-->

Image Slider

The Devil Wears Prada, Now

on
Tuesday, December 27, 2016

Dua hari lalu, sedang di rumah mertua dan jadi timbunan tidak berguna di kasur karena Bebe banyak yang jaga, saya nonton The Devil Wears Prada. LAGI. Setelah bertahun-tahun. Dulu saat kuliah, ini film favorit saya, saya tonton berulang-ulang dan dulu rasanya semua adegan dalam film ini benar.

Dulu rasanya masuk akal. Rasanya memberi saya pelajaran bahwa sahabat dan pacar adalah yang terpenting. Mereka yang paling mengerti kita. Bahwa mengejar passion adalah segalanya.

Semalam nonton lagi dan ehm, ini film ya ... film. Saya nggak lagi relate dengan film ini. Saya bisa bilang gini karena sekarang saya kerja, punya bos, punya pressure. Dan ini film jadinya ugh dan bikin saya terus-terusan bilang "oh come on! Get real!" 😂

Oke ini pendapat dari sisi saya. Yang surprisingly ceritanya mirip sekali dengan hidup saya. Saya seperti Andy, PINTAR HAHAHAHAHA FUG, suka menulis sejak kecil, mendalami dunia jurnalistik. Bedanya Andy terpaksa jadi personal assistant (PA) sementara saya tidak terpaksa.

Karena saya jenuh kuliah jurnalistik dan ingin suasana baru. Padahal ya, dunia media dan menulis adalah passion saya. Tapi saat itu saya sedang ingin break. Capek setelah skripsi.

Iya, pekerjaan pertama saya adalah PA seorang bos Korea. Di perusahaan Korea. It was hard karena bos Korea saya berganti setiap tiga bulan. Tiga bulan pertama, bos saya namanya Mr Goo. Orangnya baik sekali, layaknya ayah-ayah baik di drama Korea. Sering membawakan saya makanan, super lah!

Tiga bulan kedua? Namanya Mr Kim. Dia adalah tipikal bapak-bapak di drama Korea yang kerja sampai malam, mabok sampai pagi, dan pergi kerja dengan baju yang sama dengan kemarin. Bau soju. Marah-marah, maki-maki, banting barang.

Sialnya, dia marah-marah karena dia perfeksionis. Karena kami kurang cekatan. Persis Miranda. Meski ya permintaannya masuk akal lah, kalau Miranda kan nggak masuk akal. *IYA IYA NAMANYA JUGA FILM SIS*

Ya setelahnya, seperti juga Andy, saya resign dulu tanpa punya pekerjaan pengganti. Yang jelas saya resign karena saya merasa saya tidak jadi diri saya. Saya tidak mau jadi PA. Saya ingin mengejar passion. Tidak sampai 3 bulan menganggur, saya akhirnya bekerja di media. Seperti cita-cita saya, dan cita-cita Andy.

Yang ingin saya bahas adalah bagaimana orang-orang di sekitar Andy bereaksi atas pilihan Andy. Andy yang ambisius, ambisius banget sampai pindah ke luar kota demi mengejar cita-cita.

Andy & Nate



Saya sebel sama Nate karena dia nyindirin baju stylish Andy mulu. Karena katanya dia nggak mau Andy jadi orang lain. IMO, cewek lo pake baju yang lebih oke ya why not lah asal dia masih sayang. Asal nggak ngutang, asal masih bayar listrik 😩. Mau cewek lo pake baju apa kek itu URUSAN DIA.

Kalau salah satu bilang "kamu berubah" cuma gara-gara urusan baju, ya artinya yang satu nggak bisa menyesuaikan. Karena manusia itu SELALU berubah. Tanpa pekerjaan baru pun bisa berubah. Kalau kalian sama-sama mendukung, kalian akan berubah bersama, menyesuaikan diri bersama.

(Baca: Tips Ngurangin Berantem sama Suami/Pacar)

Kerjaan itu nomor 1!

Ketika lo kerja, kerjaan adalah prioritas nomor 1! Teman adalah segalanya hanya berlaku pada saat lo sekolah dan kuliah di mana lo bisa bolos untuk belain temen. Udah kerja mah kalau mau ada waktu buat teman-teman ya cutilah! Keluarga aja nomor 2 kok, kerjaan pasti nomor 1. Apalagi cuma pacar dan teman.

Di film ini seolah itu semua salah. 😪 Padahal belain kerjaan itu BENAR karena emang temen lo mau ikut bayar cicilan atau tagihan kalau lo dipecat? 😩


Tinggalkanlah teman-teman yang tidak mendukung pekerjaan dan bertemanlah dengan teman kantor 😪 Ada alasan kenapa teman kita semakin sedikit semakin kita dewasa.

Masa demi ultah pacar harus nggak selesaikan kerjaan kantor? Terus pacarnya kecewa? Padahal pacarnya tahu persis Andy itu ambisius. Maunya dia belain birthday dinner terus Andy dapet masalah gitu besoknya? Aneh abis.

Kayanya kalau saya ada meeting penting terus saya harus skip dan bilang ke bos "sori mas pacarku ultah". Kayanya bos saya akan bilang "ngana yang punya kantor?" JAHAHAHAHHAHA. Makanya saya pengen toyor Nate pas dia ngambek, pengen bilang "Mau lo apa?! Solusi bro, solusi!" LOL

Oke Nate menganggap Andy "menggadaikan" idealisme dan maunya Andy kerja di tempat yang dia suka. Anggap Andy jadi wartawan, emang jadi otomatis bakal punya banyak waktu buat dia gitu? Boro-boro birthday dinner, ketemu aja mungkin sulit HAHAHAHA.

Kalau orang terdekat (teman dan pacar) ga suka pekerjaan kamu, yang patut ditanyakan ada dua. Pertama, apa mereka benar? Kedua, apa justru mereka bukan orang yang tepat buat kamu dan kamu baru dibukakan mata?

Karena sebel juga sama Lilly yang komplain Andy berubah. Andy yang sudah dikenalnya selama 16 tahun berubah. YAIYALAH BERUBAH WHAT DO YOU EXPECT?

Andy fresh graduate gitu ya anggap umur 22-23, 16 tahun yang lalu berarti umur 6-7? Seberapa banyak dari kalian yang masih bersahabat dengan sahabat kalian dari umur 6, masih sangat akrab, dan berharap mereka nggak berubah? 🤔🤔🤔

Kalau ada yang punya, sahabat sejak TK yang sampai ikut campur ke urusan lo mending putus sama dia atau nggak, kemungkinan nih ya, kalian nggak career oriented lol. Orang-orang yang career oriented sahabatnya sedikit. *NGACA* 😂

Abis gimana, nikahan sahabat bareng sama wawancara Lee Min Ho? Siapa yang akan kalian pilih? LEE MIN HO LAH. Dan sahabat beneran nyuruh saya wawancara Lee Min Ho dibanding dateng ke nikahan dia. 😂

Buat saya, seharusnya Lilly akan selalu dukung segala keputusan Andy. Apapun yang bikin dia hepi, mau kerja sama monster kek, mau putusin pacar, mau selingkuh. Nasihatin aja tapi jangan ikut judge lah. Nangis-nangis juga baliknya curhat sama dia kan? Kalau sahabat aja judge harus lari ke mana lagi kita?

Dan terakhir soal kerjaan ...

Berbahagia lah bisa kerja di tempat yang to die for. Miranda emang lebay, tapi dalam dunia nyata juga selalu ada bos yang dia baru suruh sesuatu hari ini tapi maunya selesai KEMARIN. 😂😂😂

Bos-bos model gini tapi biasanya yang seru, tempat kita belajar banyak soal segala hal. Hari gini pacenya harus kenceng lah kalau slow nanti ketinggalan.

Dan kamu, apalagi kamu dan kamu yang belum berkeluarga, selalu punya pilihan untuk resign. Kalau nggak punya pilihan? Kamu akan menemukan cara untuk survive. WE SURVIVE. YOU'LL SURVIVE.

(Baca: 
Survive di Jakarta)

TAPI YAH 

Saya tetep enjoy sih nonton filmnya HAHAHAHAHAHA. Tetap senang melihat baju Andy berganti-ganti. Tetep hepi nontonnya karena nostalgic, cuma ya, nggak relate lagi. Jadi malah ngetawain diri sendiri waktu muda kenapa naif amat lolol.


BTW SAYA LAGI LIBURAN NIHHHH SAMPAI TAHUN BARU. Maap maap update blog terhambat banget yaaaa. Kembali normal setelah 3 Januari. See you! :)

-ast-




Move On!

on
Saturday, December 24, 2016


Oke jadi di malam natal ini gue mau cerita hal sedih.

NOMER WHATSAPP GUE TERPAKSA HARUS GANTI.

T_______T

Suatu sore di hari Rabu, WhatsApp gue tiba-tiba ke logout sendiri. Gue nggak bisa login lagi karena nomor itu udah hangus! Sementara kalau login WhatsApp harus memasukkan kode verifikasi yang dikirim via sms. Mana bisa gue masukin kode kalau nomornya aja hangus?

Iya jadi gue udah pake nomor itu dari SMA (nomor couple sama mantan pacar lol). Nomernya angka cantik, pendek, mudah diingat. Sampai suatu hari gue lupa isi pulsa dan hangus. Itu sekitar pertengahan tahun ini.

Ya tapi meskipun nomornya hangus, gue tetep bisa WhatsApp-an (pls change that whatsapp 😩). Logikanya nomor nggak aktif nggak bisa dipake WhatsApp kan, ini bisa. Jadi ya gue santai aja, masih sebar-sebarin ini walau kenyataannya nomornya udah nggak bisa ditelepon.

Satu hal yang gue sadari saat WhatsApp nya ke logout adalah, nomor itu jadi aktif. Bisa ditelepon, dan WhatsApp nya aktif. Sore itu profile picture-nya semacam logo bertuliskan Sukabumi. Gue takut banget.

Takut soalnya gue 80% yakin nomor itu dijual lagi sama Indosat, which is weird sih menurut gue karena ya plis lah, itu nomor orang dengan cepat bisa ganti pemilik gitu, kalau disalahgunakan gimana?

Takut kedua adalah gue serem pemiliknya adalah abang-abang preman mabok. Karena logonya macam logo gengster gitu whyyyy. 😩😩😩

Semaleman gue galau. Mana gue admin di beberapa group. Gue kabarin group-group terdekat. Sampai paginya foto WhatsApp itu berubah jadi foto anak SMA pakai seragam pramuka! Perempuan!

Gue akhirnya ajak ngobrol dia. Yak memang benar, dia cerita kalau dia baru beli dan aktifin nomernya kemarin sore, saat WhatsApp gue tiba-tiba logout sendiri.

Anaknya baik dan sopan, thank God bukan abang-abang preman. Dia sekolah Aliyah (SMA Islam) kelas 2. Yang jadi masalah adalah dia nggak ngizinin gue beli nomer itu lagi. 😭 Padahal gue bilang gue mau bayar plus ganti kuota internet dia sebulan. Dia nggak mau karena dia registrasiin nomer itu ke website sekolah yang dipakai untuk absensi dan nilai-nilai. Akan ribet buat dia kalau ganti nomor.

YA TAPI KAN GUE JUGA RIBEEETTT.






😩😩😩






Hari kedua itu dia chat gue beberapa kali ngasihtahu ada yang chat gue nyasar ke dia. Gue jelasin aja harap maklum karena itu nomer udah gue pake sejak tahun 2003-2004!

Well.

Jadi begitu ceritanya. Gue sekarang mixed feeling apa gue keukeuh pengen nomor itu lagi (naikin penawaran or something like that). Atau gue memang harus move on dan ya udah pake nomor yang sekarang.

HUHUHUHU.

Jadi ya gitu gaes, nomor gue yang lama itu bukan gue lagi yang pake. Gue pake nomor XL sekarang. Nomor ini udah 3-4 tahunan juga sih gue pake cuma sebelumny memang cuma keluarga aja yang tau. Sekarang gue cuma pakai satu nomor. 😭 Chat gue di Instagram atau message di Facebook aja kalau mau tau nomernya.

BEGITULAH!

Merry christmas and happy new year!

*tidak menerima protes untuk kalimat terakhir*

:)

-ast-




Suka Menumpuk Barang? Hidup Minimalis Yuk!

on
Friday, December 23, 2016
[SPONSORED POST]


Hola semuanya!

Sudah dua kali dalam seminggu ini saya tidur malam lebih cepat karena kepala berat. Pusing banget rasanya entah kenapa. Banyak pikiran sih iya ya karena akhir tahun, kerjaan di kantor rasanya kaya nggak selesai-selesai. Satu lagi, seperti juga kebanyakan orang, saya menyalahkan cuaca.

Iyaaa, cuacanya nggak enak banget. Gimana bisa di Jakarta yang panas, angin besar sekali sampai dahan-dahan pohon jatuh? Padahal gerah, tapi angin besar, gimana nggak masuk angin ya nggak?

Belum lagi urusan DBD haduhhhh. Di kantor udah banyak banget yang DBD sampai akhirnya request fogging karena dalam 2 bulan aja kaya 5 orang gitu DBD. Efeknya besar karena satu per satu orang nggak masuk, kerjaan kapan kelarnya. Ya dong ujung-ujungnya tetap urusan kerjaan. *KRAI*

Saya juga jadi lebih aware sama kondisi rumah. Sejak pertengahan tahun ini barang yang menumpuk nggak jelas mulai dipilah untuk dibuang atau diberikan pada orang yang lebih membutuhkan. Terutama baju, duh baju ini dikasihin kok sayang, disimpen kok ya nggak dipake. Akhirnya tutup mata, satu koper gede pindah ke Bandung.

Tas juga, satu keranjang HUHUHU AKU SEDIH. Tapi karena buat apa juga disimpen, nggak dipake. Mending dikasih ke orang, mungkin akan diperlakukan lebih baik daripada cuma ngejugruk doang di atas lemari. Sepatu juga sama, saya cuma menyisakan 3 flatshoes, 1 slip on, dan 1 sepatu lari. Plus beberapa heels. Satu lemari udah bhay semua.

Iya saya sama JG lagi usahaaaaa banget ingin hidup lebih minimalis. Nggak lagi menumpuk barang karena rumah yang penuh barang itu tidak nyaman ya. Peer besarnya adalah kami seringkali menyimpan kenangan pada barang. Padahal barangnya nggak penting!

Mau coba hidup minimalis juga? Yuk coba tips di bawah ini:

Pilah baju

Ayolah akui saja, baju di lemari pasti BANYAK yang sangat jarang dipakai kan? Atau malah kaya saya yang bahkan ada baju yang belum dicopot tagnya karena beli dengan impulsif terus nggak tahu mau dipakai ke mana. Baju yang sangat jarang dipakai, pisahkan ke satu koper besar.

Kalau sayang, jangan diapa-apain dulu itu koper. Biarin aja dulu di rumah 1-2 bulan. Nanti baru sadar, oh ternyata baju itu nggak ada pun kita nggak sadar kok! Baru setelah itu bisa diberikan pada orang yang lebih membutuhkan. :)

Buku

Ini berat banget ngomongnya tapi lebih baik koleksi lah buku dalam versi digital karena merawat buku fisik itu susah! Dulu saya punya banyak novel-novel lokal yang akhirnya saya donasikan karena untuk apa. Novel-novel itu bagus, tapi tidak sebagus itu sampai saya ingin baca ulang. Disimpan pun hanya jadi sarang debu.

Akhirnya saya beli Kindle. Menjawab semuanya lah, saya tetap bisa baca buku dan punya buku banyak tanpa menumpuk buku dan debu. Rak buku saya di Jakarta sekarang hanya berisi buku-buku Bebe yang memang dibaca berulang-ulang. Saya hanya menyisakan buku koleksi seperti Harry Potter dan Dan Brown. Nggak lagi pusing dengan debu di atas buku.

Mainan

Mainan ini paling sayang banget ya dienyahkan dari rumah. Tapi beneran deh, Bebe punya robot-robotan sekeranjang dan yang dia bener-bener suka pegang cuma beberapa aja. Ini rencananya (belum terwujud) mau saya sumbangin juga karena yah, buat apa robot banyak-banyak?

Tapi belum mulai-mulai juga huhuhu aku harus lebih niat demi rumah yang lebih lega.

Pajangan

Ini berat banget di saya dan JG. Kami sering sekali menatap deretan figurine Little Pony dan berdus-dus Hot Wheels yang sungguh nggak ada gunanya. Maka kami bertekad untuk mengurangi beli karena buat apa dehhh? Cuma numpuk barang doang!

Untuk menghibur hati yang lara karena nggak bisa beli barang lucu, saya mengalihkannya jadi pajangan yang lebih fungsional lol. Kaya kalung atau gantungan kunci YANG HARUS DIPAKAI. Jadi kan nggak cuma ngejogrok doang.

Make up

INI JUGA! Orang selalu bilang "lipstik lo banyak banget ya di rumah?" NGGAAAKKKK. Nggak sama sekali. Sepuluh aja nggak nyampe deh kayanya. Karena saya selalu kasih ke orang. Kalau yang jarang dipake pasti saya kasih ibu atau adek-adek.

Pernah suatu hari lagi belanja saya nawarin ibu, "bu, mau beli lipstik?" ibu menjawab "ih apaan sih ngasih lipstik terus, lipstik ibu banyak banget jadinya" 😂😂😂

Saya nggak sadar ngasih-ngasihin lipstik terus sampai jadi banyak hahahaha.

Makanya saya gagal jadi beauty blogger karena nggak bisa bikin komparasi foundation karena punyanya cuma satu hahahaha. Males beli-beli yang jarang dipake karena takut nggak dipakai terus kadaluarsa. Mentok saya punya dua, satu dipake satu cadangan. Udah.

*

Hidup minimalis ini buat saya ngaruh banget loh ke kesehatan jiwa. Rumah lebih lega dan terasa lebih terang karena nggak banyak barang. Debu juga berkurang sekali.

Dari sisi fisik juga saya merasa lebih nyaman, karena apa? Salah satunya karena menumpuk barang itu biasanya jadi sarang nyamuk!

Nyamuk kenapa sih seneng banget sama barang numpuk, matching banget dong sama saya yang suka numpuk barang. -________-

Nah tapi setelah tahu benda ini saya langsung hepi!

Dari dulu banget saya pengen air purifier karena rumah kontrakan saya kecil. Apalagi pas kasus rumah depan rumah kerjaannya bakar sampah terus huhuhu. Untung sekarang udah nggak pernah. Tapi tetep aja, sinar matahari yang masuk nggak banyak jadi cita-cita banget ingin air purifier biar udara lebih seger gitu. Saya baru tahu kalau ada air purifier yang bisa juga nangkap nyamuk!


Ini air purifier dari Sharp, dia tentu bisa menjalankan fungsi air purifier yaitu menjaga udara ruangan tetap bersih dengan cara “menangkap” debu dan asap. Sharp air purifier ini menggunakan teknologi plasmacluster yang bisa menonaktifkan virus, bakteri, jamur dan bau tak sedap sehingga udara ruangan jadi bersih dan sehat.

Selain itu, dia juga bisa menangkap nyamuk! Jadi di sampingnya itu ada sinar UV yang bisa menarik perhatian nyamuk, kalau nyamuk udah mendekat dia akan tersedot dan menempel di lapisan yang berperekat sehingga nggak bisa kabur lagi. Canggih ya! Bebas bahan kimia juga loh! Karena kan biasanya kalau mau menghindari nyamuk ya pakai obat nyamuk, bahan kimia banget itu mah. Belum lagi kalau terisap, nyamuk pergi tapi khawatir seberapa banyak obat nyamuk yang kita isap.

Harganya juga masih terjangkau, di angka 3jutaan dan banyak yang kasih diskon akhir tahun di beberapa e-commerce.

Ada yang jadi mupeng juga kaya saya? Atau mau coba hidup minimalis?

Gesi juga ternyata sama kaya saya loh, di rumahnya banyak nyamuk karena musim hujan dan banyak air tergenang. Baca cerita dia di sini ya:



-ast-





#SassyThursday yang Tertunda

on
Thursday, December 22, 2016

Iya intinya gue sama Nahla lupa nulis #SassyThursday ah elaahhh. Sebabnya Gesi lagi di Jakarta cuma 3 hari ini terus kami terlalu excited mau ketemu terus ya udah yang dipikirin adalah nggak sabar ketemuan dan akhirnya nggak ada pembahasan #SassyThursday sama sekali!

LUPA!

Nahla gimana sih kok bisa lupa!

*MENYALAHKAN ORANG LAIN MEMANG MUDAH*

Ya udah gitulah.

Aku senang kemarin bisa ketemu Nahla dan Gesi huhu terharu.

Minggu depan semoga #SassyThursday nya tidak lupa lagi ya, gue khawatir lupa lagi karena minggu depan adalah minggu liburan. HAHAHHAHAHA

Oiya, gue sama Nahla selalu terbuka sama ide untuk #SassyThursday jadi ya drop komen atau mention di socmed boleh banget harus bahas apa kami di #SassyThursday.

OKAAYYYY?


Bye!

-ast-




Mengurangi Pertengkaran Rumah Tangga

on
Wednesday, December 21, 2016

AHEY JUDULNYA LOL

Tahun depan akan jadi tahun ketiga saya dan JG menikah, tahun kelima sama-sama. Gila sih ya ternyata serumah sama orang yang sama bertahun-tahun itu. 😂

Kalau orang liat kami dari luar sih ya sejak dulu komennya selalu "seru banget sih kalian", "kalian mah jodoh banget udalah", things like that. Dikata kami ketawa-tawa mulu tiap detik, nggak berantem.

YA BERANTEM LAAHHH. Nggak berarti karena kami bego-begoan terus jadi bukan manusia. 😂

Kalian kalian yang belum nikah, pas pacaran berantem itu masalah yang sungguh cemen kan. Seperti:

"Kamu kemana sih seharian nggak bisa ditelepon?" --> kerja bro kerja.

"Main futsal aja sama temen-temen kamu, aku mah bukan prioritas di hidup kamu" --> padahal udah seminggu bareng-bareng.

"Kamu kok dari tadi nggak dengerin aku ngomong!" --> karena cowoknya lagi parkir dan cowok sampah banget soal multitasking.

"Terserah!" --> artikan sendiri. 90% berujung ceweknya ngambek lol.

(Baca: Cerita JG yang posesif pas pacaran)

Pas udah nikah? Berantem karena hal yang LEBIH CEMEN LAGI DONG tentunya. HAHAHAHAHAHA

"Buka pintu bisa pelan nggak sih? Bebe bangun kan!" --> dengan suara yang lebih kenceng dibanding suara pintu

"Kaos kaki kenapa berantakan gini sih!" --> sendirinya jilbab berantakan di mana-mana

"Sayang, kaos kakinya bau kenapa sih masih dipake juga!" --> katanya sayang tapi marah-marah lol

DAN RATUSAN HAL CEMEN LAINNYA.

Dari urusan pencet odol sampai piring kotor. Peres baju gimana caranya, jemur baju itu begini loh, taro kabel ya digulung. Charger aku jangan dipake aku mau ngecaassss! Celana kamu bau! Baju kamu kusut ganti dulu lah telat dikit biar! Ya salah sendiri bangunnya siang kok telat pergi nyalahin aku!

WE COMPLAIN AND COMPLAIN AND COMPLAIN UNTIL WE DON'T GIVE A SHIT ANYMORE.

Iya, karena berantem itu capek. Teriak itu butuh energi banyak.

Dan apa gunanya teriak kalau kita toh masih mau ada dia buat dikuwel-kuwel. Buat jadi #instagramhusband. Buat dimintain bawain tas karena harus gendong anak. Buat dimintain tolong masakin Indomie. Buat dibawelin setiap saat. Buat dicolek-colekin biar sebel lol.

Kurang-kurangin berantem sama suami, gaes. Kalau sama pacar mah biarin aja, sekalian ngetes endurance dia lolol.

Jadi ya intinya tiga tahun menikah ini saya belajar banyak nahan emosi. Indikatornya kalau mengandung hal-hal di bawah ini, jangan diucapkan apalagi diteriakkan.

1. nggak penting dan nggak berfaedah
2. NGGAK MENGUBAH KEADAAN
3. sekiranya menyakitkan

Jadi misal sama-sama bangun telat. Bisa aja kan dibikin berantem model "kamu sih nggak bangunin aku!" dibalas dengan "ya kamu juga nggak denger alarm kamu!" Blablabla. Kalimat itu mengandung ketiga indikator di atas.

Tidak penting dan tidak berfaedah karena tidak mengubah keadaan. Tentu menyakitkan karena ada satu pihak yang disalahkan padahal bukan salah dia. Mau teriak sampai bego juga tetep telat kan jadi ngapain deh berantem segalaaaa?

Kalau saya dan JG misal bangun jam 7.

saya: "yah jam 7 nih sayang"

JG: "yah telat deh"

end

Udah telat mobilnya mogok.

JG: "YAAHHH KOK NGGAK NYALA MOBILNYA"

*sensitif karena kalau saya nadanya naik atau terkesan menyalahkan, maka akan terjadi pertengkaran yang tidak perlu dan buang-buang waktu*

saya: "jadi naik grab kita?"

JG: "ok"

end

❤️

Kalau salah satu ada yang salah dan membuat yang satunya marah? Yang marah boleh marah tapi yang salah sebisa mungkin TIDAK BOLEH MARAH. Meskipun yang salah kelewatan gitu misalnya ya udalah terima aja.

Karena mau ikut marah juga tidak berguna gaes. Hanya akan memperbesar kobaran peperangan. Ujungnya tetep yang salah harus minta maaf kan. Di sini ego dipermainkan banget apalagi buat alpha female kaya saya, diomelin dikit berasa harga diri terinjak-injak HUAAAA RASANYA PENGEN IKUT NGAMUK JUGA. 😪

Tapi ya udah kan saya yang salah, sebaiknya yang salah harus lebih tenang, jawab dengan kaleum *meskipun kalau saya biasanya saya udah nangis lol* Berusaha aja masukkan pikiran positif bahwa he didn't mean it, he's just angry and not showing his true self.

Kalau saya yang marah JG lebih annoying lagi sih. "Iya iya maaf ya geulis bageur aduh kalau marah tambah cantik waawww"

🙅🏻🙅🏻🙅🏻

Jadi ya, begitu. Baru berasa banget kalau lebih toleran berakhir dengan hidup berdua yang lebih damai. Meskipun ya terima aja rumah berantakan, piring kotor numpuk, itu bukan hal yang harus diberantemin. Maklum no mbak no nanny.

"Kamu nggak mau cuci piring? Aku juga nggak" PASS. Besok lagi aja.

"Kamu nggak mau cuci baju? Aku juga. Ayo kita laundry" SOLVED

"Kamu nggak mau masak lagi? Aku juga. Oke kita katering" SOLVED

Gampang kan?

(Baca: Tips Survive Tanpa Mbak dan Nanny untuk Ibu Bekerja)

Dan yes, marah-marah itu lebih mungkin terjadi saat capek. Salah satu capek atau dua-duanya capek. Makanya jangan banyak komplain kalau salah satu maunya tiduran terus sambil main hp. Main hp di kasur sama-sama juga termasuk quality time kok, jangan percaya majalah yang bilang quality time cuma pillow talk atau traveling bareng.

Satu lagi, jangan saling menyalahkan kalau urusan anak karena itu menyakitkan. Misal anak jatuh, jangan nyalahin istri lah karena istri juga nggak mau itu anak jatuh. Kasihan banget saya sering baca curhat ibu-ibu yang disalahin suami karena anaknya kenapa-napa. Nyalahin itu memang gampang mabrooo. Coba aja urus anak sendiri. Urusan anak prestasi bapaknya yang bangga, anak nakal ibunya disalahin itu memang masih banyak terjadi. Kalau JG gitu mungkin aku sudah kabur dari rumah huft.

Kalau masalahnya besar? Ini saya nggak berani kasih saran lah, siapa saya ini umur aja belum 30 *heyak bawa-bawa umur*. Cuma ya, apapun itu, air dingin lebih bikin adem daripada air panas. Bicara dengan kepala dingin akan lebih tenang dibanding dengan kepala panas.

*

Intinya jangan gampang kebawa emosi. Karena perkataan menyakitkan bisa dilupakan, tapi bukan berarti tidak bisa diingat kembali.

Have a good day, luv! Yang punya tips mengurangi tengkar-tengkar rumah tangga boleh juga loh di-share! :D

-ast-