orang itu soal badannya. Karena celetukan soal berat badan dari pikiran sendiri pun udah jadi beban, lha ini ditambah omongan orang. Kan jadi kepikiran.

Iyalah kepikiran karena ada orang yang emang mau jaga makan dan olahraga segimanapun tetep nggak bisa sekurus Gigi Hadid. Sebaliknya ada juga orang yang makannya udah porsi kuli di warteg tiap kali makan, tetep nggak bisa gemuk. Kan nggak adil kalau semua HARUS kurus.

(Baca pendapat Gesi dan Mba Windi juga ya! Nahla belum nulis nggak sempet katanya -____-)

Iya jadi di kehidupan yang serba mengutamakan penampilan ini, orang bisa dengan mudah sedih karena dibilang gendut sama orang. Bilang orang lain gendut-gendut, sendirinya dibilang jelek langsung mellow ngeluhin suami nggak ngasih duit perawatan. -______-

Gue sih waktu kecil diajarinnya: jangan gitu ke orang kalau kamu nggak mau digituin sama orang. Artinya jangan komen-komen orang gendut lah kalau sendirinya nggak mau dikatain juga.

Kadang ya, gue aja yang sering pake logika daripada emosi, pengen banget sekali-kali bales kasar ke orang yang suka random bilang “Kak icha gemukan ya sekarang! Kok pipinya chubby banget!”

Maunya gue bales:

“IYA MUKA KAMU JUGA KURANG BANGET IH. KURANG SEMUANYA GITU, KAYANYA KALAUPUN MAKE UP JUGA BAKAL TETEP JELEK DEH. BAWAAN LAHIR ITU MAH YA?”

Tapi kan acyu ndak pernah begicyu. :(

Mungkin orang itu nggak tau kalau dia nggak sopan jadi mereka-mereka ini biasanya gue tegur aja dan gue kasih tau kalau komentar kaya gitu nggak sopan. Bukannya jadi gue bales dengan pernyataan yang sama nggak sopannya.

Karena komentar fisik SELAIN PUJIAN yang ditulis hanya untuk basa-basi atau kepo itu lebih baik hanya disimpan dalam hati. Jikalau tak tahan sekali ingin berbagi, maka gunjingkanlah di area non publik seperti WhatsApp group atau ya japri siapa kek yang nggak ember. Begitu aturannya mbaksis, kali-kali aja belum tau.

Kenapa gue bilang kepo, karena kepo is the root of all evil. Apalagi kepo model komentar di foto orang dengan:

“Mbak, hamil ya?”

Pernyataan yang luar biasa. Untuk basa-basi ini kurang kreatif, untuk kepo ini GUNANYA NAON TAU ORANG LAIN HAMIL ATAU NGGAK?

Ya kan buat didoain. Oh plis aku tak butuh doa dari orang nggak sopan yang intinya mau bilang “Kok gendut sih? Hamil ya?”

Kalau orang itu nggak hamil, kalian kemungkinan besar akan bikin dia tersinggung dan mempertanyakan ketidakadilan dunia pada badannya.

Kalau dia hamil, ya terserah dia juga apakah setiap orang hamil harus pengumuman pada di mana-mana? Kan nggak. Karena permisi, ngana siapa sampai harus dikabari berita kehamilan? Keluarga bukan, temen deket bukan. Geez.

Yang terparah kalau orang ini nggak hamil tapi pengen hamil! Kebayang nggak sih dia akan sedihnya kaya apa. Dia mungkin akan bales komentar kamu dengan manis “hehe belum sih, doain aja”. Padahal dari lubuk hatinya dia sedih. :(

Bukan nggak mungkin loh kaya gitu.

Iya, ada orang-orang yang cuek banget atau percaya diri banget sampai nggak peduli sama konsep kecantikan yang umum diterima khalayak ramai. TAPI SEBERAPA BANYAK HAYOOO.

Kebanyakan ibu-ibu mah tetep lah ngeluhin bentuk badan, apalagi pasca melahirkan. Iya atau iya? Jawab! *galak macam kakak senior lagi ngospek*

Dan komentar fisik inilah yang bikin aplikasi edit foto macam Facetune atau BeautyPlus jadi laku banget. Karena bisa liquify bentuk muka jadi tirus, lengan jadi sebesar selang, betis nggak nonjol, dan paha semampai.

Padahal kan males atuhhh kalau tiap foto gue edit pipinya. Selain males, ngedit bagian tubuh jadi lebih “ideal” juga malah bikin kita makin sadar akan kekurangan diri dan jadi makin merutuki. Dih kapan atuh ya bisa kaya Jennifer Bachdim. :((((

Inti dari cerita gue panjang lebar adalah: AYO KITA LAWAN!

*udah kaya pejuang kemerdekaan ya hahaha*

Lawan ketidaksopanan dengan edukasi sopan santun. Orang-orang yang senang kepo “hamil ya?” itu most likely adalah orang-orang yang sama dengan penyuka pertanyaan “udah isi belum?”, “kapan anak kedua?” sambil elus-elus perut kita gitu. Boundaries, please, tanteeee. :((((

Jadi kaya yang udah pernah saya bilang, kalau ada orang yang begitu maka tegur. Saya melakukannya di dunia maya dan dunia nyata. Kalau kalian masih canggung banget, tegur di dunia maya juga cukup. Tegur melalui komen “ibu/bapak, bertanya seperti itu tidak sopan ya maaf saya kurang enak dengernya”.

Variasinya bisa:

“Mbak maaf komentarnya tidak sopan ya. Tidak akan saya jawab”

Atau

“Maaf ya nanya gini ke orang itu nggak sopan, orangnya bisa sakit hati lhoo”

Jangan lupa gunakan emot :) supaya seolah kita bicara ramah tapi tegas. Dijamin orangnya akan minta maaf. Ya kecuali tante-tante ngeyel yang emang duh udalah, nggak peduli perasaan orang.

(Baca: Ide Basa-basi Tanpa Bikin Tersinggung)

Dan jangan lupa ajarkan anak-anak kita!

Bebe diajarin banget kalau tubuh manusia itu beda-beda jadi udah ngerti kalau orang ada yang kurus, gemuk, berbagai warna kulit, mata dan rambut. Tapi kadang dia suka pengen komentar karena dia bangga bisa mengidentifikasi orang gendut.

Akhirnya gue bilang aja "Be, orang gendut atau kurus sama aja. Tapi kalau kamu pengen banget bilang om gendut, bilangnya ke ibu aja ya. Jangan keras-keras nanti dia sedih kalau dibilang gendut"

Sejak saat itu, jika bertemu orang berbadan besar, dia akan komen berbisik "ibu, om itu gendut tapi aku bilang ke ibu aja nanti dia sedih"

YEAYYY.

Dan SETIAP dia bilang gitu gue selalu ngulang "iya orang itu beda-beda, blablabla" alias kuliah lagi soal perbedaan manusia. Karena gue mau dia jadi manusia yang tidak memusuhi perbedaan. Ah jadi mellow deh ah. :(

Sekian dulu dari kami. Semoga yang belum tau jadi tau dan jangan diulang lagi yaaa!

Love you all!

-ast-
LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

23 comments on "Urusan Timbangan"
  1. Temanku ada yang langsung nangis waktu disinggung soal kehamilan, karena memang dia ada masalah di kandungan sehingga sulit hamil. Tapi ya gitu, banyak aja orang usil yang kepo. Nggak di foto, nggak di alam nyata. :( Itulah, banyak orang berkomentar, padahal belum tentu kondisi orangnya lagi baik. :')

    ReplyDelete
  2. Betapa tak sopannya memang, Mbak. :( Tapi kadang kalau dibilangi, malah nyolot. :'D Sedih deh

    ReplyDelete
  3. aku sering dulu disinggung-singgung sama temenku katanya hidungku besar (ya emang besar haha) kayak ngeledek gitu padahal fisik dia juga banyak kurangnya menurutku, pas aku komen balik fisiknya dia ngambek -_____-

    ReplyDelete
  4. EDUKASI

    Untuk menerima semua perbedaan,, pernah dibilang gitu dan gila ya tu mulut nggak ada kuncinya,, gue bales aja. Iya situnya kok item gak ilang2,, (GUE JUGA NGGAK SOPAN berarti) T_T

    bener juga ya, bilang aja kayak icha,, kalau itu nngak sopan.

    makasih cha

    ReplyDelete
  5. Sama menyakitkannya dg dikomentarin: "Kok sekarang jerawatan?" di media sosial mbak :(((

    ReplyDelete
  6. agh, agh itu sama aja dgn bilang ke anakku, "Kok anak kamu kurusan? Gak keurus ya?" errrrr. Gak tahu apa itu anak baru aja sakit jd kurus, rese bgt sih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku pernah curhat gini ke Icha di postingannya Pungky kalau nggak salah xD
      Lawan, Mba, Lawan! *padahal aku ya masih latihan, seringnya jiper duluan, heu*

      Delete
  7. temenku ada yg begitu tuuuh komen badan melulu. ih ini mulut (dan jari hahaha) udh gatel pgn bales, kalo dia secakep sofia vergara gapapa. tp dilarang pacarku karena kita gaboleh ngatain apa yg gabisa dirubah hahaha! #win

    ReplyDelete
  8. "Yang terparah kalau orang ini nggak hamil tapi pengen hamil! Kebayang nggak sih dia akan sedihnya kaya apa. Dia mungkin akan bales kamu dengan manis “hehe belum sih, doain aja”. Padahal dari lubuk hatinya dia sedih. :("

    pas baca paragraf ini aku langsung melow, pernah ngerasain juga pengalaman kaya gitu nyesek banget, nyampe rumah nangis sesenggukan ke suami huaa..
    Btw salam kenal kak Annisa :)

    ReplyDelete
  9. Aku pernah lho mbaaa ketemu sama temen (bukan temen deket ini juga, cuma kenal dan pernah ketemu beberapa kali doang), trus dia komennya sama persis bilang "Lia lagi hamil ya?" dan pas aku jawab dengan senyum manis "belum nih, doain aja ya" trus mau tau dia jawab apa? Dia menjawab... "oh soalnya keliatan kayak lagi hamil"

    Alias maksudnya aku gendut :)))

    Dan itu bukan cuma sekali doang. Dalam waktu gak sampai setahun, ada sekitar 3-4x dia nanya aku lagi hamil apa ngga. Ya pas ketemu, ya di comment foto aku. Aku sampe ngitung saking seringnya doi nanya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mbaaak ini kisahnya sama kayak aku! Bedanya temenku ini temen lama yang gentayangan di sosmed, seenak jidat nanyain gitu. Akhirnya aku block daripada jadi toxic 😂😂

      Delete
  10. Hahaha, sering lah dikira udah punya anak padahal belom. Perasaan itu pertanyaan basa-basi gak mutu, yang herannya terkesan lumrah ditanyakan. Gue inget juga waktu itu Alodita pakai baju yang bikin dia terlihat membesar di bagian perut. Out of nowhere, follower baru kali ya, dengan santainya komen Alodita hamil ya? Errrr... andaikan dia tahu betapa berjuangnya Alodita dapetin anak. Sebel gue baca komennya.

    ReplyDelete
  11. Pas SMP gebetan ku bilang, "aku suka kamu, tapi kamu jerawatan" kan nyakitin ya? Trus pas doi jadi jerawatan banyak bgt akupun puas sekali!
    Satu lagi, pas belum nikah di kereta sering mau di kasih duduk karena di kira hamil, tapi pas hamil beneran jarang bgt yang mau ngasih duduk -___-

    Btw, nyambung ga sih sama bahasan blog nya? Maaf ya ka Icha kalo komennya ngawur dan curcol 😂

    ReplyDelete
  12. Ayoooo kita lawaan, Mbak. Bener banget, suka sebel sama kebiasaan yang 'kepo' dan 'gak sopan'. Rasa-rasanya, hal tersebut dianggap sepele padahal imbasnya gak sepele. Ayooookkkk *pake ikat kepala* :D

    ReplyDelete
  13. First of all, fat is pronounced /fæt/ not fet? Did you mean /fét/?

    Mbak kok tulisannya marah2 sih, walau tulisan itu ga didngar tp pembaca tau loh kalo tulisanmu itu ya lg marah2,most of the time. Emosian ya mbak? Beda ama tulisannya mbak Grace ya

    Lagian ya mbak, lagian kalo ada yg bilang kamu gendutan tp kamunya sendiri ga merasa gemukan, ya udah ga usah ambil hati sih, teriak aja dlm hati "gue udah semungil, sekecil, seringan ini, harus sekurus apalagi..." artinya org yg ngatain itu kan ga bener. Kecuali kalo emg kamunya emg gendut dan ada org blg kamu gendut, ya dia berarti emg ga sopan dgn ngejudge fisik

    Ada banyak di dunia ini yg fisiknya lebih gendut, lebih pendek, tunarungu, tunanetra, jadi buat apa seemosi ini kalo cuma dikatain gendut sih? Learn to be in other people's POV, they might want to be you
    Lagipula namanya jg hidup,kalo diktain gemuk aja ga mau, lah gimana dgn cobaan lain yg akan datang? Banyak yg lebih perlu dikasih emosi drpada pas kita dikatai gemuk, koruptor yg lagi2 lolos sehingga indonesia makin miskin misalnya.
    Jadi anggap saja dikatai gemuk itu angin lewat. Their opinions don't define you toh mbak

    Lagipula bagi org yg mengutamakan logika drpd emosi seharusnya ga se-goes off ini lmao.

    P/s: sengaja select profile sbg anonim supaya ga tercantum aja nama saya. Sadar kok sadar. I am not wall tho!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Fontnya ga punya pilihan special character jadi ya gitu deh. Iya dong aku emosi, seperti juga aku emosi sama orang yang nggak mau antri. Sama-sama bagian dari kempen sopan santun.

      Untuk tulisan ini poinnya adalah body shaming is not ok apapun bentuknya, pada siapapun. Termasuk pada anak kecil. bilang “idungnya ke mana itu kok nggak ada?” itu nggak sopan tapi lumrah juga dong di kita?

      Mbak mungkin nggak tau ya ada orang yang sampai silet-silet perut biar nggak perlu makan dan dibilang gemuk padahal dia sebenernya kurus? Di Instagram banyak, dipamerin pula bekas sayatannya. Taulah pasti banyak orang yang depresi karena berat badan?

      Jadi jangan anggap remeh insecurities dan sumber stres orang apapun bentuknya, bisa leading to depression. Bilang “kok gendutan?” ke orang yang insecure sama berat badan (meskipun dia tidak gendut menurut society) sama halnya dengan bilang “kok udah 40 belum nikah? nggak laku ya?” ke orang yang pengen banget nikah tapi belum dikasih jodohnya.

      Sama-sama colek insecurities. Kalau kamu mau nganggep itu angin lewat ya silakan, aku sih mau ngasih tau aja kalau itu nggak sopan.

      Oya terus mungkin mbaknya yang baru baca blog aku jadi baru tau aku nulis emosian gini. Emosian banget aku mah di blog dari dulu, di dunia nyata apalagi di channel socmed lain jarang emosi soalnya, dibully kaya apa juga aku diem nggak pernah bales. Ya balesnya di blog hahahaha.

      Delete
    2. Mba, sebenernya poin tulisan Icha (dan aku plus Windi) itu bukan pengin teriak bahwa kami nggak terima dikatain gemuk / dikomenin fisik loh, Mba.. Melainkan lebih ke yuk ah tahan diri untuk nggak komentarin fisik orang lain terutama yang belum kenal, karena kita nggak pernah tahu hati mereka apakah bener-bener bisa nganggep itu angin lewat atau sakit hati. Lebih ke yuk jaga perasaan orang yuk, gitchuu.. Kecuali kalo udah yang kenal dan deket, kita tahu dia oke-oke aja dengan badannya, nah itu beda cerita.


      Intinya marilah kita tidak menjadikan komenan fisik sebagai hal lumrah. Kita sering yah risih mendengar jokes di acara-acara TV semacam, "Cacat lo, autis lo, ngondek lo, gembrot lo" etc. Risih, tapi sehari-harinya kita sering melakukan itu dengan alasan "Ya kan cuma becanda, lagian kaya gitu doang masa baper sih" - Mau baper/tidak, becanda seperti itu kurang sopan, dan sebaiknya nggak dilumrahkan. POV kami bertiga di situ, Mba.

      Delete
    3. Iya-iya yang dikatain Icha sama Gesi udah mewakilin apa yang mau aku bilang.

      Dan nganggap orang yang " Ya elah masalah berat badan aja baper gimana menghadapi masalah hidup yang lain " , Duh itu gimana yah. Ini sama aja dengan kita ngomong " Ya ampun masa ngurus anak sendiri depresi sih, lebay banget" kepada org PPD, atau nganggap korban2 kayak Amanda Todd itu masalahnya sepela banget. Karena sepele sama kita belum tentu sama orang lain.

      But Highlightnya bukan di masalah baper ga baper sih tapi sekedar ngasi tau, Itu ngga sopan lho. Ngomenin fisik itu ngga sopan, dan ayo sama2 kita hentikan. Tegur kalau ada temen yang masih komen fisik, becanda fisik, kecuali temen dekete bgt yg udah tau model becandaannya dan udah tau karakter temen kita itu (walau ini pun msh punya potensi ngga enakan).

      Tapi ya seperti yg aku bilang, kadang nilai2 kesopanan bagi orang beda-beda sih.

      Delete
    4. Iya saya ngerti inti tulisan kalian bertiga itu apa, bahwa menghina fisik is not OK. Saya juga ga bilang ngatain gendutan, jerawatan, pesek itu hal yang wajar kok, di komentar pertama kan saya SUDAH BILANG menghina fisik itu gak sopan. Gak akan pernah jadi sopan.

      Saya bingung gimana jelasinnya. Tapi kalo mereka yang dikatain gemuk udah sekurus itu, mana timbangan ga sampe 50 kg, kenapa harus sedepresi itu? Dia tau dia udah kurus, orang ngata2in dia gemuk, dia nangis dan tahan lapar. Why so weak? I mean sometimes beberapa orang emang perlu diabaikan, termasuk org ga kenal dan langsung ngatain km gemuk, karna... ya you don't need to low your level to play with si penghina itu.

      Tau Adalia Rose? Bocah 10 tahun yg punya progeria, dia punya channel youtube isinya video2 dia yg doyan make up, punya FP di FB sama IG juga. Yg ngehina dia? BUANYAK BANGET. Tp ibunya berhasil ajarin dia utk deal dgn semua itu dan punya hati yg besar. Adalia ngerti sama progeria yg dia punya, dia tau dia beda. Di dalem hati ibunya, mungkin dia pengen matiin org2 yg nyuruh anaknya mati, ya tp mungkin mau gimana lagi selain bikin hati anaknya tetep kuat, bilang bullying is never OK, ngereport lalu block org yg hina anaknya. O yg hina bukan org indonesia loh, kebanyakan org AS kyknya. Penghina mah dr mana2 ada. Yg paling penting sih Adalia ga sampe depresi, dia mungkin marah tp ga pernah go off di sosmednya, ttp bikin vlog dan pede2 aja.

      Jadi kalo kata aku sih, DI DIRI KITANYA JUGA harus learn to be stronger and grateful. Iya tau bgt mereka salah, harusnya mereka ga ngehina fisik. Tp balik lagi namanya juga hidup, org macem gitu emg bakal ttp ada sih, ya mau gimana lagi selain kita yakin kalo their words don't define me. And deal with it.

      BTW saya tau ini kepanjangan, soalnya ngetik di laptop dan mengalir begitu saja. Dan justru saya suka baca tulisan2 kamu ini, jd saya emg sering mikir kamu itu emosian, o dan ternyata iya. Tapi setelah dibales sekaligus sama mbak Windi dan Gesi, saya ubah point saya buat menyesuaikan balasan2 kalian.

      Delete
    5. jadi ya, aku tuh udah negur orang ga sopan 3-4 tahun belakangan, dan sekarang udah jarang sekali yang komen fisik atau singgung soal anak kedua ke aku. tandanya orang aware bahwa komen gitu ga sopan, minimal mereka akan pikir dua kali kalau mau komen.

      karena aku tau banyak yang ngerasain hal serupa, aku ajak orang untuk berani juga “melawan” dan mengajarkan anak-anak tentang perbedaan.

      sesimpel itu loh. kalau kamu mau diem aja dan menganggap dengan mengeluh atau melawan tandanya self acceptance lemah ya silakan aja. aku nggak maksa kamu untuk melakukan hal yang sama kaya aku.

      contoh kamu soal adalia juga sama banget kok kaya aku. aku ga pernah ngomel atau reply marah-marah di socmed kalau ada yang nggak sopan, aku hanya negur dia baik-baik. dan aku tetep upload foto aku tanpa dibikin kurus atau apa. nggak bikin aku jadi berhenti upload foto juga.

      orang yang kenal aku pasti bilang aku percaya diri. jadi komen kamu yang sampai “their words don’t define me” itu berlebihan banget, aku nggak serterganggu itu lah kalau seterganggu itu aku udah pensiun kali dari blog dan socmed. tapi kan nggak, aku tetep pede upload video tanpa make up, tanpa edit perut atau lengan, tapi ketika ada yang komen ya aku tegur.

      aku juga ga pernah bilang aku depresi, justru aku tegur orang-orang biar mereka ga komen gitu ke orang yang kebetulan depresi karena berat badan. kamu punya temen anoreksia nggak? mereka badan udah tinggal tulang pun tetep nggak mau makan loh. boro-boro 50 kg. tapi ya kamu ga akan ngerti rasanya karena bahkan coba berempati aja kamu nggak.

      dan aku jadi ngerti sekarang kenapa orang yang ga sopan makin banyak, kenapa banyak orang berani menghakimi, kenapa banyak yang berani menyudutkan orang lain. ternyata karena orang-orang kaya mbak gini, terlalu banyak orang yang memilih diam dan anggap mereka angin lalu.

      udah ya mbak, poin aku udah jelas banget. aku nggak akan bales lagi. :)

      Delete
  14. Hehe, malah seru baca komen yang terakhir. Aku juga setiap ketemu orang sekarang dikatain gemuk. Parahnya aku dikatain hamil karena ya emang perutku kayak orang hamil twpi kan ya aku belum hamil. Aku sampai pernah bilang,"sedih lho aku dikatain gitu" saking sehari udah dibilangin gitu sama beberapa orang.

    ReplyDelete
  15. Itu mbak anonim kenapa marah-marah? Meskipum tulisan gak bisa didenger tapi keliatan lho kalo marah-marah. Merasa tersindir kah? Jangan-jangan termasuk yang suka ngata-ngatain orang? *duh jadi ikutan komen deh, haha*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sini ke rumah saya, instead of ngata2in kamu saya bakal nyuruh kamu masuk ke dalam rumah saya dan kasih kamu minuman.

      Delete

Hallo! Terima kasih sudah membaca. :) Silakan tinggalkan komentar di bawah ini. Mohon maaf, link hidup dan spam akan otomatis terhapus ya. :)