-->

Image Slider

Rumitnya Menikah

on
Monday, August 7, 2017
Saya tidak bicara dari sudut pandang agama ya. Kalau mau dilihat dengan sudut pandang agama apapun silakan, tapi mungkin tidak akan sesuai. :)


Di usia saya sekarang, lingkungan pertemanan saya rata-rata sudah menikah dengan dua anak. Usianya memang sudah masuk untuk punya dua anak. Usia ideal bagi society, belum tentu ideal bagi diri sendiri karena toh pada kenyataannya jumlah anak tidak berbanding lurus dengan kebahagiaan rumah tangga.

Ada yang terus menerus bertengkar karena suami selingkuh berkali-kali tapi tetap hamil lagi, made up sex that only made the baby but not the family. Bayinya jadi tapi hubungan suami istri tetap berantakan. Anak kedua pula. Istrinya nggak kerja pun.

Ada pula yang memaksa menikah padahal tidak satu prinsip dengan calon suami, dengan alasan berharap suami bisa membawa ke kehidupan yang lebih baik. Tapi ternyata tidak. Bagaimana bisa kalau definisi "hidup lebih baik"-nya pun berbeda? Hidup bersama orang yang tidak satu value itu melelahkan. Mau bercerai kok ya suami terlalu sempurna? Punya alasan apa?

Ada yang suaminya mendadak mengubah janji setelah menikah. Bayangan menikah menyenangkan jadi sebaliknya. Me time jalan-jalan dengan teman setelah semingguan mengurus dua anak tidak diberi izin. Padahal sebelum menikah sudah ditanya bolehkah ini dan itu, jawabannya selalu boleh.

Bahkan hal "sesederhana" melarang istri bekerja saja bisa jadi urusan panjang jika istrinya memang tipe yang senang bekerja dan tidak bisa hanya diam di rumah. Belum lagi urusan mertua, urusan sekolah anak, urusan suami yang tidak mau bantu pekerjaan rumah tangga, suami yang tidak mau dititipi anak, dan buanyak lagi.

(Baca: Beda Prinsip Lebih Baik Tidak Jadi Nikah Loh!)

Kalau mendengar cerita-cerita ketidakbahagiaan dalam pernikahan saya selalu merasa bersalah karena masih suka ngeluh hahaha. Meski satu prinsip pada segala hal, ya kami juga punya masalah kecil yang padahal bisa diabaikan. Padahal dibandingkan masalah orang lain sih duh remeh banget. Untuk hal-hal lain yang besar dan melelahkan, so far kami selalu satu suara.

Menghadapi Bebe, maka kami vs Bebe, menghadapi mertua dan keluarga saya maka kami vs mertua dan keluarga. Itu yang membuat kehidupan pernikahan saya rasanya tidak serumit orang-orang. Orang-orang yang seumuran saya loh ya, yang baru menikah 5 tahunan.

Karena banyak ya ternyata yang suami selalu membela ibunya dibanding istri. Pokoknya istri harus nurut ibu aja mau ibunya logis apa nggak. "Kamu nurut lah sama ibu aku!" Wow wow. Kenapa nggak kita diskusikan dulu berdua kemudian ambil keputusan BERDUA dan jelaskan ke mertua hasil keputusan BERDUA itu? Kan kamu nikahnya sama aku bukan sama ibu kamu?

T________T

Padahal mertua nyuruhnya itu punya anak lagi meski anak pertama masih kecil, biar capek sekalian katanya. Istri nurut ajalaahhh. Duh sakit kepala mikirinnya. Punya anak ya, mau sekarang mau nanti ya sama-sama capek. Kan terserah yang mau ngelahirin dong kapan mau beranak lagi. Kalau suami dan ibunya berkomplot nyuruh punya anak sementara yang hamil masih keberatan masa dipaksa? Emang perempuan hidup cuma buat jadi medium beranak doang?

T________T

DAN INI TRUE STORY. Semua contoh di atas tadi cerita beneran. Dari orang yang nikah baru 3-5 tahun! Nikah baru 3-5 tahun aja repotnya udah kaya gini wow. Kalau kata Nahla, bayangkan harus hidup kaya gitu 50 tahun lagi.

Karena sering denger curhat model seperti ini, maka sekarang kalau ada orang bilang duh pengen buru-buru nikah, saya dan JG pasti kompak bilang "Yakinnn? Duh pikir-pikir dulu lah". Dan kami serius soal itu. Kami tidak mau kalian jadi orang berikutnya yang curhat karena "nikah kok gini amat ya". Hiks.

Pusing ya? Iya nikah itu pusing banget, complicated.

Dan ya, orang-orang menikah ini selalu bicara pernikahan seolah menikah adalah sesuatu yang paling menyenangkan di dunia! Well, no, except you find the perfect one.

Katanya "nikah aja nggak apa-apa, iya sih pusing, tapi enaknya juga banyak" YA ITU KAN ELO. Saya sih nggak berani menyarankan orang menikah hanya karena pernikahan saya baik-baik saja. Ya saya baik-baik aja, orang lain? Kan belum tentu.

(Baca: Selingkuh dan Pelakor)

Banyak yang baik-baik saja tapi banyak juga yang berusaha terlihat baik-baik saja. Banyak yang tampak mesra di social media padahal menangis setiap malam. Banyak yang di luar sama-sama terus, di rumah mah ya masing-masing aja kaya nggak kenal. BANYAK. Banyak yang menikah socially bukan personally.

Karena sejak awal, banyak yang pernikahannya itu soal "social acceptance". Ya dalam tanda kutip. Menikah karena tertekan lingkungan, menikah karena memang merasa sudah usianya harus menikah, menikah karena keluarga meminta menikah, menikah karena ya mau ngapain lagi bro, semua temen udah nikah. Ya nggak tau, ngapain kek, keliling dunia mungkin?

Makanya menentukan tujuan menikah itu penting dibicarakan sejak awal. Oiya kita mau nikah, apa tujuannya?

Misal tujuan menikahnya adalah "melanjutkan keturunan" maka setelah menikah target berikutnya adalah punya anak dong? Terus ternyata nggak dikasih anak. Jadinya logis kan kalau salah satu minta cerai karena nggak bisa punya anak? Atau misal kalau istrinya yang ternyata punya masalah kesehatan, jadi logis dong kalau suami minta poligami? Ya karena memang tujuan awalnya kan melanjutkan keturunan.

Saran saya sih cari yang tujuannya hidup bersama selamanya deh. Nonton film Test Pack sama calon pasangan, tanya pendapatnya kalau itu terjadi sama kalian. Bukan promosi, tapi film itu ngasih gambaran banget pasangan yang ideal menurut saya. Menurut saya loh yaaa. :)

Tapi tenang dulu, ada kok pasangan yang bener-bener bahagia. Kategori ini pun masih terbagi dua. Hahaha.

Pertama, yang satu prinsip hidup jadinya santai sama segala sesuatu. Perfect match made in heaven. Berantem cuma urusan siapa yang mandi duluan lol. Satu visi misi, nggak saling menuntut suami harusnya gini, istri harusnya gitu!

Kedua, salah satu sebenernya sebel tapi ya udah terima ajalah daripada pusing. Telen aja udah, eh sori, ikhlas aja udah. Namanya juga nikah ya kan, harus saling ikhlas, harus toleran namanya juga dua kepala jadi satu. :)

(Baca: Mengurangi Pertengkaran Rumah Tangga)

Masalahnya, ikhlas itu nggak gampang. Nggak semua orang punya stok ikhlas luber-luber. Ada yang di depan suami dan keluarga sempurna banget sebagai istri dan ibu. Tapi di social media ya ampuuunnn, 180 derajat. Terlihat sekali dia butuh teman untuk bicara, butuh teman untuk berdiskusi. Nyamber sana-sini, komen sana-sini. Kan kasian jadinya.

Atau yang lebih bisa menahan diri biasanya hanya curhat pada sahabat. Keluhan-keluhan yang tidak pernah terbayang karena di luaran sana mereka adalah pasangan sempurna yang bikin iri semua orang. Sahabat-sahabatnya ini yang jadi ikut sedih huhu kasihan tapi nggak bisa bantu banyak juga. :(

Inti dari semua ini adalah. Pikir yang banyak sebelum nikah! Tanya pertanyaan-pertanyaan ini ke calon pasangan! Dan perempuan harus mandiri, tidak mandiri, tidak mau punya penghasilan tidak apa-apa tapi siapkan storage untuk ikhlas yang banyak yaaa. :)

Kalau setelah ini kalian jadi ragu menikah, bagus dong. Keraguan akan jadi kehati-hatian, dan menikah adalah keputusan yang harus diambil dengan hati-hati. Percayalah bahwa dengan ragu dan hati-hati, kalian akan menemukan seseorang yang bisa berbagi prinsip hidup selamanya. Menjalani hidup tanpa jadi orang lain, tanpa harus selalu bersembunyi di balik kata ikhlas.

Karena sesungguhnya, keikhlasan tidak diperlukan lagi di sebuah hubungan yang berbagi prinsip hidup yang sama. Your life would be so much easier. Toleransi pasti ada, tapi sungguh di hal-hal yang sangat kecil sampai tidak pantas disematkan sebagai sebuah keikhlasan. :)

Untuk kalian yang belum menikah, merasa menikah terlambat, tidak menikah, atau sudah berhenti menikah, hal apapun tentang pernikahan tidak mengurangi sedikit pun dari harga kalian di dunia ini. You're all worth it.

Selamat hari Senin! Baca tulisan tentang pernikahan lainnya di sini ya! Tentang Nikah

-ast-

Untuk kesayangan aku, @jago_gerlong. Terima kasih untuk jadi kamu yang seperti aku. Untuk diskusi masalah yang tidak pernah panjang, untuk pertengkaran yang tidak pernah bermalam, untuk jadi jawaban atas semua kebimbangan. I love you 💛 (TOLONG INI DISCREENCAP DAN BELIIN AKU IPHONE 7 DONG! HAHAHA)




Memanjakan Bebe

on
Friday, August 4, 2017

Akhir-akhir ini Bebe sering nangis. Sering banget. Dari level nangis akting ke pojokan terus sesenggukan tanpa air mata, sampai nangis kejer beneran berurai air mata, ngamuk, sampai ngompol.

Sejak Senin sampai kemarin (saya nulis ini hari Kamis) setiap pagi Bebe nangis. Di mobil dia meluk saya kenceng banget dan bilang "aku nggak mau ke daycare". Kemudian saya leleh dan anter dia ke daycare, bukannya turun di kantor. Di daycare dia ngamuk.

Terus saya mellow gitu ke JG, Bebe kenapa ya, sedih deh jadi gampang nangis blablabla. Saya kemudian jadi baca-baca tentang perkembangan balita tiga tahun, baca milestone, baca apa yang dirasakan orangtua, baca soal family tradition and discipline, dan baru kerasa digetok. Ternyata masalahnya ada di saya, bukan di Bebe.

Faktor utamanya adalah karena saya baru ngerasa sayang banget sama Bebe! After 3 freaking years! Dulu pas Bebe 3 bulan dan pertama kali masuk daycare, orang-orang pada bilang "ya ampun tega amat bayi kecil ditaro di daycare!".

(Baca: Tips Adaptasi di Daycare)

Dan saya nggak paham kenapa harus nggak tega sih? Tega-tega aja ah! Hari pertama ok saya nangis karena khawatir, tapi hari-hari berikutnya ya biasa aja. Sayanya nggak drama atau apa. Ya itu tadi, ternyata dulu saya belum ngerasa se-attach itu sama Bebe. Huhu. Maaf ya, Be. :(

Makin gede wow Bebe makin menyenangkan ya, bisa diajak komunikasi, bisa diajak ngobrol, nggak ngebosenin, nggak usah nenenin, segala-gala bisa sendiri. Saya jadi seneng banget deket-deket dia, main sama dia, dan ngobrol sama dia. Baru kerasa wow punya anak itu lucu banget ya!


Saya overwhelming sama semua kemampuan dia dan lupa kalau dia sebenernya masih balita dan harus diperlakukan sebagai balita. Saya lupa kalau saya harus membiarkan Bebe menangis karena anak kecil menangis itu wajar! Anak yang di daycare, anak yang sama nanny di rumah, anak yang sama ibunya di rumah, semua pasti menangis kan kalau memang sedang emosi? Jadi menangis itu tidak apa-apa!

(Saya aja sampai lupa saya pernah nulis 5 Alasan Anak Butuh Menangis)

Saya lupa kalau saya tidak boleh memanjakan Bebe. Saya lupa kalau harusnya saya tegas dan tidak memanjakan dia dengan banyak hal yang sebetulnya tidak perlu. Wah bener-bener sih kalau dirunut ke beberapa bulan terakhir, untuk pertama kalinya saya beli macam-macam barang yang terhitung nggak murah untuk Bebe. Dari baju, sepatu, mainan, sampai sepeda.

Padahal sejak bayi Bebe nggak pernah saya belikan barang apalagi mainan. Beli mainan murah aja nggak! Mainan Bebe dibeliin sama ibu saya atau hadiah dari orang. Saya dulu sama sekali nggak bisa relate sama ibu-ibu yang mengeluh model:

"setelah punya anak apa-apa belanja buat anak dulu, ibunya jadi jarang belanja"

atau

"ke mall niatnya beli tas sendiri, sampai sana malah beliin sepatu anak"

No, saya nggak pernah kaya gitu. Bahkan segala baju lucu aja nggak pernah saya beliin. Saya tetep belanja banyak untuk diri saya sendiri, Bebe secukupnya aja, sepatu aja cuma punya satu, nggak kaya ibu-ibu lain yang sepatu anaknya banyak banget hahaha.

Sampai beberapa bulan lalu hhhh. Tiba-tiba kok rasanya beli banyak barang banget buat Bebe. Sampai saya berulang kali bilang ke JG, he's so spoiled!

Bilang doang tapi, tiap dia minta apa juga dikasih. Anaknya nggak minta apa-apa juga tiba-tiba saya beliin apa gitu. T_____T Minta barang khususnya ya, cuma kalau nolak mandi, nolak berhenti nonton, gitu-gitu sih masih dimarahin.

Padahal dari dulu dia tantrum banget kan, tapi dulu sayanya tega. Karena dulu dia nangis doang sambil marah-marah, kalau sekarang nangis pake embel-embel "aku maunya ibu" atau "aku nggak mau mainan, aku mau ibu". Jadinya sayanya leleh deh.

Dan ternyata iya, ngasih barang-barang yang dia mau langsung seketika itu efeknya lumayan kerasa. Bebe yang sebelumnya mandiri dan jarang nangis, sekarang jadi nangisan banget.

Sedih deh ah. Langsung merasa bersalah karena jadi ibu yang kurang tegas dan kalah sama anak.



Akhirnya nemu ini di babycenter and I plead guilty! Yang merah dari babycenter, dan yang ditulis biasa adalah perasaan saya ya. (deuh si eceu, apa-apa pake perasaan lol)

Leaving your child for the day or evening can be tough. Parents often have separation anxiety too – and sometimes a parent's anxiety can fuel it in the child. If your child is having a hard time saying goodbye, you might want to examine your own attitude toward parting. You could be inadvertently causing a problem if:

Ninggalin Bebe kapan pun berat banget rasanya sekarang. Belum sampai pengen resign sih, baru sampai ngerasa bersalah. Dan ya harus diakui ternyata memang attitude saya yang bikin dia jadi manja. Apa aja? SEMUANYA YANG DI BAWAH INI.

🙅 Your goodbyes take more than a minute or two and involve many hugs and kisses, tips, and reminders to the sitter or the child.

Oh tentu saja. Bukan a minute or two lagi, lebih dari 10 menit malah karena harusnya saya turun di kantor ini malah ikut dulu menjauh ke daycare Bebe. Sepanjang perjalanan malah peluk-peluk dan cium-cium terus. Tsk. Padahal dulu memandang sebelah mata ibu-ibu yang kurang kuat kaya gini. *sigh*

🙅 You leave and then return quickly just to check on your child or give one last kiss.

Nggak leave and return quicky sih tapi molor-molorin waktu biar bisa lebih lama peluk Bebe. Hah aku menyesal sekali. :(

🙅 You ask, "Will you miss me?" or are visibly emotional about leaving.

Saya ngomong "Ibu kangen juga kok sama Bebe kalau Bebe di daycare and blablabla kalimat sayang-sayangan". Yang bikin mellow kok ya diri sendiri ah sebel.

🙅 You provide complicated explanations for why you have to go and make elaborate promises about what you'll do together when you get back.

Iya ini ngaku salah. Mana saya sampai iming-imingi mainan! Kalau tidak nangis nanti ibu pulang bawa mainan baru. Kemudian dia tambah drama "aku nggak mau mainan aku mau ibu" T_________T

🙅 Your child's sharp antennae and busy imagination will pick up on your cues. A cheerful, confident attitude goes a long way in making partings pleasant. Keep in mind that it's healthy for a 3-year-old to spend time in the company of other adults, so by making goodbyes short and sweet, you're doing him a big favor.

Ya, kalimat terakhir akan selalu saya ingat. Bebe lebih aman dan lebih produktif di daycare daripada hanya di rumah bersama saya yang nggak bahagia. Saya yang ikut mellow dan sedih banget pas naro Bebe di daycare jadi efek negatif buat Bebenya sendiri. Harus ceria ya nanti lagi! #monolog

source: babycenter 

Tapi ya, jadi orangtua kan pembelajaran seumur hidup nih, ya udah saya terima kesalahan saya dan mulai menata hati serta logika biar bisa kembali tegas sama Bebe. Dan emang kerasa banget loh Bebe manja kalau ada saya doang!

Kemarin pagi akhirnya nguat-nguatin hati dan tetep turun di kantor. Bebe ngamuk di-strap di car seat. Nggak nyampe 5 menit JG chat katanya Bebe udah berhenti nangis dan langsung ceria. YAELAAHHH.

Hari-hari sebelumnya berarti emang sayanya yang drama. Pake aturan nganter ke daycare segala, mandiin, nemenin makan, dan ikut sedih pas akhirnya saya tetep harus berangkat kerja. Besokannya juga sama, pake cium-ciumin terus selama di mobil, ngamuk deh akhirnya pas turun di daycare.

Lagian saya ngapain drama coba, kalau pun Bebe di rumah seharian sama saya, pasti ada aja kok yang bikin dia nangis. Yang ada malah makin gampang ngambek karena saya manjain. Sementara di daycare dia jarang banget nangis.

Well, itulah cerita minggu ini dari saya. Semoga bisa diambil hikmahnya ya bahwa jika merasa anak manja maka bercermin dulu pada perilaku kita sendiri. :)

Selamat akhir pekan!

-ast-




Survey Lovely Sunshine Daycare Jakarta

on
Wednesday, August 2, 2017
Halo, kali ini saya mau berbagi hasil survey Lovely Sunshine Daycare Jakarta Pusat yang terletak di Jalan Danau Poso Benhil. Review di sini bukan berarti saya pernah mencoba menitipkan anak di sini ya, ini hasil survey dan tanya-tanya pada daycare yang bersangkutan. 

Tulisan ini adalah bagian dari review dan survey daycare di Jakarta yang saya lakukan dalam rangka cari daycare untuk Bebe, anak saya yang usianya 3 tahun, jadi sudut pandangnya memang toddler bukan bayi. Ini bisa jadi bayangan aja karena survey satu-satu itu menyita waktu sekali kan. Tapi sebaiknya, ya datenglah ke beberapa daycare untuk survey dulu sebelum memutuskan mau ke daycare yang mana. Baca juga postingan lain tentang daycare di sini. :)


Lovely Sunshine Daycare ini sebetulnya adalah target utama dari calon preschool dan daycare Bebe. Hanya saja tahun lalu saya sempat main ke sini dan rasanya kurang sreg. Tapi waktu itu saya nggak terlalu tanya detail karena memang iseng doang, minggu lalu saya dan JG balik lagi ke sini untuk tanya se-detail mungkin dan ... tetep kurang sreg hehehe.

Ini detailnya ya. Setiap daycare yang saya review, saya tulis detail yang sama supaya bisa dibandingkan satu sama lain.

🏡 Lokasi

Lovely Sunshine ini terletak di Jalan Danau Poso no 157, Bendungan Hilir, Jakarta Pusat. Strategis buat yang kerjanya di daerah Sudirman - Kuningan - Slipi. Daycare di daerah Benhil ini ada beberapa, cuma yang ada preschool-nya hanya Lovely Sunshine ini (cmiiw).

🏡 Kondisi bangunan

Rumah dua lantai, masuk dengan fingerprint jadi nggak perlu ngebel terus nunggu dibukain pintu. Plus point karena nunggu dibukain pintu sebel hahaha. Di lantai satu untuk kelas dari 3 sampai 6 tahun, lantai dua untuk bayi sampai usia 2 tahun.

Anaknya banyak ada 30-an anak tapi menurut saya sih rumahnya terlalu kecil untuk nampung anak sebanyak itu. Ruang mainnya nggak terlalu besar, nggak ada halaman depan cuma ada halaman belakang kecil tempat tangga-tanggaan sama jungkat-jungkit. Kelasnya juga sempit.

Ini lumayan bikin mikir soalnya Bebe anaknya nggak mau diem, di kelas sempit bisa-bisa nggak bebas. :(

🏡 Rasio caregiver dan anak

Di Lovely Sunshine, satu mbak nggak terus menerus pegang anak yang sama. Sistemnya per kelas, jadi tiap kelas ada 1 teacher dan 2 caregiver. Di kelas pre-K untuk usia Bebe, waktu survey ada 6 anak. Masih ok sih ya rasionya. Pas lah.

Caregiver-nya juga dikasih training berkala. Kata supervisor, kalau ada komplain baju tertukar pun caregiver langsung ditegur karena artinya ia kurang konsentrasi. Wow.

🏡 Jadwal harian

Nah di luar ruangan yang sempit, saya nggak sreg sama jadwalnya yang terlalu banyak di kelas. Ini jadwal yang saya tangkep dari pembicaraan sama supervisornya. Baiknya di-confirm ulang ya buibu!

1. Dateng ke daycare pagi-pagi, anak dianter ortu langsung masuk kelas masing-masing
2. Mandi
3. Masuk kelas lagi, makan di kelas
4. Belajar di kelas, dari jam 9-12
5. Makan siang di kelas lagi
6. Tidur siang di kelas lagi (dipasang kasur)
7. Jam 2-6 (bangun tidur siang sampai dijemput), bergantian pakai ruang main dengan kelas lain. main tidak bersama anak yang lebih besar/lebih kecil jadi main di ruang bermain pakai jadwal.
8. Makan sore di kelas

Kok di kelas terus ya? Nggak bebas main di ruang main karena harus bergantian dengan anak kelas lain. Kalau anaknya udah gede dan tujuannya sekolah sih oke ya, kalau saya kan justru tujuannya Bebe main, sekolah cuma tambahan aja kalau dia mau.

🏡 Mandi

Ini juga kurang sreg karena mandinya berdua-berdua, katanya (iyes saya nanya) karena anak banyak sementara kamar mandi cuma satu. Berdua-berdua nggak cowok cewek sih tapi saya nggak mau huhuhuhu.

Dan anaknya emang banyak banget sih, 30an anak kali ya ada.

🏡 Makan

Makannya standar daycare pada umumnya, 3 kali sehari makan berat, sekali buah dan sekali biskuit. Susu bawa sendiri.

🏡 Tidur

Tidur di kelas seperti yang udah saya jelasin di atas. Ternyata banyak daycare dengan konsep kaya gini ya. Saya baru tau, soalnya daycare Bebe sekarang terpisah banget antara kelas, kamar anak cowok, kamar anak cewek, dan kamar bayi.

🏡 Program preschool

Yes ada program preschool dari Pre-K (3-4 tahun), K1 (4-5 tahun), K2 (5-6 tahun). Untuk pre-K masih pakai bahasa Indonesia, untuk K1 dan K2 udah mulai pakai bahasa Inggris. Diajari membaca tapi tidak dipaksa, hanya pengenalan huruf dan angka.

Kami ngobrol dengan teachernya, konsep belajarnya itu disiplin dan konsisten. Karena dengan konsistensi, anak akan disiplin karena terbiasa.

Tiap minggu ada goals untuk masing-masing anak, jadi nggak memaksakan goals yang sama ke semua anak. Kalau anak nggak nyampe goals-nya maka dikomunikasikan dengan orangtua. Cukup oke sih ya menurut aku.

🏡 Mainan

Mainannya lumayan banyak, ada ayunan dan perosotan. Ada rumah-rumahan yang baru dicuci juga pas saya survey. Ada kompor dan masak-masakan yang Bebe suka banget! Ada mobil-mobilan polisi yang bisa dinaikin. Sampai sekarang kalau liat mobil polisi Bebe bilang "itu mobil polisi kaya di sekolah aku". Hahaha.

🏡 Jam buka - tutup - overtime


Buka jam 7, tutup jam 6. Overtime-nya oke loh, ada toleransi waktu 15 menit jadi baru dihitung overtime kalau udah jam 6.15 sore. Pas banget buat saya dan kalian-kalian yang overtime terus hahahaha.

🏡 CCTV

Ada CCTV tapi aku lupa tanya apa bisa diakses orangtua atau nggak. :S

🏡 Toilet training

Ini juga nggak nanya deuh. Lupaaaa.

🏡 Report harian

Report daycare diberikan harian dan report preschool mingguan.

🏡 Punishment

Tidak ada punishment/hukuman. Kalau anak salah karena misal merebut mainan temannya, menurut supervisornya nggak dihukum gimana-gimana, cuma misalnya anak hanya disuruh diam beberapa menit di karpet merah (karpet karet puzzle itu loh).

🏡 Anak sakit

Nggak nanya masa lupa. Tapi pas keliling-keliling sih nggak ada kamar isolasi ya. Tanya sendiri ya buibuuuu!

🏡 Lain-lain

Ada field trip dan main ke taman cuma jadwalnya kurang jelas. Visit dokter anak dan dokter gigi setiap 3 bulan.

🏡 Biaya

Biaya Daycare dan Preschool Lovely Sunshine: Rp 3,2juta/bulan
Admission fee: Rp 2juta
Biaya preschool (tanpa daycare): Rp 1,95juta/bulan

Murah loh itungannya untuk daycare dan preschool. Worth it lah untuk orangtua yang anaknya udah usia preschool dan masih butuh daycare.

Dan namanya daycare ya, cocok-cocokan banget antara orangtua dan daycare itu sendiri. Temennya Bebe udah dua orang preschool di Lovely Sunshine. Dari segi fee bulanan juga itungannya murah dengan pertimbangan biaya daycare Jakarta Pusat yang lain

Oke itu dia review daycare pertama. Masih ada dua daycare lain di sekitar Jakarta Pusat dan Selatan yang akan saya review tapi nantiiii kalau sempet hahaha.

Selamat cari daycare buibu!

REVIEW TWEEDE DAYCARE BENHIL (DAYCARE BEBE 3 TAHUN TERAKHIR)
REVIEW KIDEE DAYCARE BLOK S/SENOPATI
REVIEW HAPPY TREE HOUSE DAYCARE SETIABUDI

-ast-




Galau Preschool

on
Monday, July 31, 2017

Seminggu belakangan saya galau karena preschool. *tarik nafas panjang*

Sebenernya saya sendiri nggak ngotot banget Bebe harus preschool sih karena sebagai ibu yang percaya diri, saya yakin dia nggak butuh-butuh amat preschool. Toh di daycare yang sekarang aja ada guru TK-nya kan sehari dua jam. Di rumah juga kami aktif baca buku, mewarnai, main ini itu yang selevel lah sama preschool hahaha.

Tapi kemudian kegelisahan itu muncul karena melihat progress bahasa Inggris Bebe yang udah keliatan banget dan jadinya pengen preschool bahasa Inggris biar cepet lancar! Itu sebelum saya tau kalau preschool bahasa Inggris itu ya ampun mahalnyaaa. Uang pangkalnya aja bisa Rp 10juta gitu. Langsung sedih karena sebagai kelas menengah, pilihan sekolah itu terbatas banget ya. :|

Selain urusan bahasa Inggris, urgensi cari preschool jadi makin kerasa karena sahabatnya Bebe di daycare, mari kita sebut aja dengan K, hari ini hari terakhir di daycare karena pindah ke daycare yang ada preschool-nya. T______T Sejak beberapa hari lalu saya dan ibunya K WhatsApp-an tentang ini dan saya mellow banget mikirin Bebe nggak ada temennya lagi di daycare yang sekarang.

Karena Bebe anaknya berteman banget, dia pilih-pilih sahabat sejak kecil. Natural mungkin karena sejak bayi di daycare kan, nggak mungkin temenan baik sama semua anak karena ya cocok-cocokan lah sama kaya kita orang dewasa. K ini umurnya emang udah 3 tahun 7 bulan, ibunya udah lebih gelisah lagi dari saya karena anaknya udah hampir 4 tahun tapi belum preschool juga.

(Baca: Pertanyaan Seputar Daycare)

Jangankan ditinggal selamanya (LEBAY BIAR), si K nggak masuk seminggu karena belum pulang dari kampung pas lebaran aja Bebe tiap sore cranky hhhh. Dan karena K keluar, otomatis Bebe jadi anak paling gede di daycare! Satu anak lagi yang seumuran Bebe banget kebetulan juga harus keluar bulan ini karena ayahnya pindah tugas ke Jogja. Duh aku mellow banget deh beneran semingguan ini.

T________T

Agak nggak terima kenapa Bebe tau-tau udah 3 tahun aja hahaha. Kok tau-tau ibu udah harus cari preschool aja sih? Kalau yang ibunya di rumah atau pake mbak mungkin nggak segalau ini ya, karena ya tinggal cari preschool aja kan yang deket rumah. Ini kami harus cari preschool yang deket rumah serta deket kantor, ada daycare-nya dengan biaya bulanan yang masih masuk budget. Huhu.

Karena mau sedih merenung berdiam diri doang mah tak akan berguna, kami pun mulai survey daycare plus preschool seputaran Jakarta Pusat, Jakarta Barat yang nggak terlalu barat, dan Jakarta Selatan yang nggak terlalu selatan. Gini nih akibat rumah di Barat perbatasan Pusat dan Selatan. Bingung sendiri karena kalau di Barat banget atau Selatan banget jadinya jauh.

Tempat pertama yang dikunjungi adalah Lovely Sunshine di Jalan Danau Poso, Bendungan Hilir. Cuma saya nggak sreg sama segala sesuatunya sampai mau nangis karena Lovely Sunshine ini deket banget dari rumah dan kantor. Strategis banget. Cuma ya menurut saya kelebihannya cuma strategis aja.

Lengkapnya nanti saya tulis di blogpost terpisah ya! Seminggu ini tiap makan siang saya dan JG akan keluar muter untuk survey daycare Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan. Tiap abis survey akan saya bikin review-nya sekalian biar bisa kasih informasi juga buat buibu yang mungkin mau cari daycare buat anaknya.

Saya tetep nggak akan info di mana daycare Bebe jadi yang mau tau boleh email atau DM saya di Instagram ya. Agak kurang nyaman kalau harus sebut nama daycare Bebe di tempat umum gini. Nanti kalau udah pindah sih saya akan review lengkap daycare yang sekarang, yang jadi nggak disebut adalah daycare yang baru hehehe. :)

(Bebe sudah akan pindah jadi ini review daycare Bebe yang bikin saya galau. Bebe di sini 3 tahun pas! Tweede Daycare Benhil)

Kami akan survey ke 4 daycare yang secara jarak masih masuk akal untuk dikunjungi. Syarat saya sih nggak muluk-muluk (BOHONG) yang penting banget banget bangetnya adalah kamar anak laki-laki dan perempuan terpisah atau minimal bangetnya tiap anak punya kasur sendiri.

Ini penting karena saya geli banget mikirin Bebe harus gantian kasur sama anak lain. Kalau anak lainnya lagi sakit gimana?

Karena ternyata banyak daycare yang nggak peduliin hal ini dan anak bebas tidur di kasur yang mana aja. Plis aku nggak bisa bayanginnya pun. Saya maunya Bebe punya kasur sendiri dan itu jadi area pribadi dia kaya di daycare yang sekarang, bisa bawa selimut dan boneka sendiri. HUAAA MIKIRIN GINIAN AJA MELLOW.

T________T

Untuk preschool-nya, saya dan JG udah berdamai dengan kenyataan bahwa Bebe nggak akan bisa masuk preschool bahasa Inggris jadi ya kami harus bertahan hanya berbahasa Inggris di rumah meskipun campur-campur karena lelah banget sis harus ngomel pake bahasa Inggris sementara anak yang dimarahinnya nggak ngerti lol. Untuk percakapan biasa dan instruksi sederhana sih masih diusahakan sebisa mungkin pakai bahasa Inggris.

Jadi ya yang penting ada program setara preschool dan Bebe bisa belajar sesuatu yang baru di sekolah barunya nanti. Semoga juga bisa nemu sahabat baru yang bikin Bebe nyaman dan betah di daycare-nya. Aamiin.

Doakan kami semoga cepet ketemu daycare baru yang cocok ya!

(Baca postingan seputar daycare di sini!)

-ast-




WHEN IT'S ONLY JG & AST #134 - #140

on
Friday, July 28, 2017

Hai haiii! Kembali lagi dengan percakapan kami. Saya tuh maunya sering-sering posting ini tapi kadang suka lupa nyatet kalau ada yang lucu jadi lewat aja. Semoga menghibur ya!

#134 Sampah

Di mobil, di tol menuju Bandung.

JG "Sayang aku mau buka jendela ya?"

Saya: "Ih ngapain!"

JG: "Aku mau buang sampah sembarangan"

Saya: "IH NGAPAIN IH!"

JG: "Sampahnya upil"


*

#135 Mangga atau manggis?

Di kantor, jam makan siang JG telepon.

Saya: "Kamu makan siang apa?"

JG: "Aku makan telor asin doang sama mangga, tapi aku nggak tebak sih mangganya"

Saya: "Ya emang nggak usah ditebak sih mangga mah, manggis keles itu mah"

JG: "HEHE"

-________-

*

#136 Tabung gas

Pas pulkam lebaran, tabung gas dicopot dong selangnya. Balik lagi ke Jakarta kompornya kok jadi nggak nyala. JG uprek-uprek di dapur sendiri lamaaaa banget sampai akhirnya dia nyerah.

JG: "Sayang kompornya ga bisa nyala nih, kamu sini dong"

Saya jalan ke dapur kemudian kompornya langsung nyala!

Saya: "Tsk, aku moral support ya"

JG: "Tabung gas aja takut sama kamu apalagi aku"



*

#137 Ponari

Mbak Sary Melati punya dua Alaskan Malamute, gemes banget anjing gede gitu. JG sebagai pecinta anjing langsung bahas terus.

JG: "Nama anjing mba Sary kaya ee loh, namanya poo"

Saya: "Ganti nama aja"

JG: "Iya sebenernya itu dari si Po Kungfu Panda sih"

Saya: "Kalau gitu ganti nama jadi ponari aja"

krik krik

JG: "Oke sayang mulai sekarang aku lebih baik diam daripada merusak imajinasi ponari kamu ok!"



*

#138 Warisan

Bebe punya mainan alat berat gitu, salah satunya ada truk sampah (dump truck). Bebe ingin tisu disobek kecil dibulet-bulet dijadiin sampah. PR banget kan ya, buletin-buletin tisu sampai banyak. Pas udah selesai malah diacak-acak! Bertaburanlah itu tisu di seluruh kasur.

Ibu: "Kok diacak-acak sih? Ah ibu nggak mau bikinin lagi ah buat Salo ah!"

JG: "Be tuh dengerin ibu, kalau ibu marah kamu nggak dapet warisan loh nanti"



*

#139 Oncom

Saya kebiasaan bilang oncom sebagai pengganti kata "kamp*et" atau "sialan" gitu konteks becanda ketawa-tawa ya. Kan lebih sopan aja lol. Suatu hari lagi ngobrol sama JG di mobil, dipikir Bebe nggak dengerin.

Saya; "Ah kamu oncom"

Bebe motong: "Appa oncom ya ibu?"

Saya: "Iya, kamu anak oncom"

Bebe: "Aku anak ibu bukan anak oncom"

HAHAHAHA

*

#140 Quote of the day


"Jika diam itu emas maka pacar kamu yang ambekan itu pasti sudah kaya,"
-- @jago_gerlong, 30 tahun, karyawan swasta.

-ast-