#FamilyTalk: Karena Setiap Ibu itu Berbeda

on
Saturday, November 28, 2015

Ah elah nulis judulnya aja udah emosional. :') Topik ini diajukan Isti terus saya langsung setuju. Karena ya, sebagai emak-emak digital, topik ini relevan banget. Banget banget.

Baca punya Isti di sini:

Ya kenapa coba ibu-ibu seolah harus sama padahal kan kita beda. Problematikanya dimulai dari social media sih sebenernya di mana semua ibu-ibu bisa posting sesuka hati. Iya doonnggg.

Saya yang kadang suka ngerasa pressure ga penting kalau liat ibu-ibu yang posting bikin ini itu sama anaknya. Ngelakuin aktivitas ini itu sama anaknya. Sementara saya nggak pernah ngapa-ngapain. Kenapa saya bilang "pressure ga penting"?

Ya itu tadi karena setiap ibu berbeda. Selama ini yang jadi concern selalu anak. Tiap anak beda! Tidak bisa disamakan! Hapuskan UN! Bla bla bla. Iya sih bener sih, tapi ya anak beda-beda, emaknya juga beda-beda. Jadi suka sebel sama yang menganggap pilihan sendiri paling oke dan pilihan orang lain salah. Ingat, anaknya beda, emaknya juga beda! *pukpuk para suami dan ayah*

Misal nih saya #teamdaycare, tapi saya juga nggak menganggap semua keluarga cocok di daycare. Makanya saya juga bikin artikel tentang kondisi tidak butuh daycare.

Nggak usah rusuh soal ASI/MPASI dan melahirkan normal atau caesar lah ya karena tau sendiri meskipun saya full kasih ASI, saya terserah kalau ada yang mau ngasih anaknya susu formula. Apalagi yang pengen lahiran caesar, ya terserah atuh kenapa saya maksa semua ibu harus lahiran normal? Bayarin rumah sakit aja enggak.

Ini beneran kemarin ada temen kantor lahiran sesar. Dari doi hamil memang sudah bilang akan melahirkan tanggal sekian karena mau sesar. Kalau masih pengen basa-basi, pertanyaan non judgemental mentok yang bisa ditanya: "Emang pengennya sesar ya mbak? Enak sih emang bisa tentuin tanggal lahir"

Kalau memang iya, si mbak akan hepi karena pertanyaan kita tidak judgemental. Kalau memang tidak, dia paling akan cerita hamilnya kenapa sampai harus sesar.

Cukup itu aja. Nggak perlu pake "Emang ada keluhan ya hamilnya? Emang nggak takut sakit ya? nanti kan sembuhnya lama blablabla. Nanti ini lho nanti itu lho". Lo aja keles yang ngerasa gitu, orang lain belum tentu.

Ada yang sanggup mengajari anaknya di rumah, jadi merasa si anak tidak perlu PAUD. Cukuplah TK aja, setahun kemudian langsung masuk SD.

Ada juga yang kaya saya yang bingung ngajarin Bebe apa ya? T_____T Sutralah tahun depan masuk play group aja biar jelas belajarnya, biar jelas mainnya.

Ada yang kemudian sanggup homeschooling karena kurikulum sekolah tidak sesuai dengan prinsip membesarkan anak. Anaknya sukses, pinter-pinter semua.

Ada juga yang kaya saya yang duh stok sabarnya tipiiisss. Nggak lucu deh homeschooling tapi malah jadi berantem mulu sama anak.

Ada yang bikin jadwal main sama anaknya dan bikin mainan ini itu sendiri duh ini paling bikin guilty. T_______T Isti nih paling rajin banget nih bikin ginian sampai punya tag sendiri di blognya Playful Wednesday. Suka sirikkkk kemudian mikir saya bikin apa ya? Tapi kemudian mikir lagi, kenapa harus maksain bikin sih ya? LOL #fail

Ada yang pas anaknya ulang tahun bikinin anaknya dress, jahit sendiri. Bikinin kue, baking sendiri. Ada yang kaya saya yang mmmmmm ... eh saya juga pas Bebe ulang tahun bikin sendiri deng ... konsepnya. LOL Yang baking cookies-nya ibu saya. Sutralah yang penting jadi dan enak kan yah. XD

"Ah itu mah belum coba aja kali. Pasti bisa kok!" Kok maksa sih? :( Anak situ saya paksa main puzzle kesukaan anak saya padahal anak situ sukanya main mobil-mobilan, gimandose?

Kaya sekarang lagi tren montessori di rumah kan. Saya dan JG udah searching tentang metode ini sejak Bebe lahir, tapi emang dasar nggak bakat bikin-bikinan ya, yang dicari itu sekolah yang menerapkan metode ini. Manalah kepikiran montessori di rumah.

Zonk banget pas tahu ternyata ibu-ibu lain menerapkan montessori di rumah dengan alat-alat yang dibikin sendiri. Hebat! Emang sih tidak lepas dari akun Instagram mommy itu ya yang jadi trendsetter. Tapi apapun itu, buktinya sampai sekarang saya nggak praktik apa-apa tuh. Karena ya itu tadi, anaknya beda, ibunya beda.

Jadi pesan moralnya buibu, biarin atuh kalau ada ibu yang punya pilihan beda. Jangan suka dipaksa. This is our choice, that's yours.

Udah ya segitu aja rambling hari ini. Sori-sori kalau kita beda, kthxbai!

-ast-
LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

11 comments on "#FamilyTalk: Karena Setiap Ibu itu Berbeda"
  1. yang jelas tiap anak beda-beda ya mbak..meski pandangan si emak sudah sama karena terbawa mainstream.

    ReplyDelete
  2. ya kalau bisa ditiru yang baik dan itu sesuai dengan kita sih no problemo kok,,
    yang masalah sih kadang mentalnya ya,,bahwa Saya melakukan ini-melakukan itu dan saya jadi ibu paling baik loh,,upss ginian nih yang perlu dirubah..
    Makasih mak annisa, selalu senang dg semi2 judgemental series nya :)

    ReplyDelete
  3. Sukaaaa banget sm kalimat terakhirnya "biarin atuh kalau ada ibu yang pilihannya beda. Jangan suka dipaksa. This is our choise, that's yours"

    *kesel abis di judge emak2 se-paud gegara nantinya mau nyekolahin anak ke SD yg general bukan SDIT, mayoritas di lingkungan saya nyekolahin anak2nya ke SDIT* :D

    ReplyDelete
  4. Aku pun nyari2 sekolah yang montessori Cha ujung2nya, huahaha

    ReplyDelete
  5. Banyak lho ibu-ibu kalo beda itu malah dikucilkan plus dijadikan bahan gunjingan -,-

    ReplyDelete
  6. Iyaaa Cha, bener banget. Biar masih lajang aku suka bingung sama emak-emak yang rempong kayak soal lahiran sesar itu. Ga usah kepo lah sama story behind orang ya, even kalau dicurhat dan ternyata kita kaget, jangan dikomplain. Mending kasih support she will be fine dengan pilihannya.

    ReplyDelete
  7. hehehe mom's life ya mak :D saya sih gak suka campur urusan emak lain, ya itu anak dia, pilihan dia, saya mau ngapain coba :D urus aja anak sendiri hehehehe kalaupun beda, tetap dihargai.

    ReplyDelete
  8. akupun sama ingin menerapkan montessori tapi banyak malesnya.. trus anak aku geje gitu kalo aku di rumah..

    pressure nya dobel T_T

    *cepet2 nyari sekolahan ah

    ReplyDelete
  9. Hi Mbak, soal sekolah kenapa anjurannya >5th karena ada dasar ilmiahnya. Anak <5th cukup bermain di rumah dengan orangtua. Teach our children about good manner, about compassion (empati, welas asih), not about good grades. Usia golden years 0-5 th yg berkembang adalah pusat perasaannya. Inilah alasannya kenapa dunia anak dan remaja jungkir balik di jaman sekarang, padahal sekolah-sekolah usia dini menjamur, sederet stimulasi dan les-les memintarkan anak, tapi semakin langka anak yg budi pekertinya baik. Orangtua kekinian mempunyai gelar, lulusan perguruan tinggi tapi anak dititipkan pengasuhannya kepada orang yg kurang terpelajar. Bisa kita bayangkan akan menjadi apa mereka kelak (sekarang pun sudah semakin memprihatinkan masalah sosial yg melibatkan anak dan remaja). Percayalah mbak.. ada Hal-hal yg nggak selalu bisa menggunakan logika sendiri karena mungkin kita kurang berilmu di bidang itu.

    ReplyDelete

Hallo! Terima kasih sudah membaca. :) Silakan tinggalkan komentar di bawah ini. Mohon maaf, link hidup dan spam akan otomatis terhapus ya. :)