-->

Image Slider

Mendefinisikan Nakal

on
Wednesday, January 11, 2017

Bulan lalu saya belanja bulanan di Bandung. Pringles lagi diskon buy 1 get 1 free. Ini pertama kali Bebe makan cemilan model begini, biasanya dia makan mentok biskuit doang. Coklat dan permen belum pernah makan. Excited dong Bebe.

JG antri di kasir, saya ambillah itu Pringles dan ajak Bebe duduk di bangku depan supermarketnya. Di bangku itu ada anak umur 4 tahunan berdiri di kursi, bersama perempuan setengah baya yang saya duga neneknya. Ternyata benar,

*Ah elah mau bilang anak umur 4 tahun duduk sama neneknya aja ribet lol*

Karena Bebe excited ingin makan, Bebe kalem. Dia manis sekali. Nggak lari-lari atau apa. Si nenek itu ngeliatin kami terus sampai akhirnya nyeletuk.

"Berapa tahun ini neng? Meni (kok) kalem gitu, ini mah nakal," katanya sambil menunjuk sang cucu.

NAKAL. INI MAH NAKAL. SI CUCU DIBILANG NAKAL.

T________T

na.kal
[a] (1) suka berbuat kurang baik (tidak menurut, mengganggu, dsb, terutama bagi anak-anak) (2) buruk kelakuan (lacur dsb) - source kbbi

Saya jawab, "Dua tahun setengah bu, nakal kenapa emangnya?"

"Ya ini naik-naik kursi, kalau di rumah duh nggak mau diem. Blablabla," si ibu full curhat mode-nya diaktifkan.

Yang ada di otak saya cuma satu. Anak naik kursi dibilang nakal. Anak lari-larian dibilang nakal. Kok sedih sekali.

T________T

Apa definisi nakal?

Dulu, seperti yang saya ceritakan di postingan Karma Anak Laki-laki ini definisi nakal saya memang seperti itu. Tapi kan itu waktu saya kecil, setelah punya anak sendiri, ya berubah lah. Kok tega banget bilang anak sendiri nakal?

Kalau menjudge anak sendiri nakal, apalagi masih balita, apa yang sudah kita lakukan sebagai orangtua? Karena menurut saya, nakal pada balita itu masalah pola pikir sebagai orangtua.

Nakal itu judge yang parah sih menurut saya. Karena anak balita bukan tidak mau menurut tapi memang tidak mengerti bahwa ia HARUS menurut. Maka ia harus diberi pengertian, bukan dilabeli nakal. Karena melabeli nakal pada balita itu nggak ada gunanya.

Oh wait, kayanya memberi label nakal pada semua orang itu nggak ada gunanya. Cewek nakal dan cowok nakal aja definisinya nggak sama. Hih.

(Baca: Bebe Umur 2 Tahun itu Bikin Pusing!)

Karena si anak dilabeli nakal lalu apa? Lalu kita stres karena merasa punya anak nakal. Padahal yang pertama kali bilang si anak nakal itu siapa? Kita sendiri.

Bebe jauh dari kalem. Tapi kalau dia naik kursi ya dijaga aja biar tidak jatuh. Kalau memang bahaya yang diberi tahu kalau itu bahaya, nanti Bebe jatuh. Kalau marah? Diamkan. Kalau kita kalah karena dia marah? Kita yang gagal.

Iya kita yang gagal. Kita memberi kesempatan pada si anak untuk menunjukkan bahwa kita lemah dan kurang tegas. Padahal balita butuh sosok yang tegas, sosok yang dia percaya. Dengan tegas dia nggak akan benci sama kita kok. Kalau udah terlanjur gagal? Masih ada kesempatan.

Besok lagi juga anak akan melakukan hal yang kita rasa salah kok, dijamin. Jadi orangtua kan proses seumur hidup, nggak mungkin mulus terus. Sesekali gagal tapi tolonglah jadikan pelajaran. *ngomong sama diri sendiri*. Bukannya jadi menyalahkan si anak dengan bilang "ini anak nakal".

Lebih parahnya lagi membandingkan dengan anak orang lain. Bebe dianggap kalem karena duduk, si cucu dianggap nakal karena berdiri di kursi. Kenapa dia sungguh yakin kalau Bebe tidak pernah naik kursi? Dijadikan perbandingan itu menyakitkan, saya langsung kebayang ibu si anak.

Ibu si anak mungkin hidupnya tertekan karena ibunya sendiri mengkritik cucunya sebagai cucu yang nakal. Sedih. :(

(Baca: Tips Menangani Anak Tantrum di Tempat Umum)

Kalau anak sudah usia SD atau SMP sih menurut saya karena definisi "nakal" nya sudah bisa dalam level mengganggu ketertiban umum. Pernah saya lagi makan indomie di warung deket kostan dulu, dan tiba-tiba anak empat anak SD pake seragam pramuka mengobrol di depan warung, mereka membuka tas, DAN MEMINDAHKAN CELURIT. Dari tas si anak satu ke tas anak lain.

ANAK SD. MEMINDAHKAN CELURIT. Si ibu warung langsung melempar anak-anak itu dengan kursi plastik dan mengusirnya. Mereka diancam agar tidak main lagi ke daerah situ. Mereka kabur terbirit-birit.

Oke kalau level seperti itu baru bisa dibilang nakal sih. Meskipun tetep pertanyaannya mendasarnya "orangtuanya ke mana? kenapa bisa mereka begitu?" Kadang orang harus dibekali otak dulu sebelum memutuskan untuk punya anak.

Ya tetep, problemnya di orangtua.

Apa definisi nakal buat kalian?

Tolong jangan bilang nakal pada balita ya karena kasihan. :(((((

-ast-




Sukin Super Greens Detoxifying Face Scrub Review | #SelasaCantik

on
Tuesday, January 10, 2017
Halo halooo!

Saya sibuk nih gengs. Nggak sempet nulis sedih bangeeettt. T________T Tapi karena sekarang Selasa dan jadwalnya #SelasaCantik jadi ini dia. Kali ini Wina review face scrub organik Sukin Super Greens Detoxifying!

Jadi inget face scrub saya juga habis dan saya belum beli lagi. Ngeri sendiri mikirin nggak exfoliate kulit muka rutin.

Oke ini dia review dari Wina.






💖 Dikemas dengan tube dark green doff dengan tutup flip-flop yang anti bocor.

💖 Tekstur scrub pearl white dengan micro beads yang lembut ketika diaplikasikan ke wajah. Nggak terasa kasar.

💖 Facial scrub yang mengandung kale, spirulina, chlorella, dan parsley untuk kulit yang lebih sehat dan glowing.

💖 Mengandung jojoba beads dan bambu yang berfungsi untuk exfoliate kulit.

💖 Cocok untuk semua jenis kulit.

💖 Wanginya seperti bungkus permen Sugus.

💖 Setelah dibersihkan, wajah terasa lembut dan kenyal, nggak terasa ketarik.

💖 Efeknya wajah terasa lebih bersih, segar, dan kenyal berkat kandungan "hijau" pada facial scrub ini.

💖 Hemat pemakaian karena hanya perlu seukuran ujung jari untuk seluruh wajah. Pemakaian yang disarankan 2-3 kali sepekan.

💖 Bebas sulfat dan paraben.

💖 Produk facial scrub yang ramah lingkungan atau carbon neutral product.



💔 Product After Opening (PAO) terbilang singkat, hanya 6 bulan.

💔 Belum dipasarkan secara resmi di Indonesia, beli melalui online shop.

💔 Harganya cukup pricey tetapi karena ini produk organik dan ramah lingkungan, quite worth the price.



Rp175 ribu untuk kemasan 125ml



Benscrub.com



Yes



🌟🌟🌟✰✰

3 out of 5

Sampai jumpa di #SelasaCantik berikutnya!
Follow Wina di social media dan main-main ke blognya ya!

BLOG | IG: @mrswynnz | Twitter: @mswynnz






Puisi Cinta Masa Lalu

on
Friday, January 6, 2017

Siapa yang suka nulis puisi? SAYAAAAA!

Dulu saya anaknya nulis puisi banget, terpengaruh siapa lagi lah selain geng Cinta. Geng Cinta jadi pengaruh besar dalam hidup sampai waktu SMA saya pernah bikin puisi satu halaman dan baca di radio!

Jadi program apa ya namanya lupa, pokoknya program di mana kalau kamu anak sekolah dan punya bakat, kamu boleh tampil dan siaran gitu. Dipandu sama penyiarnya dan saya pun baca puisi. Dih lupa banget puisi apa dan di mana sekarang, sebel padahal penasaran hahahaha.


Baca yang lain:
Gesi: Gamang | Windi Teguh: Pernah Galau | Nahla: Rantai


Terus ya udah bikin puisi mulu random, awalnya tulis tangan, terus ditulis di notes hp Nokia 6600, terakhir di notes Blackberry. Dan ternyata saya cuma bisa bikin puisi kalau lagi galau. 😂😂😂

Iya entah kenapa kegalauan melahirkan kekuatan dalam memilih dan merangkai diksi. Makanya pas pacaran dan LDR sama JG produktip banget bikin puisi. Pas nikah? Yaelah males amat. Niat pun tak ada. 😂😂😂

Monmaap kalau ada kata-kata geografi macam Selat Sunda karena dulu JG pernah ditempatkan di Lampung lama sekali. Alasan yang masuk akal untuk nulis puisi kan? KAN? KAANNN? Pun pendek-pendek karena itu pas zaman semua orang puisian di Twitter. Kangen amat socmed tanpa politik.

Puisi-puisi ini nggak pernah dipublikasikan. Mentok JG doang yang baca. Ini pertama kalinya, entah menurut orang lain bagus atau nggak. Apa layak disebut puisi apa nggak. Saya nggak terlalu paham juga sebenernya sih urusan puisi ini. Cuma pengen ngasih info aja kalau saya juga bisa loh (dulu) nulis mellow mendayu, bukan cuma teriak-teriak curhat aja. Hahahaha.

Enjoy!

Warning: Cheesiness scale: 10 out of 10. 😂😂😂

resah. gelisah. gundah.
lelah. marah.
panah. arah. darah.
merekah nikmat. lamat-lamat.
berat. hasrat. biar luka ini kubebat.

meski cacat.

Jarak dibatasi selat. Hati dibatasi rindu. Aku berdiri tapi tak menapak bumi. Aku berjalan tapi menjejak kekhawatiran. Aku duduk dan tertunduk. Sedih tapi sudah tak bisa menangis.
Cepat pulang, sayang. Berpeluk menghabiskan malam. Bercerita tanpa terbatas sinyal yang kadang gila. Bercium yang bukan titik dua dan tanda bintang.

Kau minta aku beralasan. Alasan mencintaimu yang pasti berujung pujian. Tapi sesungguhnya tiap kalimat pujian pasti memiliki kebalikan. Maka dengan itulah mencintaimu tak pernah butuh alasan.

Angka memaksa kita mengukur. Membuat jarak jadi punya makna. Apa gunanya kalau rindu ini tetap sama?

Membayangkan terpuruk ke pelukanmu kala mengantuk. Tanpa harus menyadari kalau aku hanya terduduk. Sendiri merasakan rindu yang menusuk dan kosong yang merasuk.

Sejauh raga terpisah selat sunda tapi hati terus dipaut oleh rindu yang menghitung mundur waktu. #BaladaLDR

Seperti danau dihiasi bangau, taman bunga cantik berumput hijau limau, suaramu parau dan tak henti meracau: Ini aku yang rendah hati. Cinta kamu setengah mati. TITIK.

Seperti ucapmu tentang pertanyaan ‘sudah makan belum?’ yang tidak pernah begitu sederhana, bagiku 'titik dua dan kurung tutup’ darimu pun selalu dipenuhi tanda tanya.

Adalah kamu di kota itu. Kota di mana mentari terpaksa angkuh agar bisa hadir di antara awan abu-abu. Apakah kamu tahu bahwa rinduku memilihmu?

BOOM! 💣💣💣

Kaget nggak? Hahahaha. Yang mau ketawa silakan, yang enek dan mau muntah silakan loh. Masa muda adalah masa-masa paling layak ditertawakan, apalagi muda dan LDR lolol.

Udah itu aja. Yang mau share puisi lamanya juga boleehhh. Kalau sudah berlalu, mari kita tertawakan bersama. Kalau belum berlalu, sini tante pukpuk. Semua akan berlalu kok. ❤️

-ast-




#SassyThursday: Privasi

on
Thursday, January 5, 2017

Hai hai!

Tema #SassyThursday kali ini adalah privasi! Saya terinspirasi dari soal pemerintah yang mau memonitor chat di WhatsApp. Artinya privasi kita diganggu pemerintah!

Yaelah sis, pemerintah juga nggak kurang kerjaan bacain WhatsApp semua orang. Hanya karena mereka bisa, bukan berarti mereka akan melakukannya pada semua orang. Lagi emang chat-chat situ penting banget bagi kelangsungan masyarakat luas? HAYO?

Baca punya Nahla:

Kalau kerjaan? Ya pakai yang lain lah, masih ada yang pake WhatsApp buat hal-hal panjang lebar seputar kerjaan yang confidential? Pada pake Slack kan buat kerjaan mah?

Iya ngerti pemerintah tidak seharusnya masuk ke ranah pribadi. Tapi kan WhatsApp ini out of control banget. Kalau misal WhatsApp ada trending topic nih ya, pasti akan ngagetin karena pasti kata-kata yang trending seputar hoax atau sebarkan jangan berhenti di kamu.

HUFT. Untung udah nggak punya grup yang share semacam itu. Left ajalah, saya nggak temenan juga nggak apa-apa daripada capek hati hanya demi silaturahmi. Silaturahmi sama orang-orang yang nggak punya otak mah kan cuma bikin makan ati ya nggak? Ujung-ujungnya jadi sibuk ngejelasin dan nggak produktif di hal lain.

Groupnya group keluarga? SAYA LEFT JUGA SATU HAHAHAHAHAHHAHA. Tersisa yang terpelajar aja bahan obrolannya. Sudahlah biarkan kalaupun jadi diomongin om tante. Kalau ketemu jelasinnya lebih enak "males om, banyak hoax". Daripada jelasin di group mah yang ada juga diceramahin ya kan. Mereka tetep nggak ngerti, kita sakit kepala.

KOK MARAH-MARAH SIHHH? AUK AH.

Kalau privasi yang lain seperti di dunia nyata?

Ini setiap keluarga beda-beda banget ya ternyata. Di rumah saya privasi itu diutamakan banget. Ibu saya kalau mau ambil sesuatu di lemari saya, pasti chat dulu. Adik-adik saya juga sama. Nggak ada urusan pinjem baju nggak ngomong karena kalau mengambil barang orang ya ngomong lah.

Mau masuk kamar harus ketok pintu dulu, siapa tau yang di kamar lagi ganti baju. Ya pokoknya urusan semacam ini dihargai sekali.

KELUARGA JG NGGAK. Awalnya saya shock, sekarang udah biasa.

Iya jadi di keluarga mereka itu baju dipake sama-sama aja. Keluar masuk kamar nggak ketok pintu dulu nggak masalah. Apalagi ya, pokoknya saya ngerasa ini kok aku seperti ditelanjangi? LOL LEBAY SIH. Intinya semacam, kok santai banget sih pake kaos saya yang ketinggalan? Malah ternyata udah cuci kering berapa kali dan sayanya nggak tau.

Kalau sama pasangan?


Saya dan JG level yang terbuka semuanya. Yang kalau mau baca chat ya silakan aja, mau baca DM ya boleh aja, nggak ngerasa terganggu atau apa. Karena mungkin kami nggak menyembunyikan apa-apa ya. Saya chat dengan teman-teman saya ya saya yang ngobrol sama dia. Cara bicara sama, jadi dia nggak akan menemukan keterkejutan apapun.

Meski demikian bukan berarti saya jadi cek terus-terusan juga. Nggak lah ngapain? Hanya karena saya punya akses, bukan berarti saya harus memeriksa kan? Ini persis sama urusan pemerintah dan WhatsApp hahahaha.

Tapi kan namanya orang beda-beda ya, ada juga, yang meskipun nggak nyembunyiin apa-apa, tetep nggak suka kalau hpnya dibuka-buka. "ITU KAN PRIVASI AKU!" gitu katanya. Ya kalau terganggu sih silakan, tapi kalau curiga dikit akan berujung ngecek diam-diam nggak sih? Atau ya udah saling percaya aja?

Malah ada yang buka dompet pasangan aja nggak berani. Dompet emang naro apa sih? Banyak rahasia yang bisa disimpan di dompet ya? Seperti struk makan? Hayo kok ada struk di resto A, makan sama siapa? Hahahaha.

Saya sih nggak bisa kaya gitu ya. Percaya justru karena bebas. Kalau nggak bebas malah kayanya nggak percaya.

(Baca lebih lengkap soal Privasi dan Pasangan di sini)

Kalau di dunia maya?


Katanya era internet adalah era di mana privasi itu bullshit. Nggak juga kali ah. Tergantung masing-masing orangnya. Saya tetep jaga privasi Bebe. Dulu Instagramnya saya nggak private tapi sekarang private karena kasian ah, anaknya makin gede. Saya mau yang follow dia adalah benar-benar orang baik, bukan ol shop hahaha.

Rata-rata yang follow Bebe ibu-ibu dengan bayi atau balita juga sih. Juga bayi-bayi lain. Tapi meski private ya tetep nggak saya sebar-sebarin juga nama lengkap Bebe. Nggak usahlah ya.

Privasi paling blur adalah chat di WhatsApp dan status Path. Karena semua tergantung temen-temen kita banget! Kalau kita udah pilih-pilih apa yang di-post di Facebook (yang massanya banyak) dan mana yang di-post di Path, tapi ternyata ada temen Path kita yang screencap dan sebarin ke orang kan apa gunanya coba?

Apalagi WhatsApp dan group-group "private" lainnya. Harus hati-hati banget karena emang percaya sama semua membernya? Sering kan denger orang ngomongin orang lain karena dengar dari group WhatsApp yang saling beririsan anggotanya?

Oiya menjauhkan diri sama tetangga juga ternyata masuk ranah privasi loh!

Iya tadi saya baca teorinya cuma lupa save link hahahaha gagal. Jadi ada orang-orang yang merasa hp privasi kamar bukan, atau sebaliknya. Nah ada juga yang menganggap bergaul dengan tetangga itu melanggar privasi wow wow.

Iya sih. Bisa juga. 

Apalagi ya? Kalian gimana? Apa yang private apa yang nggak?

Jangan jawab les ya yang private. *kriuk*

-ast-




Drama Daycare

on
Wednesday, January 4, 2017

Seperti sudah diduga sebelumnya, Bebe akan drama setelah 10 hari liburan sama saya.

T_______T

Iya jadi kemarin saya dan JG memutuskan mengambil cuti terlama di dunia lol. Terlama untuk ukuran saya dan JG yang nggak pernah cuti. Cuti 4 hari plus libur Natal dan Tahun Baru jadi total 10 hari bersama Bebe. Yang dikhawatirkan apa?

Sejak awal yang saya khawatirkan adalah saya yang tidak sanggup bersama Bebe lama-lama. Saya akan bosan dan capek sekali. Jadi full time mom 10 hari ohmai. Kutakshanggupppp!

Tapi ternyata nggak hahahaha. Bebe sudah besar, sudah bisa diajak ngobrol dan main. Sudah bisa main dengan orang lain. Jadi saya cenderung santai.

(Baca: Sedikit Cerita Liburan dan Tentang Vlogging)

Dramanya baru terjadi kemarin pagi. Bebe nempel terus sampai saya nggak bisa turun di kantor. FYI urutan jarak dari rumah adalah kantor saya, daycare, kantor JG. Jadi saya selalu turun pertama. Biasanya Bebe selalu kalem di carseat, kali ini nggak.

Sampai daycare dramanya berlanjut, dia tampak kangen sekali pada daycare. Jalan-jalan keliling ruangan, masuk kamar, tiduran, cari mobil-mobilan TAPI SAMBIL PEGANG TANGAN SAYA.

WHY.

"Ibu jangan keja" like a million times.

T________T

Karena mbaknya Bebe sungguh pemberani dia memutuskan "bu, aku angkat (paksa) aja ya? ini kayanya gini terus deh" Saya mengangguk, kemudian dia mengangkat paksa Bebe dan saya pun pergi. Ngamuknyaaaaa, sampai kedengeran ke trotoar. Padahal saya sengaja keluar dari teras dan tunggu ojek di trotoar

T________T

Soalnya memang ada masa-masa Bebe manja ingin saya ikut antar ke daycare tapi sampai daycare dia biasanya lempeng. Cium pipi saya dan langsung main sama temennya. Libur terlalu lama memang setara dengan pembunuhan perlahan.

(Baca: Liburan Mengacaukan Disiplin!)

Sampai di kantor saya kalem lah menikmati me time 😂😂😂 Pas dijemput drama lagi dia. Kata mbaknya seharian nggak nangis, pagi pun cuma nangis sebentar terus minta makan dan mandi.

Kebetulan Bebe lagi minta mobil polisi besar karena mobil-mobilan polisi yang dia punya kecil.

Ibu: "Be, kalau besok di daycare tidak menangis, ibu belikan mobil polisi besar deh!"

Bebe: "Mau ibu, Salo ikut beli mobil polisi besal"

Ibu: "Tapi besok ibu kerja, Xylo di mana?"

Bebe: "Nggak mau, Salo sama ibu, ikut ibu keja"

Oh no, ini anak nggak bisa disogok. LOL

15 menit kemudian setelah bercerita main di kelas bersama gurunya. Dengan pujian pintar dan hebat tentunya.

Ibu: "Kalau anak pintar sih di daycare nya tidak menangis"

Bebe: "Salo ga nangis"

Ibu: "Iya jadi besok main sama abang ya di daycare"

Bebe: "Nggak mau!"

Sungguh pendirian yang sangat kuat dan tidak mudah goyah. Aku bangga. 😪

Terus saya jadi kasian, kepikiran, karena ini kan masa adaptasi. Apakah kalau nanti setelah seminggu dia nggak nangis lagi itu karena dia senang atau karena dia terpaksa menerima?

😩😩😩

Apakah dia akan menyimpan dendam padaku karena aku buang dia di daycare?

*sinetron abis*

Ya intinya, saya bisa tenang meninggalkan anak di daycare itu karena dua alasan ini.

1. Daycarenya menerapkan nilai-nilai yang sama dengan saya. Serius saya survey dua daycare di sekitar daycare Bebe, bentuknya ya daycare bukan rumah. Nggak membedakan kamar anak laki-laki dan perempuan, dua anak dimandikan sama-sama. Padahal fee bulanannya lebih mahal.

Apa kabar sih belajar gender dan rasa malu?

2. Bebenya kalem. Iya Bebe hanya menangis di hari pertama. Karena dia masuk di umur 3 bulan hahahaha. Anak-anak yang masuk di umur 1-2 tahun sih nangisnya dari rentang seminggu sampai 2 bulan. IYA DUA BULAN MENANGIS SETIAP HARI MENCARI IBU YANG BEKERJA.

Stresnya kebayang.

T________T

Hari ini hari kedua ke daycare pasca liburan dan tadi pagi Bebe sudah masuk ke daycare dengan tangan di belakang menyembunyikan tikus-tikusan karet dan berencana nakut-nakutin mbaknya.

😂😂😂

Thank God cuma sehari doang ternyata dramanya! Saya pikir bakal seminggu! Saya masih tidak boleh turun di kantor, tapi di pintu depan daycare sudah cium pipi saya dan masuk sendiri.

Tapi sejak sore sampai malam sampai pagi memang saya tatar terus. Terus saya ulang-ulang kalau besok ibu-ibu dan bapak-bapak kerja sementara anak-anak akan main sama-sama di daycare. It works!

Jadi kalau saya mau sewenang-wenang men-judge. Anak-anak yang rewel saat ditinggal ibunya kerja itu mungkin memang tidak nyaman dengan lingkungan selama ibunya kerja. Mungkin ya. Karena anak-anak daycare itu jarang sekali drama ditinggal ibunya. Anak baru doang atau si Bebe abis liburan. Hahahaha.

(Baca: 5 Kondisi Tidak Butuh Daycare)

Ya nggak perlu semua anak di daycare juga, tapi gimana caranya lingkungan tempat anak bermain selama ditinggal kerja itu nyaman. Gitu aja sih.

Kekhawatiran sirna. Mari menikmati me time alias kerja lagi!

Semangat ibu-ibu! Selamat meeting! Jangan lupa bercermin dulu sambil senyum biar hepi!

💓

-ast-