-->

LIFE SERIES: Kirno

on
Sunday, March 1, 2015

"Saya dari Blue Bird bu, saya sudah sampai. Saya tunggu di parkiran belakang ya," ujar bapak supir taksi itu via telepon.

Saya bergegas melangkah menuju lift. Hari itu JG mendadak ada meeting pukul 5 sore. Jadi saya yang harus menjemput Bebe. Saya memesan taksi untuk jam 4 tapi seperti biasanya, taksi selalu datang setengah jam lebih cepat. Selalu.

"Abis nganter ke mana, Pak? Saya kan pesan masih jam 4?" tanya saya membuka pembicaraan.


"Tadi kebetulan ada penumpang ke kantor ibu. Saya tadi telepon untuk info aja bu, kalau saya sudah datang. Saya tunggu setengah jam juga sebenarnya nggak apa-apa. Siapa tahu ibu masih sibuk," jawab supir itu.

Perlahan, saya menggeser posisi duduk ke tengah jok mobil. Berusaha melihat ke arah dashboard. Dahulu, kartu nama pengemudi dan nomor pegawai di taksi ini ditempatkan di atas dashboard, namun sekarang ditempatkan di depan dashboard. Jadi sulit terlihat jika duduk di belakang jok penumpang. Sebuah kebiasaan yang harus dijalankan jika naik taksi, lihat nomor taksi, nomor dan nama pengemudi, kemudian whatsapp pada suami. Berguna jika terjadi sesuatu atau ada barang tertinggal.

Namanya Kirno. Usianya sekitar awal 30-an. Tubuhnya tak kurus tapi juga tak gemuk. Raut wajahnya ramah. Dan yang paling menonjol, pemilihan kata saat dia bicara itu baik sekali. Jenis orang yang berbicara sambil tersenyum sehingga nadanya menyenangkan. Taksi masih berjalan pelan menyusuri macet Pasar Palmerah. Obrolan pun mulai mengalir.

Ia bercerita beberapa hari yang lalu saat banjir melanda Jakarta, ia ikut kebanjiran. Bukan rumahnya melainkan taksinya. Ia dalam perjalanan pulang usai mengantar penumpang ke bandara. Tak punya pilihan lain, ia terobos banjir di daerah sekitar Universitas Trisakti.

"Saya nggak punya pilihan bu, baru jam 8 pagi. Antara tembus banjir atau diam tapi tak punya setoran untuk hari itu. Akhirnya saya nekat," kisahnya.

Banjirnya ternyata setinggi ban. Tak tertahan, air masuk ke dalam mobil. Mau tak mau ia kembali ke pool dalam kondisi bagian dalam mobil berisi air semua. Bersyukur pihak perusahaan tak mempermasalahkan karena kerusakan akibat bencana alam. Mobil itu harus "beristirahat" seminggu lamanya. Semua karpet bagian bawah diganti.

Topik kemudian berpindah ke keluarga. Ia bercerita sudah punya satu putri. Usianya satu tahun setengah. Saya pribadi selalu bertanya apakah bapak supir sudah punya anak atau belum. Karena di taksi, saya hampir selalu menyusui. Lebih nyaman rasanya, menyusui dengan supir yang sudah berkeluarga.

Tak jarang saya bersama supir yang bahkan sudah memiliki cucu. Mereka biasanya senang sekali saya membawa Bebe. Seorang supir malah pernah terus mengajak Bebe bercanda. Jadi ingat cucu di rumah, katanya.

Tak lama, jalanan mulai lancar. Obrolan terhenti sejenak. Saya minta bapak taksi untuk menunggu selagi saya masuk ke daycare untuk mengambil Bebe. Baru jam 4 sore, Bebe baru selesai makan sore dan dimandikan. Melihat saya, ia yang sebelumnya sedang bercanda dengan nannynya langsung menjerit dan menangis. Minta digendong ibu. Manja. Sebelumnya ia mungkin tak ingat ibunya tak ada di sana.

Saya menggendong Bebe ke luar. Nanny Bebe, Mbak Novi membukakan gerbang kemudian membukakan pintu taksi. Ayo kita pulang, Bebe!

*

"Anaknya ASI, pak?" tanya saya sambil memberi Bebe bola plastik kecil dari tas saya, membiarkan ia main sendiri.

Pertanyaan ASI ini penting untuk mengecek level knowledge seseorang. Jawaban ASI eksklusif biasanya dijawab oleh orang dengan level pendidikan tinggi atau minimal mau belajar. Maklum, yang tidak berpendidikan boro-boro mengerti ASI eksklusif 6 bulan, bayi 3 hari pun diberi makan pisang ambon.

Pertanyaan ini juga bisa menjadi ajang edukasi untuk mereka yang tak mengerti pentingnya ASI eksklusif. Saya biasanya beri kuliah lengkap tentang ASI eksklusif. Office boy di kantor malah saya beri print beberapa halaman berisi info seputar ASI eksklusif saat istrinya melahirkan. Demi generasi Indonesia yang lebih baik. Tapi jawaban supir taksi ini di luar dugaan.

"Eksklusif, Bu. Enam bulan hanya ASI. Sekarang sih makannya sedang susah. Ibunya sampai stres," jawabnya sambil terkekeh.

"Saya coba kasih dia susu formula pengganti makanan tapi ditolak. Anaknya nggak suka. Susu itu sampai sekarang utuh di rumah," lanjutnya.

"Oya? Maklum kalau istri stres ya pak. Mungkin bosan juga di rumah mengurus anak. Istri bapak nggak kerja?" tanya saya.

Ia kemudian bercerita melarang istrinya bekerja. Sebelum menikah, istrinya kerja di galeri lukisan. Saat hamil, kandungannya lemah. Dokter menyarankan bedrest selama 3 minggu atau jabang bayi tak akan selamat. Ia pun keluar dari pekerjaannya. Demi anak.

"Istri saya masak sendiri semua makanan untuk anak saya, Bu. Awalnya diblender tapi sekarang sudah tidak. Tapi semua homemade, tidak diberi bubur instan," ujarnya lagi.

Wah! Istri bapak ini luar biasa! Selain ASI eksklusif, MPASI nya pun homemade! Saya pun menjelaskan, wajar kalau istri bapak stres. Memasak makanan bayi itu tidak sebentar. Belum lagi harus mengurus rumah dan sehari penuh hanya berdua dengan bayi. Capek.

"Ini saya juga ingin sambil cari pekerjaan baru, Bu. Di sini saya cari peluang untuk bekerja di kantornya. Jadi tidak perlu nyetir lagi," ucapnya.

Saya kemudian bertanya, sudah berapa lama jadi supir taksi?

"Baru 7 bulan, Bu. Sebelumnya saya juga kerja di galeri di daerah pondok indah. Saya ketemu istri saat ada event. Sepuluh tahun saya kerja di galeri. Sudah sampai Beijing saya," lanjutnya.

BEIJING! Ngapain pak di Beijing?

"Terakhir saya ke Beijing itu ya sebelum resign. Di sana tiga minggu. Pameran dan lelang," jawabnya.

Saya langsung tertarik dan ingin tahu lebih banyak. Bapak taksi pun dengan senang hati bercerita panjang lebar. Ia bercerita waktu tiga minggu itu yang lama adalah packing dan unpacking lukisan. Betapa saat ada event dia bisa pulang hingga jam 1 pagi. Waktu libur pun sedikit sekali. Terlalu melelahkan tapi juga menyenangkan. Penghasilan per bulan pun lebih tinggi daripada supir taksi. Lalu kenapa resign, Pak?

"Istri saya, Bu. Dia mulai ngambek waktu saya tinggal ke Beijing yang terakhir itu. Repot sekali katanya mengurus anak sendirian. Maklum saya di Jakarta nggak ada saudara. Orang tua dan mertua saya di Jawa. Ya sudah saya mengalah. Saya resign. Jadi supir taksi saya nggak punya kesempatan ke luar negeri tapi waktu saya lebih fleksibel," jawabnya.

Yah, Pak. Life.

After all, that's family who matters most. :)



-ast-




LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


LATEST VIDEO

PLEASE SUBSCRIBE!
28 comments on "LIFE SERIES: Kirno"
  1. Wowwww... kalah nih, Pak sopir udah duluan ke Beijing, aku belum :|

    ReplyDelete
  2. Pak taksi nya keren sudah ke beijing...salam..

    ReplyDelete
  3. salam deh mbak buat pak sopirnya....:)

    ReplyDelete
  4. wah keren nih supir taksinya, jangan hanya melihat orang dari profesinya ya berarti, si bapak ini orang hebat sebenarnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul, aku malah pernah sama supir taksi yang sarjana loh! tapi kurang beruntung :) apalagi kalau taksi silver, bahasa inggrisnya jagoan..

      Delete
  5. lumayan jauh pengembaraan pak sopir taksi yakni beijing... salut

    ReplyDelete
  6. menilai seseorang memang ga cukup dari luarnya aja ya mak.. salluut sama pak supir ..

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul, beberapa orang hanya kurang beruntung :)

      Delete
  7. Wah, udah sampai Beijing. Salut, mak.

    ReplyDelete
  8. Inspiratif sekali mak...
    JD inget dl pas naik Angkot. Trus sopirnya bngga bgt anaknya bs sekolah di luar negeri. Beasiswa katanya... Salut...!!!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. waahh hebaaattt. itulah makanya aku seneng ngobrol sama orang asing.. :')))

      Delete

  9. Cha, driver Blue Bird emang punya segudang cerita. Ada yang mantan atlet dan kecewa sama janji-janji palsu Pemda setelah dia berprestasi, pernah sama mantan TKI yg nyupir buat sementara aja sambil persiapan ke Dubai, yg keren driver jago bahasa Prancis! Dia mantan ABK dan masih ngasih kursus bahasa Prancis ke calon ABK. Satu lagi, pernah sama driver yg lagi kuliah S2 di UI Salemba. Gokil!

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya win gue nyesel ga nulis soal supir blue bird dari lama. padahal selama di detik, 2 tahun gue liputan ke mana pun pake blue bird dan selalu ngobrol. sekarang pake taksi kalau harus jemput xylo doang.. paling random ada yang dulu kerja di XL dan pernah satu wilayah kerja sama JG! yang sarjana ada, yang udah 20 tahun kerja, yang pernah digodain bencong, dirampok, buanyaakkk. lo tulis di blog lo juga gimana? nanti kita kumpulin. XD

      Delete
  10. Menginspirasi sekali mak... Banyak orang2 yg terlihat biasa, tp ternyata luar biasa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul, makanya aku seneng ngobrol sama orang :)

      Delete
  11. terkadang kita menemukan sesuatu lebih dari yang kita duga ya mak...

    ReplyDelete
  12. yup, kadang dari supir taksi ini kita jadi lebih bersyukur, lebih menghargai hidup, diingatkan lagi betapa beruntungnya kita diberikan pekerjaan, kehidupan, dan keluarga yang insya alloh sesuai dengan keinginan hati. hehehe...

    ReplyDelete
  13. Salam untuk pak kirno ya mak. siapa tau ketemu lagi. hehe

    ReplyDelete
  14. jaman sekarang memang sdh tdk saatnya kita menilai seseorang dari penampilan luarnya mak. rumah saya dekat pasar. sering ngobrol dengan beberapa ibu2 penjual sayuran. ternyata mereka (tidak semuanya) banyak juga lho yang pintar dan cerdas, ada yang pernah kuliah juga, tapi kurang beruntung ketika menghadapi kerasnya persaingan dalam kehidupan. jadi tidak semua orang itu pemikirannya 'se-kucel' penampilannya hehe.....

    ReplyDelete

Hallo! Terima kasih sudah membaca. :) Silakan tinggalkan komentar di bawah ini. Mohon maaf, link hidup dan spam akan otomatis terhapus ya. :)

IG