-->

Image Slider

Review Pensil Alis Just Miss 708A Brown

on
Tuesday, February 14, 2017
Just Miss Eyebrow Pencil 708A Brown


Wah ini nih, Just Miss ini dulu sering banget liat di Stroberi gitu kan terus saya suka serem sendiri kenapa murah bangeeett. Tapi ternyata Just Miss ini bukan merek abal-abal, dia merek resmi, ada BPOM dan punya website jadi bisa beli online!

Kali ini Wina me-review pensil alis dengan harga 7ribu aja pemirsa. Murce banget. Gimana review Wina? Simak yaaa!






💖 Made in Indonesia!

💖 Harganya murah dibandingkan dengan pensil alis Viva Cosmetics, Emina, atau brand lokal lainnya.

💖 Pensil alis sudah dilengkapi dengan sikat alis dan rautan pada kedua ujung.

💖 Higienis karena ujung pensil tertutup bagian rautan.

💖 Teksturnya creamy, ngga keras seperti tipikal pensil alis.

💖 Warnanya pigmented banget. Kalau yang suka alis terlihat natural, harus smudge lagi dengan spoolie.

💖 Warna coklatnya beneran coklat, bukan yang coklat-orange sehingga hasilnya lebih natural.

💖 Staying power OK, bisa tahan seharian walau terkena air wudhu (waterproof).

💖 Mudah dibersihkan dengan makeup remover atau micellar water



💔 Ukuran pensil terbilang lebih panjang (karena ada sikat alis dan rautan di ujungnya) dibandingkan pensil alis pada umumnya. Negatifnya, nggak muat di makeup pouch yang rata-rata berukuran 10-15cm.

💔 Sikat bawaannya kaku dan keras, harus pelan-pelan menyikatnya ke alis.

💔 Nggak smudgeproof. Kalau ngga sengaja mengusap alis pakai tisu, akan transfer ke tisu.



Rp 7ribu untuk 1gr



Just Miss website, toko kosmetik



Yes karena harganya terjangkau sekali.



🌟🌟🌟✰✰

3 out of 5

Sampai jumpa di #SelasaCantik berikutnya!
Follow Wina di social media dan main-main ke blognya ya!

BLOG | IG: @mrswynnz | Twitter: @mswynnz






#SassyThursday: Menikah dalam Satu Kata

on
Thursday, February 9, 2017

Begini, menikah sama sekali bukan hal sederhana. Apalagi harus merangkumnya dalam satu kata.

Tapi bagi saya ada satu kata. Kata ini sungguh selalu membuat saya tersenyum dan kadang menarik napas berat. Ya, menikah itu bukan hal yang ringan. Meskipun juga tidak berat.

Baca Menikah dalam Satu Kata menurut Nahla

Saat masih anak-anak, menikah sesederhana punya keluarga. Menikah adalah datang ke pesta pernikahan om dan tante kemudian tak lama mereka punya anak yang jadi teman bermain kita. Hai para sepupu!

Beranjak remaja, definisi menikah mulai jadi sedikit rumit. Baru kenal dengan jatuh cinta, menikah adalah hidup berkeluarga dengan orang yang kita pilih. Mulai juga menyadari kalau ada yang berhenti menikah karena banyak hal. Ayahnya jahat kabur dari rumah, ibunya tega sekali mau bercerai padahal tidak bekerja, kasihan anak-anak. Ya, kasihan anak-anak. Anak-anak itu, teman-teman kita dulu.

Dulu. Sekarang tentu tidak, saya tidak pernah mau judge orang menikah, belum menikah, tidak menikah, atau berhenti menikah. Belum punya anak atau tidak mau punya anak. Siapa yang jahat siapa yang salah.

Semua orang punya pilihan sendiri tapi ketika pilihanmu menikah, tak bisa dihindari ada sebagian hidup yang berubah. Sebagian menjadi lebih bergairah karena membangun keluarga butuh semangat luar biasa. Sebagian menjadi lebih malas karena untuk apa lebih semangat kalau leyeh-leyeh pun bahagia? Kalau tanpa bergerak dari kasur pun sarapan sudah siap sedia? *MAKASIH LOH SUAMIKU* lol

(Baca: Menikah Bukan #lifegoals)

Jadi di usia saya yang ke-28, sudah tiga tahun menikah, apa satu kata yang bisa merepresentasikan pernikahan?

KOMPROMI. COMPROMISE. COMPROMETTRE.

Yang terakhir bahasa Prancis. Just because. Google translate kok tenang aja. Artinya sama kok.

*skip*

kom.pro.mi
[n] persetujuan dng jalan damai atau saling mengurangi tuntutan (tt persengketaan dsb): kedua kelompok yg berselisih itu diusahakan berdamai dng jalan -- source 

Ya apalagi untuk alpha female seperti saya, konsep pernikahan yang sungguh patriarki itu really, super hard. Oke menikah BISA tidak patriarki tapi para suami naturalnya ingin jadi memimpin. Mungkin karena sejak kecil dibesarkan dengan laki-laki harus kuat (oh well perempuan JUGA), laki-laki harus bisa mengambil keputusan (IYA DAN PEREMPUAN JUGA). Laki-laki harus begini harus begitu yang padahal harus bisa dilakukan semua manusia. Tidak peduli laki-laki atau perempuan.

Padahal saya sudah menikah dengan JG yang well, cukup feminis untuk ukuran suami Indonesia. Kami tidak memakai konsep tugas istri atau tugas suami karena seperti yang JG bilang sendiri, dia mencari istri bukan mencari pembantu.

Jangan tersinggung dulu, kalau kalian istri-istri yang sukarela melayani suami sih ya hebat lah. Dan suami kalian harus appreciate itu, dengan beliin tas baru tiap bulan misalnya 😂 Ya atau beliin apalah yang kalian suka.

Konteks "pembantu" di sini adalah suami-suami yang mau enaknya aja. Misal istrinya kerja, istrinya juga yang harus mengerjakan pekerjaan rumah, diizinkan pake pembantu tapi istrinya yang disuruh bayar gaji karena pekerjaan rumah kan pekerjaan istri! Udah gitu anak mulai usia sekolah istrinya juga yang harus antar jemput. Suami-suami keterlaluan seperti ini loh yang kami maksud dengan "hanya ingin dilayani".

Tapi tetap saja, sudah menikah dengan orang yang saya pilih sendiri pun tetap ada hal-hal yang membuat saya merenung dan berpikir "kenapa menikah sesulit ini? kenapa dulu gue pengen banget nikah sih?" 😂

Apalagi saya bekerja. Alpha female senang bekerja dan menikah itu nggak bisa diwakilkan dengan kata selain kata kompromi. Paling sederhana, saya dan JG sama-sama harus lembur. Siapa yang harus jemput Bebe? Saya.

Sungguh saya masih ingin kerja juga! Tapi ya, saya mengalah dengan suka rela dan pulang lebih cepat untuk menjemput Bebe. Kalian bisa bilang "iyalah lo ibunya!" Lha JG juga bapaknya, apa bedanya?

Dan banyak hal lainnya. Yang wajar sebetulnya karena kami dibesarkan dengan cara berbeda, melewati dua puluh sekian tahun dengan cara berbeda, sebelum akhirnya bertemu dan memutuskan berbagi pengalaman bersama. Meski 90% kami melihat masalah dengan cara sama, ada 10% nya yang benar-benar berbeda dan itu sedih.

T________T

Saya dan JG jarang sekali berbeda pendapat. Jaraaaanggg sekali. Kebanyakan obrolan kami "iya ya? iya juga, iya sih, iya emang ya" makanya kalau tiba-tiba ada yang beda atau nggak setuju tapi prinsipil itu ujungnya hampir pasti berantem. Kalau nggak prinsipil paling lewat doang kan "nggak ya? menurut kamu nggak? okay"

Tapi kalau prinsipil. Sedih.

T________T

Saya belajar untuk diam dan menerima. Saya belajar untuk tidak membahas hal-hal kurang penting. Saya belajar untuk menyadari sepenuhnya bahwa diri saya bukan lagi milik saya sendiri. Bahwa tidak semua hal bisa 100% seperti yang saya mau. Pun membesarkan Bebe. Bahwa semua harus berawal dengan diskusi.

And trust me adek-adek yang belum menikah, it's harder than you think.

Awal-awal menikah saya masih berprinsip kuat kalau semua masalah ya harus dibicarakan. Lebih baik bertengkar tapi semua unek-unek keluar daripada diam dan kesal.

Sekarang tidak. Sekarang saya bisa diam dan tidak kesal lama-lama. Sungguh pencapaian luar biasa. Karena berantem itu capek luar biasa. Belum lagi mengatur emosi supaya tetap di tone bicara normal saat bicara dengan Bebe. Wow susah. Maka saya memilih untuk tidak bertengkar.

Saya memilih menunggu beberapa hari dan kemudian bilang baik-baik. Itu pun lebih baik via chat. Chat bisa dibaca berulang, chat bisa dibaca pelan-pelan. Chat penyelamat hidupku lol. Semoga yang bikin WhatsApp masuk surga ya.

Lagi jarang banget sebenernya berantem karena hal besar. Paling sering dan paling kesal itu berantem cuma karena capek. Capek itu sumber amarah luar biasa ya. Padahal cuma ngomong apa gitu yang sebenernya bisa diketawain, tapi karena lagi capek jadinya tersinggung. Jadinya berantem. Aduh.

Hal-hal besar sih nggak akan saya ceritakan di sini ya, hal kecil aja deh. Misal, JG selalu dengerin lagu kapanpun dia mau, sambil masak atau sambil cuci piring. Saya nggak suka dengerin lagu. Saya dengerin lagu kadang doang kalau lagi kerja karena saya nggak konsen! Apalagi kalau di rumah JG setel lagu, Bebe nonton film. Udah gitu dua-duanya ngajak ngobrol. Bisa dipause dulu nggak sih? Nggak suka banget ngobrol teriak karena suaranya ketutup sama lagu dan film.

Tiga tahun berlalu dan ya udah, nggak bisa dipause ternyata gaes jadi ya daripada berantem maka saya diam dan menerima semua playlist dia. Ini hal terkecil dari kompromi karena kalau mau diberantemin bisa banget. Tapi ah udalah, diem aja. Masa gitu doang berantem? Menjaga emosi itu menjaga kesehatan jiwa banget jadi saya sebisa mungkin nggak emosi sama hal-hal kecil.

Paling susah kalau lagi mens. Huhuhu. Saya benci kalah sama hormon tapi nangis ajalah biar kalau lagi mens mah. Daripada berantem lebih baik nangis. Itu prinsip hidup HAHAHAHA.

(Baca: Tips Mengurangi Berantem dengan Suami)

Maka menikahlah setelah melalui proses panjang wawancara! Jangan menikah tanpa kalian tahu bagaimana pola pikirnya terhadap hal prinsipil. Karena jika tidak, kalian akan menghabiskan sisa hidup dengan berusaha menerima perbedaan pendapat. Itu melelahkan dan bikin stres!

Nggak heran banyak istri-istri yang mengeluhkan suaminya di socmed. Kasian, sudah tidak tahu lagi mau cerita pada siapa jadi bikin status biar unek-unek bisa keluar. Sini peluk, huhu.

Banyak juga group Facebook yang berbasis curhat untuk para perempuan. Saya pernah join beberapa hanya karena ingin tahu. Isinya ya gitu, curhat istri-istri suami saya begini suami saya begitu. Kemudian saya left group karena ngapain deh ah.

T________T

Saya percaya menikah dengan orang yang tepat itu less stressful jadi sabar aja yang belum nikah karena merasa belum nemu orangnya. Jangan menikah terburu-buru.

Dan hanya setelah menikah saya baru sadar bahwa tidak ada pernikahan yang sempurna. Kalau ada pasangan yang tampak perfect, maka percayalah itu hanya TAMPAK saja. 😂

Apalagi kalau kami dipuji oleh pasangan belum menikah "wah kalian seru banget ya nikah" IYA SERU BANGEEETT. HAHAHAHAHAH. Pasti berujung dengan JG menasihati "udalah jangan nikah buru-buru, pikir-pikir lagi aja" lol sialan.

Kalian tidak mau menikah? Good for you! Nggak apa-apa banget. Nikmati hidup tanpa harus berkompromi. Saya sendiri sampai sekarang bingung kenapa saya mau nikah hahahahahha.

*

Demikian ngalor ngidul hari ini. Dan seperti biasa saya mau ikut nanya, apa satu kata yang paling mewakilkan pernikahan menurut kalian?

Bahagia? OH COME ON, jangan jawaban lame kaya gitu ya. Karena kalau nggak bahagia pikirkan ulang pernikahannya. Cinta? Yaiyalah kalau nggak cinta aku udah kabur ke ujung dunia sis. Ayo kata yang lain yaaa.

Jawab di kolom komentar atau bikin blogpost dan tag saya ya! :)

-ast-




Bebe dan Toilet Training (1)

on
Wednesday, February 8, 2017

Belum apa-apa udah dikasih part (1) karena sungguh postingan toilet training ini akan berseri. Sampai detik ini aja belum berhasil soalnya. 😭

Masuk ke usia 2 tahun, peer saya dari psikolognya Bebe cuma dua: weaning dan toilet training. Untuk yang pertama saya masih belum usaha. Pun sebenernya untuk yang kedua.

Yang pertama, saya memutuskan untuk extended breastfeeding dan tidak menyapih Bebe di umur 2 tahun karena why not. Baca di mana-mana termasuk konsultasi psikolog, tidak ada yang salah dengan extended breastfeeding. Tidak ada hubungannya dengan kemandirian endebrei endebrei.

Intinya tidak ada efek samping apapun kecuali repot di mall ingin nenen. Tapi karena saya juga belum ngerasa direpotin banget jadi ya udah. Nenen ajalah. Nenenin Bebe is lyfe. lol

(Baca: To Wean or Not to Wean)

Nah yang kedua, toilet training. Terakhir ketemu psikolog (saat Bebe 2y1m, ketemu lagi kemarin 2y7m) itu sebenernya udah dikasih peer banget dan ditegaskan, toilet training ya bu! Saya iya iya aja tapi sungguh malas. Sungguh nggak bikin target apa-apa apalagi sampai niat cuti demi potty train. Oh no, ngebayangin repotnya aku nggak kuku.

Sampai Sabtu, 28 Januari, 10 hari yang lalu. Bebe tiba-tiba menolak pakai diapers. "Gatel ibu, Salo pake celana aja," katanya sambil terus menolak pakai diapers.

Saya yang "ok mungkin ini saatnya"

...

terus stres.

T______T

Soalnya teori-teori toilet training itu bubar semua di Bebe. Oke judge lah saya kurang tegas apa gimana tapi beneran maksa anak pipis itu susah.

Teori 1: bawa anak rutin ke kamar mandi untuk pipis (misal setengah jam sekali)

Kenyataan 1: Bebe tampak tersinggung karena saya memaksa dia pipis padahal dia merasa tidak ingin pipis. Kadang berhasil saya paksa ke kamar mandi tapi 80% saya gagal dan 10 menit kemudian dia pipis di celana.

Kalaupun dia akhirnya mau ikut ke toilet, dia ngomel "Salo sudah pipis ibuuu! Tuh kan ga keluar!" Padahal ditunggu bentar juga kemudian pipis. 😭

Teori 2: biarkan anak pipis di celana/training pants jadi dia akan tidak nyaman dan akhirnya mau pipis di kamar mandi

Kenyataan 2: Bebe tidak merasa celana basah itu tidak nyaman. Lempeng aja main dengan celana basah.

Ibu: "Be ayo dong pipisnya di kamar mandi aja biar celananya nggak basah"

Bebe: "biar deh di celana aja deh pipisnya"

T________T

Teori 3: beri tahu kalau pipis di lantai itu kotor dan biarkan dia lap sendiri biar kapok dan menyadari pipis di kamar mandi itu lebih mudah.

Kenyataan 3: sudah diberitahu tapi masih aja pipis di lantai dan kalau disuruh pel ya dia pel. Soalnya Bebe mayan sering numpahin sesuatu dan dia pel sendiri jadi ngepel buat dia itu no big deal. Disuruh pel ya pel.

Teori 4: APALAGI TEORINYA SIH? 24 hours toilet training? OH COME ON!

Kenyataan 4: *kibar bendera putih*

*

(Saya cerita soal pertemuan dengan psikolog itu di postingan ini: The War of Toilet Training)

Ya udah intinya saya pasrah. Di hari keenam saya sadar Bebe kalau mau pipis maka dia pegang titit. Tapi ternyata dia melakukan itu cuma 2 hari. Hari berikutnya dia nggak melakukan apa-apa tau-tau weeerrr aja di lantai.

Jadi dia akan pipis dulu dikit, teriak "pipis ibu!" kemudian dia tahan pipis yang tinggal setengah dan pipis di kamar mandi. Every. Single. Time. Dan karena setengah pipis dia lakukan di toilet, dia merasa berhasil, merasa tidak ngompol padahal celana udah basah sama setengah porsi pipis.

😭

Tapi meski demikian saya bersyukur satu hal. Toilet training ini sepenuhnya keputusan Bebe, saya dan JG tidak meminta atau memaksa. Bebe yang ambil keputusan kalau dia nggak mau pake diapers lagi jadi saya nggak ada masalah dengan konsistensi. Maksudnya Bebe konsisten tidak mau pake diapers jadi saya enak maksanya kalau butuh banget pake diapers hahahahahaha.

Kaya kemarin mau nonton konser dongeng Naura, saya minta Bebe pake diapers. Dia nolak tapi saya bilang untuk jaga-jaga aja, kita tetap pipis di toilet. Coba kalau saya yang maksa dia toilet training, nggak mungkin dong maksa pakein lagi diapers? Ibu nggak konsisten amat hahahahaha.

Lucunya pas kemarin di nonton konser Naura itu saya dan Bebe nyampe duluan ke Ciputra World. JG nyusul dari kantornya (karena sebelahan amat persis). Bebe tiba-tiba teriak mau pipis!

Karena udah saya pakein diapers dari daycare jadi saya santai, jalan ke toilet nggak buru-buru, santai ajaaa. Taunya sampai toilet diapersnya kering dong, berhasil Bebe nahan pipis. 😭

Kenapa pas pake diapers justru berhasil nahan pipis? Kenapa pas pake celana dalem justru pasti keluar dulu dikit sampai ganti celana mulu?

Asli weekend kemarin kerjaan saya cuma mengulang kalimat-kalimat ini "salo mau pipis?", "salo pipis yuk", "salo pel dulu pipisnya", "salo pipis dulu lah yuk", "salo jangan lari nanti kepeleset", "salo pipis nggak?", "salo jangan pipis di celana ya". REPEAT 100000 TIMES. SO EXHAUSTING OMG.

Cucian gimana? Numpuk banget yes dan hampir tiap hari nyuci tapi nggak repot soalnya mesin cuci aku canggih GAHAHAHAHAHAHAHHA. Beneran deh Bebe memang pengertian minta lepas diapers saat ibu dan appa udah punya mesin cuci baru lol. Kalau harus kucek oh no nggak tega banget sama diri sendiri. 😂

(Baca: Review Mesin Cuci Front Loading Samsung)

Dan yah, laporan kemarin hari kesepuluh, Selasa 6 Februari kegagalan urusan celana dalem dimulai, diapers dipake lagi seharian soalnya Bebe demam. 😭 Mandi aja nggak, kasian kalau bolak-balik ke toilet duh godaan syetaaannn. 😭 Bebe nolak pake diapers tapi sedikit diberi pengertian karena ya gimana lagi, kasian.

Ya mungkin ini proses. Mungkin 24 hours toilet training itu hanya berhasil di Pinterest. Bukan untuk ibu-ibu kaya saya. Udah 240 jam lebih ini belum ada kemajuan.

*krai*

Saya sendiri apa kabar punya anak 10 hari tanpa diapers? Nervous parah tiap pagi di mobil karena takut Bebe ngompol di mobil. Meskipun so far bangun tidur pasti pipis dulu sebelum naik ke mobil. Baik pipis tepat di toilet, di kasur, atau di lantai. Yang penting nggak di mobil soalnya repot. 😭

Oke itu part 1 dari war saya memerangi diapers. Nantikan part selanjutnya and wish me tons of luck!

-ast-




5 Makanan yang Paling Sulit Ditolak

on
Thursday, February 2, 2017


Jadi kemarin Nahla memberi topik #SassyThursday yang sungguh kontroversial. Nyerempet agama dan kehidupan perempuan lol. Terus gue males lah ngomongin yang serius-serius, capek.

Eh dia menyodorkan topik kedua yaitu "makanan yang paling sulit ditolak". HAHAHAHAHAHAHAHAHA OKE!

Baca punya Nahla:

Tapi kelima makanan (dan minuman) ini gue mikirnya dadakan banget. Jadi mungkin sebenernya ada yang kelewat. Tapi setelah mikir-mikir sih gue kayanya memang paling nggak bisa nolak ini:

Sushi

juzdealz.com

Ini gue sama Nahla dijamin sama. Bahkan sushi favoritnya aja sama kalau di Sushi Tei lol Tuna Salad Crispy Mentai! Ini favorit banyak orang banget sih kenapa enak banget!

Tapi intinya gue suka banget sushi dan sashimi *loh kok jadi dua*. When in doubt, eat sushi. Mentah lebih baik. Bahkan waktu traveling ke Vietnam sama JG, kami malah dua kali mengunjungi restoran sushi karena enak. 😂

Cita-cita ke Jepang bukan karena suka anime atau gundam tapi karena sushi. Sushi my luv. Kalau di Bandung gue dulu suka ke Oishinbo duh kangennyaaaa. Atau Sushi Boon yang murah meriah dan rasanya ya gitu deh. 😂

Pada intinya gue prefer makanan Jepang banget sih dibanding makanan apapun. Dibanding makanan Sunda pun karena aku nggak suka pedes jadi nggak makan lalab sambel gitu. Okirobox, Pepper Lunch, and Marugame Udon ftw! *tapi yang tiga itu masih sanggup nolak sih lol*

Paha atas dan bawah original KFC


Wah ini gila. Bikin sakau loh beneran. Ayam KFC tapi harus paha atas atau paha bawah dan yang terpenting HARUS ORIGINAL BUKAN CRISPY.

Karena apa poinnya makan ayam KFC kalau makannya yang crispy? Sama aja kaya ayam crispy lain pinggir jalan raya kaannn.

Dan harus KFC. Makan burger silakan di Burger King, minum soda boleh di A&W tapi makan ayam ya di KFC. *KFC if you read this I'm open for endorsement lol*

Kenapa ayam original KFC enak banget drooling gila nulis gini doang jam 1 malem pula ini aaakkk!

Chicken wings Pizza Hut


Well yeah. Hidupku memang sampah, makananku junk food huhu. Chicken wings Pizza Hut ini nggak pernah cukup seporsi. Kenapa enak banget. 😭 Patah hati parah pas porsinya berubah jumlah. 😭

Nggak perlu penjelasan tambahan. Silakan coba sendiri. 😭

Sirloin Steak

omahasteaks.com
... yang tidak murah. HAHAHAHAHAHA. Maaf ya bukannya sombong tapi kalau yang murah aku masih bisa nolak. Kalau kaya Holycow gitu aku nggak bisa nolak. IYA MAHAL.

Padahal Holycow itu termasuk steak murah loh. Kan misi mereka adalah biar steak bisa murah dan dinikmati semua orang bukan cuma di fancy resto atau hotel aja. Tapi ya tetep aja untuk ukuran karyawan di Jakarta mah ya nggak bisa seminggu sekali makan di sana. Bangkrut.

Sebagai gantinya, kami bikin sendiri! Gila sih bikin sendiri ini puasnya kaya apa. Karena murah dan kenyang banget. Ya gimana 180ribu bisa dapet 3 slices segede dua telapak tangan cowok. Tebelnya 1 cm gitulah aaaakkk. Jadi beli daging sirloin di supermarket, beli bumbu barbeque Del Monte, beli sari paya. Udah 3 itu doang modalnya, cuma bikinnya harus sabar.

Karena sari paya itu kan untuk mengempukkan daging, makin tebel dagingnya makin lama empuknya. Sabar adalah kuntji!

Caranya, malem ini daging dilumuri sari paya, diamkan yang lama. Semaleman boleh, taro aja di chiller. Besok paginya lumuri dengan bumbu barbeque, taro lagi di chiller. Terus tinggalin kerja. Malemnya tinggal dipanggang aja enak banget. 😭

Cimory Strawberry


Ini bukan makanan tapi ini minuman, susu strawberry Cimory ini enak banget. Wangi dan enak, nggak ada bau-bau kimia gitu. *naon* Beda sama susu Diamond atau Ultra yang strawberrynya kerasa palsu. Untuk full cream aku #TeamDiamond tapi untuk strawberry Cimory juaranya.

Sialnya, cuma ada di Food Hall dan itu pun stoknya dikit! Tersembunyi pula. Kalau nemu pasti langsung beli dua. Kalau tiga nanti uangnya habis ahhahahahahaha soalnya sebotol seliter itu 23ribuan gitu lah.

Tiap ada temen diceritain gini rata-rata komennya "dih enakan Cimory yang rasa mocca!" Maaf ya tapi aku suka pink aku strawberry aja. #sikap

*

(Baca: Review Kulina, Katering Tanpa Ribet. Tapi ...)

Nah sekarang giliran kalian. Apa 5 makanan yang sulit kalian tolak? Gue yakin pasti banyak yang jawab Indomie. Jawab yang lain ya! 😂

Komen di sini boleh atau bikin blogpost boleh nanti tag gue aja di Facebook atau Twitter nanti gue mampir dan baca! Ini seru banget karena rekomendasi makanan adalah segalanya untukku lol.

See you!

-ast-




Tentang Kecanduan Gadget

on
Wednesday, February 1, 2017

Halo ibu-ibu millennials semuanya, apa kabar yang di sini yang di sana di mana-mana?

Screen time anak-anak gimana? Masih terjaga sehingga masih bisa bangga?

Kenapa sih pagi-pagi udah nyindir orang aja lol. Nggak kok nggak nyindir. Coba sindirannya sebelah mana, saya kan cuma nyebut fakta. Kalau screen time anak terjaga maka orangtua bangga. Nggak ada yang salah kan? Ehm.

Nggak, hari ini saya nggak akan bagi tips atau apa. Pengen nulis aja karena kemarin sempat merenung tentang kata "kecanduan gadget". Dua kata ini sering banget mampir ke kuping dan terbaca di timeline sampai saya kebanyakan mikir dan memutuskan kalau dua kata itu jadi nggak masuk akal.

Awalnya saya ketemu sodara saya minggu lalu, cucunya tiga. Sebut saja dia eyang, karena dia menyebut dirinya sendiri pun demikian.

"Kenapa ya si A (cucu eyang yang masih TK) tuh kecanduan banget sama gadget, dari pulang sekolah sampai tidur malem itu megang HP terus. Eyang aja nggak gitu-gitu amat sama HP," ujar eyang.

Saya menyahuti, "ya diambil lah HP nya, kalau nggak diambil ya mana bisa berhenti."

Apa jawabannya?

"Ah ngamuk kalau diambil, nangisnya wiihhhh!" kata eyang setengah ngeri. Iya setengah aja, masa 100% ngeri sama cucu sendiri.

Saya diem. Mikir.

(Baca: Mau Dibesarkan Seperti Apa Anak-anak Kita?)

Besok-besoknya tiap denger orangtua ngeluh soal 'anak kecanduan gadget' saya jadinya mau marah. Kesel sendiri. Apa definisi kecanduan gadget? Siapa coba yang memulai kecanduan gadget?

Oke definisi dulu.
can.du
[n] (1) getah kering pahit berwarna cokelat kekuning-kuningan yg diambil dr buah Papaver somniferum, dapat mengurangi rasa nyeri dan merangsang rasa kantuk serta menimbulkan rasa ketagihan bagi yg sering menggunakannya; (2) cairan kental berwarna hitam yg keluar dr rokok yg diisap yg melekat pd pipa; (3) ki sesuatu yg menjadi kegemaran. (sumber)
Nomer 1 digabung nomer 3 dong ya yang jadi penjelasan umum. Sesuatu yang menjadi kegemaran dan menimbulkan rasa ketagihan. Sekarang gini, ketagihan gadget, kalau nggak dikasih apa efeknya? Apa sakau? Kan nggak! Apa sakit gitu demam? Kan nggak!

Oke mungkin bisa bikin demam kalau anaknya udah kecanduan banget sampai kalau diambil gadgetnya maka dia marah sampai stres dan demam. Maka ini berlanjut pada pertanyaan kedua. SIAPA YANG MEMBUAT ANAK KECANDUAN GADGET?

Siapa cobaaaa? Hayo tebaaakkk.

YA KITA SENDIRI LAH.

T_____T

Siapa yang pertama kali ngasih anak gadget? Siapa yang mencontohkan kalau main hp itu santai banget dan menyenangkan sampai anak meniru dan akhirnya kecanduan? Siapa coba? Ya kita-kita ini, orang di sekitarnya. Jadi nggak masuk akal kalau mengeluhkan anak kecanduan gadget.

Itu alasan pertama. Alasan kedua adalah, KENAPA ATUH NGGAK DIAMBIL AJA?

Iya kan intinya gimana caranya biar nggak kecanduan? Nggak bakal kecanduan sih kalau setelah kita rasa cukup untuk main gadget, diambil gadgetnya. Tapi nanti nangis, ngamuk. :(

Iyalah nangis namanya juga hal seru direbut paksa. Tapi nangis berapa lama sih, nggak bakal 2 jam saya jamin. Sejam aja nggak bakalan, karena nangis itu capek. Habis nafas, makanya kalau tahan nangis sejam pasti udahnya ketiduran.

Mending nangis terus ketiduran dong daripada lanjut main gadget?

YA.

Lagi anak kecil nangis mah biar ajalah. Mereka kan butuh nangis untuk mengeluarkan emosi. Mau berargumen atau debat juga belum bisa makanya nangis ajalah paling gampang. Kitanya aja yang jangan menganggap tangisan anak itu mengganggu. Ganggu sebelah mana ah, disiksa juga nggak.

(Baca: 5 Alasan Anak Perlu Menangis)

Kalau anaknya gedean gitu kan udah ngerti waktu, macem-macem kok caranya. Ada yang pakai timer, ada juga yang kaya saya (satu film lagi terus udah yaaa! *kemudian film kedua disetel mulai dari tengah lol*). Ya intinya gimana biar anak nggak kena gadget terus.

Nah kembali ke quote di atas bahwa 'screen time terjaga itu membuat bangga', kalian-kalian yang bisa menjaga screen time anak MEMANG patut bangga, karena apa? Karena kalian tidak kalah! Kalian tidak kalah pada gadget dan pada tangisan anak. Kalian orangtua yang kuat!

*high five*

Ayolah, menghentikan anak dari gadget itu dimulai dari diri kita sendiri. Nanti keburu gede makin repot loh, udah bisa debat, udah bisa argumen "ibu juga main hp terus!" Matilah kita. Jawab apa?

T______T

Oke ini memang murni dari saya dengan anak umur 2,5 tahun. Yang dengan mudah saya matikan laptopnya dan rebut hpnya. Mungkin kalau anaknya makin gede makin complicated? Makin bisa berargumen mungkin? Still, kenapa atuh nggak diambil gadgetnya dari bayi?

YOUR FAULT, PARENTS. DEAL WITH IT.

*ini ga berlaku buat para suami ya lol* *rebut gadget JG* *nangis aja nangis biar* 😂😂😂

-ast-