Drama Daycare

on
Wednesday, January 4, 2017

Seperti sudah diduga sebelumnya, Bebe akan drama setelah 10 hari liburan sama saya.

T_______T

Iya jadi kemarin saya dan JG memutuskan mengambil cuti terlama di dunia lol. Terlama untuk ukuran saya dan JG yang nggak pernah cuti. Cuti 4 hari plus libur Natal dan Tahun Baru jadi total 10 hari bersama Bebe. Yang dikhawatirkan apa?

Sejak awal yang saya khawatirkan adalah saya yang tidak sanggup bersama Bebe lama-lama. Saya akan bosan dan capek sekali. Jadi full time mom 10 hari ohmai. Kutakshanggupppp!

Tapi ternyata nggak hahahaha. Bebe sudah besar, sudah bisa diajak ngobrol dan main. Sudah bisa main dengan orang lain. Jadi saya cenderung santai.

(Baca: Sedikit Cerita Liburan dan Tentang Vlogging)

Dramanya baru terjadi kemarin pagi. Bebe nempel terus sampai saya nggak bisa turun di kantor. FYI urutan jarak dari rumah adalah kantor saya, daycare, kantor JG. Jadi saya selalu turun pertama. Biasanya Bebe selalu kalem di carseat, kali ini nggak.

Sampai daycare dramanya berlanjut, dia tampak kangen sekali pada daycare. Jalan-jalan keliling ruangan, masuk kamar, tiduran, cari mobil-mobilan TAPI SAMBIL PEGANG TANGAN SAYA.

WHY.

"Ibu jangan keja" like a million times.

T________T

Karena mbaknya Bebe sungguh pemberani dia memutuskan "bu, aku angkat (paksa) aja ya? ini kayanya gini terus deh" Saya mengangguk, kemudian dia mengangkat paksa Bebe dan saya pun pergi. Ngamuknyaaaaa, sampai kedengeran ke trotoar. Padahal saya sengaja keluar dari teras dan tunggu ojek di trotoar

T________T

Soalnya memang ada masa-masa Bebe manja ingin saya ikut antar ke daycare tapi sampai daycare dia biasanya lempeng. Cium pipi saya dan langsung main sama temennya. Libur terlalu lama memang setara dengan pembunuhan perlahan.

(Baca: Liburan Mengacaukan Disiplin!)

Sampai di kantor saya kalem lah menikmati me time 😂😂😂 Pas dijemput drama lagi dia. Kata mbaknya seharian nggak nangis, pagi pun cuma nangis sebentar terus minta makan dan mandi.

Kebetulan Bebe lagi minta mobil polisi besar karena mobil-mobilan polisi yang dia punya kecil.

Ibu: "Be, kalau besok di daycare tidak menangis, ibu belikan mobil polisi besar deh!"

Bebe: "Mau ibu, Salo ikut beli mobil polisi besal"

Ibu: "Tapi besok ibu kerja, Xylo di mana?"

Bebe: "Nggak mau, Salo sama ibu, ikut ibu keja"

Oh no, ini anak nggak bisa disogok. LOL

15 menit kemudian setelah bercerita main di kelas bersama gurunya. Dengan pujian pintar dan hebat tentunya.

Ibu: "Kalau anak pintar sih di daycare nya tidak menangis"

Bebe: "Salo ga nangis"

Ibu: "Iya jadi besok main sama abang ya di daycare"

Bebe: "Nggak mau!"

Sungguh pendirian yang sangat kuat dan tidak mudah goyah. Aku bangga. 😪

Terus saya jadi kasian, kepikiran, karena ini kan masa adaptasi. Apakah kalau nanti setelah seminggu dia nggak nangis lagi itu karena dia senang atau karena dia terpaksa menerima?

😩😩😩

Apakah dia akan menyimpan dendam padaku karena aku buang dia di daycare?

*sinetron abis*

Ya intinya, saya bisa tenang meninggalkan anak di daycare itu karena dua alasan ini.

1. Daycarenya menerapkan nilai-nilai yang sama dengan saya. Serius saya survey dua daycare di sekitar daycare Bebe, bentuknya ya daycare bukan rumah. Nggak membedakan kamar anak laki-laki dan perempuan, dua anak dimandikan sama-sama. Padahal fee bulanannya lebih mahal.

Apa kabar sih belajar gender dan rasa malu?

2. Bebenya kalem. Iya Bebe hanya menangis di hari pertama. Karena dia masuk di umur 3 bulan hahahaha. Anak-anak yang masuk di umur 1-2 tahun sih nangisnya dari rentang seminggu sampai 2 bulan. IYA DUA BULAN MENANGIS SETIAP HARI MENCARI IBU YANG BEKERJA.

Stresnya kebayang.

T________T

Hari ini hari kedua ke daycare pasca liburan dan tadi pagi Bebe sudah masuk ke daycare dengan tangan di belakang menyembunyikan tikus-tikusan karet dan berencana nakut-nakutin mbaknya.

😂😂😂

Thank God cuma sehari doang ternyata dramanya! Saya pikir bakal seminggu! Saya masih tidak boleh turun di kantor, tapi di pintu depan daycare sudah cium pipi saya dan masuk sendiri.

Tapi sejak sore sampai malam sampai pagi memang saya tatar terus. Terus saya ulang-ulang kalau besok ibu-ibu dan bapak-bapak kerja sementara anak-anak akan main sama-sama di daycare. It works!

Jadi kalau saya mau sewenang-wenang men-judge. Anak-anak yang rewel saat ditinggal ibunya kerja itu mungkin memang tidak nyaman dengan lingkungan selama ibunya kerja. Mungkin ya. Karena anak-anak daycare itu jarang sekali drama ditinggal ibunya. Anak baru doang atau si Bebe abis liburan. Hahahaha.

(Baca: 5 Kondisi Tidak Butuh Daycare)

Ya nggak perlu semua anak di daycare juga, tapi gimana caranya lingkungan tempat anak bermain selama ditinggal kerja itu nyaman. Gitu aja sih.

Kekhawatiran sirna. Mari menikmati me time alias kerja lagi!

Semangat ibu-ibu! Selamat meeting! Jangan lupa bercermin dulu sambil senyum biar hepi!

💓

-ast-
LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

11 comments on "Drama Daycare"
  1. Tara di daycare bahagia. KAlo dijemput ,lihat mobil aku masuk halaman, teriakannya udah membahana. Drama di dua hari pertama aja. Selebihnya bahagia. Emaknga malah yg hrs nguat2in hati

    ReplyDelete
  2. Wahh ternyata cerita ibu dengan anak di daycare begitu yaa..full of drama :))

    ReplyDelete
  3. aku gk kuat ninggalin anak lama2. baper mulu klo hbs plg yg jaga ngomong macem2, haha. Gak tw lg klo ditaroh di daycare mungkin gk gitu ya. Stlh baca ini kerasa bgt ya jd working mom menyiksa batin bgt, huft. Salut :)
    Kalau aku udh gk tahan, haha

    ReplyDelete
  4. Anak aku malah sekarang apet sama bibi yang baru kerja dua minggu :(
    Tapi kalo aku pulang dia suka ga mau jauh jauh sih dari aku. Aku pergi langsung nangis.

    ReplyDelete
  5. Rencananya tahun ini anakku masuk sekolah yang sekalian ada daycare nya, semoga enggak ada drama, haha

    ReplyDelete
  6. saluuuut mbak icha. semangaat!
    kalo aku udah leleh deh, kalo denger "ibu jangan keja". duh, nak. :((

    ReplyDelete
  7. aku juga klo balik kost abis liburan berasa melow wkak

    ReplyDelete
  8. Saya tidak dalam posisi mendukung atau menentang ibu bekerja. Namun jika anak masih kecil, sebaiknya diasuh sendiri agar lekat/bonding dgn kedua orgtua khususnya ibu. Family comes first, the rest can wait and will do later. Sadly, banyak orangtua memahami hubungan sebab akibat antara longgarnya bonding dengan masalah emosi dan perilaku yg muncul pada anak di kemudian hari. Bukan berarti menjadi stay at home parent, semua akan berjalan sesempurna yg kita harapkan. Tidak ada situasi yg ideal 100%. Tapi dampaknya pada anak akan beda dengan adanya mom's touch dan homey communication. Ada orangtua yg berkilah "iya tapi saya tuh ngga bisa kalau cuma di rumah aja". Dear parents, prioritas dan harapan antara ibu yg satu dan ibu lainnya mungkin berbeda-beda. Tapi belajarlah melihat dari kaca mata/sudut pandang anak. Kita abaikan tangisan dan rengekannya, kita tidak pedulikan isi perasaan dan pikirannya, sama dengan kita membuka tangan akan kecacatan emosi anak-anak kita. We will reap what we sow. Jika anak kurang kooperatif dgn ortu, kurang respek pada otoritas di rumah, kurang terbuka pada ortu (kelak saat remaja), lebih mudah terjerumus pergaulan bebas dan narkoba karena mereka adalah anak-anak kita yg dulunya haus kasih sayang orgtua, anak-anak kita yg dulunya sehari-hari lebih banyak menghabiskan waktunya dgn orang lain (di momen ia semestinya masih lekat dgn figur ibu), lantas kita terheran-heran dgn polah anak kita dan mencari bantuan psikolog, konselor, menitipkan di pesantren untuk "diperbaiki". Sorry to say, keberadaan mereka bukan tempat laundry, anda datang duduk menunggu lalu berharap anak keluar jadi "bersih, wangi, ngga kusut lagi". Semoga Allah memberikan hidayah buat para ibu dari anak-anak yg kelak akan menjadi generasi penerus bangsa kita tercinta. Bukan kampanye kondom, kampanye anti free sex, kampanye anti drugs, tapi kampanyekan orgtua agar kembali NGURUS anak-anaknya. Ngurus bukan sekedar memberi makan tapi mendidik, membimbing, mengasuh, dan memenuhi hak-hak anak atas bapak Ibunya. Kembalilah ke rumah wahai ibu..����

    ReplyDelete
    Replies
    1. HAH APAAN INI HAHAHAHAHAH we're completely on different side jadi mbak aja deh yang pake sebab akibat begitu, saya enggak :)))))

      Delete
    2. gimana kalo krnalan sm eykeh. yg ibunya bekerja juga tp hub anak ibu bondingnya oke oce,prestasi moncer, dan penuh kasih sayang

      Delete
    3. Hak anak itu ada 10, yaitu hak untuk:

      👫 bermain
      👫 mendapatkan pendidikan
      👫 mendapatkan perlindungan
      👫 mendapatkan nama (identitas)
      👫 mendapatkan status kebangsaan
      👫 mendapatkan makanan
      👫 mendapatkan akses kesehatan
      👫 mendapatkan rekreasi
      👫 mendapatkan kesamaan
      👫 berperan dalam pembangunan

      Dengan working mom menitipkan anak di daycare atau pada babysitter, apa lantas 10 hak itu jadi tidak terpenuhi?

      Hak yang mana yang Mbak maksud sebenarnya? Hak untuk punya quality time bersama Ibu nya? Ah, walau nggak ketemu 24 jam penuh, tetap bisa kok punya quality time. Namanya saja quality time. Berarti yang ditekankan adalah quality, bukan quantity. Dengan 24 jam penuh bersama anak, memangnya bisa jamin 24 jam itu berkualitas setiap detik nya?


      Mbak bilang tidak pada posisi menentang ibu bekerja. How come? Argumen yang Mbak kemukakan semuanya mengarah pada ajakan untuk jadi SAHM. Malah di akhir komentar ada ajakan yang sangat gamblang, "Kembalilah ke rumah, wahai ibu." Itu namanya nentang lah, Mbak.

      Lastly, sepertinya Mbak berpikir bahwa remaja-remaja yang terjerumus ke dalam hal negatif itu yang dulunya dititipkan sama orang lain instead of diasuh ibu nya sendiri ya, kayaknya. Mungkin Mbak jarang dijadikan tempat curhat ya.

      Banyak banget loh teman atau bahkan orang yang hanya kenal di dunia maya curhat ke saya dulu nya mereka juga nakal saat remaja, seperti saya (iya, dulu saya pernah bengal). Fifty-fifty deh, Mbak. Yang curhat begitu anak yang ibu nya bekerja, ada. Yang curhat begitu padahal selalu diasuh orangtua nya sendiri di rumah juga ada. Banyak malah.

      Itu true story semua. Bahwa ibu bekerja bukan berarti nanti anaknya terjerumus hal negatif, tidak hormat pada ortu, dll. Dan, bahwa ibu yang 24 jam sama anak di rumah juga bukan jaminan anak nya akan tumbuh dengan sebahagia itu, tidak pernah tergoda untuk mencoba hal negatif, dan akrab sama orangtua nya.

      Delete

Hallo! Terima kasih sudah membaca. :) Silakan tinggalkan komentar di bawah ini. Mohon maaf, link hidup dan spam akan otomatis terhapus ya. :)