-->

Image Slider

Gara-gara Susu Racun

on
Monday, October 2, 2017
Iya gara-gara susu racun jadi pengen nulis hahaha.


Duh ini kenapa Seninnya tau-tau udah jam setengah 6 aja. Saya lagi bengong doang ini nunggu dijemput karena nggak bikin blogpost apa-apa hahaha. Harus banget nih Senin nulis? Cerita random aja biar ya?

*BIARLAH BLOG JUGA BLOG GUE LOL*

Pengen cerita Sabtu kemarin waktu dateng ke parents meeting di sekolah Bebe. Pembicaranya kuliah montessori di Kanada. Lulus kuliah beneran jadi guru TK montessori juga di Kanada. Dia bicara soal dasar montessori selama 2 jam lebih, plus ada praktiknya juga.

Satu hal, orangnya negatif. T_____T

Oke mungkin bukan orangnya, tapi pemilihan kata-katanya. Saya yang tadinya semangat mau share hasilnya di sini jadi drop gitu karena yaaa, ngerasa nggak satu frekuensi aja sama beliau. Jadi mau share juga nanggung hahaha.

Salah satu topiknya itu tentang gimana makanan juga bisa ngaruh sama kualitas anak (iyalah ya anak kurang gizi gimana bisa konsen di sekolah kan). Dia minta satu contoh susu yang biasa diminum anak. Standar anak-anak minumnya si susu kotak kecil dong ya, dikasih lah satu kotak susu itu ke dia. Terus dia ngitung gulanya ada 9 gram dalam satu kemasan rasa coklat.

(Baca: Selepas ASI, Apa Anak Harus Minum Susu?)

Dia bilang 9 gram itu sekian sendok teh, dikali berapa kotak yang diminum anak maka anak makan gula sekian sendok teh sehari. Quote-nya kurang lebih gini:

"Kita nggak tahu gula jenis apa yang dikasih. Anaknya jadi aktif banget kan? Kalian cuma kasih racun ke anak kalian."

TITIK. ASLI NGGAK ADA PENJELASAN APA-APA LAGI SOAL SUSU.

AND WOW GIRL, RACUN IS A STRONG WORD.

Saya colek JG terus JG bisik "kalemmm, terserah dia lah mau ngomong apa"

Iya sih tapi saya beneran heran deh. Maksudnya dia ngomong di forum terbuka, nggak bisa gitu ngomongnya positif? Ngomong gini kan bisa.

"Kita nggak tahu gula jenis apa yang dikasih. Anaknya jadi aktif banget kan? Tandanya terlalu banyak mengkonsumsi gula. Efek sampingnya lalalalala"

MENGAPA RACUN? Apakah benar ada anak yang keracunan setelah minum susu kotak?

HHHH. Mungkin sayanya lagi mens jadi kesel, tapi beneran deh, dia pikir dia bisa ngasih semangat ke ibu-ibu setelah DIA JUDGE NGASIH RACUN ke anak?

Kenapa ya ada orang-orang yang kalau ngomong soal parenting itu seolah dia paling bener sedunia dan ibu lain hanya meracuni anaknya? Dan emang kenapa kalau anak saya aktif toh saya nggak ngeluh juga. Toh saya hepi punya anak aktif karena saya nggak mau punya anak pendiam.

OH TERUS SEBELUM ITU DIA BILANG GINI *tiba-tiba inget*

"Makanya ASI itu penting banget karena itu bonding ibu dan anak. Kalau ibunya nggak kasih ASI, jangan salahin kalau di masa depan anak nggak sayang sama ibunya"

O________O

Gila di dunia nyata mata saya udah super melotot sampai mangap banget. Itu jahat banget banget banget. Kenapa dia begitu, apa dia nggak tau kalau banyak anak adopsi yang sayang banget juga sama orangtua angkatnya padahal YA JELAS NGGAK DIKASIH ASI. Judgmental banget sih nggak ngerti deh ijk.

(Baca: Untuk Kalian Ibu-ibu yang Baru Melahirkan Anak Pertama)

Tapi saya sama JG nggak mau memicu keributan kan jadi ya udah kami diam. Saya BERUSAHA diam sih sebenernya karena JG mah nggak kesel-kesel amat kayanya hahaha. Biasalah suami-suami kan suka menanggapi segala sesuatu dengan lebih tenang ya padahal mah istrinya udah nangis bombay. Hormon itu mah gengs. #kalem

Terus ada beberapa lagi lah kalimat dia yang negatif cuma kepanjangan kalau diceritain semua.

Abis acara, saya diskusi sama JG dan sepakat kalau pembicara kaya gini sih emang harus 100% ideal dong ya, kan tugasnya dia emang ngasih tau mana yang "benar" menurut ilmu yang dia punya. Urusan diterapkan atau nggak kan keputusan kita sendiri. Tapi tetep aja saya rolling eyes sama pemilihan kata-kata dia huhuhu.

*

Intinya *narik nafas* tolonglah hormati keputusan ibu-ibu lain. Kalian tim susu atau tim kibulan susu, ya jangan jadi nyalahin keputusan satu sama lain. Oh anak lo nggak minum susu, OK! Oh anak lo minum susu 10 kotak sehari, OK JUGA!

Ya okelah, kenapa nggak sihhhh. Karena faktor penentu kan banyak ya, yang nggak minum susu ya belum tentu jadi lebih pinter dibanding anak yang minum susu. Nggak bisa lah lo tarik kesimpulan gitu aja. Yang narik kesimpulan kaya gitu pasti belum baca blogpost saya soal si neng A deh. *KEMBALI KE DIA LOL*

Kalau lo berhasil ASI 2 tahun ya udah hebat, kalau lo nggak ngasih ASI sama sekali karena udah usaha tetep nggak keluar YA UDAH HEBAT JUGA. Kalau anak lo kalem nggak pernah tantrum, ya udah hebat. Kalau anak lo tantrum di mall terus lo sabar nungguin dia selesai marah, YA UDAH HEBAT JUGA.

Kalau lo berhasil pake popok kain selamanya dan sanggup cuci sendiri tanpa punya mbak ya udah hebat. Tapi kalau lo nyerah di hari kedua dan langsung pake pospak YA MASA NGGAK HEBAT? Kenapa ukuran hebat apa nggak diukur dari hal-hal kaya gitu sih? Ibu yang ngasih yang terbaik itu ibu yang hebat!

Iya intinya semua ibu yang berusaha itu hebat! Jangan dengerin apa kata ibu-ibu lain yang sok paling sempurna ya! Biar aja kita nggak sempurna, yang penting kita bahagia dan anak kita sehat sentosa!

Dan ya kalau pun Bebe nggak bisa jadi astronot kerja di NASA karena saya kasih gula di susu 5 kotak sehari YA NGGAK APA-APA LAH. Kita selalu ingin anak kita jadi yang terbaik, tapi yang paling penting itu jadi orang baik. Dan minum susu tidak akan mengubah dia jadi orang jahat kan?

And speaking of racun, duile zaman sekarang kalau gula di susu anak yang jelas diawasi BPOM aja dibilang racun gimana makanan lain ya nggak? Hahaha. Apa coba zaman sekarang yang nggak racun dan nggak mengakibatkan kanker? Sayur aja harus organik kalau mau beneran bebas pestisida mah. Mahal ya buibu.

Ok I'm sorry for the rant.

Anggap aja reminder untuk senantiasa tidak kritik keputusan ibu-ibu waras lain. Semoga Seninnya tidak jadi lebih buruk ya!

Thank you!

-ast-

PS: I googled her and found nothing. Kayanya doi emang cuma praktisi aja dan jadi konsultan deh nggak pernah jadi pembicara di mana-mana. Ilmunya sih lancar banget ngelotok cuma yaaa, semoga ada yang kasih beasiswa untuk public speaking ya. Aamiin.




Susahnya Jadi Ibu ... (2)

on
Friday, September 29, 2017
*Ini draft lama, dari 24 Mei 2017 yang belum dipublish. Entah dulu kenapa marah-marah gini, pasti ada triggernya. Kemudian karena isinya marah-marah jadi diendapkan ... dan kemudian lupa hahaha. Publish ajalah ya sayang juga diem di draft doang ;)*



Iya sih emang nggak ada yang bilang jadi ibu itu gampang. Tapi pasti baru tau SEGITU susahnya jadi ibu setelah anaknya lahir ya? Iyalaahhh.

Pas nikah pasti banyaaakk banget yang tujuannya punya anak. Padahal nggak tau juga punya anak itu kaya apa. Mungkin itu yang namanya maternal instinct.

Iya ada kan orang-orang yang memang nggak pengen punya anak. Nggak pernah punya perasaan ingin punya anak dan itu TIDAK APA-APA. Karena jadi ibu itu susah, jangan memaksakan diri jadi ibu hanya karena orang-orang bilang eh kok kamu nggak punya anak? Atau hanya karena orang bilang sekarang saatnya punya anak.

No, nikah aja persiapannya panjang kok, jadi wajar kalau memutuskan punya anak setelah berpikir panjang.

Dan ini bukan masalah rezeki ya jadi tolong tidak dijawab dengan anak lahir dengan rezekinya sendiri. Bukan itu, beda konteks. Namanya orang usaha, rezeki pasti mengikuti lah. Tapi punya anak kan nggak sepenuhnya masalah khawatir akan rezeki.

Anak lahir sebagai tanggung jawab kita. Bagaimana kita akan didik dia? Bagaimana akan mengajari dia sopan santun? Bagaimana mengajari dia menghormati perempuan? Bagaimana mengajari dia toleransi agar tidak jadi bigot?

Jadi ya, punya anak BUTUH persiapan ilmu akan hal-hal itu. Jadi ibu itu butuh persiapan mental meskipun nggak bisa gladi resik dulu! Nggak bisa tes skenario dulu. nggak bisa reading dulu. Punya anak itu langsung performance, langsung syuting dalam one take. Nggak bisa retake, yang ada hanya penyesalan. *sigh*

Di situ beratnya.

Apalagi untuk ibu-ibu tengah kaya saya gini ya. Tengah dalam artian, nggak kaya banget, nggak miskin banget. Nggak idealis banget sampai segala organik tapi nggak serampangan juga sampai MPASI umur 3 hari. Realistis tapi masih pengen ideal gitu lah.

Ada di tengah-tengah dan itu emang kampret sih. Dan bikin kepikiran.

Karena tentu ingin jadi ibu terbaik bagi anak kan, tapi mau ideal banget juga kok ... capek yaaa. Gagal konsisten jadinya, kemudian muncul pemikiran "ah ya udalah gini juga nggak apa-apa kok". Beberapa minggu kemudian sedih sendiri "gue jadi ibu kok nggak konsisten banget ya"

T_________T

Dan tekanan datang dari diri sendiri karena diri sendiri yang perfeksionis ini susah sekali tidak membandingkan dengan ibu lain. Ibu lain kok gitu, kok gue nggak bisa banget ya begitu. Si X hebat deh anaknya nggak kenal gadget sampai sekarang umur 5 tahun. Si Y hebat banget deh anaknya lima homeschooling semua, gue kok nggak bakal sanggup ya kayanya.

Kemudian nyerah di awal dan berbuah penyesalan-penyesalan kecil. Penyesalan ini bisa dihapus dengan "ya udalah" tapi masih kepikiran dikit HAHAHAHAHA.

Pertanyaan ini pasti pernah mampir di kepala: apa kita ibu yang baik?

Kata orang, seorang ibu pasti ibu terbaik buat anaknya. Tapi kok kayanya belum tentu ya. Soalnya banyak juga ibu yang jahat sama anaknya. Tapi kan kita nggak jahat. Tapi anak kok lebih mau makan sama mbak dibanding sama kita?

HHHHH.

Mau detoks gadget tapi kita sendiri nggak mampu detoks gadget. Mau lebih sering main di luar tapi kok ya kita sendirinya juga capek harus ngejar-ngejar dia outdoor. Ingin homeschooling, baca buku sebelum tidur aja ngantuk banget rasanya.

Jadi realistis rasanya lebih susah setelah jadi ibu. Karena segala jungkir-balik yang kita lalui tiap hari itu bukan lagi karena kita ingin lulus SPMB atau sidang skripsi, segala tujuan akhirnya bukan diri kita, tapi akan jadi apa anak kita.

Kemudian merasa gagal. Kemudian mulai datang penyesalan.

Padahal, sadarilah. Keputusan untuk anak sebaiknya diambil setelah pemikiran yang matang. Jadi kalau dulu ngasih gadget, ya mungkin karena ada kebutuhan itu. Lihat alasan di baliknya, apa dulu mampu kalau tanpa gadget?

Nggak mampu kan? Kalau dulu nggak mampu tanpa gadget, maka sekarang anak ketergantungan gadget adalah risiko yang kita hadapi atas waktu-waktu yang didapat dari masa lalu.

Jadi bisa mikir "ah tapi kalau dulu nggak ngasih gadget juga ga mungkin makan, masa laper terus, nanti stres. Kalau stres nanti malah nggak waras ngadepin anak" Jadi tidak perlu menyesal, karena dulu gadget itu membantu.

Saya sih jarang menyesal sama segala sesuatu karena jarang mengambil keputusan impulsif. Jadi dipikirkan dulu. Waktu pertama kali ngasih gadget ke anak ya pertimbangannya karena ... karena kenapa nggak? Hahaha.

Belum lagi kalau marahin anak bukan karena salah dia tapi karena kita yang capek. Duh anak nggak salah apa-apa jadi kena bentak. Padahal sendirinya paling bisa bilang ke anak "tidak perlu sambil marah dong mintanya!"

Huhu.

Karena ini saya nggak berani untuk punya anak lagi. Tanggung jawab yang terlalu besar. What if I screw them up? What if I screw OUR LIFE up?

Komentar paling nggak sopan dan jahat dari segala urusan nambah anak: "nanti kalau ada apa-apa (read: anaknya meninggal) nyesel loh" LIKE HELLO PEOPLE. JADI PUNYA DUA ANAK ITU BACK UP IN CASE YANG SATU MENINGGAL?

No. Jadi ibu adalah pengalaman batin, biarkan saya menikmatinya. Biarkan kalian menikmatinya. Jangan pernah bertanya kapan akan punya anak, jangan pernah bertanya kapan punya anak kedua, ketiga dan seterusnya. Kalau ada yang tetep nanya maka musuhin lol.

Selamat hari Jumat!

Btw ini part 1-nya: Susahnya Jadi Ibu ...

-ast-

PS: Karena ini tulisan lama, jadi banyak soal gadget sebagai pelarian. Sekarang Bebe udah nggak ketergantungan gadget lagi. Minggu depan saya cerita proses detoksnya ya!




Bebe yang Romantis

on
Wednesday, September 27, 2017

Udah lama yaaaa nggak bikin update Bebe, terakhir kayanya pas ultah doang deh sementara minggu depan aja Bebe pas 3 tahun 3 bulan. Kalau ditanya orang anaknya umur berapa saya jawab 3,5 tahun aja biar cepet lol.

Di 3,5 tahun kurang 3 bulan ini (RIBET) saya mau share betapa romantisnya Bebe! Hahaha. Enek enek deh kalian semua. Saya harus nulis ini mumpung dia lagi manis-manisnya dan saya kalau nggak nulis pasti lupa.

Triggernya adalah, kemarin-kemarin sempet baca di Twitter tentang tiger mom yang nggak peduli perasaan anak asal goalsnya dia tercapai. Goalsnya rata-rata ya attitude atau akademik gitu. Terus saya sendiri jadi share bahwa untuk sekarang, goals saya buat Bebe nggak banyak. Dua di antaranya adalah sekolah harus bagus dan Bebe HARUS merasa disayang!

Kenapa? Simpel aja kalau dia di rumah ngerasa disayang tandanya dia nggak akan cari kasih sayang lain di luar rumah. KAYANYA LOH YA. Entahlah hahahaha.

💖 "Aku sayang ibu" 💛

Di keluarga saya, sejak kecil kami tidak terbiasa bilang "aku sayang ibu" atau "aku sayang ayah". Sekarang pas udah gede pun mentok kasih emot cium atau love aja. Emang nggak affectionate dari kata-kata aja gitu loh.

Makanya saya pengen Bebe jadi anak yang bisa ngungkapin perasaan. Jadi sejak Bebe bisa ngomong, tiap inget saya pasti bilang "ibu sayang xylo lohhh". Entah dia nanggepin atau nggak. JG juga pasti nimpalin "appa juga sayang xylo lohhhh". Sampai baru di enam bulanan terakhir dia nimpalin "aku juga sayang ibu sama appa!"

HUAAAA MELELEH BANGET SUPER.

Dan sekarang dia ngomongnya nggak usah saya duluan yang ngomong. Abis pup nih kan saya cebokin sambil dia berdiri, dia suka meluk sambil bilang "sayang ibuuu". Meleleh sekali kaannn. Tandanya dia tau bahwa saya ngomong sayang sama dia itu random aja, dia pun melakukan hal yang sama.

(Baca: Anak dan Pengambilan Keputusan)

💖 Cium-cium 💛

Selain bilang sayang, dia juga hobi meluk dan cium-cium pipi saya! Ini parah sih lebih bikin meleleh dari apapun juga. Jadi suka tiba-tiba mendekat terus cium gitu. Ya ampun anak 3 tahun kenapa bisa lebih romantis dari pacar sihhhh.

Dan ya, urusan bilang sayang dan cium ini sih hanya berlaku untuk ibu dan kadang-kadang untuk appa. Kalau lagi nggak mood, dia pasti bilang "aku sayang ibu nggak sayang appa". Hahahaha.

Kalau abis dimarahin JG dia bilang "aku sayang ibu nggak sayang appa" TAPI kalau abis dimarahin saya pun dia tetep meluk saya dan bilang "aku sayang ibu nggak sayang appa" HAHAHAHAHA.

(Baca: 5 Hal yang Tidak Perlu Dikatakan pada Balita)

💖 "Kalau udah besar aku beli ..." 💛

Satu lagi dari keromantisan Bebe adalah, dia seneng ngomong "kalau udah besar aku beliin ibu ..."

Ini dimulai sejak kamera sama iPad ilang. Udah pernah saya ceritain sih di sini: Kehilangan dan Kuota Kepemilikan

Waktu itu dia ngomong berulang-ulang "Nanti kalau sudah besar aku beli kamera dan aiped buat ibu, ibu senang kan?"

Dan itu berlanjut!

Sampai sekarang kalau saya bilang ingin sesuatu dia pasti bilang "kalau sudah besar nanti aku beliin buat ibu".

Pernah gurunya di daycare muji "wah Xylo celananya baru ya!" dia jawab "iya, nanti kalau sudah besar aku beli celana baru buat kak Wina".

MANIS BANGET ANAKKU YA AMPUN AKU TERHARUUUU. Dan dia cuma melakukan ini ke orang-orang yang dia sayang loh. :')))

💖 "Ibu cantik!" 💛

Entah dari mana Bebe dapet konsep kalau saya udah pake alis dan lipstik itu artinya cantik. Perasaan saya sama JG nggak pernah bilang kalau make up = cantik. Atau emang saya jelek banget kali kalau nggak dandan hahaha.

Tapi kalau saya udah dandan dia suka bilang "ibu cantik, ibu mau ke mana?" Atau dia tiba-tiba suruh saya gerai rambut dan nggak diiket terus bilang "ibu rambutnya gini aja, cantik kaya Elsa". Iya Elsa Frozen lah siapa lagi lol.

Saking seringnya dia bilang ibu kaya Elsa saya sampai pengen beli baju Elsa HAHAHAHAHA. Anaknya total emang kalau ngapa-ngapain, nggak suka setengah-setengah lol.

Atau kaya semalem, dia nunjuk buku cerita dia yang tokoh utamanya princess pake mahkota. Dia bilang "ibu kok nggak punya mahkota gini?" aku bilang "iya nih kok ibu nggak punya mahkota ya?" Dia jawab "iya ibu kan cantik, kok nggak pake mahkota".

KYAAAAA. SUAMI NGGAK ROMANTIS TERBAYAR DENGAN ANAK YANG SUNGGUH MANIS.

Dan apakah dia menganggap JG ganteng? OH TENTU TIDAK. Kalau Bebe abis bilang ibu cantik appa suka jealous dan tanya "appa ganteng nggak?" NGGAAAKKKK. Gitu kata Bebe hahahaha. #somuchwin.

💖 Pegangan tangan 💛

Kalau duduk di carseat, maka pegangan tangan. Kalau pelukan udah pegel, maka pegangan tangan. Kalau udah capek jalan sambil pegangan tangan, maka duduk di stroller sambil pegangan tangan.

Intinya di mana-mana pegangan tangan sama Bebe huhu gemes.

*

So far saya merasa berhasil sih untuk urusan disayang ini. Karena meskipun sayang sayangan gini, kami nggak manjain juga sih. Nggak boleh ya nggak boleh, nggak sopan ya nggak sopan, tidur ya tidur. I'm so proud of myself lol.

Jadi ya itu aja sih. Pesan untuk kalian yang mau punya anak romantis dan sweet kaya Bebe, dimulailah sejak dia bayi! Bilang sayang kapan pun, cium dan peluk kapan pun. Pastikan dia selalu merasa disayang bahkan ketika kita sedang mendisiplinkan dia.

Oke itu aja curhat hari ini. Buibu yang anaknya laki-laki, ayo tunjuk tangaaannn! Pasti pada romantis juga kan anaknya! 💖

-ast-




Pertemanan Orang Dewasa

on
Monday, September 25, 2017

Urusan teman ini pernah saya bahas singkat di Instagram sih. Betapa makin tua, makin sedikit punya temen. Saya sih sadar banget, I'm a bad friend, shitty one, worst ever lah. Makanya temen saya sedikit banget simply karena saya jarang sekali bisa meluangkan waktu untuk mereka.

Oke kalau temen mungkin banyak ya. Temen kantor, temen kuliah, temen deket yang masih suka pergi-pergi bareng gitu. Sahabat lah yang sedikit banget mah. Nggak punya malah hahaha. Sampai tahun lalu, saya nggak punya sahabat sama sekali. Sahabat saya ya JG uwuwuwuwu, bener-bener pertemanan orang dewasa lol.

Baca punya Gesi. Dia abis nyerocos curhat soal temen terus ngajakin nulis lol:

Sebelum ngobrol intens sama Nahla, Mba Windi, dan Gesi sih selama beberapa tahun saya beneran nggak punya sahabat cewek yang bisa saya curhatin segala hal yang literally EVERYTHING tanpa harus nyembunyiin apapun. They know my dark side as much as JG does. I can talk about the past, my family, kids, all without being judged.

Untungnya mereka bertiga punya latar belakang sama, punya point of views mirip-mirip soal kehidupan, level sosial ekonomi sama, jadi mau ngomongin apa juga nggak pernah ada yang tersinggung. Makanya betah-betah aja sahabatan sama mereka. Bisa begini juga karena mulai temenannya pas udah sama-sama dewasa kan.

Kenapa nggak punya sahabat sih?

Dulu mah punya lah. Selama sekolah sampai kuliah pasti punya lah BFF gitu. Cuma seiring berjalannya waktu, saya yang memberi jarak sama mereka padahal merekanya masih suka rajin ngajak ketemuan. Huhu. Maaf ya kalian kalau baca ini. T_______T

Iya saya memberi jarak karena saya ngerasa nggak sanggup untuk maintain begitu banyak orang untuk tetap dekat sama kehidupan saya. Waktu kosong saya sedikit sekali, cuma pulang kerja (yang selalu terburu-buru karena harus jemput Bebe) dan weekend.

Weekend harus dibagi sama beres-beres kerjaan rumah, main sama Bebe, kadang-kadang event juga, dan ... tidur. Iya capek banget lah sekarang tiap hari baru nyampe rumah jam setengah 8 malem, kalau juga harus janjian sama orang makan siang hari Sabtu itu rasanya kaya nggak tenang bangun siang.

Dan perlahan siapa yang lebih penting pun terbentuk dengan sendirinya kok. Temen-temen yang masih ketemuan sampai sekarang adalah temen-temen yang ngerti kalau malem saya cuma bisa ketemu di mall deket daycare Bebe. Mereka yang nggak pernah maksa ketemu dan kalau ketemu pun mau sambil direcokin anak whatsoever.

(Baca: Tips Survive di Jakarta Tanpa ART dan Nanny)

Apalagi kalau di Bandung.

Duh saya di Bandung seringnya cuma dua hari plis, nggak bisa ninggalin Bebe sama ibu saya pula karena Bebe maunya sama saya lah. Masa di Bandung udah mah cuma dua hari terus satu harinya saya harus pergi sama Bebe demi ketemu temen? Kasian ayah sama ibu ingin main sama Bebe.

Kalau pun di Bandung 3 hari karena long weekend, ya satu harinya di rumah mertua lah. Kan mertua juga mau ketemu Bebe. Kalau di Bandung lebih dari 3 hari baru biasanya saya mau diajak ketemuan. Tapi ya jarang-jarang juga sih di Bandung selama itu karena masa mau cuti? 

Sungguh complicated ya.

Karena saya udah ngelewatin cukup banyak hal soal urusan pertemanan ini. Ada yang saya nggak tau apa-apa tiba-tiba di unfriend di semua lini, saya confront langsung nggak pernah berbalas. Patah hati sih, tapi ya udah. Ada yang bilang saya katanya "pura-pura" teman. Padahal saya nggak ngerti juga masalahnya apa, nggak ngerti kenapa mereka jadi ngejauhin dan nggak nganggep temen lagi. 

Mungkin karena sayanya juga thinking banget ya. Jadi gampang bikin orang tersinggung karena semua diukur pake logika, bukan pake perasaan. 

Saya males harus basa-basi model Cinta di AADC gini:

Temen: "eh ketemuan dong"
Orang lain: "iya dong ayo kapan dong" (padahal males dan nggak niat sama sekali)
Temen: "iya lo bisanya kapan"
Orang lain: "iya kapan ya duhhh"
Temen: "lo deh yang nentuin"
Orang lain: "ya udah tar dikabarin deh sorean" (terus ngilang pergi ke Kwitang sama Rangga lol)

GUE NGGAK BISA GITU. Kalau mau ketemu pas bisa ya bilang bisa, kalau nggak mau yang bilang nggak mau detik itu juga. 

Temen: "eh ketemuan dong"
Saya: "yah nggak bisa nih lagi capek banget Bebe daycarenya jauh"

END. Nggak perlu ada basa-basi kapan dong kapan dong. Kadang kelamaan mikir pengen basa-basi tapi seringnya malah kelupaan bales chatnya. Hhhh. Nggak heran kan saya nggak punya temen.

Tapi ya saya move on dan sadar bahwa pertemanan itu sesuatu yang fragile banget. Ada yang memang hilang seiring waktu, ada yang mati-matian kita usaha untuk mempertahankan padahal sebetulnya tidak perlu. Ada yang bisa retak *krak* tanpa kita tau alasan jelasnya. 

Sekarang saya percaya bahwa teman yang benar-benar teman tidak perlu dipertahankan. Mereka akan terus ada di sekitar kita tanpa kita usahakan. Mau ketemuan nggak usah pake rencana ini itu tau-tau jadi, makan malem dadakan tau-tau bisa. Atau malah level Gesi yang nggak janjian ketemuan pun tau-tau lagi sama-sama di Sency hahahaha.

Dan memang ada teman-teman yang tidak perlu diperjuangkan. Apalagi kalau temen zaman ABG dulu, we're different person back then, things change. Nanti yang diomongin masa lalu lagi, kalau kita udah nggak begitu kemudian dipandang sebelah mata dan dibilang "wah lo berubah ya?"

Yaiya berubah lah. Kan tambah dewasa, tanggung jawab makin banyak. :)

Atau bisa juga karena dulu rasanya nyambungggg banget sama segala hal. Sekarang ketemu udah gede gini kok ya ngobrol apa-apa nggak nyambung. Udah nggak share value yang sama lagi, jadi bingung sendiri kok dulu bisa temenan ya?

Jadi kalau sekarang ngebayangin, ih kangen ya sama si A padahal dulu ke mana-mana sama-sama banget, kok sekarang dia jauh ya? Ya wajar. Karena itu kan DULU.

Dengan lingkungan dan pola pikir kita yang dulu, kita BFF sama dia. Dengan lingkungan dan pola pikir yang sekarang, ya nggak nyambung lagi ternyata temenan sama dia. Nggak bisa kita berteman setelah jadi dewasa sama dia.

Apalagi kalau sahabat-sahabat kitanya toxic. Udalah jauhin aja nggak perlu tetep jadi sahabat "demi masa lalu, dulu dia doang yang ngertiin gue". Demi masa lalu terus bela-belain bikin repot hidup yang sekarang. BIG NO. Makasih aja atas semua kenangan seru dan cerita masa lalu, sekarang kita hidup masing-masing yaaa.

Oke gitu aja. Kalian gimana? Masih punya sahabat? Atau menganggap suami dan anak serta teman kantor sebagai sahabat? Share yuk!

-ast-




Survey Happy Tree House Daycare Jakarta

on
Friday, September 22, 2017
Lanjut lagi ke hasil survey daycare Jakarta Pusat yeaaayyy! Kali ini nama daycare-nya Happy Tree House Daycare di Setiabudi Jakarta.



Bagi saya dan JG, Setiabudi itu sempurna! Dari segi jarak enak, menjauh dikit sih dibanding daycare lama tapi dulu JG kost di Setiabudi dan itu bikin kenangan banget! Kami jajan di situ banget, nongkrong sama temen-temen di Circle K atau Lawson Setiabudi, nonton di Setiabudi One. Setiabudi is perfect.

Makanya begitu tau ada daycare di Setiabudi kami langsung cus untuk survey. Gimana hasil surveynya? Ini dia.

🏡 Lokasi

Happy Tree House Daycare ada di Jalan Setia Budi VIII No.18. Dia sejajar sama beberapa hotel gitu dan nggak pinggir jalan besar banget jadi cenderung sepi. Jalannya pun besar jadi nggak perlu heboh pagi-pagi gantian parkir sama orang tua lain yang juga anter anak ke daycare.

🏡 Kondisi bangunan

Ada satu yang bikin agak kurang sreg. Jadi satu bangunan ini dibagi dua, di atas kost-kostan dan di bawah daycare. Pintu pake akses khusus tapi di pintu daycare nggak ada akses sendiri. Jadi satu pintu dengan akses itu hanya bisa dibuka oleh orang daycare DAN penghuni kost.

Rada serem nggak sih soalnya kan kita nggak kenal siapa aja yang kost di situ. Saya kebetulan ngobrol banyak sama mbak Yuki (ownernya), dia bilang aman-aman aja sih karena seharian pun pintu tetap dikunci dan hanya orangtua yang boleh masuk.

Tempatnya juga agak kecil, meskipun ada halaman samping dan kanan kiri kaca jadi sinar matahari masuk bagus banget. Ukuran kamar juga nggak terlalu luas, ruang makan sempit, ruang main sebenernya luas tapi ada sofa gede jadi kesannya tetep sempit.

Saya ingin ruangan yang luas soalnya Bebe kan nggak mau diem banget anaknya. Kalau ruangannya sempit dia nanti nyenggol-nyenggol anak lain gitu kan gimana.

Tapi tetep, better cek sendiri dateng langsung. Ini mah menurut saya aja loh ya, maklum sayanya emang banyak mau banget. Hahahaha.

🏡 Rasio caregiver dan anak

Lupa hahaha 1:3 deh kalau nggak salah buat toddler. Dan pas aku survey ke sana, salah satu mbaknya itu dulu mbaknya Bebe di daycare. Pindah karena apalah dulu lupa.

🏡 Jadwal harian

Seperti juga Kidee, Happy Tree House ini juga nggak ada preschool, Jadi jadwalnya standar daycare lah, cuma kegiatannya banyak banget dan bertema! Mulai jam 11-12 dan jam 2-4 sore.

Tiap bulan ada presentasi home project. Pas saya ke sana, home project yang baru dikumpulin itu tentang binatang. Jadi anak dikasih PR untuk bikin maket binatang dan tempat hidupnya gitu seru deh!

Untuk toddler class, setiap bulan ada goal khusus dengan tema yang berbeda dan di-break down jadi tema mingguan dan tema kecil harian. Yang ini kalian harus mampir banget deh ke Instagramnya @happytreehousedaycare. Mereka update kegiatannya dan seru-seru banget!

🏡 Mandi

Mandi sendiri-sendiri dan ada kebijakan tidak boleh telanjang satu sama lain. PLUS POINT BANGET! Suka banget!

🏡 Makan

Sudah termasuk sarapan, makan siang, makan sore, snack 1 kali. Susu bawa sendiri. Makanan dimasak di dapur daycare yang letaknya jauh dari kamar dan tertutup dari area main. Aman lah pokoknya.

🏡 Tidur

Tidur ada di kamarnya yang kasurnya baru dipasang kalau jam tidur. Tapi kamarnya kecil hiksss.

🏡 Program preschool

Nggak ada. Tapi menurut saya sih project hariannya mereka udah selevel preschool banget! NICE!

🏡 Mainan

Mainan nggak terlalu banyak sih. Mungkin karena kegiatannya banyak jadi nggak perlu mainan amat. Oiya mereka nggak punya halaman depan jadi main di halaman samping.

🏡 Jam buka - tutup - overtime

Buka jam 6.30 - 6 sore. Tapi 6.30 pagi kena overtime sampai jam 7 kecuali masih ditemani orangtua. Overtime Rp 15ribu 15 menit. Overtime sore baru dimulai jam 6.15 bukan jam 6. Baik banget yaaa. :)

🏡 CCTV

Ada CCTV dan online.

🏡 Toilet training

Lupa nanya. :|

🏡 Report harian

Report daycare harian.

🏡 Punishment

Sistem time out. Nggak masalah sih hahaha.

🏡 Anak sakit

Seinget saya sih, nggak ada kamar isolasi ya.

🏡 Lain-lain

Field trip rutin satu bulan sekali. Dokter anak 3 bulan sekali, observasi dan kontrol psikolog 4-6 sekali, dokter gigi 6-12 bulan sekali. Kerja sama dengan Posyandu Setiabudi jadi kalau ada program kaya vaksin MR gitu ya ada dokter dateng, vitamin A juga ada. Jadi aman. :)

🏡 Biaya

Biayanya reasonable banget sih menurut aku. Apalagi kalau kerjanya daerah Setiabudi situ. Perfect banget lah ini.

Admission fee: Rp 2juta
Annual development fee: Rp 750ribu

Tuition fee:
Full day (5 hari seminggu): Baby Rp 3,9juta, Toddler Rp 4juta
Half day (5 hari seminggu, 6 jam sehari) atau Half Week (3 hari seminggu): Baby Rp 3,5juta, Toddler Rp 3,6juta
Daily rate: Baby Rp 350ribu, Toddler Rp 360ribu
Weekly rate: Baby Rp 1,6juta, Toddler Rp 1,7juta

Diskon 10% kalau follow di Instagram loh!

*

Plus point lagi ownernya baik banget super super baik. Saya chat malem-malem juga dibales dan bisa diajak diskusi soal daycare lain. Malah yang yakinin saya untuk pilih daycare yang sekarang itu dia! Baik banget deh beneran sampai terharu. Enak kalau ownernya baik jadi bisa curhat kan. Anaknya dia dua dan dua-duanya juga ditaro di Happy Tree House sih jadi nggak khawatir banget.

Yes, I think that's all! Masih ada sih review daycare Jakarta Pusat saya yang lain tapi nanti nulis kalau sempet ya!

Baca review sebelumnya:

REVIEW LOVELY SUNSHINE DAYCARE BENHIL
REVIEW TWEEDE DAYCARE BENHIL (DAYCARE BEBE 3 TAHUN TERAKHIR)
REVIEW KIDEE CHILD CARE SENOPATI

dan cerita plus tips seputar daycare di tag:

TENTANG DAYCARE

Atau kalau mau tanya-tanya langsung soal daycare bisa dm ke Instagram saya @annisast.

See you daycare mommies!

-ast-