Tentang Kejujuran

on
Wednesday, March 25, 2015

Setelah punya anak, saya seperti diingatkan terus tentang kejujuran. Awalnya karena banyak baca artikel parenting tentang bullying. Salah satu tipsnya adalah mengusahakan agar anak tidak berbohong pada orang tua. Karena kalau anak tidak jujur bisa kacau. Dibully di sekolah, dia nggak bilang.

Tapi kok ya susah ya zaman sekarang cari orang jujur? Karena ternyata kejujuran itu bukan dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, bukan dipengaruhi oleh status sosial.

Di kantor, ada lulusan Amerika tapi kerjanya lambaaattt. Ngakunya pekerjaan dia sudah selesai tapi ternyata masih tertahan di sana-sini. Tertahan karena ternyata bagian yang harusnya dia kerjakan belum juga dikerjakan. Tapi terus menyalahkan orang lain. Kenapa nggak jujur aja kalau memang pekerjaan dia yang belum selesai?

Di kantor suami adaaaa juga yang beli kacamata dengan asuransi kantor. Harga kacamata 500ribu, tapi minta kuitansi ke toko kacamatanya 1 juta. Supaya untung 500 ribu. Entahlah hal kaya gini dosa atau nggak, tapi yang jelas tidak jujur kan?

Yang maha dahsyat adalah yang double klaim asuransi. Ini juga akal-akalan perusahaan asuransi untuk dapat klien ya ternyata. Jadi saya pernah dapat telepon dari sebuah bank yang menawarkan asuransi kesehatan. Saya bilang tidak perlu karena saya dicover kantor saya sendiri dan dicover kantor suami dengan jumlah yang alhamdulillah sudah sangat berlebihan. Apa jawaban dia?

"Kebetulan asuransi dari kami bisa double klaim, Bu. Jadi keuntungan untuk ibu, setelah klaim ke kantor, bisa klaim lagi ke kami," jawab mas-mas itu.

Naik darah ke ubun-ubun. Langsung saya marahi, kenapa mas mengajarkan orang untuk tidak jujur? Kenapa persoalan sakit malah jadi lahan untuk nyari untung? Keterlaluan. Kemudian dia minta maaf, telepon saya tutup. Kesel. Kesel banget.

Yang paling hot, tentang pajak. Punya bisnis gede tapi ogah bayar pajak. Ih malu. :)))) Tinggal di Indonesia mau nggak mau nurut sama hukum Indonesia dong. Yang nulis buku, royaltinya dilaporkan nggak? Laporkan dong. Jadi warga negara yang baik. Toh nggak rugi juga, nggak keluar waktu banyak hanya untuk laporkan SPT tahunan. :)

Ada yang di kantor sampai malem ngakunya lembur biar dapet uang lembur. Tapi ternyata malah internetan doang streaming nonton film. Adaaaa. Ada yang pakai mobil kantor untuk kepentingan pribadi terus uang bensinnya tetep di-reimburst. Adaaa. Pusing. Kebanyakan.



Terus kemarin saya ke Jakarta Toys Fair, JG cari mainan dan saya nyari Duplo diskonan buat Bebe. Gileeee, booth Lego segede gitu mas yang jaga sedikit banget! Mana ada Lego "kiloan" yang bebas ambil sendiri sepenuhnya plastik yang disediakan seharga 200 ribu aja. Tanpa ada penjaga. Semua emak-emak dan bapak-bapak pada brutal ngambil sesuka hati. Dalam hati saya, kalau pun ada yang maling nggak bakal ketahuan ya karena kondisi yang berdesakan. Di situ pentingnya kejujuran.

Lanjut ke booth lain, ada satu booth yang jual mini figure TANPA PENJAGA SAMA SEKALI. :D Jadi hanya disediakan kotak dan diminta memasukkan uang 50ribu, kemudian boleh ambil satu mini figure. Entahlah di dalam kotak itu ada uangnya atau tidak. Entahlah mini figure yang "hilang" sesuai nggak dengan uang di dalam kotak. :)

Satu hal lagi tentang kejujuran. Seberapa jujur sama suami? Belanja dulu apa minta izin dulu? HAHAHAHA. Karena ternyata banyak ya yang menganut prinsip: if you don't like it then you don't need to know that I'll do it. :)))) Jadi misal suami melarang membeli sesuatu, Artinya suami nggak perlu tahu kalau istri udah beli. :)))))

Tapi kalau yang ini mah soal habit aja kayanya ya. Bukan soal jujur nggak jujur. Kalau tipe saya dan JG kan tipe yang teleponan setiap saat. Mau makan telepon, mau solat telepon, istirahat telepon, mau pulang telepon, selama di kantor, JG nelepon bisa 10-14 kali. Kalau udah gitu nggak mungkin lah ada apa-apa nggak bilang kan.

Yang jadi concern saya soal kejujuran ini, orang tua yang nggak jujur, apakah mengharapkan anaknya jujur? Misal soal reimburst kacamata itu, itu kan sama aja dengan anak bohong bilang mau beli buku harga 100ribu padahal bukunya cuma 50ribu. Ya kan?

Saya sendiri sudah bersyukur suami dicover kantor untuk beli kacamata. Itu saja sudah untung kan? Kenapa harus cari untung lebih banyak? Kenapa serakah?

Ayo berusaha hidup sejujur mungkin demi generasi berikutnya yang juga menjunjung tinggi kejujuran! :)


-ast-
LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

19 comments on "Tentang Kejujuran"
  1. Wah..., jadi inget dulu semasa sekolah pas SMA. Sempat dibuka kantin kejujuran. Satu ruangan kelas di desain dengan beberapa rak dan baskom ditata di atas meja. Isinya jajanan. Ada tulisannya, ini harga 500, 1000, dll. Meja dibentuk berkeliling dan di tengahnya terpusat kotak isinya kotak uang terbuka. Maksudnya kalau misal ada kembalian, bisa diambil sendiri.
    Berjalan beberapa minggu, terus ditutup. Karena pendapatannya nggak sesuai. Hehehe..
    Kaya begitu kadang bukan tabiat orang, bisa jadi karena kesempatan. wkwkw...

    Btw, itu asuransi bisa beralih jadi bisnis, bisa doble claim. Hahaha... Aku pernah pakai asuransi untuk kacamataku. Cuma dapat 200 ribu. Aku beli kacamata frame+lensa 425. Sisanya bayar sendiri. Itu aja udah lumayan ringan hehehe..

    ReplyDelete
    Replies
    1. This comment has been removed by a blog administrator.

      Delete
  2. betul...betul...sepakat banget sama postingan ini. serakah nggak akan bikin kaya kok, hehehe...

    ReplyDelete
  3. menarik yang asuransi double klaim, saya beberapa minggu ini sering banget ditawarin asuransi dengan andalan double klaim ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. sedih saya karena ketidakjujuran kok ditawarkan terang-terangan :(

      Delete
    2. mba kalo mslah ini kok aku kurang setuju yah. soalnya kan kita bayar premi ke asuransi. jd ya saat sakit kita dicover asuransi. krn kan di perusahaan tdk dicover 100 persen,kalo ga pake asuransi besar bgt by yg dikeluarkan. apalgi ini ga merugikan perusahaan kita.. jd klaim asuransi itu bs utk biaya yg ga dibayar kantor. soale kyk anakku kmrn opname di rs. aku byr biaya pribadi smpe 2 jutaan lbh. nah inilah yg dibayarkan asuransi. xixixi cmiiw

      Delete
    3. ohya kalau itu beda soal mbak :) kalau asuransi hanya untuk membayar kekurangannya sih nggak apa-apa. rumah sakit mau kok membuat dua kuitansi dengan biaya yang dibagi dua, satu untuk diklaim ke perusahaan sesuai jatah, sisanya diklaim ke asuransi sendiri (split kuitansi istilahnya). kalau double klaim itu, sudah diklaim ke perusahaan, diklaim lagi ke asuransi, dengan kuitansi yang sama, dengan nominal yang sama.

      asuransi itu sifatnya melindungi. asuransi bukan tabungan loh, jadi bayar premi bukan untuk ditabung apalagi dapat keuntungan (seperti unitlink atau double klaim). :)

      Delete
    4. oww iya iya kalo begindang mah ane setujuh. :)

      Delete
  4. thank you mba udah ikutan campaign malu klo g bayar pajak :D
    Positive thinking di masa asekarang ini juga mesti tetep waspada ya Mba, huhu

    ReplyDelete
    Replies
    1. waahh, nggak perlu bilang makasih. dengan senang hati aku ikut kempen ini hehehe

      Delete
  5. Hihi..
    Pada rajin ngisi SPT karna tau ada dendanya..

    "Budaya" yang harus segera dipunahkan..

    ReplyDelete
    Replies
    1. dendanya emang ngeri yaaa. kebayang kalau dendanya ditumpuk bertahun-tahun hiii

      Delete
  6. Aku gak paham asuransi double klaim itu gimana.. Maklum gak pernah ngurus :3

    Ya bener Mbak, kalau kita berharap punya anak yg jujur ya harus dimulai dr diri sendiri :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. jadi misal dirawat di rumah sakit dengan biaya 5 juta. biaya rumah sakit sudah dicover asuransi (jadi gratis), nah kalau double klaim, kita malah dapat uang 5 juta. karena kita klaim 2x ke asuransi yang berbeda.

      Delete
  7. barusan abis dapet materi parenting di sekolahnya jav... pendidikan akhlak yg pertama itu kejujuran :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya kan. buat anak kita berusaha dia selalu jujur, kitanya sendiri harus mengingatkan diri sendiri biar jujur ya mbak :)

      Delete
  8. Yang kayak gitu jaman sekarang saking banyaknya sampai jadi dianggap 'lumrah' ya mbak... -_-

    ReplyDelete
  9. Kalau mau anak jujur, kita juga harus jujur ya mak

    ReplyDelete

Hallo! Terima kasih sudah membaca. :) Silakan tinggalkan komentar di bawah ini. Mohon maaf, link hidup dan spam akan otomatis terhapus ya. :)