-->

Image Slider

5 Things I Love about Nahla

on
Thursday, September 7, 2017

IHIYYYYY. Karena orang senang pujian maka kami bikin versi lain dari postingan #GesiWindiTalk minggu lalu nyahahahaha. Mereka berdua kan bikin '5 Things I Love about Me', nah gue sama Nahla mah inginnya saling memuji gitu jadi bikinnya what we love about each other!

*duh kok jadi deg-degan karena menyadari gue sering bitchy banget dan kasar sama mereka-mereka ini, apa ada yang bisa Nahla suka dari gue wtf*

By the way maaf banget ya #SassyThursday-nya bolong-bolong terus karena kami ... sibuk. Iya basi sih alesannya tapi ya sibuk aja. Dan males HAHAHAHA.

Baca punya Nahla (yang isinya 5 pujian buat gue) di sini yaaa:
annisast's forte 


Oke flashback sedikit dari kenal sama Nahla. Kenal sama Nahla pertama kali itu karena gue liat postingan dia memperkenalkan diri di group Facebook KEB. Terus karena gue menganggap nikah umur 17 dan punya anak umur 19 itu ajaib maka tentu saja gue langsung email dia ngajak kenalan lol. Iya maklum anaknya emang ekstrovert banget.

Terus akhirnya ketemuan dan ketemuan, chat dan chat sampai akhirnya sadar woooo iya ya sering mikir sama sampai sering ngomong sesuatu bareng gitu lol. Tapi makin lama kenal makin sadar sih kalau nggak sama-sama amat HAHAHA. Kalau lagi sama ya sama banget tapi kalau lagi nggak ya nggak sama sekali.

Tapi ya, 2 tahun kenal, Nahla, Mba Windi, dan Gesi adalah orang-orang yang bisa diajak ngomong apapun. Even the darkest secret, ehm. Udah ah apaan sih panjang-panjang amat intronya.

Ini dia 5 hal yang gue suka dari Nahla

🎻 Ngerti musik

Kalimat "ngerti musik" itu sungguh degrading sih sebenernya buat Nahla hahahaha. Iyalah, nahla main biola dari kecil gitu dan sering manggung di mana-mana. Sementara gue sama nada aja usaha banget biar bisa temenan dan nggak fals. Tapi kalau gue jadi Nahla ya, gue kayanya udah punya channel kaya juncurryahn gitu. KAYANYA LOH YAAAA HAHAHA.

🖌 Bisa gambar

INI LOH. Gue sebel sama orang yang bisa combo gitu main alat musik, bisa gambar, dan bisa dance. Untung Nahla nggak bisa dance sekalian ya kalau nggak gue lebih sebel lah udah (apa dia sebenernya bisa? O____O).

Dan gambarnya tuh makin sini makin bagusss! Makin halus banget! Gih sana kalian semua pesen stiker dong sama Nahla! Gue sendiri nggak pesen sih karena "aliran" gue nggak anime gitu hahaha. Gue lebih ke pencil/watercolor cute dreamy, aliran buku cerita anak-anak gitu lah pokoknya hahaha.

Tapi satu hal, semua pilihan warnanya Nahla selalu gue suka! Karena kami spesifik banget sama warna, warna itu harus pas nomernya sekian, geser sedikit aja nggak mau. Jadi bener-bener harus presisi. #perfeksionis

💔 Tidak mau menyakiti orang lain

Iya di balik Nahla yang terbaca kasar dan seenaknya kalau di blog, dia itu halus banget lohhh. Nahla paling bisa pilih kata-kata biar jadi lembut banget gitu dan nggak bikin sakit hati orang. Sungguh sebaliknya dengan akyuuu.

Kalau gue kan tipe yang "katakan walau perih" nah Nahla tipe yang "katakan dengan sehalus mungkin tapi usahakan dia tetap menyadari kesalahannya" NYAHAHAHAHAHA. Terus kalau ngerasa terlalu kasar, dia otomatis minta maaf. Beda dengan siapa? Dengan akyuuu. XD

Jadi Gesi nih ya kalau lagi butuh opini dengan bumbu kasih sayang, dia suka nggak peduli pendapat gue atau mba Windi apa. Pasti yang dicari Nahla. Nahla mana Nahla. Gitu. XD

👼 Empati

Ini samaan sama Gesi banget sih. Dua anak ini tipe yang gampang mewek gampang mellow terbawa perasaan. Tapi itu membangun empati mereka gitu, jadi lebih bisa lihat sisi positif dari segala sesuatu and it's a good thing of course.

Bener-bener bisa nyeimbangin gue yang apa-apa diliat semua sisi dulu dan ya, pasti ada negatifnya dong. Makanya sering dibilang kurang empati.

💅 Manner


Nahla adalah anak tersopan santun 2017 versi annisast.com. Kalau ada temen gue yang sopan santunnya nilainya 100 maka itu adalah Mevlied Nahla. Sopan banget tipe yang kalau di tempat umum ketawa itu maka ketawanya nggak ngakak dan mulutnya ditutup.

Kalau nggak sengaja ketawa ngakak? Maka dia minta maaf. Jalan anggun kaya princess, pake dress/rok ke mana-mana, behave banget lah pokoknya. Jauh banget sama di blog mah, Nahla irl is pemalu dan anak yang sangat manis.

Sementara Gesi dan gue? 180 derajat, mau ketawa sampai jongkok-jongkok juga nggak peduli. Hahaha.

*

Jadi ya, itu dia. I love you, Nahla. I really do. 💛

-ast-





Apakah Anak Perlu Preschool?

on
Wednesday, September 6, 2017
Ya, ini pertanyaan saya banget. Terutama karena saya nggak mau buru-buru pindah daycare. Makanya pas kebetulan kemarin jadwal psikolog anak, saya langsung tanya!


Daycare Bebe yang kemarin soalnya nyaman banget buat bayi sampai usia 3 tahunan. Karena memang nggak ada program preschool-nya. Ada kelas sih tiap hari 2 jam, cuma ya seputar baca buku, menggunting, menempel, mewarnai, dan kadang kegiatan motorik halus gitu. Nggak ada kurikulum atau goal khusus.

Kegalauan saya diperparah karena anak lain yang udah masuk usia 3 tahun juga, dipindahkan oleh orangtuanya ke daycare yang ada preschool-nya.

Emang harus ya anak sekolah di umur 3 tahun?

Kan masih kecil banget!

Menurut psikolog anak di daycare Bebe (namanya mbak Dianda btw hehe), bukan preschool-nya yang penting tapi kegiatan sehari-hari anak. Apakah mendukung untuk perkembangan motorik, kognitif, dan sosial?

Kalau anak hanya di rumah, tapi ibunya rajin main stimulasi motorik, belajar yang mendukung stimulasi kognitif, dan main dengan teman sebaya seperti tetangga untuk kebutuhan sosial, maka sebetulnya tidak perlu preschool. Di rumah aja cukup.

Untuk anak seperti Bebe yang di daycare, insya Allah, dua kebutuhan pertama terpenuhi. Yang saya khawatirkan justru yang ketiga, apakah tidak apa-apa Bebe bermain dengan anak yang lebih muda terus? Perlu nggak sih dia main dengan teman sebaya?

Surprisingly, mbak Dianda bilang PERLU. Teman seumuran perlu karena di usia 3 tahun, anak baru sadar kalau ia adalah bagian dari lingkungan sosial. Dia akan belajar interaksi yang berbeda dengan interaksi dia dengan anak yang lebih kecil.

Iya sih, dengan anak kecil itu Bebe cenderung meremehkan. "Dia kan masih kecil, ibu" atau "ah nggak mau, dia belum bisa ngomong" things like that. Nah kalau dengan teman sebaya mainnya memang lebih seru, bisa main role play atau main Lego sama-sama. Karena kemampuannya setara.

Kalau di rumah punya saudara kandung seperti adik gimana?

Sekali lagi, mbak Dianda bilang berbeda. Apalagi hubungan dengan adik biasanya dibumbui cemburu jadi akan berbeda dengan teman sebaya. Dan di antara adik atau kakak itu salah satu pasti jadi leader atau yang berkuasa, jadi ya memang sebaiknya anak punya teman main yang benar-benar seumuran. Maka preschool jadi jawaban.

Nah tapi kan saya dan JG anaknya kritis banget ya lol. Jadi JG tanya ke temen kuliahnya yang juga psikolog anak. Apakah anak perlu preschool dan bermain dengan teman sebaya?

Jawaban temennya JG? NGGAK PERLU-PERLU AMAT.

Hahahaha.

Menurut temennya JG, pendidikan usia 0-6 tahun itu nggak ada target apa-apa jadi masih bisa freestyle banget, yang penting menyediakan sebanyak mungkin kesempatan untuk dia eksplor segala sesuatu. Yang penting di usia 6 tahun, anak bisa percaya diri, kreatif, aktif, mandiri, dan terangsang rasa ingin tahunya.

"Untuk sekarang, bisa membersamainya bermain menyenangkan itu udah keren banget"

Gitu katanya. Jadi belum butuh teman sebaya amat asal orangtuanya perhatian.

Hmmm. Mari mikir sama-sama hahahahahaha. Berarti intinya bisa perlu atau tidak perlu tergantung kebutuhan.

Kalau ibunya ibu rumah tangga dan bisa selalu membersamai anak bermain dengan menyenangkan sih berarti oke aja nggak perlu preschool. Tapi kalau kaya saya yang kerja dan nggak sanggup harus bikin ini itu kaya ibu-ibu hebat lain, ya mending preschool/PAUD aja.

TERJAWAB YA BUIBUUUU!

Kalau belum mau preschool mah banyak-banyakin aktivitas di rumah aja. Modal ngeprint doang juga kayanya banyak ya di Pinterest mainan edukatif buat anak. Jangan lupa sore-sore keluar rumah dan main sama anak tetangga.

Bebe sih di rumah nggak punya temen main sama sekali makanya daycare yang ada preschool-nya jadi jawaban atas semua pertanyaan banget. Malem-malem tinggal quality time sama saya, baca buku atau mewarnai. Ah punya anak ternyata nggak ribet. *PLAK* *ANDA JANGAN BERBOHONG* *LOL*

Ya mau dipikirin ribetnya juga ribet banget lah bikin istigfar ahahaha. Mau dianggap simpel juga kok ya udah dibantu banget nih sama segala jasa daycare dan preschool. Tinggal GoJek doang nih harusnya bikin GoBaby, jasa langganan anter jemput bayi dan anak sekolah gitu hahaha. Aman jaya deh saya tinggal nunggu di kantor doang lol.

*di-judge ibu-ibu se-nusantara disuruh kembali ke rumah*

Oiya tambahan sedikit tentang milestone anak 3 tahun selain urusan sosial. Harus udah bisa lompat maju, lompat mundur, dan berdiri satu kaki! Bebe mah udah bisa banget ya, anaknya nggak bisa kayanya jalan dengan kalem tanpa dibumbui lari sambil lompat-lompat. Berdiri satu kaki juga bisa.

Kata mbak Dianda, ini akan berpengaruh sama perkembangan otaknya di masa depan. Anak yang gagal melompat saat balita, akan punya kesulitan berpikir atau kemampuan intelektual yang berbeda dibanding anak yang mampu melompat saat balita.

HMMM APAKAH AKU KURANG MELOMPAT YA SAAT KECIL SEHINGGA TIDAK BISA KULIAH DI AMERIKA?

Oke deh, demikian laporan psikolog kali ini. Konsul psikolog terakhir nih di daycare huhu. Tiga bulan ke depan semoga bisa share dengan psikolog di daycare baru ya!

Selamat hari Rabu!

-ast-

JANGAN LUPA IKUTAN GIVEAWAY AKU YA! HADIAHNYA BALANCE BIKE! INFO KLIK DI SINI!




Cuti Melahirkan 6 Bulan? Bisa!

on
Tuesday, September 5, 2017
[SPONSORED POST]

Bebe dititipkan di daycare sejak usia 3 bulan. Karena daycare saya bisa kerja dengan tenang.

Seberapa banyak di antara kalian yang berhenti kerja dengan alasan punya anak? Banyak sih yang alasannya karena waktu sama anak yang terlalu sedikit. Tapi makin lama makin banyak juga saya lihat perempuan yang berhenti kerja karena lingkungan yang nggak mendukung untuk tetap bekerja.

Beda cerita kalau orangnya emang nggak betah kerja ya. Ini orangnya seneng kerja, betah, tapi ternyata pas punya anak baru sadar kalau kantornya hanya menyenangkan untuk orang yang single. Suka kasian deh jadinya. :(

Saya jadi bercermin sama diri sendiri. Iya sih saya dan JG nggak punya siapa-siapa di Jakarta, orangtua dan mertua di Bandung, kalau dipikir rasanya susah banget punya anak. Capeekk banget. Tapi kalau dipikir-pikir, capek itu nggak seberapa karena lingkungan kami berdua itu supportif banget!

Saya kerja office hour, bisa pulang jam 5 teng. Pagi boleh izin kalau emang ada keperluan mendadak. Fleksibel lah jadinya. Makanya sayang banget sama bos dan kantor yang sekarang karena saya bisa dengan mudah anter jemput Bebe ke daycare.

Selain masalah waktu, masih ada juga urusan menyusui. Di kantor saya dan JG udah ada ruang laktasi, ruang khusus untuk pumping. Disediakan juga kulkas dan nggak dipersulit sama sekali kalau mau pumping di jam kerja. Makanya ya betah aja, lancar-lancar aja kerja meski punya anak tanpa punya mbak atau supir.

Ternyata nggak semua orang punya kemewahan itu ya. T_____T

Padahal buat ibu-ibu, hal sesederhana ruang kecil untuk pumping itu bisa bikin betah di kantor loh! Kalau udah betah, kerja juga jadi maksimal karena nggak galau lagi mikirin anak. Tapi bahkan cuti hamil aja katanya banyak yang dipersulit!

Waktu saya lempar topik ini di Twitter karena lagi di event “Tumbuh Kembang Anak dan Dukungan Kebijakan Perusahaan” dari Danone Indonesia minggu lalu, banyak ibu-ibu yang jadi curhat karena katanya cuti hamil aja nggak boleh 3 bulan. Mau nangis banget dengernya.

Padahal semua karyawan perempuan diberi hak 3 bulan cuti hamil dan melahirkan, sementara karyawan laki-laki diberi 3 hari penuh. Kenyataannya ada temen saya yang bilang kalau dia hanya diberi cuti melahirkan 2 bulan. Sisa cuti 1 bulan untuk jaga-jaga kalau nanti harus cuti demi anak. Cuti tahunannya apa kabar? Susah dikasih katanya. Kenapa kantornya gitu banget yaaa. T_______T


Nah tapi ternyata nggak semua kantor kaya gitu loh! Masih ada kantor yang peduli pada karyawan perempuan dan keluarga, salah satunya adalah Danone Indonesia.

Kalau kalian kerja di Danone Indonesia, cuti untuk ibu melahirkannya 6 bulan loh. Jadi bisa ninggalin anak kerja setelah anaknya mulai MPASI dan nggak tergantung 100% pada ASI kan.

Dan untuk para suami, diberi jatah cuti 10 hari! Penting banget karena ibu yang baru melahirkan biasanya bingung gitu kan, jadi ada suami siaga yang bisa nemenin dua minggu pertama. Bayi pun bisa bonding lebih lama dengan kedua orangtuanya.

Danone Indonesia sudah setahun menerapkan sistem cuti 6 bulan ini. Salah satu alasannya adalah, jumlah karyawan yang seimbang antara laki-laki & perempuan. Artinya perempuan punya peran sangat penting untuk kelangsungan perusahaan. Tapi sebelum cuti 6 bulan diberlakukan, banyak karyawan perempuan yang malah resign setelah melahirkan.

Untuk mendukung para karyawan perempuan ini, kantor Danone Indonesia pun ramah anak, ada ruang laktasi dan kulkas untuk menyimpan ASIP. Kemudian ibu hamil pun punya satu grup khusus untuk berbagi informasi soal nutrisi dan konsultasi tentang makan sehat dengan tenaga kesehatan.



Udah? Belum! Danone Indonesia juga memberlakukan namanya flexwork. Artinya jam masuk kantor bebas dan boleh work from home bila memang dibutuhkan.

Hasilnya ternyata oke banget! Jumlah karyawan yang resign setelah melahirkan menurun tajam, karyawan pun jadi semakin loyal dan pada akhirnya meningkatkan produktivitas.

Menurut Direktur HR Danone ELN Indonesia, Evan Indrawijaya kebijakan parental ini pun tidak mengurangi hak karyawan. Gaji tetap diberikan full, tunjangan, serta bonus juga full, tidak prorata. Ya ampun impian banget ya!

Sekarang muncul pertanyaan, kalau gitu yang ngerjain kerjaan karyawan yang cuti siapa?

Beban pekerjaan karyawan yang cuti dibebankan pada timnya. Kalau masih kurang orang, maka dicarikan pengganti sementara. Kerennya, karyawan yang dibebani pekerjaan karena timnya cuti itu juga mendapat gaji tambahan di luar gaji biasanya. Iya dong kan kerjaannya nambah.

Dan kebijakan parental ini berlaku di semua group Danone Indonesia termasuk pabrik! Iri nggak? Apa malah udah buka LinkedIn dan cari lowongan di sana? Hahahaha.

Ayo kita berdoa sama-sama semoga perusahaan lain juga dibukakan pintu hatinya supaya bisa ramah anak dan ramah ibu bekerja ya!

-ast-




Hidup yang Kita Pilih


Minggu lalu saya nonton konser lagi setelah 5 tahun lamanya. Lama juga ya 5 tahun nggak nonton konser hahaha. Sebenernya artisnya sempet ke sini sih 2 tahun lalu, tapi waktu itu kan saya punya bayi. Boro-boro nonton konser, nonton bioskop aja nggak kepikiran sama sekali. Jadi waktu itu skip.

Sekarang karena Bebe udah gede, udah bisa ditinggal dengan manis (meski ibu ngakunya kerja lol), dan nggak nangis sama sekali. Akhirnya saya nonton. Sepanjang nonton rasanya campur aduk. Terakhir saya nonton 5 tahun yang lalu itu juga saya udah nggak liputan sih, udah beli tiket sendiri. Tapi kemarin rasanya kaya “goyang” gitu sama pilihan hidup hahahaha.

Karena lagi nonton konser terus kepikiran Bebe besoknya sekolah hari pertama.

Sebebnya saya ada di tengah-tengah. Di satu sisi, saya punya teman-teman seumuran saya yang masih concert goers banget. Salah satu temen orang Singapur, udah nonton konser kemarin itu 6-7 kali. KONSER YANG SAMA LOH. Set listnya sama. Dari Singapur ia masih kejar sampai Bangkok, Hong Kong, beberapa kota di Australia, Indonesia, dan nanti Malaysia.

Ada juga satu orang lagi yang bahkan ngejarnya sampai ke Amerika! Orang-orang ini belinya juga selalu VIP, sewa bis kecil buat ikut ke bandara, dan nginep di hotel sekitar venue konser.

Saya juga pernah begitu. Meskipun ya nggak ke 6 negara juga ya. Dan kalau kalian mengira itu semua karena kami kaya raya, nggak juga sih. NABUNG LAH! Pernah saya ceritain di sini: Mengubah Mimpi.

Poinnya adalah, ternyata setelah puluhan konser dalam dua tahun, saya sampai pada titik yang dibilang orang “mau gini-gini aja nih hidup?” Kemudian saya merasa harus move on, menikah, punya anak, dan hidup saya berubah hanya dalam hitungan bulan.

Sekarang saya masih mampu nonton konser, jauh lebih mampu dan beberapa tahun lalu. Tapi kan mikirin Bebe masa ditinggal terus. Atau masa bela-belain Bebe di rumah aja sama mbak yang lebih murah biar uang daycare bisa ditabung untuk nonton konser. Kan nggak begitu.

Padahal kalau dipikir lagi, apa coba definisi “gini-gini aja hidup”? Gimana sih hidup yang “gini-gini aja” itu?

Apakah hidup kaya temen saya? Usia hampir 30, nggak menikah apalagi punya anak, nabung ya buat nonton konser di mana-mana. Atau temen saya yang lain, seumuran juga, nggak menikah apalagi punya anak, nabung ya buat traveling aja.

Apa lantas hidup mereka “gini-gini aja” hanya karena mereka memutuskan untuk tidak menikah dan punya anak?

Kenapa mereka suka direcokin orang dengan “mau sampai kapan main terus!”

Ya sampai nanti-nanti lah. Artisnya juga manggung sampai nanti-nanti kan. Tempat liburan yang dituju juga masih banyak yang belum kesampaian. Nggak apa-apa banget kan kaya gitu. Ya yang penting kan kerja dan menghasilkan uang untuk hidup dan bahagia. Apalagi coba.

Kalau saya, saya ternyata dengan sadar memilih untuk menikah di usia ideal masyarakat Indonesia untuk perempuan perkotaan, 25 tahun. Saya memilih untuk punya anak, saya memilih untuk cari uang dan tiba-tiba prioritas segalanya untuk anak.

Tapi karena saya melakukan ini, nggak berarti kalian semua juga harus melakukan ini. Karena kadang saya nyesel juga kenapa sih saya buru-buru settle down dengan nikah dan punya anak secepat itu hahahaha. Makanya kemarin pas seru-seruan nonton konser rada mikir, ini gitu hidup yang saya mau? Kan mending kerja buat diri sendiri seneng-seneng aja!

Kalau udah gitu kan balik lagi, ini pilihan saya dulu, tanggung jawab dong dengan pilihan itu. Satu hal, kalau pun dulu saya nggak memilih menikah, mungkin saya menyesal juga dengan pilihan tidak menikah. Kita nggak pernah tau dan kemungkinan penyesalan selalu ada, apapun jalan yang kita pilih.

It's not that I'm not happy, I AM. Cuma kan maklum kalau kadang mikir "eh kalau dulu gini gimana ya?" Biasalaahh. Wajar terjadi. HAHAHA.

(Baca: Memaknai Pilihan)

Kalian yang nggak mau menikah dan memilih untuk menyenangkan diri sendiri seumur hidup tanpa harus membaginya dengan dana pendidikan juga jadinya nggak apa-apa banget! Nggak usah dengerin kata orang karena orang yang ngomong itu nggak bayarin tiket senang-senang kalian.

Dan jangan mau dibilang "gitu-gitu aja". Buktikan dengan kalian sendirian, kalian punya pengalaman yang jauh lebih banyak dan menyenangkan dibanding orang yang judge kalian dengan "gitu-gitu aja". Bikin bucket list dan selesaikan satu-satu.

Jangan takut dibilang “anak tuh bisa bikin hidup lebih semangat”. Iya bener banget kok statement itu. Tapi nggak berarti yang nggak punya anak hidupnya jadi nggak semangat kan. Semangat kan bisa dateng dari mana aja. Lagian apa kabar atuh orang yang udah bertahun-tahun usaha punya anak tapi nggak bisa? Apa hidupnya jadi kurang semangat?

Bos di kantornya JG ada yang masih muda udah jadi GM. Jadi general manager di korporasi sebesar itu, perempuan, udah pernah tinggal di sekian negara. Nggak nikah dan nggak punya anak. Tapi dengan pencapaiannya, nggak mungkin dong dia hidup tanpa semangat?

“Anak ngasih arti lain sama kehidupan”. Iya bener juga kok. Cuma ya jangan jadi judge orang-orang yang tidak mau menikah dan punya anak sebagai egois dan hidupnya tidak berarti. Semua orang mengartikan sendiri hidupnya. Nggak butuh orang lain untuk mengartikan hidup kita.

Cuma kadang berat di orangtua ya. Orangtua meski udah nggak bayarin apa-apa tapi suka teteeppp pengen anak-anaknya nikah. Karena seolah tugas mereka tunai sudah ketika anak-anak menikah. Sabar-sabarin aja hahaha.

(Baca: Menjaga Perasaan (Siapa?))

Asal satu hal, kalau nyesel jangan ngerugiin orang lain!

Saya pernah denger cerita suami yang tergila-gila main game lagi dan akhirnya nelantarin anak istri. Padahal sebelum nikah udah nggak main game. Suatu hari beli komputer baru yang harganya puluhan juta dan mulai lah dia main game lagi. Nggak perlu kerja memang karena anak orang kaya. Tapi anak dan istri nggak diperhatikan lagi.

Nah kalau gitu tandanya udah merugikan orang lain dong. Jangan gitu-gitu amat lah gengs.

Hidup seimbang aja bisa kok. Misalnya saya, saya berencana nonton konser setahun sekali (kalau konsernya ada lol). Ada juga temen saya yang anaknya dua, punya “jatah” liburan sendirian (tanpa anak dan suami) sekali setahun. Fair lah. Menyeimbangkan kehidupan jadi ibu dan jadi diri sendiri itu penting dong. Masa kerja capek-capek semua full demi anak? Hahaha.

Judge saja aku silakan.

Jadi ya, apa pilihan hidup kalian? Pernah nyesel nggak?

-ast-




Bebe dan Daycare, 3 Tahun Kemudian

on
Friday, September 1, 2017
berenang di daycare. captured by @tazalyphoto

Saya masih ingat benar hari itu, Senin, 8 September 2014. Saya masih cuti, sengaja baru akan masuk kerja besoknya. Itu hari pertama saya membawa Bebe ke daycare dan meninggalkannya di sana. Itu juga hari pertama saya pakai jilbab, jilbab pink dengan sweater rajutan coklat. Semuanya masih saya ingat jelas.

Meski sekarang ingat, waktu itu rasanya blur. Saya menggendong Bebe yang masih sangat kecil dengan kain gendongan, naik motor bersama JG. Saya membawa 10 botol ASI dengan harapan akan lebih dari cukup sampai sore. Bukan karena stok ASI saya kurang, tapi karena membaca pengalaman ibu-ibu lain rata-rata anaknya hanya minum maksimal 500 ml ASI alias 5 botol kaca.

Ternyata kurang. Hari itu Bebe minum lebih dari 1 liter ASI karena ia merasa asing di daycare baru. Saya? Oh nangis dong tentu saja, saya nggak sekuat itu hahaha.

Seharian saya nangis-nangis, ngerengek ke JG ingin resign karena nggak tega sama Bebe. Siang-siang galau sampai beliin boneka buat Bebe biar nanti pas pulang Bebe punya boneka baru. Padahal mah anaknya nggak ngerti hahahaha. Waktu itu umur Bebe 3 bulan 2 hari

Dan apakah saya jadi resign? Tentu tidak karena besoknya di kantor langsung ralat ke JG “aku nggak jadi resign hehe aku kerja aja aku suka kerja hehe.”

Ternyata di kantor senang yaaaa! Bebe di daycare aja! Hahaha.

(Baca: Review Daycare Bebe, Tweede Daycare)

Dari situlah perjalanan daycare Bebe dimulai. Bebe belajar banyak sekali, dan yang paling utama adalah belajar punya teman. Di umur 2 tahun dia udah tahu bahwa ada anak yang lebih besar dan lebih kecil, ada anak laki-laki dan anak perempuan.

Dia belajar banyak sekali. Belajar duduk, merangkak, jalan semua di daycare. Naik perosotan pertama kali bahkan sebelum bisa jalan, naik sepeda, berenang, belajar buka dan pake celana sendiri, makan sendiri, doa-doa, dan banyak lagi. Saya sampai ngerasa Bebe mungkin menganggap daycare ini rumahnya, lah di rumah sendiri cuma bobo doang tiap malem lol.

Teman-teman pun datang dan pergi, karena sudah punya mbak atau kembali diurus nenek. Hanya beberapa dari mereka yang bertahan sejak usia 3 bulan hingga 3 tahun seperti Bebe. Dan tahun ini, angkatan 2014 “lulus” semua, pindah ke daycare yang punya program pra-sekolah.

T______T

Meski super betah, urusan daycare ini juga nggak selalu mulus. Ada waktu-waktu di mana dia cranky banget nggak mau di daycare maunya sama ibu aja. Tapi ya kaya yang pernah saya bilang, anak kan emang ada masa-masanya rewel ya.

Mau anak yang di daycare, yang sama nenek di rumah, yang sama ibunya. Pasti ada hari-hari di mana dia nggak mood dan maunya nangis kan. Jadi ya udah. Kalau kalian ngerasa anak rewel lebih baik sama ibunya, belum cencuuu. Kalau ibunya malah stres kan justru mending berpisah dulu ya kaannn. Daripada kenapa-napa.

(Baca: Drama Daycare)


Dan Bebe memang anaknya cenderung ekstrovert. Dia gampang approach anak lain untuk ngajak main meskipun sebelumnya nggak kenal sama sekali. Kecuali kalau lagi nggak mood banget ya. Jadi dia di daycare bahagia karena selalu punya teman!

Makanya saya mellow banget kemarin Kamis tiba-tiba udah hari terakhir aja dia di daycare. Hiks. Sedihnya sedih banget.

Ya gimana nggak sedih, 3 tahun bolak-balik rumah yang sama setiap hari. Bobo siang di situ, mandi di situ, makan 3 kali sehari di situ.

T_______T

Apakah Bebe udah ngerti dia akan pindah?

Saya udah jelaskan setiap hari sejak 2 minggu lalu dan dia excited banget! Kayanya karena dia nggak ngerti apa itu perpisahan. Selama ini bagi Bebe, perpisahan hanyalah merelakan ibu pergi kerja, nggak lebih.

Sekarang misal lagi baca buku dia bilang “ibu nanti aku baca buku sama guru bukan kak wina (guru daycare) ya?” atau “nanti di sekolah salo mandi sama guru ya ibu?” things like that. Dia emang udah bosen banget di daycare yang sekarang karena dia paling tua, anak laki-laki gede sendiri pula. Ya yang lain udah duluan masuk preschool dari 1-2 bulan lalu. Saya aja nggak mau buru-buru karena nyempetin survey ke banyak tempat dulu.

(Baca survey dan review daycare di sini)

Berkali-kali dia bilang “aku ingin main sama Z tapi dia bayi”. Z ini anak cowok di daycare tapi masih setaunan gitu. Belum seru diajak main. Padahal hasil konsultasi sama psikolog kemarin, anak 3 tahun memang baru menyadari kebutuhan bersosialisasi. Berarti emang udah saatnya Bebe pindah, demi teman baru yang sebaya!

Beberapa anak daycare yang pindah, pindah gitu aja nggak ada farewell atau apa. Saya nggak mau ngilang gitu aja, nggak tega huhuhu Akhirnya bikin farewell kecil-kecilan. Bikin hampers isi handuk, kaos kaki, taplak meja, dan nyetak foto kemudian di-frame. Fotonya foto yang ada Bebe dan ada mbaknya gitu.

Sorenya saya bawa nasi kotak terus makan sama-sama. SEDIH BANGETTTT BANGET BANGET. Pas jalan ke mobil tuh yang kepikiran, wow nggak akan parkir di sini lagi, nggak akan ketemu bapak parkir ini lagi, nggak akan jajan cilor, beli nasi padang, dan mie aceh di sini lagi.

T________T

Tapi yah, ini kan proses natural. Bebe pindah karena memang sudah umurnya. Saya juga harus tegar dan mempersiapkan mental untuk beberapa hari ke depan karena Bebe harus lewat proses adaptasi lagi.

Lebih gampang sih harusnya karena dia udah ngerti, tapi ya, tetep nervous karena saya sendiri belum kenal mbak-mbak di daycare baru kan. Sama-sama adaptasi ya, Be!

*

Tiga tahun pake jasa daycare, saya baru sadar kalau selama ini saya bisa tenang ninggalin Bebe kerja karena dia di daycare. Saya nggak perlu cek dia udah nyampe rumah atau belum (pulang sekolah), nggak perlu cek makan apa, nggak perlu masak, nggak perlu mandiin. Hidup saya dipermudah banget sama daycare.

Kebayang kalau pake mbak di rumah kayanya saya akan sering-sering cek ya. Belum lagi harus masak sendiri. Belum lagi mbaknya di rumah nggak ngajak main yang "edukatif". Daycare ini bener-bener demi peace of mind buat ibu bekerja kaya saya.

Saya bisa tenang ajak dia baca buku atau main malem-malem karena saya nggak perlu stres lagi suapin dia makan. Saya bisa happy main sama dia full Sabtu dan Minggu tanpa gangguan mbak. Karena banyak kan tuh yang anaknya malah pilih mbak dibanding ibunya. Bebe nggak, ya karena nggak punya mbak di rumah hahaha. Quality over quantity, yes?

Jadi ya, begitulah. Doakan Bebe betah di daycare baru ya!

-ast-