-->

Image Slider

You are Enough

on
Wednesday, November 7, 2018
Seberapa sering liat quote “you’re enough”? Sesering itu banget ya, di Instagram, di Pinterest, di mana-mana.

You are enough. You are doing great.

artwork by me. photo from unsplash.

Dua kalimat yang rasanya biasa aja kalau kalian lagi nggak punya masalah hidup. Tapi kalau lagi punya anxiety, atau masalah percaya diri, “you are enough” itu rasanya jadi dalem banget. Kadang malah bikin kesel karena:

Am I good enough?

Pertanyaan yang jadinya muter-muter terus di kepala. Modelnya bisa macem-macem: am I good enough for my spouse? My son? My parents? FOR MYSELF?

(Terkampret itu ketika kalimat ini dipelintir jadi bahan buat putus. “Kamu terlalu baik buat aku” duhilah, seminggu kemudian punya pacar baru lol)

Ini berkaitan dengan kekhawatiran banget ya. Khawatir pasangan nyari pacar/istri yang lebih baik, khawatir anak nggak dapet yang terbaik dari ibunya, khawatir kita sendiri bukan anak yang baik, dan khawatir sama pencapaian diri sendiri.

Kalau lagi gini dan curhat sama orang biasanya nasihatnya “ya semua orang punya kekhawatiran masing-masing lah”. IYA SIH. Tapi kan kekhawatiranku sendiri juga penting BAGIKU! Hahahahaha.

Btw ya, trigger menulis ini salah satunya adalah Rahmawati Kekeyi Putri Cantika . Terserah orang mau hina dia, bully dia kaya apa, satu hal yang saya pikirin pas nonton video dia adalah ... wow dia percaya diri banget! Kaya aku ... di masa lalu.

:(

Rahmawati, you're doing great! Meski opininya pada sesuatu bisa berubah tiap 5 detik, tapi semua istilah beauty yang dia pake bener semua loh. Kalau cara penggunaan kan terserah dia ya orang kok atur amat sih. Ngomongnya juga lancar, kuyakin dia ngefans Tasya Farasya karena gaya ngomongnya mirip Tasya.

Beneran saya yang waawww, kangen amat sepede itu. Kangen amat liat dunia dari kacamata kita sendiri. Kangen amat yakin sama segala pilihan hidup huhu.

Kalau lagi liat Timehop, 8-9 tahun lalu, gila saya pedenya itu level super. Ngungkapin pendapat itu berani banget, negur orang, senang bertikai karena ya argumen gue BENER dan lo otomatis bego, nggak mikirin netijen karena dulu netijennya hampir masih satu suara semua. Yang norak-norak belum kenal socmed kayanya.

Terus juga urusan penampilan. #ootd yang bahkan cuma diupload di Twitter doang wihiii gayanya udah ala fashion blogger banget. Nggak heran karena di masa itu saya emang mikirin penampilan banget. Sampai punya tempat belanja favorit yang barangnya unik dan nggak banyak orang tau.

(Lihat fotonya di sini: 2009 vs 2018)

Seneng banget belanja dan mix & match baju. Keluar rumah nggak pernah asal-asalan, semua dipikirin dari sepatu sampai hal terkecil kaya karet rambut dan cincin serta gelang. Udah gambar alis sejak gambar alis belum berupa kewajiban. Ya karena alisnya botak hahahaha. Pake heels muluk pula. Kuat syekali aku dulu yaaaa.

Terus dulu itu nggak peduli omongan orang level pacar sendiri bilang bajunya jelek aja aku bodo amat. ANDA SIAPA, SAYA TAHU APA YANG SAYA MAU LOL. Sekarang udah rapi mau pergi, JG bilang bajunya “kurang deh” (kurang lho bukan jelek) YA SAYA GANTI BAJULAH. Setidak pede itu huhu. NANGIS. :(

Apalagi ke kantor ya, apa aja yang keliatan duluan deh dipake. Cuma punya waktu sedikit untuk dandan dan pilih baju, mana sempet kaya dulu malem-malem mix & match terus setrika dulu. Nggak pernah lagi memilih untuk melakukan itu karena sekarang saya lebih butuh tidur. Kerja, gambar, blogging, produktif nyari uang (HAHA), dan terutama harus full energi menghadapi Bebe.

CAPEK, BOS. Capek karena harus nyuci dan nyetrika sendiri kali ya. Kalau bajunya tau-tau udah rapi di lemari dan tinggal pake aja mungkin beda cerita. Bahkan mau masukin baju ke laundry aja males karena effort masukin baju ke laundry SAMA AJA sama masukin baju ke mesin cuci. Ambil dari laundry energi yang keluar SAMA AJA sama ngangkat cucian. Dilipet mah nanti-nanti kalau inget hahahaha.

I used to be so proud and confident of myself, my face, my body. And now it’s gone. Rada kecewa sih sama diri sendiri hahahahahuhuhuhuhu.

Karena sebetulnya penampilan itu berpengaruh pada 30% kepercayaan diri saya. Ya masih punya sisa 70% sih untuk brain dan talent jadi masih punya modal untuk menertawakan diri sendiri karena tidak pede HAHA tapi tetep aja kalau lagi dandan ya jadinya pede. Kalau lagi nggak dress up ya jadinya tetep pede tapi kurang 30% LOL.

Jadi makin hari, makin tidak peduli, makin tidak pede. Sebuah lingkaran setan ya. Mau peduli tapi lebih suka tidur. Mau peduli tapi sayang uangnya dan ngirit-ngirit kalau mau beli baju. Ah hidupkuuuu ~~~.

via GIPHY

Kenapa saya bilang makin nggak pede? Karena ya Tuhan, terbukti semakin hari semakin males selfie HAHAHAHA. Pas lagi belajar beauty tahun 2017 itu saya udah mulai turun kepercayaan diri sama penampilan cuma masih maulah selfie-selfie gitu. Mundur ke tahun-tahun sebelumnya astaga itu Instagram isinya kok selfie semua sih.

Nyampe kantor aja dulu selfie loh. Senyumnya pede aja loh. Happy-happy aja loh. Ke mana itu semua pergiiii?

Malu karena dulu sering selfie? Nggak. Kecewa? Jujur rada iya. Sama diri sendiri karena kenapa sekarang harus tidak pede sihhhh?

Apa jadi masalah? Ya dan tidak. Kadang mikirin kok ya sama diri sendiri aja nggak sayang. Kadang mikirin kok ya masa sih nggak bisa dress up kek dikit kalau ke luar rumah biar nggak gembel amat.

Tapi kadang juga mikirin yah kalau harus nyetrika dulu males amat cuy, pake sweater+jeans ajalah biar cepet kelar urusan. Lagian baju-baju trendi zaman sekarang kenapa sih ya modelnya banyakan katun-katun harus disterika gitu duh malaassss. Hahaha. Jadi ya jawabannya tengah-tengah lah.

Kemalasan ternyata bisa berujung ketidakpedean guys. Catat itu sebagai sebuah pencerahan. :))))))

Yang ribet, karena kepercayaan diri urusan fisik lagi mentok banget, kepercayaan diri sama hal lain jadi gampang drop. Sebel gitu karena jadi combo. Udah mah lagi nggak pede di fisik eh kampretnya suka tiba-tiba muncul perasaan nggak pede juga sama hal lain dalam hidup. Udah mah cuma punya 70% kepercayaan diri eh ditabrak sama masalah hidup yang lain.

Kelarlah langsung, inferiority complex. An inferiority complex consists of lack of self-esteem, a doubt and uncertainty about oneself, and feelings of not measuring up to standards. Itu kata Wikipedia dan ASLI KITU PISAN. Standarnya standar diri sendiri pula jadi kalian bisa banget bilang "ah keliatannya kak Icha pede-pede aja". Ya itu kan standarmuuuuhhh, bukan standarkuuhhhh.

Ada berantem dikit sama JG gitu misalnya, saya bisa ngawang-ngawang mikirin “am I good enough?” “am I doing great?” “am I a good partner?” “am I a good mom?”

Atau lagi kepikiran soal kerjaan misalnya, saya jadi galau mikirin "duh kenapa ya karier gini-gini aja" gitu terus sampai matahari terbenam.

Jadi mari ucapkan mantranya bersama-sama:

I AM. I AM. I AM ENOUGH. I AM DOING GREAT.

Akhirul kata, saya ingin bilang terima kasih Rahmawati Kekeyi sudah mengingatkan aku untuk bisa lebih pede lagi. Terima kasih dan tetap semangat!

-ast-

PS: Kalau kalian lagi inferiority complex atau punya anxiety lain, ngerti banget ketidakpedean diri sendiri nggak semudah bisa diketawain dan dibodoamatin kaya gini. Wajar banget kalau nangis-nangis karena nggak berharga. Asal nangis dengan sadar ya, embrace the feeling. Jangan lupa berteman juga ya biar nggak kesepian. :(





Memahami Anak

on
Wednesday, October 31, 2018
Kemarin saya Insta Story soal kesulitan menjadi ibu. Dari semua jawaban yang masuk, 80% menjawab sulit menahan emosi. Karena anak banyak tingkah, banyak ulah, iseng dan lain sebagainya.



Sementara bagi saya, hal yang tersulit saat jadi ibu adalah ketika saya menyadari kalau saya tidak bisa lagi hanya fokus pada diri sendiri.
 Sekarang dan selamanya, hidup saya akan terbagi dengan anak. THAT FACT HIT ME REAL HARD.
 

Mungkin karena nggak ada yang menyiapkan saya untuk punya anak. Saya sendiri nggak pernah menyiapkan diri untuk punya anak. Waktu kuliah sih centhyl banget pengen nikah muda lah segala rupa. Begitu kerja waw nikah aja mikir-mikir banget panjang lebar. Heran juga kenapa kecemplung sekalian dan punya anak hahahaha.

Eh terus kebetulan sini kan orangnya perfeksionis dan ambisius ya. Oke bingung kok bisa punya anak, tapi setelah punya ya lakukan segala hal untuk membesarkan anak. Hahaha. Se-nggak pede itu sama insting keibuan diri sendiri karena ya seumur hidup nggak punya imajinasi apa-apa tentang jadi ibu.

Kemudian datang masalah berikutnya, masalah sulit sebagai ibu: mengelola ekspektasi. Saya punya ekspektasi pada Bebe PLUS saya punya ekspektasi diri pada saya sebagai orangtua. That’s the hardest part. Damn.

Meski merasa nggak punya insting keibuan, saya yakin pada satu hal: saya tahu 100% akan membesarkan Bebe seperti apa. Sebagai orangtua, saya dan JG merumuskan hal-hal (kita sebut saja values) agar Bebe bisa jadi individu yang kita harapkan. Yang selalu bisa punya keputusan sendiri, mandiri, tidak bigot, dan menghargai perempuan.

Values ini nggak dirumuskan pas lagi hamil gitu. NGGAK SAMA SEKALI. Pas hamil cuma kepikiran satu hal: Bebe harus jadi orang yang bisa ambil keputusan. UDAH ITU DOANG. Lebih karena rese sama JG yang nggak bisa ambil keputusan.

(Ceritanya ada di sini: Anak dan Pengambilan Keputusan)

Seiring berjalannya waktu, semakin Bebe meninggalkan masa bayi, kami semakin sering mendiskusikan tentang perilaku Bebe, cari tahu ke sana sini, konsultasi dengan psikolog anak, dokter tumbuh kembang, dll. Kami butuh backup science, research, anything untuk menghadapi Bebe. Untuk memahami kenapa dia melakukan ini dan itu.

Karena kalau pake insting doang wah murka sih pasti. Emosi saya nggak sanggup menghadapi anak yang waktu bayi high needs dan jadi highly sensitive saat balita. Kalau saya nggak cari penjelasannya secara science, dijamin saya akan sering marah-marah.

Waktu Bebe umur 3 tahun, kami ketemu dengan Montessori dan yay makin kokoh deh valuesnya. Satu mantra Montessori yang perlu disimpan dalam hati dan diterapkan sehari-hari:

“Setiap hal yang dilakukan anak pasti bermakna”

PASTI LHO. Menurut kita nggak jelas, menurut anak mah ya jelas lah. Apalagi anak umur 2 tahun gitu yang sedang bingung melihat dunia dan berusaha memahami emosinya sendiri. Kalau bukan kita yang memahami dia dan mengajarkan soal emosinya, siapa lagi?

Ingat, apa yang tidak masuk akal bagi kita, mungkin sangat masuk akal bagi mereka.

Tempatkan diri pada point of views anak. Kadang mereka melakukan hal menyebalkan bukan karena ingin menyebalkan tapi karena mereka ingin mencoba hal baru. Kebetulan hal barunya menyebalkan bagi kita.

Dua paragraf di atas dari tulisan lama saya: The Terrible Terrible Two. Tulisan itu juga mungkin bisa bantu untuk ibu-ibu yang susah nahan emosi.

Jadi apa aja values yang kami terapkan di rumah? Dan gimana values ini bisa bantu untuk mengelola emosi? Values kami secara umum adalah:

ANAK ITU SUBJEK. BUKAN OBJEK.

Sebagian besar pernah saya tulis di blog ini. Tapi belum pernah dibuat list kaya gini. Detailnya:

Anak adalah individu sendiri. Dia anakku tapi dia BUKAN aku.

Saya nggak mau memaksakan diri saya pada anak. Misal hanya karena saya suka gambar, Bebe harus jadi suka gambar juga. Atau karena saya dan JG seneng tampil, maka dia harus seneng tampil juga.

Bebe bukan kami. Dia individu sendiri. Jadi saya tidak boleh kecewa ketika ia tidak mau atau menolak melakukan hal yang menurut saya baik. Yang menurut saya menyenangkan. Yang memutuskan sebuah hal menyenangkan atau nggak itu ya Bebe sendiri.

Ini salah satu cara memahami anak. Less stressful juga karena jadinya nggak pernah maksa apa-apa untuk anak.

Kami menghargai semua pendapat Bebe dan tidak pernah meremehkannya.

Ini nih yang sering banget saya liat. Orangtua yang meremehkan anak dan bahkan bilang “alah anak kecil tau apa?” atau “alah kaya yang ngerti aja kamu”.

Anak ingin tahu sesuatu kemudian malah diremehkan karena dia tidak tahu. Kalau kita malas menjelaskan sesuatu sama anak, jangan salahkan kalau suatu hari anak juga malas menjelaskan sesuatu sama kita.

via GIPHY

Kami memberi kebebasan untuk melakukan apapun yang ia ingin lakukan.

Jika berbahaya, boleh tetap dilakukan asal diawasi. Jadi bebas banget mau ngapain juga boleh. Mau guling-guling di aspal atau nggak pake sepatu ke luar rumah bahkan ke mall sekalipun boleh. Kalau bahaya? Ya didampingi. Makanya sukaaaa sekali sama Montessori.

Karena di Montessori, materi practical lifenya real sekali. Gelas ya pake gelas kaca, gunting ya gunting beneran (bukan gunting anak), semua pake benda yang sama untuk orang dewasa. Jadi sekarang kalau Bebe minta potong roti misal pake pisau beneran ya dikasih pisau beneran TAPI DITEMANI, DIAWASI.

Diberi tahu risikonya. Ini menimbulkan rasa percaya diri dan tanggung jawab anak.


Kami memvalidasi emosi. Kamu boleh marah, boleh sedih, boleh kecewa.

Emosi itu normal. Iyalah, lha kita aja bisa kesel masa anak kecil nggak boleh. Ibunya aja mudah cranky di saat lapar, masa pas anaknya lapar terus cranky malah kita marahin “KAMU KENAPA SIH?!” Laper bos!

Sejak umur 3 tahun, saya juga sudah memberi tahu kalau kamu bisa marah, IBU JUGA BISA. Kalau kamu bisa sedih dan nangis, IBU JUGA BISA. Ini bikin anak berempati. Misal saya abis teriak gitu ya karena dia nggak tidur-tidur, dia langsung diem kan. Saya peluk dan tanya “kamu sedih kan kalau aku marah? Aku juga sedih lho kalau kamu marah”

Nextnya kalau dia marah TINGGAL SINDIR AJA HAHAHA. Nggak deng, tapi labeli emosinya “Wah anak ibu marah-marah terus, kecewa ya karena harus berhenti nonton” atau “Oh iyaaa kamu sedih ya ya udah boleh nangis tapi tidak boleh makan coklat malem-malem”. Ya masa anak sedih nggak boleh nangis. Nanti makin sedihlahhh.

Nangis adalah salah satu cara mengeluarkan emosi. Nangis itu sehat. Baca nih di sini: 5 Alasan Anak Perlu Menangis

Jadi kalau dia nangis, kami kebal. Kami nggak kalah apalagi marah. Diemin aja sih hahahaha.

Kami akan selalu mendengar Bebe. Selalu dan tidak akan pernah memintanya berhenti bicara.

Bebe adalah prioritas. Semua ucapannya kami dengar baik-baik jadi ya beneran nggak bisa ngobrol berdua JG kalau ada Bebe karena motong mulu dia sebel dicuekin. Jadi nggak pernah kesel kalau Bebe ngomong terus, karena ya udah jadi prioritas aja.

Baca lengkapnya di sini: Stop Menyuruh Anak Untuk Diam

Menghadapi Bebe HARUS pakai data.

Kami berdua tipe orangtua yang tidak melulu pakai intuisi. Bagi kami, membesarkan anak butuh backup teori. Ketika Bebe tantrum, kami cari teorinya gimana sih? Oh karena begini dan begitu. Teori ini bikin kami memahami Bebe. Kalau udah paham, jadinya nggak pengen marah kok.

Saya percaya parenting bisa 100% natural tapi lebih baik TIDAK. Membesarkan anak BUTUH teori pendukung. Lengkapnya bisa dibaca di sini: Parenting Butuh Teori!

We treat him like adults.

Menurut Montessori, anak adalah orang dewasa yang terjebak dalam tubuh yang kecil. 
Jadi ya kalau kita sebel karena satu hal, anak juga pasti sebel. Saya cerita apapun sama Bebe cerita apapun. Saya percaya dia mengerti. Bahasanya aja yang disesuaikan dengan bahasa anak 4 tahun.

Jadi nggak pernah kejadian saya menolak menjelaskan dengan alasan "alah udalah nggak akan ngerti kamu masih kecil". Saya jelaskan dulu, panjang lebar, bayi keluarnya gimana aja saya liatin videonya (yang gentle birth ya yang nggak jerit-jerit), so far belum ada pertanyaan dia yang ketika saya jelaskan dia tetep nggak ngerti. DIA MENGERTI. Anak nggak ngerti itu karena kita nggak bisa jelasinnya. Period.

Kami mengungkapkan sayang dengan kata-kata.

Teori oonnya nih ya, ngungkapin sayang pake kata-kata itu nggak gampang. Nggak semua orang bisa. Jadi kalau ngungkapin sayang aja udah biasa, diharapkan ngungkapin hal lain juga bisa. “Aku sayang kamu” itu kalimat tersering diucapkan di rumah kami. Saya ke JG, saya ke Bebe, JG ke Bebe, Bebe ke JG semua sesering itu bilang “aku sayang kamu”.

Jadi inget cerita beberapa minggu lalu, saya lagi mandi, Bebe lagi makan Puyo tapi nggak abis. Terus malah diaduk-aduk dimainin, TUMPAHLAH ITU PUDING, Bebe terus beresin sendiri kan. Perang belum dimulai, JG belum ngomel nih.

Selesai tumpahan puding di meja masuk lagi ke cupnya, EH LOH TUMPAH LAGI. Mulai emosi dong ya. JG (yang dari tadi sambil cuci piring) bilang “kan appa sudah bilang jangan dimainkan! Tutup terus simpan!”

Bebe diem, nggak mau beresin dia. Saya beres mandi, nanya ada apa. Terus saya bilang “Bereskan, kamu salah. Kamu harus bereskan”. Terus dia beresin sambil sedih.

Selesai beberes sampai dilap pakai tisu, Bebe akhirnya bilang “tadi aku nggak sengaja tumpahin lagi itu karena mau tutup terus susah tutupnya, jadi tumpah lagi”

HUAAAAAA. Langsung seketika saya peluk dan bilang “thank you for telling me this, aku senang kamu tetap bertanggung jawab membereskan dan aku juga senang karena kamu berani bilang kalau tadi kamu tidak sengaja” kemudian JG juga peluk dan minta maaf karena sudah menuduh Bebe mainin puding.

MAU MEWEK SIH SUMPAH.

via GIPHY

Karena gimana ya, saya waktu kecil (dan saya yakin kalian di generasi saya juga punya pengalaman serupa), takut aja gitu ngakuin hal-hal kaya gitu ke orangtua apalagi kalau abis dimarahin. Kalau ortu udah marah ya kita nggak punya pembelaan. Kalau pun akhirnya kita bisa membela diri, kemungkinan besar jadi berantem kan sama ortu?

Udah mah kita nggak ngerasa salah, dimarahin, ortunya nggak minta maaf. Wah sebel sih. Nggak heran pas remaja saya berantem terus sama ibu hahahaha.

Kami akan support apapun yang ia inginkan selama tidak melanggar aturan yang berlaku.

Yes. Bebe BEBAS melakukan apapun tapi dengan aturan yang berlaku. Aturannya nggak banyak kok, kurang lebih gini doang:

1. YouTube hanya weekend (ini aturan setelah dia umur 3 tahun). Baru boleh nonton SETELAH makan.
2. Makan tidak sambil nonton
3. Tidur malam maksimal jam 10
4. Wajib gosok gigi sebelum tidur
5. Harus tidur siang meski weekend
6. Di mobil harus di car seat

Sisanya bukan aturan tapi lebih ke tanggung jawab:
1. Kalau numpahin sesuatu ya beresin
2. Tiap nyampe rumah, masukin sepatu ke rak sepatu kemudian cuci tangan dan kaki.
3. Kalau salah, sengaja tidak sengaja harus minta maaf


Jangan lupa jelaskan sebab akibatnya. Jadi nggak pernah drama nggak boleh makan es krim karena udah malem. Karena dia tau sendiri kalau dia makan es krim tandanya dia harus gosok gigi. Malah kadang dia jadi males makan yang manis-manis karena males gosok giginya lagi. Internal motivation itu kalau udah terbentuk jadinya gampang banget hidup kita. Anak jadi mandiri, memutuskan segalanya sendiri, sesuai dengan value yang selama ini diterapkan dalam keluarga.



*

Udah segitu valuenya. Sungguh ekspektasi yang sangat tinggi ya. Nggak heran terlalu takut punya anak kedua. Selain takut bayar daycare, takut juga nggak bisa mempertahankan idealisme ini HAHAHAHA. Iya idealisme kami bukan BLW atau MPASI homemade emang. Kalau urusan itu mah seraahhh yang penting anak mau makan. Hahahaha.


(Baca: How Are We Gonna Raise Our Kids?

Apa bisa kaya gini selalu dilakukan? Karena udah terbiasa sih bisa. Kami juga saling mengingatkan TERUS JANGAN BAPER. Jadi saya kalau udah capek terus Bebe nanya-nanya saya jawabnya suka asal. Misal Bebe tanya “Bu, kenapa sih lalala” terus saya jawabnya “kenapa yaaaa karena begitu deh pokoknyaaaa” Males-malesan asli.

Pasti langsung ditegur JG “heh kok jawabnya asal amat” gitu. Jangan baper kalau ditegur. Sebaliknya juga, kalau JG kaya gitu ya saya tegur juga. Langsung ingetin “ih nanti dia males nanya lagi loh” gitu.

Kenapa value ini harus saya jembreng kaya gini? Karena saya yakin, berangkat dari sini lah kenapa saya bisa sabar dan nggak gampang emosian saat menghadapi tingkah Bebe. Karena saya berusaha paham ilmunya dan selalu berusaha memahami pola pikirnya. MUNGKIN kalian susah nahan emosi karena belum merumuskan secara detail, ingin seperti apa anak kalian?

Kalau sudah dirumuskan, semua akan lebih mudah karena kalian tahu persis goalsnya apa. Kalian akan sadar kenapa anak melakukan itu? Anak kok begini, saya salah apa? Semua tidak akan blur lagi.

Ya kecuali anaknya masih di bawah 2 tahun ya. Itu masih fase pasrah aja buibu HAHAHA. Di 1,5 tahun sih kayanya Bebe mecahin gelas (karena emang dikasih gelas kaca) dan saya langsung colekin beling ke kakinya biar dia tahu itu sakit. Dari situ dia selalu pake gelas kaca dan nggak pernah mecahin lagi.

KALAU PUN mecahin lagi ya udah nggak usah dimarahin sih. Kaya orang dewasa nggak pernah mecahin gelas aja. Orang dewasa aja bisa nggak sengaja jatohin, anak kecil juga bisa. Treat them like we treat ourselves, like adults!

JADI HARUS BANGET NIH BIKIN LIST VALUES BEGINI?

Ih nggak haruslah. Siapa yang bilang harus. Ketika punya anak yang harus itu cuma punya penghasilan yang bisa ngasih makan anak SISANYA BEBAS. Nggak ada harus ini itu. Valuesnya juga disesuaikan dengan value keluarga, di mana kita merasa sanggup melakukan itu dan mencontohkannya pada anak. Tiap keluarga pasti beda dong ya value yang dipegangnya, semacam company culture perusahaan gitu, tiap perusahaan pasti beda.

Cuma di saya ini berhasil bikin emosi saya lebih stabil, karena saya tau apa yang saya perjuangkan. Bikinnya juga nggak perlu sekaligus kok. Hari ini membiasakan satu hal baik, minggu depan membiasakan satu lagi, bulan depan satu lagi. Satu perubahan kecil pelan-pelan lebih baik dibanding nggak berubah sama sekali. <3

Satu lagi, bisa kaya gini karena kami sehat fisik dan mental, karena kami nggak punya masalah pribadi lain. Kalau kalian punya masalah pribadi lain dan jadi nggak fokus urus anak, semoga cepet ketemu solusinya yaaaa. Aamiin.


-ast-




Bercermin dari Anak

on
Monday, October 29, 2018
Kemarin saat acara Mommies Daily sama Biore, ibu Widi Mulia (iya Widi ‘B3’) share sesuatu yang kena banget dan ya seperti biasa kalau dapet sesuatu yang inspiring ya harus share juga dong biar bisa menginspirasi lebih banyak orang.


Jadi ceritanya pas sesi tanya jawab itu ada ibu yang curhat, gimana biar anak-anak nggak berantem terus? Karena dia udah pusing urus 2 anak, ketambah ini anak-anak berantem terus.

Saya merhatiin ibu ini dari awal acara. Ibu ini emang ambisius, malah pas sesi games aja dia kecewa banget karena nggak menang. Kecewa sampai misuh sama suaminya gitu lho. Padahal ya namanya games ya, it’s supposed to be fun.

Jadi pas dia nanya gini saya maklum banget karena mungkin sehari-hari dia emang sestres itu harus ngurus dua anak. Apa jawaban Widi?

Widi share tips gimana dia emang sengaja didik Dru sebaik mungkin biar adik-adiknya tinggal contoh Dru. Jadi sejak lahir, Dru dididik sebaik mungkin karena mereka yakin benar akan punya anak lebih dari satu, dan Dru harus punya pribadi yang baik karena mau nggak mau adik-adiknya akan mencontoh dia.

Mereka juga kebiasa nggak ikut campur masalah anak-anak. Jadi kalau anak-anak berantem ya suruh selesain sendiri. Jangan malah jadi saling ngadu ke ibu terus ibunya yang selesain. Bahkan sama Denden yang masih kecil aja, harus diselesaikan sendiri.

Tapi yang paling kena bukan itu. Ya mungkin karena anak saya cuma satu ya. Yang justru dapet banget dan kaya ketonjok adalah kalimat yang ini.

(kurang lebih ngomongnya gini ya ga plek ketiplek aku soalnya nggak nyatet juga)


“Sebagai orangtua kita bercermin dulu, berapa sih nilai kita dalam membesarkan anak-anak? Misal kita kasih nilai 7 sebagai orangtua, ya kita jangan berharap anak jadi bisa punya nilai lebih dari itu. Karena orangtua yang nilainya 7, anaknya juga akan punya nilai 7”

WAW. KEMUDIAN KUMERENUNG BANGET SIH.

via GIPHY

Kasarnya gini ya, kalian ngeluh anak kalian nggak bisa diatur, bikin ulah terus, nggak bisa diajak kerja sama. Pertanyaannya: apa yang sudah kalian usahakan biar anak bisa diajak kerja sama?

Kalau misal sudah berusaha, seberapa besar usaha kalian? SEBERAPA NIAT?

Mungkin terlalu sering bentak? Mungkin nggak pernah bilang baik-baik sambil natap matanya? Mungkin nggak pernah validasi perasaan anak?

Mungkin kurang quality time? Mungkin nggak pernah fokus dengerin anak? Mungkin nggak pernah bener-bener temenin anak main?

Mungkin nggak pernah nanya apa yang bikin senang atau sedih hari ini? Mungkin kurang pelukan? Mungkin kalian punya masalah pribadi yang jadi kebawa saat komunikasi sama anak?

Intinya: usaha kalianlah yang mencerminkan bagaimana anak kalian bersikap.

(Baca: Mencari Diri Sendiri)

Saya tentu langsung mikir juga. Iya sih, saya bersyukur karena hidup kayanya lagi kalem-kalem aja jadi bisa netral banget kalau menilai Bebe. Kalau ada sesuatu yang bikin saya kurang puas sama Bebe, saya bisa berpikir jernih dan refleksi diri dulu: apa nih yang harus diberesin? Salah di mana nih?

BAGIAN ITU SAYA MERASA SUDAH MELAKUKAN HAL YANG BENAR. Nah tapi ada hal lain yang lebih menohok.

Yaitu ekspektasi pada anak yang kadang nggak sesuai sama usaha kita. Saya mau Bebe tulisannya bagus tapi duh ngajarin nulis aja males. Saya mau dia suka baca tapi duh bacain buku aja nggak tiap hari sekarang karena ngantuk dan berjuta alasan lainnya.

Jadi kalau liat anak orang yang waw pinter banget, saya langsung mikir wah bisa nggak ya Bebe kaya gitu? Gimana Bebe mau kaya gitu sih weekend aja dikasih gadget terus karena capek kalau main dua hari full.

Untungnya sekarang Bebe lagi suka gambar, jadi kalau saya atau JG lagi gambar, Bebe jadi ikut gambar juga. Sisanya? Ya Bebe nonton bisa berjam-jam. Makanya saya kasih syarat banget boleh nonton kalau udah keluar rumah, udah makan.

Kalau ditotal dalam seharian itu mungkin bisa sampai 6 jam dia nonton. Ya 2 kali saya dan JG nonton film lah. Mentok kami nggakb bisa nonton lebih dari 2 film karena dengan demikian Bebe juga akan nonton terlalu lama. Segitu juga nggak nonstop sih, berhenti untuk makan, untuk mandi, untuk les renang, dll.

Jadi sering banget terjadi percakapan ini dengan JG.

JG: “Eh si Bebe kalau weekend kelamaan nggak sih nonton doang? Apa kita kurangin lagi nontonnya cuma boleh sehari doang?”

Jawaban saya selalu: “KAMU sanggup nggak nemenin dia seharian full tanpa YouTube sama sekali? Aku sih nggak sanggup”

JG juga ya nggak sanggup karena ya kami berdua juga kalau weekend pengen nonton film, pengen leyeh-leyeh, baca buku, YANG HANYA BISA DILAKUKAN KALAU BEBE NONTON.

Gimana anaknya mau berubah kalau kita nggak berubah? Nggak bisa kan?

Begitu pula dengan hal lain. Gimana anaknya nggak emosian sih kalau kitanya emosian?

(Baca: Mengajarkan Emosi pada Anak)

Banyak DM yang saya terima bilang mereka nggak pernah divalidasi emosinya sama orangtua zaman dulu. Sekarang jadi susah sekali memvalidasi emosi anak. Dulu sering dibentak, maka sekarang dengan tidak sengaja jadi juga sering membentak. AYO KITA UBAH! Itu mata rantai yang harus kita putus sekarang juga.

Kaya yang sering aku bilang: MARI KOREKSI GAYA PARENTING ORANGTUA KITA. Apa yang tidak kita sukai dari gaya parenting orangtua, JANGAN dilakukan lagi pada anak. Karena nanti anak kita akan melakukan itu lagi ke anaknya dan seterusnya. Seperti juga orangtua kita melakukan itu karena dia meneruskan nenek kakek kita, buyut kita, dan seterusnya. STOP DI KITA. We can do it!

Suka tidak suka, sikap KITA tercermin pada anak KITA. Mungkin tidak selalu, tidak semuanya, tapi tidak ada salahnya memperbaiki diri sendiri dulu sebelum menuntut apapun dari anak.

Apakah dengan demikian saya jadi percaya kalau anak adalah kertas kosong yang bisa diisi sesuka hati orangtuanya? DUH COME ON. Males amat ngomentarin ini.

Percaya atau tidak percaya, tidak akan mengubah apapun. Ini hanya sebuah renungan, untuk refleksi diri bahwa kadang ekspektasi kita pada anak kadang terlalu tinggi. Kadang tidak seimbang dengan usaha yang kita lakukan.

Demikian semoga bisa jadi inspirasi juga yaaa!

-ast-




Because I Love You

on
Friday, October 26, 2018
Kalau ada satu pertanyaan dari JG yang saya malesssss banget super duper males jawabnya adalah "kok kamu sayang sih sama aku?"



Ribuan kali (lebay bodo amat) pertanyaan itu ditanya dan astaga saya terlalu males mikirin jawaban. Langsung ngerti banget ucapan orang-orang tentang "cinta itu nggak butuh alasan". Cheesy? Banget. Jijik? Nggak terlalu hahahahaha. Cinta nggak butuh alasan karena males mikir jawabannya ternyata.

Nah tapi kebetulan punya suami kok pressure amat ya PASTI DIKEJAR TUH jawabannnya. Penasaran sama pengen dipuji emang beda tipis. Pas masih pacaran saya sih jawabnya termales level "ya biar aja" atau "ya suka-suka akulah!"

Setelah nikah, masih keukeuh juga nanya, saya jawabnya asal-asalan tapi naik kelas dikit dan nggak perlu mikir jadi "ya soalnya kamu mau masak dan ngerjain semua kerjaan rumah tangga jadi aku leyeh-leyeh doang masa nggak sayang". Logikanya: semangat mengerjakan kerjaan rumah tangga = disayang. HAHAHAHA.

Sekarang, setelah dewasa (HALAH) kalau ditanya jawaban benerannya apa adalah ya karena kami satu prinsip. Prinsip ini fondasi nan fundamental banget sih bagi saya dan JG yang terlalu males drama. 99% prinsip sama = no drama. Karena dia memanusiakan saya dan saya memanusiakan dia. That's it.

(Baca dululah di sini: Laki-laki Itu Manusia)

Pertanyaan berikutnya. Kali ini buat kalian nih, berapa kali sehari kalian ngomong "sayang" sama suami atau sama anak?

Sayang itu ucapan bukan perbuatan katanya, ya diucapkan juga bikin seneng orang kan ya udah sih.  KARENA SAYA SIH BILANG SESERING MUNGKIN. Sesering mungkin sama Bebe HAHAHAHA. Sama JG rese dia kalau keseringan dibilang sayang tar repot kaya balita sugar rush XD

Kalau ke Bebe, saya bilang berkali-kali dalam sehari "aku sayang kamu lho" atau "I love you, Baby" (yang dijawab dengan "AKU BUKAN BABY!") Alasannya karena biar si Bebe yakin aja kalau dia disayang. Selain sayang, saya juga selalu tanya "Are you happy, today?" atau "Senang nggak hari ini? Ada yang bikin sedih?" Karena ya buat anak-anak apa lagi sih selain disayang dan senang ya nggak?

Sampai bulan lalu, thok saya cuma bilang gitu doang, saya nggak ngasih alasan kenapa saya sayang sama dia. Sampai liat postingan @humansofnewyork (HONY) yang ini.


Kalau tulisannya kekecilan dan nggak kebaca, ini quote si anak:

“I’m on the way to buy soft drinks for my mother. I also fetch water, and sweep, and help her wash clothes. She calls me ‘boss’ because I work so hard, but I love to help her because she cares for me so much. She buys me clothes. She reads me storybooks. She sings me gospel songs. She helps me with my homework. She gives me medicine when I’m sick. One time she baked my friend a cake because his parents couldn’t afford any presents. I’m going to buy her a house one day. She’s very dark and beautiful. I really have a wonderful mother.” (Accra, Ghana)

Sejujurnya langsung kaget dan terhenyak. Lho ini anak masih kecil kok ya ngerti soal definisi sayang sih? Diajarin ibunya apa gimana?

YA NGGAK TAHU LHA SAYA NGGAK KENAL KOK SAMA IBUNYA. Tapi postingan ini bikin saya mikir banget. Selama ini saya bilang sayang sayang sayang sama Bebe, si Bebe tau nggak sih definisi sayang itu apa? Jangan-jangan dia cuma tau sayang itu cium doang karena biasanya dia bilang "aku sayang ibu" terus cium. YA JADI RADA PANIK.

Kemungkinannya kan ada dua ya:

1. Si anak memang lovable serta jenius sehingga bisa mengambil simpulan sendiri bahwa ketika ibunya beliin baju, bacain buku, nyanyiin buat dia, bantu bikin PR, itu karena ibunya sayang. Karena ibu sayang, maka dia akan sayangin ibu juga.

2. Ibunya mengkomunikasikan ini. Ibunya yang bilang bahwa "ibu bantu kamu bikin PR karena ibu sayang kamu, kalau kamu sayang ibu maka kamu pasti mau bantu ibu"

Karena nomor 1 terlalu risky dan nomor 2 nggak terlalu sulit dilakukan ya udah akhirnya saya coba nomor 2. Dari situ saya jadi menambah kalimat sayang saya sama Bebe. Nggak susah kok cuma nambah kalimat doang.

Jadi setiap hari, sebelum tidur, kami kan selalu cerita apa yang terjadi hari itu. Bebe ngapain aja di sekolah dan ibu ngapain aja di kantor. Kadang kalau belum ngantuk banget ya baca buku dulu atau main dulu sama JG. Setelahnya, selalu saya sisipkan kalimat persis caption HONY:

"Aku senang cerita sama kamu, bacakan buku itu karena aku sayang kamu lhooo"

"Aku main-main sama kamu, mandikan dan pakaikan baju karena aku sayang kamu"

Jangan lupakan appa karena kan Bebe udah tidur di kamar sendiri ya, yang kelonin ya harus ibu jadi ibu yang harus sisipkan kalau appa sayang Bebe juga.

"Seru ya main sama appa, appa mau main sama kamu dan anter jemput kamu sekolah setiap hari karena appa sayang kamu"

Atau Bebe cerita "ibu tadi pagi aku sama appa kasih makan kucing". Saya jawab dengan "seru ya kasih makan kucing sama appa, appa mau seru-seruan sama kamu gitu karena appa sayang kamu loh" gitu.

Intinya itu, dengan berbagai macam alasan. Karena emang iya kan, itu dilakukan karena sayang. Efeknya ternyata wow banget!

Kalau ke saya sih si Bebe emang romantis banget ya peluk cium selalu. Tapi ke JG kan dia love hate relationship hahaha. Mana mau Bebe tiba-tiba cium appa gitu. Weh Bebe menganggap appa sebagai rival banget untuk memperebutkan ibu. Kasarnya misal yang marah ibu tapi yang dibenci tetep appa HAHAHAHA.

Setelah 3 minggu saya mengubah kalimat sayang, Bebe jadi sayang appa!

Bebe jadi suka tiba-tiba peluk dan cium appa juga. Dulu kalau bilang sayang bilangnya "Aku sayang ibu, nggak sayang appa" sekarang setelah pakai alasan dia bilangnya "aku sayang ibu dan appa" MANIS BANGEETTT. Dan itu nggak disuruh, dia sendiri bilang gitu. Manis cekayi anakkuuuu. *shameless*

Saya mau dia merasa disayang, saya mau dia jadi orang yang penuh cinta kasih pada sesama. Gimana bisa penuh cinta kasih kan kalau dia aja nggak tau bentuk cinta dan kasih itu kan ya?

Gitu aja sih karena saya terinspirasi banget sama postingan HONY itu jadi ya mau share juga sama kalian. Siapa tahu bisa diterapkan ke anak-anaknya juga yaaaa.

Hatred is everywhere, people still died in wars, let's teach our kids is about compassion, about how to care and love each other. That's the least we can do.

-ast-

PS: Makin triggered untuk ngajarin kasih sayang ke anak ini setelah baca genocide Rwanda (seriesnya HONY juga, bisa dibaca di IG mereka @humansofnewyork). Gimana kebencian sama etnis tertentu bikin orang saling bunuh satu sama lain. Bunuh tetangga sendiri, temen sendiri. Nggak kuat banget bacanya. T______T




Bebe 4 Tahun 4 Bulan

on
Monday, October 22, 2018
Sebuah posting nanggung bagi saya yang apa-apa ingin pas. Saya tuh anaknya suka ingin pas gitu lho nggak suka angka yang aneh. Jadi maunya update nanti di 4 tahun 6 bulan tapi kok ya kelamaan karena 4 bulan terakhir banyak yang terjadi. Takut keburu lupa.


(Btw saya apa-apa ingin pas level ngedit Brightness/Contrast di aplikasi apapun angkanya nggak mau nggak bulet hahahahahahaa. Harus kelipatan 5. Gemes deh sama diri sendiri hih.)

Okay dari postingan 4 tahun itu updatenya banyak banget! Terutama hal-hal ini:

Bahasa Inggris

AKHIRNYA BEBE MAU NGOMONG BAHASA INGGRIS! Padahal 3 bulan lalu itu masih ngambek loh. Masih bisa teriak sama saya “NGGAK PAKE BAHASA INGGRIS!” gitu.

Tapi ya saya nggak kapok masih kadang suka ngomong pake bahasa Inggris dan sekarang dia mau jawab. Dia bahkan pretend play pake bahasa Inggris sekarang. Ibu terharu banget beneran karena kan preschool-nya nggak bahasa Inggris.

Terus bisa dari mana?

PEPPA PIG AJA, BEB.

Bebe dulu nggak saya bolehin nonton Peppa Pig. Pertama, kepala keluarga pig itu kenapa bentuknya kaya titit gitu sih kesel amat nggak usaha lebih lucu dikit gitu. Kedua, fat shaming Daddy Pig terus sebel dehhhh.

Kan serem kalau dia jadi bilang ke orang gendut-gendut gitu wow bukan anakku. Tapi pas kapan saya bolehin nonton SAMBIL SAYA IKUTAN NONTON LHO KOK LUCU HAHAHAHAHAHA.

Lucu banget jokesnya dewasa banget, ngetawain parenting, ngetawain hidup, gengsi-gengsinya ortu/kakek nenek sama anak, tapi AMAN banget dikonsumsi anak kecil. Plus kalimat yang dipake itu kalimat bahasa Inggris sederhana dengan logat British yang pronounciation-nya jelaaaasssss banget.

Baru nonton sebulan langsung loh Bebe bisa. Ya sebulan nonton tiap weekend doang padahal kan. Jadi mungkin sebetulnya dari dulu udah nempel tuh saya suka ngomong bahasa Inggris tapi baru ngongnya sekarang.

Dia bahkan bisa ceritain ulang episode Peppa Pig pake bahasa Inggris. HUHUHUHU HEBAT.

Achievement unlocked! Tidak khawatir lagi soal yang satu ini!

(Baca perjalanan Bahasa Inggris Bebe di sini: Bebe dan Bahasa Inggris dan tentang Multilingual di sini: Multilingual pada Anak)

Kemandirian

Beberapa minggu lalu perasaan masih bingung mandi sendiri sekarang udah bisa banget DAN BERSIH. Jadi emang goals anak preschool itu mandiri kan ya. Bisa buka baju sendiri, pakai sendiri, mandi sendiri, makan sendiri, cuci tangan dan kaki sendiri.

Kalau sampai rumah sih otomatis dia taro sepatu di rak dan lari ke kamar mandi untuk cuci tangan kaki. Tapi internal motivation untuk mandi sendiri ini baru muncul akhir-akhir ini.

Oh tentu ibu ambisius dong yah jadi masih ditawarin mau mandi sendiri atau dimandiin. Tapi kalau mandi sendiri dia udah bisa banget loh urutan sampai tempat tersembunyi kaya leher depan, belakang, belakang kuping, sela-sela paha. Dan pake sabunnya banyaaakkkk.

Percobaan pertama rambut depan nggak kena sampo plus ada sisa sabun di kaki. Percobaan kedua setelah dikasih tahu rambut depan harus disampoin, berhasil banget lho. Bersih dan nggak licin sama sekali.

Tapi ya lama. Biar ajalah sekalian main air kan ya. Ibu main hp hahahaha

Kalau gosok gigi sih masih belum percaya karena ya takut aja nggak bersih sih. Jadi meski dia udah sikat sendiri, tetep saya atau JG sikatin ulang.

Males-malesan belajar Math tapi semangat sekolah

Bebe tuh kalau hari Minggu suka bilang “hari minggunya lama banget, aku mau sekolah”.

Terharu nggak sih. Macam anak pinter gitu bosan di rumah dan lebih suka sekolah ahahahahahahaha. Padahal ya mungkin karena di sekolah banyak temen eym.

Tapi males-malesan banget kalau disuruh belajar Math huhuhuhu. Padahal cuma disuruh ngitung sampai 15 doang. Tapi ya udah PASTI nggak dipaksa yaaa. Mood anak tetep di atas segalanya lagian masih kecil nanti ku diseruduk ibu-ibu yang anti calistung di bawah 7 tahun.

Tumbuh kembang

Per bulan ini udah 2 kali ke Dokter Aman Pulungan seperti yang sudah kujelaskan di sini yaaa. Bebe dan Tinggi Badan 

Di pertemuan kedua, kami harus nunggu 3 minggu setelah vitamin habis karena dokter Aman syibuk. Ya terima ajalah doi soalnya emang sibuk banget jadi pembicara terus. *IKRIB* Maklum kan Presiden Asia Pacific Pediatric Association. Sibuknya ya gitu.

Di pertemuan kedua ini Bebe dirontgen untuk cek bone age. Katanya masih normal dan nggak harus khawatir apa-apa. Saya bilang saya nggak khawatir sih dok, CUMA PENGEN BEBE TINGGI AJA AHAHAHAHAHAHA. Ambisius nggak tau diri lha saya aja pendek lol.

Ya udah intinya dikasih vitamin D lagi sama kalsium terus udah. Rese nih Bebe makin gede makin nggak mau makan sayur. Percakapannya gini:

Ibu: "Be, ini di menu ada oyong, kamu kok nggak makan?"

Bebe: "Iyalah, oyong KAN SAYUR IBU. Aku memang nggak mau"

LHA. Karena sayur makanya harus dimakan malih. Pusing ibu. Padahal kami makan sayur banget lho di rumah. Tidak selamanya monkey see monkey do ternyata.

Dan yang terdrama … adalah soal negosiasi.

Bukan sekali dua kali ya dia masuk kamar ngambek TERUS DIKUNCI AJA DONG. Kemudian seperti mamah-mamah di sinetron dengan anak remaja, saya pun ngetok-ngetok pintu “Xylo buka dulu dong pintunya”

DIH. Kupikir adegan tidak akan terjadi at least 10 tahun lagi.

T_______T

Kali pertama saya cuekin bodo amat dia ngunci diri di kamar TERSERAH. Lama-lama dia ketawa-ketawa sendiri auk ngapain. Terus kayanya dia lupa lagi marah dan buka pintu HAHAHAHA.

Kali kedua nih bikin emosi karena saya abis mandi, masih pake handuk, dia ngambek karena saya suruh mandi. Ngunci pintu lagi dong astaga. Lha ibu emosy.

Ya gimana nggak emosy sih, dingin dong kan bajunya di lemari. Lemarinya di kamar. Terus gimana bukanya? Ya pake kunci. Kunci kamar kami tuh semacam kunci toilet zaman dulu loh. Dari dalem tinggal pencet doang, dari luar bisa pake kunci biasa.

Itu ngambeknya astaga, dia tersinggung karena lagi marah kok ya ibu masuk ke area privat. Waw. Anak yang diberi privasi sejak kecil begini ternyata gedenya. Sakit kepala juga.

Apalagi ya. Udah panjang gini hahahaha. Tar kalau JG inget sesuatu ditambahin deh. Patut digarisbawahi kalau blog ini kan diary kehidupan termasuk pertumbuhan Bebe jadi monmaap kalau nggak faedah bagi khalayak ramai okeee.

Semangat irit demi uang SD!

-ast-