-->

Image Slider

Galau Preschool

on
Monday, July 31, 2017

Seminggu belakangan saya galau karena preschool. *tarik nafas panjang*

Sebenernya saya sendiri nggak ngotot banget Bebe harus preschool sih karena sebagai ibu yang percaya diri, saya yakin dia nggak butuh-butuh amat preschool. Toh di daycare yang sekarang aja ada guru TK-nya kan sehari dua jam. Di rumah juga kami aktif baca buku, mewarnai, main ini itu yang selevel lah sama preschool hahaha.

Tapi kemudian kegelisahan itu muncul karena melihat progress bahasa Inggris Bebe yang udah keliatan banget dan jadinya pengen preschool bahasa Inggris biar cepet lancar! Itu sebelum saya tau kalau preschool bahasa Inggris itu ya ampun mahalnyaaa. Uang pangkalnya aja bisa Rp 10juta gitu. Langsung sedih karena sebagai kelas menengah, pilihan sekolah itu terbatas banget ya. :|

Selain urusan bahasa Inggris, urgensi cari preschool jadi makin kerasa karena sahabatnya Bebe di daycare, mari kita sebut aja dengan K, hari ini hari terakhir di daycare karena pindah ke daycare yang ada preschool-nya. T______T Sejak beberapa hari lalu saya dan ibunya K WhatsApp-an tentang ini dan saya mellow banget mikirin Bebe nggak ada temennya lagi di daycare yang sekarang.

Karena Bebe anaknya berteman banget, dia pilih-pilih sahabat sejak kecil. Natural mungkin karena sejak bayi di daycare kan, nggak mungkin temenan baik sama semua anak karena ya cocok-cocokan lah sama kaya kita orang dewasa. K ini umurnya emang udah 3 tahun 7 bulan, ibunya udah lebih gelisah lagi dari saya karena anaknya udah hampir 4 tahun tapi belum preschool juga.

(Baca: Pertanyaan Seputar Daycare)

Jangankan ditinggal selamanya (LEBAY BIAR), si K nggak masuk seminggu karena belum pulang dari kampung pas lebaran aja Bebe tiap sore cranky hhhh. Dan karena K keluar, otomatis Bebe jadi anak paling gede di daycare! Satu anak lagi yang seumuran Bebe banget kebetulan juga harus keluar bulan ini karena ayahnya pindah tugas ke Jogja. Duh aku mellow banget deh beneran semingguan ini.

T________T

Agak nggak terima kenapa Bebe tau-tau udah 3 tahun aja hahaha. Kok tau-tau ibu udah harus cari preschool aja sih? Kalau yang ibunya di rumah atau pake mbak mungkin nggak segalau ini ya, karena ya tinggal cari preschool aja kan yang deket rumah. Ini kami harus cari preschool yang deket rumah serta deket kantor, ada daycare-nya dengan biaya bulanan yang masih masuk budget. Huhu.

Karena mau sedih merenung berdiam diri doang mah tak akan berguna, kami pun mulai survey daycare plus preschool seputaran Jakarta Pusat, Jakarta Barat yang nggak terlalu barat, dan Jakarta Selatan yang nggak terlalu selatan. Gini nih akibat rumah di Barat perbatasan Pusat dan Selatan. Bingung sendiri karena kalau di Barat banget atau Selatan banget jadinya jauh.

Tempat pertama yang dikunjungi adalah Lovely Sunshine di Jalan Danau Poso, Bendungan Hilir. Cuma saya nggak sreg sama segala sesuatunya sampai mau nangis karena Lovely Sunshine ini deket banget dari rumah dan kantor. Strategis banget. Cuma ya menurut saya kelebihannya cuma strategis aja.

Lengkapnya nanti saya tulis di blogpost terpisah ya! Seminggu ini tiap makan siang saya dan JG akan keluar muter untuk survey daycare Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan. Tiap abis survey akan saya bikin review-nya sekalian biar bisa kasih informasi juga buat buibu yang mungkin mau cari daycare buat anaknya.

Saya tetep nggak akan info di mana daycare Bebe jadi yang mau tau boleh email atau DM saya di Instagram ya. Agak kurang nyaman kalau harus sebut nama daycare Bebe di tempat umum gini. Nanti kalau udah pindah sih saya akan review lengkap daycare yang sekarang, yang jadi nggak disebut adalah daycare yang baru hehehe. :)

(Bebe sudah akan pindah jadi ini review daycare Bebe yang bikin saya galau. Bebe di sini 3 tahun pas! Tweede Daycare Benhil)

Kami akan survey ke 4 daycare yang secara jarak masih masuk akal untuk dikunjungi. Syarat saya sih nggak muluk-muluk (BOHONG) yang penting banget banget bangetnya adalah kamar anak laki-laki dan perempuan terpisah atau minimal bangetnya tiap anak punya kasur sendiri.

Ini penting karena saya geli banget mikirin Bebe harus gantian kasur sama anak lain. Kalau anak lainnya lagi sakit gimana?

Karena ternyata banyak daycare yang nggak peduliin hal ini dan anak bebas tidur di kasur yang mana aja. Plis aku nggak bisa bayanginnya pun. Saya maunya Bebe punya kasur sendiri dan itu jadi area pribadi dia kaya di daycare yang sekarang, bisa bawa selimut dan boneka sendiri. HUAAA MIKIRIN GINIAN AJA MELLOW.

T________T

Untuk preschool-nya, saya dan JG udah berdamai dengan kenyataan bahwa Bebe nggak akan bisa masuk preschool bahasa Inggris jadi ya kami harus bertahan hanya berbahasa Inggris di rumah meskipun campur-campur karena lelah banget sis harus ngomel pake bahasa Inggris sementara anak yang dimarahinnya nggak ngerti lol. Untuk percakapan biasa dan instruksi sederhana sih masih diusahakan sebisa mungkin pakai bahasa Inggris.

Jadi ya yang penting ada program setara preschool dan Bebe bisa belajar sesuatu yang baru di sekolah barunya nanti. Semoga juga bisa nemu sahabat baru yang bikin Bebe nyaman dan betah di daycare-nya. Aamiin.

Doakan kami semoga cepet ketemu daycare baru yang cocok ya!

(Baca postingan seputar daycare di sini!)

-ast-




WHEN IT'S ONLY JG & AST #134 - #140

on
Friday, July 28, 2017

Hai haiii! Kembali lagi dengan percakapan kami. Saya tuh maunya sering-sering posting ini tapi kadang suka lupa nyatet kalau ada yang lucu jadi lewat aja. Semoga menghibur ya!

#134 Sampah

Di mobil, di tol menuju Bandung.

JG "Sayang aku mau buka jendela ya?"

Saya: "Ih ngapain!"

JG: "Aku mau buang sampah sembarangan"

Saya: "IH NGAPAIN IH!"

JG: "Sampahnya upil"


*

#135 Mangga atau manggis?

Di kantor, jam makan siang JG telepon.

Saya: "Kamu makan siang apa?"

JG: "Aku makan telor asin doang sama mangga, tapi aku nggak tebak sih mangganya"

Saya: "Ya emang nggak usah ditebak sih mangga mah, manggis keles itu mah"

JG: "HEHE"

-________-

*

#136 Tabung gas

Pas pulkam lebaran, tabung gas dicopot dong selangnya. Balik lagi ke Jakarta kompornya kok jadi nggak nyala. JG uprek-uprek di dapur sendiri lamaaaa banget sampai akhirnya dia nyerah.

JG: "Sayang kompornya ga bisa nyala nih, kamu sini dong"

Saya jalan ke dapur kemudian kompornya langsung nyala!

Saya: "Tsk, aku moral support ya"

JG: "Tabung gas aja takut sama kamu apalagi aku"



*

#137 Ponari

Mbak Sary Melati punya dua Alaskan Malamute, gemes banget anjing gede gitu. JG sebagai pecinta anjing langsung bahas terus.

JG: "Nama anjing mba Sary kaya ee loh, namanya poo"

Saya: "Ganti nama aja"

JG: "Iya sebenernya itu dari si Po Kungfu Panda sih"

Saya: "Kalau gitu ganti nama jadi ponari aja"

krik krik

JG: "Oke sayang mulai sekarang aku lebih baik diam daripada merusak imajinasi ponari kamu ok!"



*

#138 Warisan

Bebe punya mainan alat berat gitu, salah satunya ada truk sampah (dump truck). Bebe ingin tisu disobek kecil dibulet-bulet dijadiin sampah. PR banget kan ya, buletin-buletin tisu sampai banyak. Pas udah selesai malah diacak-acak! Bertaburanlah itu tisu di seluruh kasur.

Ibu: "Kok diacak-acak sih? Ah ibu nggak mau bikinin lagi ah buat Salo ah!"

JG: "Be tuh dengerin ibu, kalau ibu marah kamu nggak dapet warisan loh nanti"



*

#139 Oncom

Saya kebiasaan bilang oncom sebagai pengganti kata "kamp*et" atau "sialan" gitu konteks becanda ketawa-tawa ya. Kan lebih sopan aja lol. Suatu hari lagi ngobrol sama JG di mobil, dipikir Bebe nggak dengerin.

Saya; "Ah kamu oncom"

Bebe motong: "Appa oncom ya ibu?"

Saya: "Iya, kamu anak oncom"

Bebe: "Aku anak ibu bukan anak oncom"

HAHAHAHA

*

#140 Quote of the day


"Jika diam itu emas maka pacar kamu yang ambekan itu pasti sudah kaya,"
-- @jago_gerlong, 30 tahun, karyawan swasta.

-ast-




7 Hari Tanpa Instagram

on
Wednesday, July 26, 2017
[TL;DR] Saya terlalu banyak membuang waktu untuk Instagram. Kemudian saya tobat. Tulisan ini terlalu panjang jadi kalau kalian males baca, intinya itu hahahaha.


Yang kenal saya pasti tahu saya anaknya selalu berorientasi angka. Yang paling dipelototin sih page views blog ya, yang mengantarkan saya mendapat tambahan 1juta views hanya dalam 3 bulan, dengan total 3 juta views selama 3 tahun saja. Hanya angka, tapi bikin bahagia karena tulisan-tulisan saya ternyata banyak yang membaca. :)

Karena sejak dulu, social media adalah tempat main yang sangat menyenangkan. Tempat utama untuk mencari informasi. Saya tidak lepas social media sejak era Friendster. Bahkan sedang KKN (Kuliah Kerja Nyata) di desa saja, saya tetap eksis di Friendster pakai Opera Mini di Blackberry. Dulu, hampir 10 tahun yang lalu.

Tahun-tahun berikutnya dilalui dengan keluhan-keluhan tentang kuliah di Facebook. Tak lama langsung pindah ke Twitter dan resmi jadi AnakTwitterTM yang selalu mengeluh lelah karena banyak alay di Facebook. Terus yang kurang penting bangsa Foursquare demi jadi mayor doang ya amponnn.

Beberapa tahun kemudian Instagram muncul exclusively di iOS dan saya langsung punya lah! Namanya juga anak socmed! Tapi baru 3 bulan belakangan saya jadi peduli pada followers Instagram, meniatkan diri posting setiap hari, memperbaiki kualitas foto, menulis caption panjang dan bercerita karena sebelumnya bahkan saya jarang memberi caption. Keseriusan yang ditandai dengan followers naik 1000 lebih hanya dalam 1 bulan. Padahal sebelumnya hanya punya 2000 followers dalam 5 tahun. (sad lol)

Kemudian kalau sedang ada sponsored post maka saya jadi peduli pada reach Facebook, impression Twitter, dan banyak lagi. Ditambah saya yang rutin nge-blog, praktis social media jadi perpanjangan blog.

Lama-lama lelah.


Dan meski banyak orang yang menolak bermain di social media karena takut di-judge, saya sendiri sebetulnya tidak. Saya selalu menganggap internet adalah tempat yang bebas bertanggungjawab. Saya punya argumen, kalian punya argumen.

Saya tidak pernah memaksakan pendapat saya pada siapapun, dan jangan pula memaksakan pendapat pada saya. Lagian masa semua orang harus sependapat sih, kan serem ya. Judge saya semau kalian dan saya tidak akan terganggu.

Yang kenal saya sejak dulu di Twitter mungkin tau saya pernah dapat banyak sekali ancaman pembunuhan dalam beberapa hari di Twitter dan disuruh bunuh diri hanya karena saya menulis video klip sebuah boyband "biasa saja". BIASA SAJA BUKAN JELEK HHH.

Dan saya tidak kapok. Ternyata yang bisa bikin saya berhenti main-main socmed adalah diri saya sendiri. Saya sendiri kaget.

Dan ya, biang keroknya adalah Instagram.

Saya bahagia melihat feed Instagram saya dan masih bahagia sampai sekarang. Saya senang menyusun foto agar nyambung satu dengan lainnya, dengan sebelahnya, dengan atas dan bawahnya, seperti main game saja. Saya senang mengedit foto agar terlihat “lebih Instagram”.

Iya karena foto Instagram itu punya karakteristik sendiri loh makanya muncul istilah Insta-worthy atau Instagram-able. Bukan semata karena dindingnya cantik atau makanannya lucu, tapi komposisinya yang membuat sebuah foto menjadi sesuai dengan karakter Instagram.

Contoh paling sederhana, foto dramatis yang jadi headline koran belum tentu sedramatis itu saat di-upload ke Instagram. Sebaliknya, foto flatlay dengan bunga mint dan aksesoris emas belum tentu cocok untuk halaman koran yang kebanyakan hitam putih. Di situ menyenangkannya Instagram.

Yang jadi masalah bukan obsesi saya pada feed, tapi obsesi saya pada foto-foto di timeline! Sungguh membuang-buang waktu.

Naturally setiap beberapa menit saya membuka ponsel dan otomatis mencet icon Instagram kemudian scroll dan cek stories. Itu jadi habit dan menurut saya bukan habit yang baik. Ya kecuali followers kalian 2juta orang dengan penghasilan dari Instagram ratusan juta rupiah dalam seminggu ya.

Scrolling Instagram menyita waktu sangat banyak dan saya tidak mau seperti itu. Saya tidak mau terobsesi. Saya tidak mau bangun tidur dan yang pertama kali dilakukan adalah cek notifikasi Instagram. Saya tidak mau lagi sedih karena jumlah followers berkurang.

Karena ya, Instagram adalah Instagram. Saya cerita sebaik dan semenarik apapun maka akan hilang di timeline orang dalam beberapa hari. Sebagus apapun kontennya, tetap akan sulit dicari setelah beberapa hari, archiving-nya tidak sebaik blog kan.

Sejak “serius” di Instagram saya juga jadi menyalakan notifikasi. Notifikasi komentar dan direct message. Awalnya saya senang karena wow banyak yang appreciate ya! Kesenangan yang hanya bertahan 3 bulan saja.

Lama-lama saya terganggu. Karena notifikasi membuat saya merasa ada urgensi membalas secepatnya dan sekali lagi, saya tidak mau seperti itu. Itu tidak baik, Instagram bukan prioritas. Berkali-kali saya sugestikan itu pada diri sendiri.

Saya juga terpaksa harus mengakui kalau saya (merasa jadi) oversharing, Padahal dulu saya adalah barisan orang yang menolak mengamini bahwa saya berlebihan menggunakan social media. Saya beberapa kali bilang bahwa yang saya tulis di blog itu hanya kulitnya saja.

Orang bahkan tidak pernah tahu nama daycare Bebe, lokasi, atau bahkan nama lengkapnya. Ya di saat orang membuat hashtag dengan nama lengkap bayi, saya bahkan sampai sekarang tidak pernah mempublikasikan nama lengkapnya. Dan waktu itu saya merasa berhak bilang saya tidak oversharing.

Tapi lama-lama toh saya berubah. Apalagi stories yang tidak menuntut foto bokeh dengan editing indah. Makan apa di-share, minum apa difoto dulu, sedang di mana juga difoto.

Mau apa sih sebenernya?

Saya mulai mempertanyakan diri saya sendiri. Saya jadi merasa lebih dekat pada hidup orang tapi makin asing pada hidup sendiri.



*

Di antara kalian pasti sekarang ada yang berpikir oh itu gejala FOMO alias Fear of Missing Out. Bisa ya bisa tidak tergantung definisi FOMO-nya.

Kalau kalian perhatikan, saya malah jarang ikut-ikutan komentar hal yang sedang ramai. Buat saya FOMO itu ketika ada sebuah topik ramai dibicarakan orang, maka kita ikut juga membicarakannya baik di status atau pun di komentar karena takut dianggap ketinggalan. Atau ketika ada sesuatu yang sedang hits, langsung ingin ikut juga punya atau membeli.

Saya tidak. Saya belum pernah mengantri berjam-jam demi makanan, saya tidak pernah ikut komentar apapun yang sedang ramai di social media melalui status atau komentar, saya tidak pernah ikut menggunakan kata “kekinian” hanya karena kata itu sedang tren. Ya tau sendirilah anaknya suka sebel kalau mainstream, so does it count as FOMO?

Yang saya takutkan itu sebenarnya tidak ada! Saya hanya senang melihat-lihat foto orang, apalagi foto yang aesthetic dan dipikirin banget gitu bukan foto asal. Saya senang buka-buka profile orang dengan foto bagus dan mengira-ngira dia pakai filter apa dan editnya gimana.

Instagram jadi procrastinate yang sangat berlebihan.

Siang itu akhirnya saya kesal karena mendapat tangan saya sekali lagi membuka ponsel HP dengan tidak sadar dan scroll timeline Instagram. Saya tutup aplikasi itu dan saya delete. Tak pikir panjang saya juga delete Twitter dan Facebook.

Padahal saya jarang sekali buka Facebook. Dari urutan keseringan membuka dan memposting sesuatu, saya paling sering buka Instagram, kemudian Twitter, baru Facebook. Tapi ketiganya saya hapus karena saya takut kalau saya hanya menghapus Instagram, saya akan tetap terjebak di ponsel dan kembali scrolling. Membuka Facebook atau Twitter.

Saya menghapus Instagram tepat di posisi post saya 999 posts, nggak sengajalaahh ngapain sengaja. Saya tidak pasang target kapan akan kembali, pokoknya saya ingin mereka tidak ada di ponsel saya dulu untuk sementara waktu. Saya bilang JG bahwa saya capek ketergantungan social media dan dia cuma ketawa aja. Saya bilang saya ingin sendiri dulu.

Karena selain urusan terobsesi juga ada peer pressure. Tapi soal peer pressure ini kita ceritakan lain waktu ya. :’)

Jelas ada juga unsur peer pressure karena kalau nggak mah pasti kita semua hanya selfie sekali lalu langsung upload kan? Ini nggak. Selfie dulu yang banyaaakkkk baru kemudian dipilih yang menurut kita paling bagus. Yang idungnya keliatan agak mancung, yang pipi keliatan agak tirus, yang mata keliatan nggak sayu. Capek banget kaya gitu.

Dulu saya sama sekali nggak punya masalah self esteem dan pede-pede aja sama diri sendiri. Sekarang? Perasaan sih masih pede, tapi kok ya pilih foto diri sendiri aja lama, edit sana sini dulu biar nggak keliatan gendut blablabla. Yang kaya gitu masih ngaku percaya diri? Tsk.



*

Siang itu dilalui dengan santai karena toh sambil kerja. Mau share apa? Foto kubikel?

Malamnya kami ke UGD karena Bebe diduga cacar dan di sini cobaan sebenarnya dimulai. Saya ingin sekali share! Sampai deg-degan karena saya ingin share Bebe yang sungguh lucu pakai konstum Gecko PJ Masks sambil diperiksa dokter. Saya ingin ambil video dia berpose Super Gecko Muscle di depan apotek rumah sakit. Dan banyak lagi. Tapi saya bertahan.

(Baca cerita cacar air Bebe di sini)

Saya foto dia, saya videokan, tapi tidak saya share di mana-mana. Mau share di mana? Aplikasinya pun tak punya. :)))

Dan itu terjadi sampai dua hari berikutnya, tangan saya masih otomatis meng-unlock ponsel dan langsung memencet icon tempat sebelumnya Instagram berada. Icon itu bergeser menjadi Line yang sebelumnya ada di sebelah Instagram. Berulang kali dalam sehari saya melakukan itu, tidak sengaja memencet Line karena menyangka itu Instagram. I am THAT addicted.

Dalam dua hari itu banyak sekali yang ingin saya share, apalagi kami cuti dan di Bandung. Saya nonton Kick Andy dengan bintang tamu Doni ‘Animal Defenders’ dan Davina ‘Garda Satwa’. RASANYA INGIN SEKALI NGE-TWEET! Tapi saya bertahan. Otak saya otomatis meramu kalimat apa yang seharusnya saya tweet. saya akan tulis ini, kemudian reply dengan ini sambil mention si anu, dan seterusnya. Gila ya udah lebih dari 48 jam dan saya masih nggak inget kalau saya tidak perlu share

Saya akhirnya membuat dua jalan keluar:

📱 Pertama, bertahan tidak membuka ponsel sama sekali. Ketika otak saya otomatis meminta tangan membuka lock, ia langsung mengirim sinyal bahwa yang dicari tidak ada. Maka saya simpan HP dan melakukan hal lain, bermain dengan Bebe, menulis, nonton, apapun. Saya menjauhkan diri dari HP and it’s too damn hard. Saya sangat tergantung pada HP saya dan segala isinya sehingga memaksa berpisah menjadi sangat membingungkan.

📱 Kedua, ketika saya tidak tahan lagi maka saya buka HP dan membuka aplikasi lain. Saya punya satu folder khusus aplikasi news publisher yang biasanya saya pakai kalau sedang mengikuti satu kasus. Baca kronologi berita dari apps itu enak banget loh btw.

Cuma ya saya nggak pernah juga out of the blue buka cuma mau cek headline. DAN ITU SAYA COBA LAKUKAN KEMARIN. But no fun HAHAHA. Akhirnya back to basic, saya buka BuzzFeed dan BoredPanda, sampai saya sadar kalau saya tidak butuh Facebook karena 90% yang saya lakukan di Facebook adalah membaca BoredPanda dan BuzzFeed. LOL

Kondisi ini hanya tiga hari pertama, hari keempat saya mulai terbiasa tidak otomatis membuka HP tanpa sadar. Saya mulai melakukan hal lain, saya mulai sadar kalau tanpa Instagram setiap 5 menit, hidup saya akan baik-baik saja. Mengecek Instagram sehari hanya 2-3 kali sehari pun tidak akan tertinggal apapun karena Stories bertahan 24 jam kan.

*

Hidup tanpa Instagram, saya jadi teringat salah satu ekspat Australia di kantor yang tujuan hidupnya adalah traveling. Dia kerja di kantor saya setahun, jajan di kantin karyawan yang murah meriah, ke mana-mana naik ojek, kost di belakang kantor yang kurang layak demi menabung untuk keliling Indonesia di tahun berikutnya. Surprise-nya bagi saya adalah, dia tidak punya akun social media dan tidak menulis blog tentang perjalanannya. Padahal usianya lebih muda dari saya.

Belum lama ini juga saya nyeletuk ke temen kantor yang juga terobsesi feed Instagram “eh temen gue keliling Eropa tapi foto Instagram-nya sedikit, sayang banget ya!”

Dia spontan bilang “iya ya”. Terus merenung berdua lol.

THEY’RE MAKING MEMORIES, NOT CREATING INSTAGRAM FEED.

Kenapa kami yang bingung coba?

Contoh real yang nggak pernah saya lakukan tapi selalu saya maklumi: nggak apa-apa banget dateng ke suatu tempat demi Instagram, nggak apa-apa banget ngantri makanan hits juga demi Stories, tidak masalah jalan-jalan hunting foto untuk Instagram sampai bawa properti ke manamana. Nggak apa-apalah masa dilarang atau dinyinyirin, ya tujuan orang kan beda-beda.

Saya merasa salah karena ketika ada orang (well, orangnya millennials) yang ternyata TIDAK pernah melakukan itu maka saya menganggap dia “wow kok bisa!”.

Kenapa saya maklum ketika orang mau ribet demi Instagram tapi saya tidak maklum ketika sebaliknya? Kenapa saya tidak mempertanyakan orang mengantri cheesecake dari subuh tapi saya mempertanyakan orang asing yang keliling Indonesia tanpa meng-upload foto?

Saya tidak boleh seperti itu.



Di hari keempat saya sempat upload satu foto karena ada hal yang tidak bisa saya ceritakan di sini (YAELAH), intinya saya kasih a quick update dan ternyata ada juga yang dm saya nanya saya ke mana. Saya hanya upload kemudian saya hapus lagi Instagramnya. Dalam kondisi terharu banget sih huhu masih dicariin orang sementara sayanya kabur tiba-tiba. T_____T (maap kadang emang halu)

Hari ketujuh saya sudah tidak otomatis membuka lock dan mencari icon Instagram. Dan tanpa sadar, pikiran saya lebih tenang karena saya tidak terlalu banyak berpikir untuk orang lain. Saya jadi punya waktu jauh lebih banyak untuk diri sendiri.

*

Sebelumnya saya tidak pernah berhenti berpikir. Pikiran saya berjalan terus dan mencatatnya. Misal saya punya ide apa, biasanya langsung diolah jadi draft kasar blog, caption instagram atau minimal tweet. Jika panjang maka ditulis dulu di notes, jika pendek maka langsung di-tweet.

Tapi sekarang karena pilihannya notes saja, pikiran selintas tetap jadi selintas, bukan lagi langsung diolah untuk dikonsumsi publik. Dan itu bikin saya lebih damai. Bikin pikiran saya beristirahat.

Mbak Mira Sahid pernah bilang intinya "kamu kok kaya kebanyakan mikir?" Iya. Saya mikir terus. Saya nggak pernah berhenti mikir, makanya saya nggak pernah habis ide untuk blogpost, dan itu capek, capek sekali.

Sekarang saya sedikit mengerti apa yang terjadi dengan Michelle Phan, apa yang terjadi dengan Jesse dan Jeanna ‘BFvsGF’. Iya padahal masih jauhhhh, padahal saya masih sebutir kecil debu dibanding Michelle yang sebesar bulan (naon). Maka sebelum saya separah mereka dan benar-benar kabur dari kehidupan maya, saya lebih baik menguranginya dari sekarang.

Internet terlalu luas, jauh lebih luas dari yang bisa kita genggam, jauh lebih dalam dari yang bisa kita lihat. Itu yang membuat saya jadi bingung sebanyak apa yang sebenarnya sanggup saya pikirkan. Saya berpikir terlalu banyak.

*if that makes any sense*

Saya juga nggak akan sok nasihatin, “makanyaaa jangan gitu-gitu amat lah di socmed”. Ya mau gimana-gimana juga terserah orangnya lah. Ini yang bermasalah diri saya, nggak berarti orang akan punya masalah yang sama juga. Saya punya masalah dengan membagi waktu, nggak berarti orang lain akan punya merasakannya juga.

Begitulah.

Jadi ambisius itu capek ya. Hahaha. Mana ambisiusnya di segala lini kehidupan pula. Udalah istirahat dulu ya. Saya jelas tidak akan lagi tiap hari upload foto di Instagram, kalau blog sih sebisa mungkin masih tetap akan di-update ya meski tidak sesering dulu. Saya senang kok sharing di sini, dengan segala suka dukanya hahaha.

Jadi itulah ceritanya kenapa saya menghilang seminggu hahaha. Pada kangen dong biar saya semangat lagi HAHAHAHA. Have a nice day!



-ast-





Bebe Cacar Air

on
Monday, July 24, 2017

Akhirnyaaaa, Senin ini bisa jadi Senin "normal" di mana kami bertiga pagi-pagi udah di mobil untuk kerja dan ke daycare. Minggu lalu cukup heboh soalnya karena Bebe cacar air.

Kenapa heboh? Karena cacar air kan menular, jadi Bebe nggak bisa ke daycare. Walhasil, saya dan JG harus bergantian cuti dan main sama Bebe di rumah.

Oke ini cerita lengkapnya demi pengingat di masa depan!

💉Tanda-tanda Cacar Air 

Berawal dari Rabu malam 12 Juli lalu, malem-malem sebelum tidur saya mandikan Bebe. Wah apa nih ada 3 bintik kecil sekali di leher kanan dan bawah leher belakang. Kecil sekecil digigit semut, kecil banget sampai nggak keliatan amat, kalau diraba baru kerasa jendul. Karena takut gatel, malem itu juga udah saya kasih bedak salicyl.

Saya nggak kepikiran cacar. Karena Bebe kulitnya sensitif dan alergian jadi emang sering muncul merah karena reaksi alergi. Pun sensitif nggak bisa sembarangan ganti sabun karena antara merah iritasi atau ngelotok gitu kulitnya. And they said bayi ASI nggak alergian hih. T_______T

Besok siangnya, supervisor daycare fotoin punggung Bebe dan nanya itu kenapa bu? Saya jawab nggak tau ya, apa biang keringet? Terus supervisornya nanya, apa mungkin cacar bu? Saya masih nggak kepikiran hahahaha.

Pas dijemput mbaknya (bukan supervisor) bilang "bu, menurut aku sih ini cacar bu. Ke dokter aja bu, aku yakin deh ini cacar" Memang mbak daycare itu juara banget deh buat gini-ginian hahaha, anaknya banyak sih yaaa. Emangnya saya, anaknya cuma satu lol.

(Baca semua tentang daycare di sini)

Saya iya iya aja, malah bilang "tunggu besok deh, kalau besok jadi banyak baru ke dokter". Abis ngomong gitu kok ya jadi panik sendiri hahaha. Kalau besok beneran banyak masa malah baru ke dokter? Ya udah pas JG dateng akhirnya langsung minta ke UGD aja biar tenang.

Dan cobaannya banyak huhu. Macet ampun-ampunan karena pas ganjil, sementara plat nomer mobil kami genap. Mau ke Semanggi aja muter-muter lewat Karet deuh. JG hampir putus asa, duh macet banget, duh laper aku tadi nggak makan siang, duh ini ono. -__________-

💉Di UGD

Btw saya dulu nggak tau kenapa banyak orang parno sama UGD. Pas minggu depannya JG ke UGD RSUD di Bandung saya baru tau kenapa orang parno hahaha. Next post ya!

Kali ini sih kami ke RS Jakarta, pokoknya kalau UGD pasti ke sini karena nggak pernah rame dan parkir gampang. Bebe lagi seneng banget karena baru dibeliin kostum PJ Masks dan dia keukeuh masuk RS pake kostum. -_______-

Diperiksa dokter pake kostum juga dan jumawa banget, mana dokternya cantik dan juga ikut manggil dia dengan "Gecko". Diperiksa jadi lancar banget karena Gecko-nya kalem abis. Dan iyes, positif cacar.


Kami pun nanya kok bisa ya, ketularan di mana? Kata dokternya "bisa di mana aja bu, di mall atau di tempat umum lain. Virus cacar kan nular lewat udara dan bisa tahan di udara sampai 24 jam"

Saya dan JG bengong di tempat. T_______T

Bengong bukan karena shock Bebe cacar hahahaha. Ya nggak apa-apa sih cacar, penyakit yang umum lah ya di kalangan anak-anak zzz. Tapi kami mikirin gimana nih nggak bisa masuk kerja? LOL.

Kata dokternya bagus ketauan masih awal gini jadi bisa langsung ditekan virusnya pake obat. Malem itu masih 3 biji juga bintik kecilnya tapi dokternya udah ngeliatin beberapa area dan bilang "di sini nanti muncul bu, di sini juga, blablabla"

Terus ya udah diputuskan ganti-gantian cuti deh! Sampai saya nemu ide cemerlang: KITA KE BANDUNG AJA!

Pertimbangannya rumah ibu di Bandung lebih besar dibanding kontrakan di Jakarta jadi Bebe nggak akan bosan harus berhari-hari di dalam rumah. Kedua, Bandung dingin, in case Bebe lari-larian di dalam rumah pun dia nggak bakal keringetan dan nggak bikin cacarnya gatel. Ketiga, nggak perlu mikirin masak dan makan hahahaha.

Malam itu mendadak packing dan oke besok pagi berangkat ke Bandung!

💉Di Bandung

Pagi sebelum berangkat, bintik kecil itu akhirnya jadi besar segede jagung dan isinya air. Nah kalau gini baru saya yakin ini cacar hahaha. Tapi ditanya gatel apa nggak jawabannya nggak. Bebe juga nggak demam. Katanya makin muda kena cacar, makin nggak berasa apa-apa.

Saya SD kena cacar dan gatelnya ampuuunnn. Pengen garuk juga nggak boleh kan. Jadi ya inget betapa tersiksanya. Bebe mah kalem aja kaya nggak sakit sama sekali. Lagian Bandungnya emang adem banget, pagi-pagi 17-19 derajat celcius. Tengah hari aja cuma 23-24 gitu enaaakkk.

Cuma cukup repot karena saya bener-bener jagain biar dia nggak keringetan banget. Sedikit keringetan langsung ganti baju. Sedikit-sedikit dikasih salicyl biar cepet kering. Untungnya yang banyak itu di punggung jadi Bebe nggak sadar kalau itu sebenernya parah. Di perut cuma ada 4, dua besar dua kecil. Di kaki 1, di tangan beberapa, di muka cuma 3 kecil-kecil pula. Total saya hitung cuma 27 titik.

Sedikit banget, nggak keliatan cacar lah. Liat anak temennya JG yang cacar juga, se-muka aja kayanya lebih dari 20 deh, kasian huhu. Dan biar dia kalem akhirnya dilibatkan untuk pake salicyl jadi dia bertugas ngebedakin perut dan kaki, saya bedakin punggungnya. Sehari 3 kali sis kaya gitu, bersin-bersin gatel idung banget kena bedaknya.

Hari Minggu udah kering semua yeaaayyy!

Senin siang pulang ke Jakarta karena ibu dan ayah harus ke Makassar. Selasa Rabu saya di rumah, Jumat Sabtu JG di rumah. Jumat sebagian besar udah copot, Sabtu udah copot semua. Senin ini kembali ke daycare yeaaayyy!

Selain ganti baju, minum obat juga peer banget karena tiap minum obat saya harus akting. "WAA OBATNYA WANGI SEKALIII. ENAK YA!" atau "EH INI OBAT APA SIH KOK ENAK? XYLO HEBAT YA MINUM OBATNYA PINTAR!".

Obat wangi yang dimaksud adalah vitamin doang. Obat benerannya (anti virusnya) itu puyer dan nggak ada rasanya sama sekali, jangan-jangan itu tepung lol. Sekali dicampur ke air minum dia dan habis. Berikutnya sesendok vitamin langsung taro puyer atasnya, jadi sekali hap langsung masuk dua obat. Kulelah ekting, maklum bukan ektris. T_______T

💉Yang dilakukan saat Bebe cacar

Bebe sembuhnya cepet banget. Tiga hari kering semua, cuma saya emang nunggu copot semua dulu luka keringnya baru masuk daycare karena takut nularin orang.

1. Ganti baju sesering mungkin. Bebe ganti baju 4 kali sehari, tiap ganti baju dibedakin ulang. Pertimbangannya kalau ada yang pecah, pecahannya nempel di baju, takut jadi bikin bintik baru di tempat lain. (ini entah bener apa nggak secara medis)

2. Makan banyak dan obat jangan kelewat. Minum vitamin dan madu. Karena cacar emang harus dilawan dengan daya tahan tubuh baik.

3. MANDI! Kalau nggak mandi gatel ih. Kata dokter mandi aja pake dettol biar sekalian matiin kuman-kuman. Bebe malah berendem air anget pake dettol. Kalau bule-bule gitu berendem oatmeal dong katanya biar nggak gatel.

4. Jangan minum air kelapa sekaligus sama obat. Dulu katanya minum air kelapa biar merah-merahnya cepet keluar. Tapi lebih logis penjelasan air kelapa menetralkan obat sih. Hahaha. Terserah tapi kan yang penting minum air putih aja yang banyak.

5. Jangan digaruk takut jadi bekas. Bebe nggak ngerasa gatel untungnya dan dia nggak colek-colek bekasnya sih untungnya juga. Lebih karena nggak ngerti kali ya. Haha

Saya pake salicyl doang, beberapa orang nyaranin acyclovir dan udah beli. Cuma kalau salep gitu peer banget kan harus ditotol satu-satu. Mana kesentuh dikit aja Bebe ngamuk. Akhirnya ya bedakan aja. Kalau bedak kan tinggal tumpahin aja yang banyak ke punggung terus usap dikit juga rata.

*

YAAA BEGITULAAHHH CERITANYA. Capek ya. Nulisnya capek sampai males selip-selipin link related post hahaha.

Kok bisa cacar sih emang nggak vaksin? Jadi lewat dua tahun dan semua vaksin "wajib" selesai saya blas nggak cek-cek buku vaksin lagi. Pas kemarin rame kempen MR saya jadi cek dan woiyaaaa selain MMR belum PCV juga ketunda-tunda terus.

PCV sama Hepatitis A lah akhirnya. Terus dokternya bilang "abis ini cacar air ya bu" dan nulisin tanggal cacar air bulan Agustus. Minggu depannya Bebe cacar hhhh. Jadi nggak usah vaksin cacar kan ya kalau udah gini?

Anyway selamat hari Senin semuanya! Semoga sehat-sehat semua ya biar kerjanya lancar!

-ast-




Just A Quick Update

on
Wednesday, July 19, 2017

Halo semuanya. Sorry for being MIA. Terharu deh saya menghilang terus ada yang nanya saya ke mana. T______T

Banyak sekali yang terjadi sepanjang minggu lalu. *lap keringet*

Intinya Bebe cacar air, dan yah karena nggak punya mbak jadi saya nggak masuk kerja. Baru mau masuk kerja besok, itu pun gantian JG yang cuti besok sama Jumat. Demi mengkarantina Bebe, demi nggak nularin ke anak lain di daycare.

Bukan hanya itu, saya juga delete Instagram, Facebook, dan Twitter sejak hari Kamis minggu lalu. Enam harian saya nggak pake social media dan banyak yang bisa saya ceritakan soal ini.

Iya sih beberapa hari lalu sempet upload foto, itu dalam perjalanan Bandung - Jakarta. Tapi cuma upload terus delete lagi Instagramnya. Saya lagi berusaha nggak mau tergantung sama social media. Sebelumnya mah tergantung bangeett. Lengkapnya nanti saya cerita di blog post terpisah ya.

Jadi ya, minggu ini hectic sekali. Mana di saat Bebe sedang cacar, JG sempet masuk UGD pula karena hal remeh tapi bikin drama banget. Ini juga worth blog post terpisah. Hahaha.

Intinya setelah puasa socmed termasuk blog selama seminggu saya senang sekali. Serasa fresh dan nggak diburu-buru apapun. Lagi membiasakan diri baca berita langsung di aplikasi berita dan bukannya dari socmed. Lagi coba habit baru yang berat sih emang karena udah bertahun-tahun dilakukan.

Meanwhile harus sambil nyuapin Bebe, akting agar dia mau minum obat, menjaga dia agar nggak berkeringat, gantiin baju sesering mungkin dan ngebedakin biar cepet kering cacarnya. Life is hard zzz.

Bebenya udah mau sembuh kok. Dia cacar dikit banget cuma 27 titik (DIHITUNG LOH) karena baru ada merah langsung dibawa ke rumah sakit jadi langsung ketauan dan dikasih antivirus. Cuma karena cacar katanya masih nularin meski sudah kering, jadi kami masih di rumah. Sebagian udah copot sih kering-keringnya, tapi sebagian yang gede-gede belum.

Jadi tampaknya saya baru akan bisa rajin nulis lagi minggu depan. Punya banyak banget draft sih dan pengen share ke kalian juga.

Tungguin aku minggu depan yaaa! :)

-ast-