-->

Menikah Beda Kasta dan Urusan Mertua

on
Saturday, May 26, 2018
Dari postingan yang kemarin yang tentang sekolah dan kelas sosial, banyak sekali yang DM saya kalau dulu merasakan hal serupa. Gimana rasanya selalu minder di sekolah karena temen-temennya jauh lebih kaya. Jadi kasusnya beda kelas sosial di lingkungan sekitar kan ya.



Nah tapi terus ada yang DM beda sendiri. Pertanyaannya: gimana kalau nikah sama orang yang kelas sosialnya beda? NAH DARI DULU NIH PENGEN NULIS INI.



Karena selama ini saya selalu menekankan kesamaan PRINSIP sebelum menikah. Dan prinsip itu bisa didiskusikan serta disepakati. Makanya salah satu postinan saya yang terpopuler adalah 30 pertanyaan yang harus ditanyakan sebelum menikah. Tapi seinget saya, saya belum pernah bahas sedikit pun urusan beda kasta dalam urusan keuangan dan kemungkinan keribetannya urusannya sama mertua di kemudian hari.

Sebagai background, kalau dari sisi keluarga, keluarga saya dan JG nggak ada di kelas yang sama. Dulu keluarga JG tinggal di gang, hidupnya susah karena bapaknya dulu cuma tenaga honorer dan belum jadi PNS, nggak punya mobil apalagi liburan, bapaknya kerja keras biar 4 anaknya bisa sekolah dan harus kuliah. Keadaan mulai membaiknya kapan coba? Setelah JG kerja. :))))

Jadi dia kerja awalnya ya untuk keluarga banget. Beli mobil biar kakaknya yang lagi hamil bisa lebih nyaman kalau pergi-pergian, beli rumah biar mamanya bisa tinggal di tempat yang lebih tenang. Makin idola banget nggak nih sama JG? XD

Untungnya bapaknya masih kerja banget untuk sekolah adik-adiknya jadi ya kami nggak perlu biayain adik-adik serta keluarga JG. Keadaan keluarganya juga udah jauh lebih baik daripada dulu. Nah setelah kaya gini baru saya ketemu sama dia. Jadi ketemunya emang dia keliatannya udah "selevel" sama saya dan keluarga.

Nggak kok keluarga saya nggak kaya raya hahahahaha. Tapi emang saya nggak pernah hidup susah. Nggak pernah tau rasanya kurang uang untuk beli sesuatu atau kurang ongkos. Nggak punya mobil sendiri dan naik angkot banget kok ke sekolah dari SD sampai kuliah. Mungkin karena anak pertama ya, adik-adik saya sih merasakan kondisi keluarga yang jauh lebih baik. Adik-adik saya dianterjemput supir kalau les, saya sih dianterjemput ayah dulu soalnya belum punya supir pas saya kecil mah.

Anyway dari situ aja kalian bisa liat ya perbedaan itu sebetulnya bisa aja ada tapi jadinya nggak ada karena apa? Karena saya sendiri dari dulu takut pacaran sama orang kaya hahahahahahaha.

Dulu ada temen saya yang kaya banget. Tipe yang tiba-tiba mobilnya baru karena yang lama diambil paksa sama bapaknya. Diambil paksa karena dinilai sudah terlalu tua. Padahal mobil lama umurnya baru 2 tahun hahahaha.

Dia nggak naksir saya tapi itu semakin mengukuhkan bahwa saya nggak akan mau nikah sama anak orang kaya. Karena like duh, yang paling sederhana aja aku harus memakai baju apa saat ketemu keluarganya? Hidup sudah penuh masalah tak perlulah ditambah-tambah lol.

Intinya ya selalu berprinsip: find someone in your own league. Menikahlah dengan yang selevel dalam hal apapun termasuk ekonomi. Karena kalau nggak begitu repot ngejarnya. Kalian selamanya akan jadi "si miskin" dalam keluarga dan akan banyak hal yang nggak kalian mengerti.

Belum lagi hidup kalian mau nggak mau pasti akan ditanggung oleh salah satu pihak. Rumah dan seisinya dibeliin mertua, mobil dibeliin mertua, HP dibeliin mertua, dana pendidikan anak ditabungin sama mertua, belanja bulanan dibelanjain mertua, supir dan nanny digaji mertua, uang kalian utuh banget makanya bisa liburan ke mana-mana. Tapi yang terjadi berikutnya biasanya adalah, keputusan rumah tangga kalian juga pasti jadi ada campur tangan mertua.

Disuruh punya anak lagi nggak bisa nolak karena "loh anak pertama aja kami yang biayai kan?" meski tidak tercetus tapi mungkin tersirat. Mertua minta apa pasti nggak bisa nolak. Selalu ada urusan balas budi kan?

DAN INI BISA SAJA TIDAK TERJADI LOH YA. Saya nggak mau generalisir juga. Pasti ada mertua kaya raya sempurna di luar sana yang nggak mau ikut campur urusan rumah tangga anaknya padahal ikut biayain semua. Cuma kebetulan nggak ada temen saya yang begitu hahahaha.

Temen-temen saya yang mertuanya lebih kaya pasti ikut campur. Karena mereka menganggap dengan ngasih uang dan ikut campur sebagai bentuk sayang. Ikut campur nggak selamanya salah, tapi sekalinya salah (masa manusia nggak pernah salah?) gimana mau ngeluh atau komplain sih orang selama ini hidup kalian dicukupi kan?

Sebenernya hal ini nggak akan terlalu repot kalau kalian tipe nrimo. Oh kata suami gini, oke nurut. Oh kata mertua gini, oke nurut. Tapi kalau tipenya kaya saya yang selalu punya pandangan sendiri dan nggak mau diganggu gugat orang lain? Ya repot. Makanya sampai sekarang nggak deh berusaha minta uang atau bantuan apapun dari orangtua dan mertua. Termasuk bantuan jagain Bebe karena ya, kami hidup dengan cara ingin hidup dengan kami sendiri apapun itu.

Jadi ya, menikahlah dengan yang sekasta kalau kalian ingin hidup tenang. Menikahlah kemudian cari uang sendiri kalau kalian ingin pernikahan yang benar-benar diputuskan berdua tanpa campur tangan pihak lain.

Oiya, saya juga jadi inget beberapa waktu lalu share soal KPR di Instagram Story. BANYAK BANGET BANGET BANGET yang bingung soal KPR karena DP-nya dibayarin mertua. Mau dijual bilangnya bingung, mau diterusin kok ya nggak betah dan pengen pindah, dan lain sebagainya. Intinya jadi serba bingung karena sejak awal keputusannya tidak hanya berdua.

Kalau kalian tidak masalah dengan hal-hal seperti ini dan memang bertujuan pengen hidup enak meski tidak punya suara, go ahead lah cari pacar kaya. Tapi kalau kalian seperti saya yang ingin ngatur hidup sendiri, mending cara pacar selevel dan kerjalah sendiri. Definisi hidup bahagia kan beda-beda ya buat semua orang. Ada yang lebih suka banyak uang meski sebenernya gretekin gigi tiap ada urusan keluarga, ada yang lebih suka damai-damai aja meski mau liburan aja nunggu anak masuk SD dulu lol.

Demikian. Semoga mencerahkan bagi kalian-kalian yang masih bingung soal pernikahan. Next saya mau bahas gimana mensiasati gaya hidup yang beda bagi suami istri. Istri boros suami hemat atau sebaliknya. NANTI YAAA.

Selamat weekend!

-ast-


LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

16 comments on "Menikah Beda Kasta dan Urusan Mertua"
  1. takut juga mbak, kalau mertua emang nggak biayain atau campur tangan sama keluarga. tapi kalau terikat sama adat istiadat, seumpama menikah sama orang 'ningrat' gitu kayaknya juga susah. temen mbak icha ngga ada yang 'ningrat'?

    ReplyDelete
  2. Makasih sharingnya mba :D ga sabar menanti blog post selanjutnya yg mensiasati gaya hidup yang beda bagi suami istri. Istri boros suami hemat atau sebaliknya :D

    ReplyDelete
  3. Idolaku sekali ♡ I totally agree. Aku msh kuliah dan msh jauh bgt sebenernya ya, dr rencana2 menikah begitu. Tp udh dr lama juga aku kepikiran beginian haha. Sering mikirin apa formula orang nyaman menikah, ya krn mereka selevel gt kebanyakan. Nggak hrs yg bener2 selevel bgt, tp setelah dibayangin, kalo emang level gaya hidupnya beda malah bakal susah dan buat menyesuaikan pasti bakal nggak bisa jd diri sendiri. Kadang kalo di cerita picisan suka pengen kan nikah sm pangeran yg tajir melintir. Padahal mah kalau di dunia nyata nggak segampang itu. Unless kalo keluarga dia emang down to earth. Duh aku ngelantur.

    ReplyDelete
  4. Istri boros suami irit, aku 🤣

    ReplyDelete
  5. Tos! Aku juga g pernah pengin nikah sama orang kaya, apalagi orang kaya baru yang masih gegar kekayaan. Kalau pun anaknya sepemikiran sama kita, ortunya pasti enggak. Pasti beda level.

    ReplyDelete
  6. Cari yang kaya tapi sebatang kara jadi bebas dari perkara mertua hahahaha

    ReplyDelete
  7. Ckckckkkk dari dulu pemikiran kalian berdua itu udah level dewa! Semoga hidup kalian bertiga semakin sukses, makmur dan barakah... Amiiiin

    ReplyDelete
  8. Menurutku nggak salah juga beda kasta ( ekonomi) tinggal bagaimana dua pihak mau menyesuaikan diri agar perbedaannya tdk menjadi ekstrim. Usaha lebih besar, memang. Nah. Kalau anak mudanya kaya karena usaha sendiri, bukan karena faktor orang tua bagaimana?

    ReplyDelete
    Replies
    1. hidup udah susah kalau ditambah harus adaptasi lagi karena pilihan sendiri sih rada males ya hahahaha

      Delete
  9. yahh ketampol lagi soal kpr dibayarin mertua, hahahaha
    gilingan mau dijual birokrasi sama mertua berbelit2 banget
    tapi ya nggak boleh ngeluh tetep harus bersyukur krn mertua tandanya peduli dan sayang sama anak mantu cucunya, meski kdg caranya aja yg bentrokan wkwkw

    ReplyDelete
  10. Wah remind me of Nicholas Young sama Rachel Chu tentu saja plus kanjeng Eleanor Young 😂😂😂

    ReplyDelete
  11. bener mba, kalau udh kebanyakan turun tangan, sekali nya gak boleh ikutan turun tangan dibilang sombong, lupa? lalala lilili...

    mendingan hidup sendiri, tanpa harus memutuskan silaturahim ya..tapi ya sebulan sekali aja kerumah mertua nya ;p

    ReplyDelete
  12. Aku Dan suami seperti ini juga. Tapi gak ngeh sblm baca ini. TFS yaa.

    ReplyDelete
  13. Jujur, aku adalah #TeamMandiriSetelahMenikah. Tapi karena belum dijalani, jadi belum bisa ngasih pengalaman.

    Cuma alasanku adalah, selama aku hidup di rumah orang tua, aku selalu diatur. Menentukan sikap selalu harus kata orang tua. Anak yang penurut. Mau gerak susah. Aku pengen menentukan hidup sendiri. Pengen bebas ke sana ke mari. Beli mana yang aku butuhkan, mana yang ga perlu.

    Tapi melihat 2 sisi antara Kak Icha dan Mbak Gesi, aku jadi tersadar dan kudu siap kayanya misal dibeli-belikan ortu/mertua.

    Soalnya Mas-mbakku begitu sih. Yang kulihat bukan karena mereka belum mampu trus dibeliin, mereka murni pengen beliin karena berbagi.

    ReplyDelete
  14. Lho linknya Gesi ndak bisa dibuka Nis.. Not found katanyeee~~

    ReplyDelete

Hallo! Terima kasih sudah membaca. :) Silakan tinggalkan komentar di bawah ini. Mohon maaf, link hidup dan spam akan otomatis terhapus ya. :)